
Pada suatu malam hujan turun, perlahan seperti bisikan. Berjam-jam kemudian Pakha tinggal memejamkan mata dan ia pun bisa mendengar bunyi itu lagi, seperti jari-jari kecil mengetuk-ngetuk jendela. Di suatu tempat yang terselubung kegelapan malam, seekor anjing menyalak dan Pakha tidak bisa tidur, berbaring gelisah.
Sebenarnya ada suatu misteri apa yang alam akan sampaikan kepadanya.
Sudah hampir 20 tahun dirinya tentram tidak bisa melihat dunia lain. Namun sekarang sesuatu kembali mengusik kehidupannya yang tentram itu.
"Aarkk aku tak bisa tidur sama sekali, kau yang di luar coba tunjukan dirimu kepadaku jika kau memang ada. "kata Pakha sembarangan.
Tak ada apapun yang terjadi di sekitarnya, hanya suara angin malam yang terdengar seperti membisikan sesuatu.
"Keluarlah" seperti itulah pesan yang Pakha dapatkan saat ia berkonsentrasi memusatkan alam pikirannya.
"Gila sejak kapan aku mulai berhalu seperti ini , aku kan sudah tak bisa melihat hal seperti itu lagi sejak lama. "Pakha bermonolog pada dirinya sendiri.
Kemudian ia memejamkan matanya untuk mencoba tidur namun masih sama. Ia bisa mendengar bunyi itu lagi.
Pakha melirik jam dinding di kamar kost, sudah jam satu lewat. Pakha mulai frustasi karna sampai saat ini ia terpejam namun belum bisa tidur dia juga teringat akan presentasi yang menurutnya gampang-gampang susah pada mata kuliah besok pagi yang harus ia hadapi. Gampang sih tapi karna dosen penilainya suka pelit nilai ,yah bisa di bilang dosen killer juga maka dia harus berusaha dengan maksimal agar bisa mendapatkan nilai yang baik.
Untuk memencing rasa kantuk Pakha mencoba membuka ponsel, ingin bermain sebentar dengan benda pipih itu agar ia lupa dengan suara-suara aneh yang selalu mengganggu kedua indra pendengarnya.
Pakha bergelung dibawah selimut, memeluk guling empuk yang menemaninya selama ia tinggal di kost ini. Perlahan ia memejamkan mata, mulai membuka kilas kilas mimpi dialam bawah sadarnya.
"Uwekk bau apa ini, masa kentut kamar mbak-mbak sebelah bisa sampai sini. "gerutu Pakha dengan kesal.
Pakha mengendus, mencium bau busuk yang menyeruak hebat di dalam kamarnya.
"Aneh ini bukan bau kentut tapi bau sesuatu yang lain. "gumam Pakha di bawah selimut.
__ADS_1
Dia masih malas membuka mata.Namun, bau busuk itu begitu menyengat, menganggu pernapasannya.
Pakha duduk ditepi kasur dengan gontai, berniat untuk minum air. Seteguk, dua teguk. Dia menaruh gelas setelah meneguk habis air di gelas itu.
Ia kembali lagi ke kasur, lalu mencoba tidur, lagi. Bagaimanapun ia harus istirahat meskipun hanya sekedar berbaring karna besok ada matkul penting.
Namun bau itu semakin parah. Seolah bau itu berada di dekat Pakha.
Pakha menutup hidung dengan guling tak lupa ia menarik selimut sampai di dada. Udara begitu dingin seperti di kutub utara membuat tubuhnya membeku detik itu juga.
Pakha tetap berpikir positif thinking bahwa bau busuk itu dari sampah menggunung yang terletak di depan kamar kosannya. Besok ia harus membuang sampah yang menumpuk itu.
Percuma, guling yang wangi bahkan tak mampu mengalahkan bau bau tidak sedap itu. Pakha mendengus kesal, ingin tidur pun susah banget.
“Huek" akhirnya cairan hujau itu pun keluar dari mulutnya, kepalanya terasa pusing bahkan seperti orang yang lagi mabuk berat. Pakha hendak memejamkan mata lagi tapi ia merasakan bulu kuduknya meremang. Pikirannya mulai kalut, tidak tenang.
Pakha mengambil kembali hpnya yang baru saja ia taruh dan memanggil nomor teratas di panggilannya.
"Mungkin Boy udah tidur. "kata Pakha kemudian kembali menaruh hpnya.
Hawa dingin menusuk tengkuk lehernya, Seakan belum cukup membuatnya ketakutan. Pakha merasakan sesuatu memeperhatikan dirinya dari jauh.
Ia berusaha bodo amat dan kembali menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Pakha seakan ingin mati dari dunia ini dan ikut bersama Bima mantan kekasih gaibnya ketika selimutnya ditarik paksa dan melihat sosok tinggi seperti guling yang tersenyum lebar, memperlihatkan mata bolong, wajah berdarah, bernanah, dan belatung dimana mana.
Sosok itu tersenyum begitu lebar, seolah merobek wajahnya sendiri. Pakha ingin pingsan namun itu tak mampu ia lakukan setelah dari kecil ia kerap sekali melihat sosok seram yang seperti itu.
__ADS_1
Dan tak kalah anehnya sosok itu berbicara dengan nada jelas di telinga Pakha.
“Raja sedang menunggumu di hutan kemarilah aku akan membawamu bertemu dengannya.”
Perkataan makhluk seram itu mampu membuat dirinya tercengang.
"Ssiiapa nama rajamu. "tanya Pakha dengan badan gemetar.
Mana mungkin tidak gemetar sudah begitu lama dia hidup dalam kenyamanan tidak melihat hal-hal menakutkan seperti itu lagi dalam hidupnya.
"Bima iya itulah nama raja kami saat ini. "
Keringat dingin mulai mengucur dari tubuh Pakha setelah dia barusan mendengar nama yang tak asing di telinganya. Air matanya terjatuh bersama keringat yang bercucuran keluar dari tubuhnya.
Apa yang akan Pakha lakukan sekarang? Apakah dia harus percaya pada makhluk seram itu atau dia harus mengabaikan kata-kata makhluk astral itu.
"Waktumu tinggal 10 detik. "kata makhluk itu kembali terdengar seperti sedang mengancam nyawanya.
Dengan banyak pertimbangan akhirnya di detik terakhir ia mengangguk, itu artinya Pakha setuju di bawa makhluk itu pergi.
Namun keputusan yang Pakha ambil adalah keputusan yang salah. Makhluk itu menyeringai tersenyum dengan lebar.
Sementara itu di sisi lain Boy tanpa sengaja terbangun dari tidurnya. Ia menuju ke kamar mandi untuk buang air kecil, setelah itu ia mengambil hp jam menunjukan pukul dua dini hari.
Tak kalah terkejutnya ada 5 panggilan tak terjawab dari sang kekasih hatinya. Namun ada sebuah pesan yang membuat ke kwatirannya mereda setelah ia membacanya.
*Selamat tidur sayang maaf mengganggu malam-malam, aku hanya ingin memastikan kamu tidur dengan nyenyak*tak lupa lima emot cium tersemat di kata terakhir.
__ADS_1
Boy tersenyum melihat pesan Pakha kemudian membalas dengan banyak emot cium di pesannya kemudian kembali melanjutkan tidurnya.
Sekian dulu cerita ini, hayo kenapa keputusan Pakha untuk ikut makhluk seram itu merupakan keputusan yang salah?? sebenarnya apa yang terjadi?? temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.