
Rumah sakit sudah bosan dengan wajah Pakha. Belum genap satu bulan ia keluar dari rumah sakit pasca kecelakaan yang menimpanya, eh kini ujung-ujungnya Pakha sekarang malah di rawat lagi di rumah sakit akibat pingsan saat melihat setan yang membuat dirinya kaget karna sudah lama dia tidak melihat makhluk mengerikan. Meskipun sudah beberapa kali ia melihat begituan, tapi ia masih belum terbiasa melihat makhluk seram, Pakha pun masih saja merasa takut dengan makhluk tak kasat mata selain Bima. Secara Bima kan ganteng kalau muncul di depan Pakha makanya Pakha tidak takut padanya dan malah sempat jatuh hati pada Bima saat mengira Bima manusia biasa.
Pakha mengerjap-ngerjapkan matanya pandangannya masih kabur. Sedetik, dua detik pandangannya mulai jelas nampaklah wajah Boy dan Kak Nawang di depannya. Kepalanya masih terasa pusing ketika tangannya menyentuh ternyata ada kain yang membebat kepalanya. Saat Pakha pingsan tanpa sengaja kepalanya terbentur tembok di belakangnya akibatnya terdapat luka yang mengharuskan dokter untuk membebat kepalanya, tenang saja bukan luka serius kok dan bukan geger otak juga.
Tak lama setelah dia sadar Jidan juga datang untuk menjenguk Pakha, ia membawa satu keranjang buah segar dan langsung di taruh di meja.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku? "tanya Pakha bingung karna tiba-tiba saat ia sadar sudah berada di rumah sakit.
"Tadi pagi kamu pingsan di kampus untungnya ada seorang perempuan yang menolongmu dan membawamu ke rumah sakit ini. Kakak belum sempat bertanya namanya, dia sudah keburu pergi. Katanya dia ada jadwal bimbingan skripsi. "jelas kak Nawang.
"Sayang gimana keadaanmu sekarang apa masih sakit? "tanya Boy kwartir.
"Aku sudah tidak apa-apa kok. "jawab Pakha sambil tersenyum ke arah Boy sambil melirik Jidan yang terdiam di sampingnya.
Boy lega mendengar kalau tunangannya baik-baik saja.
Beberapa menit Dokter datang untuk memeriksa kondisi Pakha. Semua orang di suruh keluar tak terkecuali Boy. Sekarang hanya Dokter dan satu perawat yang tersisa , Dokter langsung memeriksa kondisi Pakha sementara perawat ikut mencatat kondisi Pakha.
"Gimana kondisi saya dok? "tanya Pakha.
Dokter ragu-ragu menjawab pertanyaan Pakha, Dokter bilang Bahwa Pakha punya penyakit batu ginjal yang menyerang salah satu ginjalnya. Hal itu akibat dia sering menahan kencing dan kondisi yang memperparah penyakitnya juga karena kecelakaan dahulu yang menimpanya. Pakha kaget ternyata kondisinya sudah separah itu, ia meminta Dokter merahasiakan hal itu dari siapa pun agar orang-orang yang ia sayang tidak kwatir dengannya. Dokter menyetujui permintaan Pakha, ia berpesan agar Pakha tidak mengangkat beban terlalu berat untuk membantu pemulihan penyakitnya.
"Baik dok terima kasih sudah membantu saya merahasiakan hal ini. "jawab Pakha.
__ADS_1
"Iya sama-sama, jika kondisi mu sudah stabil nanti sore boleh langsung pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan. Nanti biar aku resepkan untuk penyembuhan ginjalmu. "ucap sang Dokter.
Setelah pemeriksaan selesai Dokter itu langsung keluar dari ruang rawat Pakha, di susul Boy yang kembali masuk ke dalam ruang Pakha, dan kak Nawang mengurus administrasi dan kepulangan Pakha sedangkan Jidan harus pamit pulang terlebih dahulu karna ada banyak urusan yang harus ia selesaikan. Setelah Jidan keluar dari ruangan Pakha hpnya berbunyi dan Jidan langsung mengangkat telefon itu.
"Cepat kesini dong, kita sudah nungguin elo dari tadi, udah kelewat jadwal nih. "teriak seseorang di dalam telefon.
Jidan menjauhkan telepon itu dari telinganya.
"Woy biasa aja ngomongnya mau bikin gendang telinga ku pecah pa.. iya aku otw kesana sekarang. "jawab Jidan tak kalah kerasnya dan langsung mengakhiri telepon itu.
Dari tadi teman-temannya sudah menunggunya di kampus. Karna Jidan yang bertanggung jawab untuk kelancaran persiapan lomba rohis yang diadakan untuk memperingati maulud nabi. Sebagai kating(ketua tingkatan)ia juga ikut berpartisipasi untuk acara itu. Dirinya semakin hari semakin sibuk di tambah lagi dia harus menyelesaikan pekerjaan dosen genit dan banyak tugas kuliahnya yang juga harus ia handle. Kalau Jidan bukan orang yang cerdas membagi waktu semua tugasnya pasti akan berantakan.
