
Pakha mendengar suara jeritan di lorong yang memanggil-manggil namanya, munculah wajah bima di lorong itu namun semakin mendekat wajah itu berubah kulitnya terlihat mengelupas di sertai darah yang bercucuran keluar dari kedua mata bima wajah itu sepenuhnya terlihat hancur sedangkan badan bima terlihat bergerak patah-patah. Sesosok makhluk yang menyerupai bima itu terbang mengejar pakha, tanpa aba-aba apapun dia berlari sekencang mungkin menghindari makhluk itu namun kakinya tersandung dan ia terjatuh dari gedung lantai tujuh.
"AAARK"teriak pakha dengan kencang ternyata yang ia alami hanya sebuah mimpi buruk. Pakha langsung membuka matanya ternyata ia sudah berada di atas ranjang dengan pemandangan suasana kamar miliknya.
"Syukurlah hanya mimpi,"gumam pakha sambil memegang kepalanya yang terasa sedikit pusing.
"Bima siapa kamu sebenarnya? "batin pakha penasaran dengan mimpinya yang barusan kemudian ia melihat pintu kamarnya mulai terbuka. Suara pintu itu di ikuti langkah kaki yang masuk kedalam kamar pakha, menampakkan wajah kelaki yang terasa asing baginya.
"Pakha akhirnya kamu sudah bangun juga, ini aku bawakan bubur dan teh hangat, "kata boy kemudian duduk di tepi ranjang pakha.
"Iya terima kasih,"jawab pakha.
"Mau makan sendiri atau ku suapin? "tawar boy sambil tersenyum menggoda perempuan yang di rindunya selama ini.
"Aku bisa sendiri, "jawab pakha langsung mengambil mangkuk yang di pegang boy tanpa sengaja tangan mereka berdua saling bersentuhan sehingga membuat suasana menjadi canggung.
Suasana itu sangat tidak enak untuk pakha dia benar-benar melupakan boy di dalam ingatannya saat ini, dalam hatinya seperti ada sesuatu yang hilang namun tidak tau sesuatu itu apa. Siapa laki-laki ini dia begitu baik padaku kenapa dalam ingatanku tidak ada dirinya sama sekali pikiran pakha bertanya tanya namun tidak bisa ia tanyakan langsung pada boy karna dia merasa malu. Semua itu terjadi sebab bima menghapus semua ingatan pakha tentang boy agar dirinya tidak punya pesaing, karna dulu pakha pernah salah menyebut nama boy di depan bima. Bima melakukan itu karna dia merasa cemburu pada boy, dia ingin menjadi pria satu-satunya yang ada di hati pakha. Makhluk itu sangat licik dia akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.
"Bagaimana keadaanmu?apa ada yang sakit?"tanya boy dengan suara pelan karna ia merasa kwatir pada pakha.
"Aku baik-baik saja, "jawab pakha.
Setelah pakha menghabiskan buburnya, boy berjalan keluar kamar agar pakha bisa kembali beristirahat. Pakha hanya menatap kepergian boy meninggalkan dirinya yang masih menyimpan rasa penasaran di hatinya.
"Laki-laki itu terlalu baik padaku, saat aku membuka mata di malam itu dia juga muncul dan aku benar-benar merasa bersalah karna tidak ingat dirinya, "batin pakha kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang semalaman belum mandi.
__ADS_1
Sementara itu di luar rumah pakha ada sesosok makhluk transparan yang sedang mengintai pakha dari jendela.
"Aku akan membawa mu kembali jika tenagaku sudah pulih, semua ini gara-gara dukun tua bangka itu yang menghabiskan tenagaku, untuk sementara aku hanya bisa melihatmu dari jauh, "kata bima sambil memerhatikan pakha dari kejauhan.
Bukan hanya bima yang memerhatikan pakha saat ini namun juga ada seorang manusia yang tersenyum licik di luar rumah pakha. Manusia itu merasa senang melihat mangsanya sudah kembali lagi ke rumah.
"Prempuan yang menarik, aku tidak akan melepasmu karna kamu sudah menjadi target ku selanjutnya, "kata laki-laki itu sambil mengayunkan parangnya ke kucing kecil yang tidak sengaja menabrak kakinya.
