
(Satu minggu kemudian setelah jidan menemukan buku diary bu Arasi)
Bu Arasi yang ku kenal itu adalah Dosen perempuan yang dari luar terlihat dingin, kuat dan tidak peduli meski ada orang yang menghinanya. Namun dari dalam dia juga hanyalah manusia biasa.
Jidan melihat bu arasi menangis di bawah pohon besar di area sekitar kampus.
Jidan berjalan mendekati bu Arasi yang menangis sesegukan. Bu Arasi mengetahui kehadiran Jidan.
"Maaf aku tidak bermaksud untuk melihatmu seperti ini. "kata Jidan sambil memberikan sapu tangannya pada bu Arasi.
Bu Arasi menerima sapu tangan pemberian Jidan dan langsung menggunakannya untuk mengusap air matanya.
"Apa kau juga pergi ke tempat sepi ini untuk menangis?"
Jidan kaget dengan pertanyaan bu Arasi dan hanya mematung di tempat.
"Mereka merundung orang lain tanpa peduli perasaan orang itu, hanya mereka lebih suci dari dari orang yang dirundung. "ucap bu Arasi sambil mengusap ingusnya kemudian melanjutkan kembali ucapannya.
"Kau pun juga mengalaminya kan? aku tak sengaja melihat mu diam saja saat teman sekelasmu membicarakan mu di belakang. "
"Bu Arasi tau? kalau begitu kembalikan sapu tanganku, rasanya aku ingin menangis juga. "ucap Jidan kemudian ikut duduk di bawah pohon bersama bu Arasi.
lama-kelamaan dari yang awalnya hanya sebatas hubungan Dosen dengan asisten jadi timbul perasaan sayang padanya. Rasanya ia ingin melindungi prempuan yang dari luar terlihat kuat, tapi aslinya rapuh.
"Kamu bisa ceritakan padaku jika ada suatu hal yang ingin ibu bicarakan. "tawar Jidan pada bu Arasi, ia tau kalau sekarang Dosennya itu sedang butuh teman curhat.
__ADS_1
Karna teman curhat satu-satunya malah ada di tangannya.
Jidan hanya ingin jadi teman curhat bu Arasi pengganti buku diarynya yang hilang, dan tanpa di ketahui oleh bu Arasi, Jidan diam-diam mengembalikan buku diary milik bu Arasi di dalam tas bu Arasi saat ia mulai menceritakan sedikit kisah kehidupannya pada Jidan. Dari waktu ke waktu Jidan mulai menyimpan empati pada bu Arasi dosen yang sempat ia benci. Sudah hampir tiga minggu ia menjalani hari-harinya bersama bu Arasi. Entah perasaan apa yang mengikutinya, kini hatinya mulai timbul seperti rasa iba namun takut kehilangan saat bersama bu Arasi.
Mungkinkah itu yang namanya cinta? jika benar ia mulai menaruh hati pada dosen genit itu, mungkin otaknya sudah tidak waras. Sudah beberapa kali terbesit di hati Jidan jika ia ingin slalu melindungi bu Arasi dan ingin menjadi teman curhat satu-satunya bu arasi. Namun faktanya memang benar pikiran Jidan menjadi tidak waras. Dengan wajah ganteng yang ia punya, semua cewek cantik juga mau dengannya, tapi kenapa dia malah menaruh hati pada seseorang tante-tante yang umurnya lebih tua darinya dan malah menaruh hatinya pada prempuan yang hatinya sedang terluka seperti bu Arasi. Selamat untuk Jidan karna telah berhasil move on dari Pakha, yah meskipun dia sekarang malah menaruh hati pada dosen yang terkenal genit di kampus. Hati seseorang itu tidak tau kapan akan jatuh cinta dan kapan akan terluka. Mungkin menurut kalian Jidan memang tidak cocok dengan bu Arasi namun jika hal itu sudah menjadi kehendak Tuhan maka yang mustahil pun bisa saja terjadi.
"Antara Adzan yang Berkumandang, Antara Kiblat yang Tentukan Arahku Pulung, Antara Hitungan Tasbih, Aku Percaya Bahwa Sujudku dan Sujudmu akan Bertemu Di AMIN yang Sama. "batin Jidan menatap wajah bu Arasi.
Sementara itu Pakha semakin hari semakin lemah, penyakitnya telah menggerogoti tubuhnya di bagian lain. Ia sering sakit-sakitan dan jarang masuk kuliah, terkadang ia memaksakan diri untuk kuliah jika kondisinya agak baikan. Kak Nawang mulai curiga dengan penyakit adiknya itu.
