Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Perisor


__ADS_3

Di suatu malam, langit menangis, seakan menemani sekeping hati yang sunyi. Dan tangisan itu menghidupkan semula setiap rasa yang telah mati.


Tidak perlu malam untuk sekadar menyaksikan kegelapan. Di sudut sepi hidup, dapat kau saksikan cahaya yang begitu redup seperti hidupku.


Namaku Dandi, orang memanggilku srigala hitam. Karna aku tidak akan menyerah mengejar mangsaku. Bisa di bilang aku orang yang kaku, egois dan pantang menyerah dengan semua sifat yang aku miliki aku termasuk orang yang bad boy atau sosok laki-laki yang suka melanggar aturan-aturan sosial dan hidup dalam aturanku sendiri.


Dulu aku masih menjadi laki-laki yang baik tapi semenjak wanita cantik yang slalu mengisi hatiku tiba-tiba menghilang, aku sedikit berubah. Nawang atasia dialah satu-satunya wanita yang bisa merubah kepribadian ku dalam sekejab. Aku bisa menjadi baik karnanya aku pun bisa menjadi buruk karnanya. Sayang dia telah dimiliki orang lain. Hatiku sakit mendengar fakta itu, orang yang merebut pujaan hatiku tak lain adalah temanku sendiri. Aku Dandi akan bersumpah balas dendam. Dan aku akan mendapatkan pujaan hatiku kembali. Aku tau tujuanku itu salah tapi aku tidak trima jika laki-laki itu merebut kebahagiaan ku yang sudah lama ku perjuangkan. Hahaha perisor (perebut istri orang), pembinor (perebut bini orang) sebut saja diriku seperti itu. Aku tak peduli. Hidupmu adalah HIDUPMU dan hidupku adalah HIDUPKU.


Pagi itu saat satu demi satu argumenku beradu dengan tukang parkir di pinggir jalan. Dengan netra yang kucintai aku menemukanmu setelah sekian lama berada dalam pencarian. Kau duduk termenung seorang diri di sebuah taman tertarik dengan bunga indah yang mekar pagi hari. Namun ketertarikannya tak sebesar ketertarikanku untuk menyapamu hari ini. Sungguh aku ingin kembali bertemu wanita yang slalu ada dalam memoriku. Aku tak sabar menggegam tanganmu yang kurus, namun hangat.

__ADS_1


Meski aku mengayun langkahku besar-besar, namun tak juga sampai menujumu secepat keinginanku untuk melihatmu. Beberapa tahun terakhir, aku sudah lama tak duduk berdua denganmu, mendengar uraian kata yang terjalin untuk menyampaikan kisahmu. Kita sibuk mengurai pikiran dan tenaga untuk menyelesaikan tugas utama kita, kuliah. Kamu dan aku sepakat bahwa karya akhir ini akan menjadi puncak pencapaian. Namun kau tiba-tiba berubah kadang muncul kadang menghilang. Akibatnya, kisah kita pun terjalin seperti sinyal HP di pegunungan, kadang ada, dan kadang tiada.


Sejak saat itu aku takut kehilangan mu, namun ketakutan ku benar-benar terjadi kau menghilang dari pandangan ku dan tangan itu tak bisa ku genggam lagi.


Pagi itu aku bahagia takdir mempertemukan kita lagi meski dengan kisah yang berbeda.


Kamu sudah milik dia sedangkan aku masih sendiri. Aku marah, kecewa tak punya gairah hidup. Sejak saat itu, pagi aku bangun, nampaknya selimut setebal biasanya tak mampu membungkus tubuhku dalam kedinginan. Aku menggigil dan menghadap mentari. Sirat cahayanya yang menembus tralis jendela menjadikan tubuhku suam-suam kuku. Aku terperangah. Mengapa hanya aku yang kedinginan begini?


Siang hari itu, tak banyak diriku bergerak dalam aktivitas. Aku telah berulangkali mengirim pesan bahwa aku merindukannya. Pesan tanpa tujuan, aku gelisah bahkan tidak sempat mengetahui nomor telfonnya. Seakan semua kerinduan yang kukatakan, hanya mengambang-ngambang dalam genangan air mata penantianku. Jika kugambarkan semua ini padanya, tentu itu sangat membosankan. Bukankah semua kata rinduku yang ku katakan, ku kirimkan, ku renungkan, ku pikirkan dan ku tuliskan tidak akan mengubah keputusan bahwa wanita ku sudah milik orang lain.

__ADS_1


Hingga ke egoisan dan tekadku memakan hati nurani yang tumbuh. Aku memutuskan untuk merebut kembali pujaan hatiku. Entah apapun yang akan aku dapat aku tidak akan menyerah. Aku menguatkan tekad rasanya, semakin ku lukiskan, ku pikirkan, ku renungkan, dan ku katakan semakin membuatku merasa gelisah dalam segala aktivitas.


Penantianku tak menyerah sampai disitu. Hingga air mata, dan lelahnya kaki menanti terbalaskan sudah ketika kudapat nomor Nawang dari orang suruhanku. Aku menyeringai bahagia walau hanya sementara, lalu menghilang tak tahu dimana dan kemana. Setidaknya, aku sudah bisa menghubunginya kapan pun aku mau.


Aku tau Tuhan, tak kan membiarkan rinduku sepenuhnya mengambang dalam genang air mata. Aku meringkuk dan menunggu di antara senja yang perlahan larut oleh gelap malam. Menunggu pesan yang tanpa balasan. Kekecewaan itu terasa oleh hembus angin malam yang menusuk hatiku ketika aku duduk diteras seorang diri, menantikan kabar darinya hingga secangkir teh itu dingin dihinggapi semut.


Tekadku, tujuanku , hidup ku hanya satu untuk mendapatkan Nawang sang pujaan hatiku.


Sekian dulu kisah tentang perisor yang tak kalah serunya. Nantikan kejutan-kejutan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2