
"Ummi maafkan perkataan abi. aku tidak bermasud membentak seperti itu, coba lihat diri ummi. "kata Oci terdengar lembut tangannya sambil mengusap air mata Nawang yang bercucuran.
"Maafkan aku bii."jawab Nawang sambil menangis. Nawang baru menyadari jika tubuh nya terluka. Ia pun merasakan rasa perih dari lukanya saat terkena pecahan gelas yang dari tadi tidak ia rasakan karna terlalu memikirkan orang lain.
"Ummi tunggu sebentar, akan aku ambilkan P3K dulu. "kata Oci.
Nawang hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit.
Sementara itu Pakha akhirnya sampai juga di tanah kelahirannya. Rumah nampak begitu sepi, mungkin orang tuanya lagi keluar rumah. Pakha tidak ambil pusing soal itu. Dia langsung masuk rumah dan berjalan menuju kamarnya. Ketika membuka pintu debu langsung menyeruak masuk ke sela-sela hidungnya sehingga membuatnya batuk. Ia menghidupkan lampu matanya melihat keadaan kamar yang sudah memprihatinkan penuh debu setebal kamus dengan sarang laba-laba yang menggentung di mana-mana. Barang-barangnya terletak masih sama seperti dulu saat ia terakhir meninggalkan kamarnya dua bulan yang lalu. Orang tuanya pasti tidak peduli dengan kamar Pakha dan mustahil juga jika mereka membersihkan debu di kamar Pakha.
"Menyebalkan aku harus bersih-bersih dulu baru bisa istirahat. "gumam Pakha kemudian melempar tas ransel yang ia bawa ke sembarang tempat. Kemudian dia bergegas mengambil sapu yang tergeletak di kamarnya untuk bersih-bersih.
Sekitar lima belas menit akhirnya kamar yang penuh debu menggunung itu terlihat bersih dan segar. Pakha membuka jendela kamarnya, untuk mengganti udara baru di dalam kamarnya. Dia memandang sebuah hutan belantara di jendela.
"Bima sedang apa ya...aku rindu. "batin Pakha kemudian berjalan ke ranjang dan melemparkan tubuhnya yang lelah akibat perjalanan. Tidak butuh waktu yang panjang akhirnya ia terlelap dalam mimpi. Dan hpnya dari tadi masih berada di dalam tasnya dengan keadaan mati sehingga siapa pun tidak bisa menghubunginya termasuk Boy.
Jendela kamarnya yang masih terbuka di malam hari menampakkan makhluk dengan wajah buruk yang tersenyum padanya.
Makhluk itu tak lain adalah penunggu hutan kelam yang Pakha rindukan. Ia tak bisa muncul di depan Pakha seperti dulu karna mereka sekarang beda alam. Dulu Bima bisa muncul di depan Pakha sesuka hatinya karna Pakha sudah ia tandai. Semenjak Pakha menjalani rukyah, tanda yang Bima tanam di tubuh Pakha terlepas. Karna hal itu Pakha tidak bisa lagi melihat Bima namun yang mengkhawatirkan terkadang Pakha bisa melihat makhluk tak kasat mata yang lainnya. Kemampuan istimewa yang Pakha miliki sangat berhubungan dengan tanda yang Bima kasih dahulu.
__ADS_1
Keesokan harinya di jam menunggu perkuliahan berlangsung, Boy nampak murung sendiri di pojok kelas dia enggan bergaul dengan teman teman lainnya, padahal suasana kelas sangat ramai dengan hiruk pikuk mahasiswa yang sedang mengobrol perihal materi perkuliahan dan juga mengobrol tentang kisah cinta mereka masing masing. Ia murung akibat Pakha yang tiba-tiba menghilang entah kemana. Bahkan nomor telefonnya tidak aktif.
Datanglah Alex mahasiswa yang tampan dan sangat tenar di kampus menghampiri Boy yang duduk sendirian sembari memainkan telepon genggamnya. Dari dulu Alex selalu memperhatikan Boy yang slalu sendiri saat ngampus dan hatinya merasa kasihan pada Boy. Alex tidak mengetahui identitas asli Boy namun dia tau namanya.
“Boy kenapa sih kamu jarang sekali mengobrol dengan kami, di sini kami juga teman kamu .“ kata Alex sembari merangkul Boy yang sedang menatap telepon genggamnya.