"Dek aku pengen pinjam leptopmu boleh? "tanya Kak Nawang saat berkunjung ke kosan Pakha.
"Iya boleh kak, ambil saja di kamar. "kata Pakha yang berada di ruang tamu sedang asik memakan bekal yang Nawang bawakan dari rumah.
"Ah baiklah."jawab Nawang kemudian masuk dengan mengendap-endap dan mencari obat yang sering di minum adiknya. Kemudian kak Nawang memfoto nama obat itu. Kak Nawang segera pulang saat tujuan awalnya telah berhasil.
"Astagfirullah dek. "ucap kak Nawang kaget.
Hatinya perih mengetahui fakta bahwa adik kesayangannya mempunyai penyakit serius seperti itu. Kebetulan saat itu Oci baru pulang kerja dan menghampiri Nawang yang berusaha menahan air matanya.
"Ada apa um? wajah ummi kenapa terlihat pucat? "tanya Oci kwatir.
"Bi aku baru mengetahui rahasia besar. "jawab Nawang dengan mata berkaca-kaca.
Akhirnya Nawang menceritakan semua yang baru saja ia lakukan untuk mengungkapkan kecurigaannya yang selama ini ia abaikan.
__ADS_1
Akhirnya Nawang menangis tersedu-sedu di pundak suaminya, ia tidak bisa berbuat apa pun, dan Nawang juga akan menyembunyikan kalau dia sudah tau penyakit Pakha.
"Ummi yang sabar ya.. Pakha pasti akan segera sembuh. "ucap Oci menenangkan istrinya.
"Itu tidak mungkin bi. "jawab Nawang kemudian melanjutkan tangisnya.
Semenjak ia mengetahui penyakit adiknya,
semakin hari kelakuan kak Nawang pada Pakha berubah derastis. Ia mulai memperhatikan pola makan Pakha, hingga menasehati Pakha tidak boleh terlalu capek-capek dan sering membuat kejutan agar Pakha senang. Semua kasih sayang Nawang di curahkan kepada adiknya, ia takut jika Pakha akan lebih dulu meninggalkan dunia ini dari pada dirinya. Pikir Nawang selagi masih hidup ia ingin berusaha memberi kenangan-kenangan indah pada Pakha adik kandung yang paling ia sayangi itu.
Pakha dan Boy juga heran melihat sikap kak Nawang yang semakin hari semakin perhatian pada Pakha, bahkan Nawang sekarang sering menginap di kosan Pakha dengan berbagai alasan yang ia buat. Alasan malas pulanglah, alasan pengen kumpul lah hingga alasan takut tidur sendiri saat oci keluar kota. Pakha mulai curiga dia pikir perubahan sifat kak nawang itu pasti ada kaitannya dengan penyakitnya. Ia ingin memastikan sendiri jika dugaannya benar kalau kak nawang sudah mengetahui penyakitnya yang selama ini ia simpan rapat-rapat.
"Kak Pakha ingin bicara empat mata pada Kak Nawang. "bisik Pakha ke telinga Nawang.
Kak Nawang mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki Pakha di depannya. Sekarang mereka berdua berada di belakang kosan Pakha jauh dari keramaian.
"Kak sebenarnya apa yang kakak ketahui tentang diriku. "tanya Pakha dengan wajah pucatnya.
"Apa maksudmu.. haha kakak tidak tau apa-apa. "Jawab Kak Nawang dengan wajah panik.
"Kakak jangan bohong seperti itu, tolong jawab Pakha dengan jujur, sebenarnya apa yang kakak tau tentang Pakha? "tanya Pakha serius.
"A... anu.. kakak.. sebenarnya... tidak tau. "kata Nawang ragu-ragu.
"Yah sudah kalau kakak tidak ingin jujur pada Pakha. "jawab Pakha kecewa kemudian berjalan meninggalkan Nawang.
__ADS_1
"Dek tunggu. "teriak Nawang kemudian berlari mengejar langkah Pakha dan langsung memeluk tubuh Pakha dari belakang sambil menangis.
Sekian dulu ya... gimana sih kelanjutan cinta Jidan dengan bu Arasi sang dosen genit itu? gimana juga kelanjutan hidup Pakha yang menderita penyakit batu ginjal setadium akut, apakah Pakha akan berumur panjang atau sebaliknya?. Temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat Membaca.