
Tepat jingga merona di ufuk timur, senja telah ditelan malam ,Pakha mulai beranjak dari tempat tidur. Tubuhnya sudah terlihat segar dan sehat semenjak beberapa hari Boy berhasil merawatnya dengan baik.
Waktu bergulir tergesa hari ini, menyulap senja menjadi malam yang hadir terlampau awal.
"Sayang aku pulang sekarang, "kata Boy mengagetkan Pakha.
"Oh iya ini ada sanwich kan tadi kamu belum makan , "kata Pakha sambil menyodorkan sebuah bekal.
"Makasih sayang, "cup satu kecupan mendarat di kening Pakha.
Dan tanpa pikir panjang Pakha juga membalas kecupan Boy.
Sungguh di luar dugaan, Selama ini hanya dirinya yang menunjukan kasih sayang namun hari ini Pakha membalas perhatiannya.
"Hati-hati di jalan Boy, "kata Pakha kemudian berlari masuk ke kamar karna sekarang wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
Boy tersenyum melihat kelakuan kekasihnya, ia kemudian menghilang di balik pintu. Dan pergi meninggalkan Pakha sendirian karna tubuh Pakha sudah normal kembali setelah demam beberapa hari.
Ketika suara mobil Boy sudah pergi meninggalkan kosan, Pakha berteriak riang.
"OMG PAKHA APA YANG BARUSAN KAMU LAKUKAN.... "teriakan Pakha di dalam kamarnya.
Untungnya kamar kosan itu di lengkapi dengan kedap suara sehingga suara di dalam maupun di luar tak akan terdengar kemana-mana. Pakha berlari dari ranjang dan berhenti di depan cermin.
"Wajahku kenapa terlihat merah begini, eh tunggu dulu kok ada satu jerawat...sejak kapan dia bersemayam di sini, malu sekali jika Boy melihat wajah jelekku ini"kata Pakha bermonolog sendiri.
Entah kenapa sejak hari memalukan itu ia selalu berhati-hati dan selalu ingin tampil cantik di depan Boy. Apa itu yang namanya lagi di mabuk asmara. Semua ujung kepala sampai kaki ingin terlihat sempurna. Namun sebenarnya yang terpenting bukan itu tapi bagaimana kita bisa menjalani hubungan dengan normal tanpa melewati batas apapun.
Setelah hampir setengah jam Boy berada di kebisingan jalan raya. Akhirnya ia sampai juga di istana kediamannya.
"Assalamualaikum, "
"Waalaikumslm" jawab sahut menyahut dari dalam rumah.
__ADS_1
Ternyata ayah dan ibunya sudah pulang dari bisnis luar negeri. Boy langsung bergabung dengan mereka berdua di ruang makan.
"Honay dari mana saja kamu?, "tanya ibunya sambil menyendok makanan dan di masukan ke mulutnya.
"I from campus mam, "jawab Boy sambil mengambil piring kemudian di isi dengan segala macam hidangan yang tertata di atas meja makan.
"Dad lihat tuh anak laki-laki satu-satunya kita rajin banget, terus kapan ibu akan di beri cucu jika kamu slalu sbuk dengan campus huh, "kata ibu Boy mengeluh.
"Ma biarkan Boy memilih jalan hidupnya sendiri dia sekarang udah dewasa ,"kata ayah Boy kemudian melanjutkan makan malamnya.
Boy tersenyum mendengar jawaban ayahnya. Kemudian melanjutkan makannya.
Setelah makan malam yang panjang itu selesai Boy langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Namun isi kepala nya mengingat ada sesuatu yang penting. Tanpa menunggu menit datang ia langsung terburu-buru membuka tas ranselnya dan mengeluarkan kotak makanan berwarna hijau yang tadi Pakha berikan. Tak sabar hati untuk cepat-cepat membuka dan betapa senang hatinya saat melihat sanwich rasa cinta dengan gambar saos berbentuk love yang tersemat di atasnya.
" Ini adalah sanwich cinta dari Pakha, sayang aku janji akan menjaga pemberian pertama mu ini. "kata Boy bersemangat.
Boy tak berniat memakan makanan pemberian Pakha pertama kali yang sangat berharga untuknya bahkan lebih berharga dari emas permata yang ia miliki sekalipun.
"Pakha Love You Too"batin Boy kemudian menutup rapat-rapat benda pusaka itu. Sanwich itu di taruh di dalam oven untuk di keringkan agar awet tidak cepat busuk. Dan dia bisa melihat kapan pun yang ia mau. Cinta itu sederhana yang rumit itu cara kita menilai apa itu cinta. Jadi menurut kalian cinta itu apa?
oooo
Kuterima kau apa adanya....
Yang penting aku bahagia....