"Meow kek"seketika nyawa kucing itu sudah melayang. Parang yang bersih itu sekarang di penuhi oleh darah segar.
"Kucing sial beraninya menabrak kaki ku rasakan akibatnya, "kata laki-laki kejam itu sambil menendang kucing tanpa nyawa itu dengan kakinya.
Laki-laki psikopat itu langsung pergi dari lokasi rumah pakha.
Pakha berjalan menghampiri mereka bertiga dan langsung duduk bergabung dengan mereka.
"Pada asik ngapain sih?"tanya pakha pada ketiga orang itu.
"Ini loh boy sedang menceritakan tentang semua kejadian yang menimpa dirimu sebelumnya,"jawab kak nawang di ikuti anggukan oleh kedua laki-laki yang duduk di depannya itu.
"Jadi nama laki-laki itu adalah boy, "batin pakha.
"Boy bisa minta tolong ceritakan kembali apa yang terjadi padaku, aku juga ingin tau, "kata pakha pada laki-laki yang masih terasa asing itu.
"Baiklah aku akan menceritakan dari awal lagi, "jawab boy sambil tersenyum menatap pakha.
__ADS_1
Boy menceritakan semua kejadian pakha dari awal sampai akhir tanpa ada satupun yang terlewati termasuk cerita tentang seorang kakek dukun yang rela kehilangan nyawa demi menyelamatkan pakha agar bisa kembali ke dunia nyata.
Pakha tidak sepenuhnya percaya dengan perkataan boy saat ini, mustahil baginya jika mempercayai omongan laki-laki yang tidak di kenalnya itu. Hatinya tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi padanya, dia langsung berlari ke kamar meninggalkan mereka bertiga sambil menahan air matanya. Mereka hanya melongo melihat kepergian pakha meninggalkan ruang tamu itu.
BRAKK pintu kamar terbanting dengan keras, pakha langsung merebahkan dirinya ke atas tempat tidur seketika tangisnya langsung pecah saat itu juga.
"Pakha buka pintunya, maaf jika kita menyakiti hatimu, apa kakak boleh masuk? "tanya kak nawang di depan pintu kamar.
Tanpa ada jawaban sama sekali yang terdengar hanya sebuah isak tangis di ruangan pakha saat itu. Kak nawang memutuskan untuk langsung masuk ke kamar karna saat itu pintu tidak terkunci.
Kak nawang menepuk-nepuk punggung adiknya. "Lepaskan semua bebanmu agar kamu merasa lega, karna bagaimana pun juga itulah kenyataan yang lambat laun harus kamu terima. "
"Tidak mungkin bima itu bukan manusia hiks hiks,"batin pakha.
Suara kak nawang membuat pakha semakin menangis dengan kencang hingga suara tangisnya terdengar di telinga boy.
Hatinya seperti tercabik-cabik mendengar wanita yang ia sayangi menangis histeris seperti itu.
"Biarkan pakha menangis agar hatinya terasa lega, "kata oci pada sahabatnya.
Boy hanya terdiam memasang wajah kwartir mendengar tangis pakha.
Untung saja hari itu pak yat dan bu sar baru keluar rumah untuk berbelanja ke pasar jika mereka berdua mendengar tangis pakha yang berisik itu mereka pasti memarahi pakha. Bukan perasaan lega yang pakha rasakan malah akan semakin buruk jika kedua orang tua itu ada di rumah. Kak nawang adalah satu-satunya keluarga pakha yang peduli padanya. Meskipun pakha sudah mendapatkan banyak perhatian dari para lelaki yang kagum dengan kecantikan wajahnya itu tidak membuat pakha merasa cukup. Kebahagian pakha sesungguhnya adalah mendapat kasih sayang oleh keluarganya sendiri karna kasih sayang yang tulus itu tidak bisa tergantikan oleh siapapun.
Nantikan episode selanjutnya untuk mengetahui siapa laki-laki yang menjadikan pakha mangsa selanjutnya, nantikan juga kelanjutan kisah hidup pakha untuk menemukan cinta sejatinya. Semangat membaca.
__ADS_1