
Hari ini adalah hari dimana sejuta kehangatan dari sosok seorang suami telah menjauh pergi. Pagi sebelum kepergiannya membuatku ingin menangis namun aku tak melakukannya. Ku lepas dengan hati lapang agar hati dan kerjaannya menjadi tenang. Aku adalah Nawang wanita sederhana yang entah apa mendapat durian runtuh secara mendadak. Kehadiran suamiku merupakan hal tak terduga, pertemuan itu membawa kami ke langkah yang serius. Hanya satu minggu perkenalan kami, dan Allah segera menyatukan ikatan cinta melalui sebuah pernikahan.
Tak kenal maka tak sayang, satu pepatah kuno yang masih berlaku pada diriku, aku memang sama sekali tak mengenal dirinya namun perkenalan singkat itu membuat perubahan dalam hidupku. Aku sangat beruntung bisa mendapatkan laki-laki baik dan mampu menghargai wanita seperti dirinya. Mas Oci dialah orangnya. Sosok pria lembut, berkulit hitam dan berkumis tipis. Trimakasih engkau telah datang di hidupku. Kehadiran mu membuat hidupku yang suram menjadi berwarna.
Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi saatnya dia pergi dari pelukanku. Hanya kesendirian dan sisa kesedihan yang sekarang aku rasakan.
"Sayang aku pamit, jaga diri baik-baik selama aku jauh darimu. "
Kata-kata terakhir sebelum ia berangkat ke luar kota. Kini rumah yang hangat hanya tinggal kesunyian.
Rumah ini di buat karna dia ingin hidup mandiri bersama diriku. Hingga ada sebuah kabar baik yang menghiasi hidup kami. Calon anak itu yang membuat hari-hari ku bersama mas Oci semakin berwarna. Namun Tuhan hanya menitipkan dia selama 6 bulan di perutku. Hingga kejadian itu mengakhiri semua warna-warna yang sudah aku toreh bersama mas Oci dan calon anakku.
Dia hilang pergi membawa semua kenangan 6 bulan lamanya. Kini kertas berwarna yang kami berdua lukis telah hilang dan hanya meninggalkan kertas putih yang kosong. Dan di kertas putih itu terdapat satu titik di tengah. Titik itu sekarang melambangkan diriku saat ini. Hanya kesendirian tanpa warna yang aku lalui semenjak calon anakku pergi dan mas Oci keluar kota. Satu malam tanpanya terasa begitu lambat, puing-puing kenangan hangat yang aku lukis bersamanya terasa seperti lukisan dinding. Terlihat namun tak hidup. Perasaan sedih di mana aku lalui tanpa dampingan suamiku.
Hatiku perih seperti ada belati yang sengaja menusuk bagian tubuhku. Sakit tak berwujud.
Sehari, dua hari, tiga hari terasa berat meskipun ada Pakha dan Boy yang kadang berkunjung menghibur diriku. Meskipun dari luar aku tegar namun dari dalam aku sangat rapuh.
Hatiku tegarlah, cepat sembuhnya agar tubuhmu kembali pulih. Move on kata orang memang sulit, ini bukan soal pacaran putus terus move on. Tapi ini tentang hati yang hanya bisa membaik seiring waktu berjalan.
Hari kelima semenjak mas Oci keluar kota adalah jadwal aku kontrol ke rumah sakit.
Ku pergi sendirian tanpa di dampingi oleh suami. Jika saja aku minta di temani keluargaku pasti mereka siap kapan pun namun aku tidak melakukannya. Biarlah kepedihan ini aku lalui sendiri. Aku memang merahasiakan jadwal kontrolku dengan keluarga ku termasuk mas Oci. Aku hanya tak ingin menjadi beban mereka. Saat masalah masih bisa ku hadapi sendiri akan aku lakukan sendiri.
__ADS_1
Karena realita jauh lebih penting dari egoku.
Saat itu tiba hari aku kontrol di rumah sakit seorang diri ada seorang bumil yang lewat di depan mataku. Entah kenapa tanganku masih refleks seperti dulu tanpa sadar aku mengelus perut namun sekarang berbeda tidak buncit seperti dulu ,rata terasa kosong mlompong. Tanpa sadar mataku meneteskan air bening yang terus mengalir menemani antrian panjang yang ku tunggu.