Sayang
Cinta itu buta
oooo
Boy langsung menyetop lagu sebelum bait dalam reff awal selesai. Cinta itu buta. Lagu itu sangat cocok dengan kondisinya sekarang. Boy menjadi orang yang sedikit tidak waras bukan karna kejiwaannya terganggu namun melainkan cintanya yang penuh sampai ke ubun-ubun yang membuat hidupnya tergila-gila karena cinta. Dan kehidupan Boy secara tidak langsung mirip dengan lagu Armada.
__ADS_1
Begitu juga dengan Pakha entah mengapa malam yang dingin ini bukan di buat istirahat namun untuk menemukan cara agar jerawat satu yang menempel di wajahnya bisa menghilang.
Banyak artikel yang sudah ia baca untuk menghilangkan musuhnya itu namun hanya sia-sia malah makin memperburuk keadaan.
"Hah kok jadi tambah besar, huh gimana ini aku pasti akan malu jika bertemu Boy, apa besok aku menghindar saja agar dia tidak melihatku. "kata Pakha berbicara sendiri di depan cermin.
Malam semakin larut, mata Pakha sudah sampai di ujung kesadaran namun ia masih dengan gigih melawan agar tetap terbuka namun akhirnya ia mengalah dengan matanya.
Pakha tertidur dengan posisi masih terduduk sambil memegang hp di tangannya karna sedari tadi ia membrowsing tentang cara menghilangkan jerawat.
Mentari enggan bangun dari tidurnya, masih gelap di sepanjang jalanan Ibu Kota. Udara sejuk dalam sunyi. Pakha duduk dalam angkutan kecil menunggu berhenti Transit ke Halte yang melewati kampusnya. Dengan jahet hitam, berkaca mata, di padukan dengan topi di kepala menambah nuansa mencekam pada dirinya, tak lupa masker scuba hitam turut berperan menutupi sebagian wajahnya. Yah seperti buronan yang ingin kabur dari penjara aku menggambar kan keadaannya saat ini. Dia begitu karna apa lagi kalau bukan untuk menghindari Boy. Agar wajahnya tidak bertatapan dengan wajah Boy ia rela bangun jam 4 subuh. Dan berangkat ke kampus jam Set 6 pagi agar Boy tidak menjemputnya.
Terkadang hal yang menurut kita biasa saja, mungkin begitu bermasalah untuk sebagian orang. Berlaku seperti Pakha sekarang satu jerawat bukan masalah bagi kita namun baginya jerawat merupakan aib memalukan yang harus ia sembunyikan.
Entah takdir atau apalah Boy hari ini juga ingin berangkat pagi-pagi ke kampus Pakha menjadi salah satu pengisi seminar di kampus Pakha karna Boy beberapa hari yang lalu di minta oleh rektor kampus Pakha untuk menjadi inspirasi pemuda yang sudah sukses. Di usianya yang belum genap 24 tahun ia sudah banyak merangkul perusahaan-perusahan besar di Indonesia meskipun Ortunya juga berperan membantu namun ia tetap saja jadi pemuda inspirasi.
Hal itu masih Boy sembunyikan untuk membuat kejutan Pakha. Kebetulan yang sangat menggemaskan.
Setelah beberapa waktu menderita di angkutan sempit dan bau akhirnya Pakha sampai juga di kampus jam enam pagi.
"Huh akhirnya sampai juga. "Pakha menghembuskan nafas dengan kasar sambil membuka semua penyamarannya. Segar sudah tanpa rasa pengap yang sejak tadi Pakha tahan. Ia pikir jika sudah berada di kampus pasti sudah aman. Boy kan tidak satu kampus dengannya dan tidak mungkin Boy berada di kampusnya.
Tak lama telefonnya berbunyi, dan keluarlah nama Boy.
"Waalaikumslm sayang, maaf tapi aku ada urusan makanya berangkat pagi-pagi ke kampus dan sekarang aku sudah sampai di kampus ,ya udah dadah.waalaikumslm."tut akhirnya panggilan telefon itu berakhir.
Hati Pakha sekarang sudah tenang dan ia berencana sarapan dulu di kantin karna ia tadi belum sempat sarapan dari kosnya.
Setelah sarapan selesai jam masih menunjukkan angka setengah delapan pagi, masih banyak waktu yang tersisa karna kuliahnya di mulai jam delapan. Pakha masih malas untuk masuk ke dalam ruangan. Ia memutuskan untuk duduk di taman kampus yang terlatak tak jauh dari parkiran. Menikmati udara pagi yang segar sambil menyeruput kopi susu hangat di tangannya.
Namun tiba-tiba ada sesosok tangan yang menyentuh pundaknya. Dengan refleks kopi di tangannya terjatuh seketika.
"Hey beraninya kamu... "kata-katanya berhenti.
__ADS_1
Ternyata orang di hadapannya adalah laki-laki yang sejak tadi berusaha ia hindari. Bruk. Tubuh Pakha jatuh pingsan saat itu juga.
Cukup dulu gays, nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. semangat membaca.