Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Sebuah Takdir


__ADS_3

Pagi dengan sejuta keindahan alam berada di sebuah pucuk harapan. Seperti biasa Boy selalu mengantar Pakha pergi ke kampus. Dengan keadaan Pakha yang sekarang Boy lebih memerhatikan kekasihnya itu.


"Sayang kamu yakin ingin berhenti di sini?"tanya Boy cemas.


"Iya sayang, aku ingin ke toko buku dulu sebelum ke kampus. "jawab Pakha dengan sungguh-sungguh.


"Aku tungguin ya,"kata Boy.


"Jangan... aku nanti jadi tidak konsen memilih buku, udah sana cepat ke kantor katanya ada rapat. "kata Pakha mengingatkan.


"Iya tapi gimana kamu nanti kalau menyebrang ke kampus. "kata Boy dengan kwatir.


"Boy di sana kan ada satpam yang membantu menyebrang aku bisa sendiri, jangan alay gitu dong, lagi pula kaki ku sudah jauh lebih baik dari pada sebelumnya."jawab Pakha.


"Iya udah kalau begitu, cium dulu. "kata Boy sambil menunjuk pipi kirinya.


Pakha mengernyitkan dahi kemudian mencium pipi yang di tunjuk Boy agar laki-laki itu mengizinkan dia untuk sendiri.


Setelah Boy pergi Pakha dengan serius memilih buku-buku untuk mencari bahan referensi judul skripsi nya.


Lokasi toko buku itu tidak jauh dari kampus Pakha, hanya jalan raya besar yang memisahkan jarak di antara mereka. Pas di depan kampus, hanya menyebrang jalan akan sampai di toko buku itu. Sebenarnya perpustakaan kampus juga ada banyak buku namun tidak selengkap di toko buku.


"Udah hampir jam 8, aku harus ke kampus sekarang. "kata Pakha kaget melihat jam di tangannya.


Ia bergegas menuju ke kampus dengan membawa beberapa buku yang baru saja ia beli.


Pas sekali di sana ada pak satpam yang sudah siap menyebrangkan mahasiswa, namun dirinya sedikit terlambat untuk ikut rombongan mahasiswa yang menyebrang itu.


"Yah ketinggalan deh. "kata Pakha gusar kembali melirik jam di tangannya.


Setelah di rasa jalanan agak sepi ia memberanikan diri menyebrang sendiri tanpa bantuan satpam.


Dengan langkah pelan satu tangan memegang kruk ia berusaha menahan laju kendaraan agar bisa menyebrang.


Matanya tak berhenti melihat sisi kanan kiri jalan itu, tanpa sengaja ia melihat wajah Jidan di depannya kira-kira berjarak 7 meter darinya.


"Oh ada Jidan. "kata Pakha matanya terfokus pada wajah itu.


"Jidannn.... "teriak Pakha memanggil Jidan di seberang jalan berharap bisa membantunya menyebrang.


Jidan menoleh sumber suara matanya menatap Pakha yang kesusahan menyebrang dengan kaki satu pincang.


Jidan berniat menghampiri Pakha untuk membantunya. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar teriakan pak satpam.


"MBAK AWAS "


Brukk prang.


Buku berhampuran di udara, seorang wanita tergeletak di atas jalan raya ,beberapa detik darah keluar dari kepala wanita itu.


Semua orang berhamburan menghampiri korban tabrakan itu.

__ADS_1


Jidan ikut berlari sambil menyenggol orang-orang yang menghalangi langkahnya.


"Pakha bangun....tolong sadarlah... "kata Jidan sambil merangkul kepala Pakha yang berlumuran darah.


Flashback


Saat Pakha sedang memanggil Jidan, di saat bersamaan Bima sedang memerhatikan dirinya.


"Ratuku sedang dalam bahaya. "kata Bima ketika ia melihat truk dengan kecepatan tinggi menuju Pakha.


Seketika itu tubuhnya langsung menghilang dan muncul di samping Pakha. Namun sialnya ketika Bima ingin menyelamatkan Pakha tangannya tidak bisa menyentuh Pakha.


"Tidak... "Kata Bima ketika tubuh Pakha sudah di hantam benda keras itu.


Kini tubuh Pakha sudah tergeletak di atas jalan. Beberapa detik kemudian jiwa Pakha keluar dari raganya.


"Bima... "kata Pakha saat melihat Bima pertama kali.


"Pakha kenapa kamu meninggalkan tubuhmu? "kata Bima kwatir.


"Apa maksud mu Bim. "kata Pakha bingung.


Kemudian matanya melihat di sekitar, betapa terkejutnya wanita yang tergeletak dengan banyak darah di sekujur tubuhnya sedang di tangisi Jidan persis seperti wajahnya.


"Tidak tidak mungkin.... "kata Pakha kemudian berusaha menyentuh Jidan namun tidak bisa.


Bima merangkul arwah Pakha.