Bukan aku tak mengikhlaskan kepergian dirinya namun kepingan-kepingan ingatan membuat dadaku sesak.
Aku tidak menyalahkan siapapun atas kejadian itu, takdir Allah yang membuat dia pergi. Semua kejadian atas kehendaknya, Allah sang maha kuasa.
Mas sebenarnya aku takut sendirian. Namun aku harus kuat dengan keadaan ini. Kau pergi, ku sendiri.
Tak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu. Tapi ku tau, hatimu untukku. Kupercaya itu.
Ku disini merindukanmu sangat rindu. Seminggu rasa setahun aku tak tau apa yang akan ku lakukan untuk mengisi kekosongan ini.
"Naee kamu kenapa? biar aku bantu ."waktu itu aku di bantu berdiri.
Dia adalah teman kuliah ku dulu dan dia juga laki-laki yang pernah ada dalam hidupku 2 tahun silam namanya adalah Dandi.
Aku berbincang sebentar dengan dirinya, membahas tentang masa lalu dan dia belum tau kalau aku sudah menikah. Tatapan matanya masih sama hangat dan nyaman. Dulu aku slalu menghindari dirinya bukan karna benci namun karna dia dan diriku berbeda kasta. Aku hanya anak kampung dengan kuliah beasiswa prestasi namun dia adalah anak rektor kampus. Aku hanya takut di rendahkan dan dihina di mata keluarganya. Aku tak ada apa-apanya dengan dirinya itulah salah satu alasanku menjauhi dirinya.
"Naee kamu kok bengong, jadi gimana kamu sekarang? "tanya dandi tentang keadaan ku sekarang.
"Aku baik-baik saja dan, "hanya itu yang aku jawab. Aku tak mau menceritakan semua kesedihan ku yang baru saja ku alami biarkan ku simpan rapat kepedihan ini bersama mas Oci suamiku.
__ADS_1
"Dandi aku sekarang udah menikah, "
"Hahaha naee kamu bicara apa sih, "kata dandi tak percaya bahwa aku sudah menikah.
Naee nama panggilan ku dari Dandi. Entah kenapa dia selalu memanggilku begitu padahal semua teman-temanku memanggil diriku nawang.
"Dandi aku beneran udah menikah."kata-kata ku ulangi dengan mantap untuk membuatnya yakin .
Entah kenapa raut wajahnya berubah seketika setelah ia mendengar perkataan ku. Seakan aku telah mencabik bagian tubuh penting nya yang membuat dia sedih. Dia hanya terdiam seribu bahasa saat duduk di sampingku. Sebenarnya apa yang terjadi dengan dirinya. Apa kata-kata ku menyakiti hatinya, tapi aku hanya memberitahunya bahwa aku sudah menikah, hanya itu saja tidak kurang dan tidak lebih.
Setelah mentari mulai naik di atas kepala aku mulai pamit pada Dandi namun masih sama dia terdiam tanpa membalas pamitku. Namun ketika aku sudah melangkah sedikit menjauh darinya dia memanggilku.
"Naee .....aku masih mencintaimu. "
Kata-katanya membuat hatiku perih seperti terkena pecahan logam tajam menusuk kalbu. Apa yang dandi lakukan bukankah dia sudah tahu kalau aku sudah menikah? .Hatiku seperti di hujani jutaan bom yang siap meledak kapan pun.
"DANDI CUKUP....cintamu sudah salah, aku tidak seperti dulu lagi, jangan terlalu berharap untuk cinta yang tak akan pernah kau dapatkan, aku sekarang sudah milik orang lain. "
Setelah ku katakan kata-kata yang pasti akan menyakiti hatinya, aku langsung pergi meninggalkannya yang terdiam mematung di bawah pohon yang menari-nari tertiup angin.
Aku tau jika aku sering menyakiti hatinya, dan aku terlalu egois saat menerima lamaran mas Oci pria yang tak ku kenal sama sekali. Namun aku jatuh cinta pada mas Oci karna dia sangat baik dan religius yang sekarang mampu merubahku menjadi pribadi yang baik.
Dandi maafkan aku, aku tau kau pria paling lama yang sudah menemani hari-hariku namun takdir berkata lain. Maaf seribu maaf.
__ADS_1
Cukup dulu ya cerita kehidupan nawang yang selama ini juga tak kalah menarik untuk di baca. Nantikan kejutan-kejutan yang tak terduga lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.