Jidan dapat memberi kita pelajaran tentang keteguhan pendirian, tentang ketekunan dan tentang keinginan untuk mencapai cita-cita. Dia menyakinkan kita bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika di maknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Dia juga menyampaikan prinsip yang diam-diam menyelinap jauh ke dalam hati Pakha serta memberi arah hingga kini Pakha bisa menjadi seorang yang cerdas dan bisa mendapat beasiswa.
Sesampainya di kampus Jidan malah bertemu dosen genit yang ingin ia hindari.
"Jid kamu nanti bisa gak temani ibu ke suatu tempat?"tanya bu Arasi.
"Maaf bu saya tidak bisa nanti ada meeting dengan anggota bem untuk persiapan lomba rohis di kampus kita. "ucap Jidan menolak ajakan bu Arasi.
"Oh begitu ya, ya sudah aku kesana sendiri saja. "ucap bu Arasi dengan wajah penuh kecewa.
"Saya permisi dulu ya bu, mari. "kata Jidan kemudian berjalan meninggalkan bu Arasi.
__ADS_1
Jidan menoleh ke arah bu Arasi sebentar sambil berkata dalam hati.
"Alhamdulillah aku selamat dari godaan setan. "
Sementara itu di rumah Dandi suasana begitu mencekam, hal itu karena tidak ada orang lain yang berani mendekati Dandi setelah kejadian lalu saat ia memarahi pembantunya karena hal sepele seperti jus yang terlalu manis. Semakin hari hidupnya semakin membosankan tidak ada yang bisa ia ajak bicara, terkurung di dalam rumah sendiri begitu menyebalkan. Meskipun Dandi tidak kekurangan fasilitas apapun tapi tetap saja ia bosan karna menjadi tahanan itu sudah merenggut jiwa bebasnya. Masih dua minggu lagi ia menjadi tahanan rumah, satu hari rasanya seperti satu tahun.
Untuk mengusir kebosanannya ia berencana kabur lagi untuk sekedar melihat wanita yang ia perjuangkan. Padahal kemarin baru saja bertemu namun ia sudah rindu saja. Dandi mulai melancarkan aksinya, ia membuka jendela kamarnya pelan-pelan kemudian meloncat dari jendela dan berhasil tanpa ketahuan seorang pun. Dandi tersenyum senang karna tidak pernah ketahuan kabur dari rumah. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu Nawang lagi. Tinggal satu langkah lagi ia akan berhasil lolos dari pengawasan para polisi. Satu pagar yang tinggi itulah rintangan terakhir yang harus ia lewati agar rencana kaburnya kembali sukses.
Dandi mulai menaiki pagar yang biasa ia gunakan untuk kabur. Tubuhnya sekarang sudah berada di atas pagar tinggal lompat ia akan terbebas dari pengawasan para polisi.
Namun hal tidak terduga terjadi, satu polisi lewat di bawahnya dan dia sekarang tepat di atas kepala polisi itu. Jantungnya berdetak tak beraturan berharap polisi itu tidak menengok ke atas agar dirinya tidak ketahuan. Dandi menarik nafas lega ketika polisi itu berjalan menjauh darinya. Tanpa sengaja sandal yang ia pakai malah terjatuh satu, polisi itu kembali berbalik arah karena mendengar suara sandal Dandi yang terjatuh dari pagar. Akhirnya Dandi ketahuan oleh polisi itu sebelum ia berhasil loncat.
"Woy ngapain kamu di situ, mau kabur ya? "tanya polisi itu, kemudian dua rekan polisi itu ikut menghampiri Dandi.
Dandi tidak menjawab pertanyaan polisi itu ia malah mematung di atas pagar sambil menampilkan senyum pepsodent.
Tiga polisi itu menyuruh Dandi kembali ke dalam rumah, jika ia melawan polisi itu terpaksa akan menembak Dandi. Akhirnya Dandi mengurungkan niatnya untuk kabur, kini ia gagal bertemu dengan wanita pujaan hatinya.
"Aiss sandal sia**n. "Ucap Dandi sambil melempar sandal yang tinggal satu itu.
Ia mengambil kembali sandal itu kemudian menggigit sandal itu, hatinya sangat dongkol gara-gara sandal itu rencananya gagal.
Dandi seperti orang gila akibat terlalu lama terkurung di dalam rumah. Kewarasannya menjadi agak terganggu akibat terlalu memikirkan Nawang. Cinta itu buta. Pepatah itu memang benar adanya cinta dapat membutakan kewarasan Dandi, karna ia menjadi perisor(perebut istri orang). Padahal di dunia yang luas ini pasti banyak wanita cantik dan tentunya masih jomblo seperti dirinya, mengapa dia malah menyukai Nawang yang sudah berstatus menjadi istri orang.
__ADS_1
*Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi, tapi ia mengerti, mendekat pada sang kekasih justru membinasakan*nrcahaya.
Sekian dulu ya..... nantikan keseruan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.