Pakha hanya mengangguk kemudian melihat kembali tubuhnya yang mengenaskan di pangkuan Jidan. Hanya waktu sedetik dirinya menghilang bersama Bima.


...Back to the beginning Jidan menangisi Pakha...


Setelah menunggu beberapa menit ambulance datang mengangkut tubuh Pakha, Jidan ikut menaiki ambulan bersama Pakha.


Sementara itu kak Nawang pergi berbelanja bersama Oci.


"Bi tunggu di parkiran saja ya, ummi cuma belanja kebutuhan saja tidak lama kok. "kata Nawang.


"Iya aku tunggu di sini saja, tidak usah terburu-buru belanjanya. "Jawab Oci.


Setelah percakapan itu Nawang segera masuk ke dalam pasar untuk berbelanja semua kebutuhan. Ketika semua belanjaan sudah di beli tanpa sengaja barangnya jatuh karna terlalu banyak membeli barang.


"Sini aku bantu bawa, "suara yang ia kenal mengagetkan dirinya.


"Dandi... "kata Nawang dengan kaget.


Nawang meraih belanjaan yang di bawa Dandi.


"Tidak usah aku bisa sendiri, dan ngapain kamu kesini? "tanya Nawang.


"Tadi aku mengantar tanteku berbelanja tidak sengaja aku melihat mu kesusahan membawa barang belanjaan. "jawab Dandi.

__ADS_1


Nawang hanya diam mendengar jawaban Dandi.


Tiba-tiba hpnya berbunyi di dalam tas.


"Nomor siapa ini? "kata Nawang kaget.


Dia langsung mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum, iya saya sendiri. Apa?? "kata Nawang menjawab panggilan itu.


Tiba-tiba ia menjatuhkan hp di tangannya, dan tak sadarkan diri.


Dandi kaget melihat hal tersebut ia langsung menangkap tubuh Nawang saat itu juga dan langsung membopongnya.


Di saat bersamaan Oci mencari Nawang karena terlalu lama berbelanja. Ketika ia berjalan matanya tak sengaja menangkap Nawang berada di tangan laki-laki brengsek yang sangat ia benci. Ia langsung menghampiri Nawang, dan dengan sigap merebut tubuh istrinya dari tangan Dandi. Namun hal tak terduga terjadi Dandi tidak rela melepaskan tubuh Nawang, akhirnya adegan tarik-menarik tubuh Nawang pun tak terhindarkan.


"Cukup apa yang kalian lakukan. "suara seorang wanita mengagetkan keduanya.


Tante Dandi ikut bersuara melihat adegan anak kecil di depan matanya.


Seketika Oci sadar, bahwa wanita yang ia perebutkan itu lebih penting dan sangat membutuhkan bantuannya. Oci dengan keras menarik tubuh Nawang dari Dandi dan segera membawa ke klinik terdekat untuk pertolongan pertama.


Dandi mengikuti mereka berdua dari belakang. Sedangkan tante Dandi di tinggal begitu saja di depan pasar.


Selang beberapa menit Nawang tersadar dari pingsannya.


"Mas ...Pakha... Pakha. "belum selesai berbicara dia kembali menangis.


"Pakha kenapa mi, apa yang sebenarnya terjadi? "tanya Oci bingung.


"Pakha kecelakaan. "kata Nawang di sela tangisnya.


"Apa? "Oci kaget mendengar perkataan istrinya.


Ia langsung sigap menelfon temannya.


"Assalamualaikum Boy, ada kabar buruk. "kata Oci.


" Waalaikumslm, Kabar buruk apa ci? "tanya Boy di telefonnya.


"Pakha kecelakaan. "kata Oci.


Belum sempat melanjutkan kata-kata nya panggilan telefon itu tiba-tiba berakhir.


"Mas ayo kita langsung ke rumah sakit menengok keadaan Pakha. "kata Nawang.


"Iya baiklah ayo kita kesana. "jawab Oci kemudian membantu Nawang berdiri dari ranjang. Mereka berdua langsung pergi dari klinik itu menuju ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Pakha.


Di sisi lain Boy sedang kalang kabut dan tiba-tiba meninggalkan rapat yang masih berjalan, semua karyawan kaget begitu pula dengan sekretaris nya. Boy berlari seperti orang gila tanpa merespon apapun di sekitar nya. Sekretaris nya mengikuti dari belakang namun tidak mampu mengejar langkah kaki Boy yang berlari begitu cepat.


"Pakha aku akan segera datang menemanimu, jika kamu pergi dari dunia ini aku akan ikut pergi bersamamu, agar kita berada di surga bersama-sama. "kata Boy sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan maksimal menuju rumah sakit tempat Pakha berada. Pikirannya menjadi kalang kabut di satu sisi tantenya juga belum siuman dari komanya, di sisi lain kekasihnya juga mendapat musibah seperti itu. Keadaan itu membuat Boy tidak bisa berfikir jernih.

__ADS_1


Sekian dulu ya, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?? apakah Boy akan bunuh diri?nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.


__ADS_2