
Dering telefon di malam hari membuat orang yang sibuk membaca buku seketika terhenti.
"Panjang umur ni orang. "kata Jidan kemudian melepas buku kecil di tangannya.
"Malam Jid, maaf ibu menganggu....emm anu..."ucap bu Arasi ragu-ragu.
"Ada apa bu?bilang saja padaku tidak apa-apa kok. "kata Jidan sambil melihat buku yang tadi ia baca.
"Anu.. kamu tadi pas di kelas lihat tidak buku kecil warna hijau?"tanya bu Arasi dengan nada kwartir.
"Emm.. sepertinya aku tidak melihatnya bu...emangnya itu buku apa? "Jidan malah kembali bertanya, dia pura-pura tidak tau padahal buku yang bu Arasi cari sekarang ada di tangannya.
"Bukan buku apa-apa, cuma notebook yang berisi tugas mahasiswa.. ya..yasudah kalau kamu tidak tau."kata bu Arasi kemudian mematikan sambungan telepon itu.
Jidan tertawa karna ia berhasil membohongi bu Arasi, Jidan punya alasan tersendiri dan terpaksa berbohong karena ia tidak ingin bu Arasi tau kalau buku itu di tangannya.
Jidan hanya ingin mengembalikan buku diary itu secara diam-diam saat ia selesai membaca semua yang tertulis di buku itu.
"Bu maaf aku berbohong padamu, aku hanya tidak ingin kamu canggung saat bersama denganku, aku janji akan segera mengembalikan buku ini. "batin Jidan kemudian melanjutkan membaca buku yang menggambarkan isi hati dari bu Arasi sang dosen genit.
Sementara itu pemilik buku itu masih sibuk mengobrak-abrik seisi kamarnya berharap diary itu terselip di antara skripsi mahasiswa. Namun ia sangat kecewa buku kecil itu tidak berhasil ia temukan.
"Di kampus tidak ada, di rumah tidak ada sebenarnya jatuh di mana buku itu. "gumam bu Arasi tangannya tak henti mengacak-acak seluruh benda di kamarnya. Setelah semua barangnya berserakan di atas lantai hasilnya tetap saja nihil, ia tidak berhasil menemukannya. Hatinya sangat cemas dan sangat gelisah karna buku itu adalah rahasia hidupnya, isi hatinya; sekaligus teman curhatnya. Bu Arasi menjadi lemas tak bertenaga, ia berpikir jika buku itu benar-benar hilang. Bu Arasi juga kwatir kalau buku itu jatuh di tangan orang yang membencinya, hidupnya pasti akan berakhir saat itu juga. Malam ini bu Arasi tidak akan bisa tidur karena terlalu memikirkan teman curhatnya yang hilang entah kemana.
Di satu sisi di sebuah pasar malam terdapat sepasang kekasih yang bersendau gurau. Siapa lagi kalau bukan Pakha dan Boy sepasang kekasih yang baru saja bertunangan.
"Sayang kita ke sana yuk naik kereta-keretaan sepertinya seru. "Boy mengajak Pakha untuk menaiki wahana yang ada di pasar malam.
__ADS_1
"Sayang itu kan wahana untuk anak kecil, gak mau ah aku malu. "jawab Pakha menolak ajakan Boy.
"Taraa... kita pakai ini biar wajah kita tidak terlihat orang lain juga dengan topi ini."kata Boy sambil memberikan topeng kecil di tangan kanannya dan sebuah topi di tangan kirinya agar Pakha mau menaiki wahana itu tanpa rasa malu.
Pakha tersenyum senang dan menerima usulan Boy. Pakha pun akhirnya mau menaiki wahana di pasar malam itu.
Pakha tertawa lepas saat menaiki wahana itu bersama anak-anak yang juga sedang menaiki wahana yang sama. Boy sangat senang melihat Pakha bisa tertawa bebas seperti itu, mata Boy tidak pernah lepas sedikit pun dari pandangan wajah Pakha yang tertawa riang bersama anak-anak.
Setelah selesai menaiki wahana itu Boy dan Pakha istirahat di sebuah kursi panjang yang terletak tak jauh dari wanaha yang tadi ia naiki.
"Aww. "tiba-tiba perut Pakha terasa sakit saat sedang tertawa bersama Boy.
"Sayang kamu kenapa, apa yang sakit?"tanya Boy sangat kwartir.