Boy melirik ke Alex sembari tersenyum sayu dengan wajah cueknya.
“ Teman teman yuk kesini kita temanin sahabat kita nih dari awal kuliah selalu sendiri.” sedikit teriak Alex kepada teman temannya yang sedang sibuk berbincang-bincang.
Sayangnya mahasiswa di kelas tersebut tak menghiraukan Alex.
“ Teman-teman yang saya hormati, yuk kita temenin sahabat kita ini “ Alex kembali mengajak mahasiswa lain kali ini dengan nada lebih keras.
"Perkenalkan nama saya Alex."kata Alex sambil mengulurkan tangan ke arah Boy.
"Baiklah akan aku ingat nama itu. "jawab Boy sambil meraih tangan Alex.
Setelah perkenalan itu Boy kembali memandang HP miliknya, sejak tadi hatinya sangat cemas karna nomor Pakha belum juga aktif. Boy tetap memandang hpnya berharap ada sepucuk pesan datang namun tetap saja sepi.
__ADS_1
"Apa ini yang di namakan galau? "batin Boy pandangannya tidak lepas dari foto Pakha yang ada di hpnya.
Wajah dan layar HP yang saling memantulkan cahaya “ kamu diam desini yaa, biar ku beri pelajaran kepada yang lain bagaimana menghargai orang dengan baik dan benar “ nada Alex yang cukup keras dengan raut muka yang sedikit marah.
Alex beranjak dari tempat duduknya lalu jalan menuju depan kelas.
“ woiiii… apakah kalian memiliki mata ? apakah kalian memiliki otak ? apakah otak dan mata kalian saling berhubungan ?” Alex berbicara sangat lantang hingga beberapa mahasiswa tersentak kaget dengan perkataan yang di lontarkan oleh Alex.
“Yang seharusnya bertanya saya, apakah mulut sama otak masih terhubung apa tidak ?”Rindu mahasiswi yang terkenal sombong membalas perkataan Alex yang begitu menyentak. Alex pun terdiam sejenak dan menahan amarahnya yang hampir memuncak.
“Jika mulut dan otakku tidak saling berhubungan, maka aku tidak akan berdiri dan berbicara di depan krumunan orang yang Otak dan matanya tak saling berhubungan seperti kalian” jawab Alex yang sedikit teriak sambal melotot ke hadapan Rindu.
Rindu terdiam sambil memperlihatkan muka judes dan kesal.
“Teman- teman, di sudut kelas kita memiliki teman yang namanya Boy, dia juga teman kita yang harus kita hormati, kita juga harus ngobrol dengan dia, aku berdiri disini karena aku sadar ada seseorang yang sendiri butuh kehangatan seorang teman.” Alex berbicara begitu halus selayaknya seorang yang sedang berpidato. Sejak pertama masuk kuliah Boy tidak pernah memiliki teman kampus, hal itu karna identitasnya ia sembunyikan pada siapa pun. Jika para mahasiswa di kampusnya tahu kalau Boy itu pemuda yang sudah sukses. Mereka semua akan berbondong-bondong merayu dan mendekati Boy. Boy memilih untuk menyembunyikan identitasnya agar hidupnya tenang.
Seisi kelas terdiam tak bersuara perlahan lahan mulai melirik Boy dengan muka yang begitu sinis. Boy beranjak dari kursinya dan berjalan kedepan kelas menghampiri Alex dengan jalan yang nampak gagah dan percaya diri.
"Lex cukup biarkan saja mereka, aku tak butuh mereka di sisiku. Thanks kamu sudah peduli padaku. "kata Boy kemudian menepuk pundak Alex yang hanya melongo melihat kepergian Boy.
__ADS_1
Seisi kelas pun heboh melihat ada laki-laki ganteng seperti Boy yang tidak pernah mereka sadari. Para mahasiswi prempuan merasa buta mata karna baru menyadari ada pangeran yang ia lewatkan. Mereka semua baru hari ini melihat Boy ngampus. Karna Boy adalah orang sibuk. Sibuk memimpin perusahaan dan sibuk memikirkan percintaan. Begitulah keadaan Boy saat di kampus.
Sekian dulu ya..... gimana sih kelanjutan hubungan Boy dan Pakha?mereka akan putus atau terus??. Temukan jawabannya di episode selanjutnya... Semangat membaca.