"Tidak apa-apa kok sayang mungkin maggku lagi kambuh. "jawab Pakha asal-asalan sebenarnya yang sakit itu penyakit batu ginjalnya bukan maag, sampai saat ini Pakha masih merahasiakan penyakitnya pada Boy dan orang-orang terdekatnya. Pakha tidak ingin terlihat menyedihkan, batu ginjal Pakha sebenarnya sudah stadium akut dan mungkin hidupnya sudah tidak lama lagi. Meskipun begitu Pakha tetap rutin meminum pil yang di resepkan dokter untuk membantu pemulihan penyakitnya agar tidak terlalu parah. Walaupun tidak ada yang berubah sama sekali, Pakha tidak berhenti berjuang. Penanganan satu-satunya ia harus di operasi, namun kemungkinan keberhasilannya sangat kecil 60 banding 40 persen operasinya akan berhasil.
Pakha sudah tidak tahan dengan rasa sakit yang ia rasakan.
Pakha kemudian mengambil pil tablet di tasnya yang slalu ia bawa untuk jaga-jaga kalau penyakitnya kambuh.
"Pak berapa harga air ini. "
"Lima ribu neng. "
"Ini pak kembaliannya ambil saja. "kata Pakha memberika uang sepuluh ribu pada pedagang kaki lima.
"Iya terima kasih neng. "
__ADS_1
Setelah membeli botol minum yang berisi air putih Pakha langsung menelan obat penahan rasa sakit penyakitnya. Tak lama kemudian Boy datang tergesa-gesa sambil membawa obat di plastik dan dua botol air minum.
Pakha gelagapan dengan cepat ia segera memasukan sisa obatnya ke dalam tas karna ia tidak mau Boy mengetahui penyakitnya.
"Sayang maaf nunggu lama karna apoteknya agak jauh dari sini, ini obatnya segera di minum biar tidak sakit."kata Boy sambil memberikan obat dan sebotol air.
"Sayang aku sudah tidak apa-apa kok, nih udah aku minumin air sekejab langsung sembuh."ucap Pakha berbohong sambil menyodorkan minuman yang tadi di belinya.
"Ahh begitu ya, lah ini gimana dong sudah terlanjur aku beli. "kata Boy bingung sambil menggenggam plastik yang penuh obat.
"Ya udah sini berikan aku biar aku simpan saja. "kata Pakha meraih obat yang Boy pegang.
"Baiklah. "jawab Boy lega.
"Sayang kapan nih kamu siap tunangan secara resmi biar orang tua aku datang ke rumahmu? "tanya Boy sambil menatap mata Pakha.
"Emm nunggu kuliah kita wisuda saja ya.. biar pendidikan kita tidak terganggu dan bisa fokus masa depan kita. "jawab Pakha sambil tersenyum.
"Baiklah kalau itu maumu, tapi ingat kamu itu sekarang sudah jadi tunangan aku meskipun belum resmi. "ucap Boy sambil mencubit hidung Pakha yang kecil.
"Iya sayangku cup. "tiba-tiba Pakha mengecup pipi Boy.
Seketika hati Boy seperti ada kupu-kupu yang berterbangan saat Pakha tiba-tiba menciumnya. Namun saat Boy ingin membalas kecupan kekasihnya itu, Pakha malah menghindar.
"Ho..o.. pengen main kejar-kejaran nih. "kata Boy kemudian mengejar Pakha yang berlari menghindari kecupan Boy.
Akhirnya mereka berdua saling kejar-kejaran di pasar malam itu dengan di penuhi canda tawa. Rahasia penyakit Pakha mungkin akan terus ia sembunyikan sampai akhir hidupnya. Sebenarnya ketika Boy menanyakan tentang tunangan resminya, Pakha malah mengulurnya karna ia tidak mau membebani Boy saat ia tiba-tiba pergi dari dunia ini. Hal terbaik yang bisa Pakha lakukan adalah merahasiakan penyakitnya dan tidak membuat harapan lebih pada Boy. Karna Pakha tidak tau lagi akan berapa lama ia bisa hidup di dunia ini, Pakha ingin menjalani sisa hidupnya dengan melukis kebahagiaan bersama Boy meskipun hanya sebentar tanpa membebani siapa pun, ia berjanji akan mengukir kenangan yang indah dengan orang-orang terdekatnya hingga waktu terakhirnya tiba.
__ADS_1