
Cuma oci sosok cowok kalem yang hari ini kayaknya paling cakep di kamar nawang malam ini. Bayangin aja, potongan rambutnya yang cool, dengan jambul naik dikit, kayak artis-artis cowok di televisi yang biasa digandrungi ciwi-ciwi jaman sekarang. Belum lagi ditambah dengan sebuah peci yang melekat di rambut hitamnya dan sarung warna biru tua yang sudah siap melorot kapan saja, bikin siapa pun cewek gemetaran bukan kepalang. Apalagi kak nawang sebagai pengantin baru duh gemetaran tu badan, keringat dingin turun di sekitar pelipisnya melihat laki-laki di depannya sudah siap menerkam dirinya malam ini.
"Kamu, "kata oci dan nawang bersamaan.
Canggung perasaan itu yang masih melekat di antara kedua pengantin baru itu.
"Kamu duluan, "suara oci kembali terdengar di sertai senyuman manis yang membuat kak nawang salah mengartikan senyum itu.
"Ti-tidak kamu aja yang bicara nanti baru a-aku, "kata kak nawang di sertai gugup yang berlebihan.
"Baiklah, kamu lelah tidak? "tanya oci melihat kondisi nawang yang terlihat pucat, namun pertanyaan itu membuat nawang semakin gugup tanpa oci sadari ia salah ucap.
(ucapan sebenarnya\= kamu terlihat pucat dan lelah istirahatlah! itu yang sebenarnya ingin oci katakan namun mulutnya malah salah berucap karna ia gugup melihat wanita cantik di depannya. )
"Apa dia tadi bertanya aku capek? jangan-jangan dia sudah siap memakanku malam ini, senyuman yang barusan ku lihat juga seperti sedang menggodaku ,"batin kak nawang.
"Aku sangat capek hari ini ingin segera istirahat, "kata nawang lalu merebahkan tubuhnya kemudian di tutupi selimut tebal.
"Ya udah istirahatlah jika kamu capek, "jawab oci kemudian melangkah keluar kamar.
Bukan perasaan lega yang nawang rasakan namun seperti ada duri tajam yang menusuk di dalam dirinya, karna dia baru saja di cuekin di saat malam pertamanya itu.
__ADS_1
"Sial, kenapa dia langsung pergi begitu saja tanpa melihatku , apa aku tidak menarik di matanya?uhh menyebalkan kenapa dari tadi aku gugup padahal tidak terjadi apa-apa padaku malam ini,"batin nawang sambil menepuk dahinya seperti orang bodoh dan berguling ke kanan dan ke kiri seperti cacing kepanasan.
Sementara itu di depan pintu kamar ada helaan nafas panjang karna sedari tadi ia juga sangat gugup saat berada satu ruangan dengan nawang. Untung saja nawang sangat capek malam ini sehingga aku bisa menunda melakukan kewajiban pertamaku padanya itulah yang oci sedang pikirkan di depan kamarnya. Tapi pemikiran itu sebenarnya malah membuat nawang salah paham dan malah menyakiti perasaannya, padahal oci kasihan melihat wajah istrinya yang pucat karna kelelahan.
Ya begitulah keadaan yang terjadi malam itu, pihak laki-laki tidak peka, pihak perempuan juga malu-malu kucing sehingga perang ranjang pun tertunda deh. Kasihan sekali, itu yang pantas aku katakan di malam pertama mereka berdua. Bukan salah oci juga karna dia kasihan jika membuat istrinya kelelahan jika langsung mengajak berduel dengannya malam itu. Nawang juga tidak mau mengutarakan pendapatnya kalau dia siap melakukannya dengan oci, miss komunikasi itu membuat mereka berdua salah paham. Akhirnya ya begitu kalian tau sendiri kan bukan kesan indah yang di dapat di saat malam pertama namun rasa jengkel yang kak nawang rasakan. Dia merasa tidak menarik di hadapan suaminya, padahal oci tidak berpikiran begitu.
Cklek suara pintu terbuka mengagetkan sang pemilik kamar yang masih terjaga itu, setelah mendengar langkah kaki yang menghampirinya ia pura-pura memejamkan matanya untuk mengusir kecanggungan di antara mereka.
"Kasihan kamu pasti sedang kelelahan sekali hari ini, kamu terlihat cantik saat sedang tidur seperti ini,"bisik oci kemudian mencium kening nawang. Itu membuat orang yang pura-pura tidur itu merasa bersalah pada suaminya, ternyata yang ia pikirkan tadi salah.
Oci merebahkan tubuhnya pelan-pelan agar tidak membangunkan nawang yang sedang tertidur. Setelah beberapa menit keadaan terasa sunyi nawang membuka matanya yang pura-pura tidur itu. Pikirnya oci pasti sudah tidur karna tidak ada suara sedikitpun tapi kenyataannya oci masih terjaga sambil melihat wajahnya yang terlelap.
"Loh kok sudah bangun, "kata oci kaget melihat nawang membuka matanya.
Malu yang sekarang oci rasakan karna ketahuan sedang asik menatap wajah nawang tanpa berkedip.
"Aku tidak bisa tidur,"kata nawang malu-malu kemudian menyembunyikan wajahnya di antara selimut.
Tiba-tiba oci menarik selimut yang menutupi wajah nawang hingga tubuh nawang ikut tertarik bersama selimut itu. Posisi mereka berdua sungguh tidak mengenakan, tubuh nawang menempel mengenai ular kobra yang sudah siap melahap mangsanya.
"Kamu harus bertanggung jawab karna sudah membangunkan ular kobra yang tertidur ini,"kata oci menyeringai.
__ADS_1
Akhirnya malam yang panjang itu mereka berdua berhasil menjalankan kewajibannya sebagai suami dan nawang berhasil melayani oci malam itu. Parang ranjang pun di mulai hingga sang perempuan meneteskan darah untuk pertama kali, semakin malam kegiatan itupun semakin panas.
Di sela-sela kebahagiaan mereka berdua ada seorang yang sedang meratapi kesepiannya di kamar itu, yah siapa lagi kalau bukan boy. Pria yang sangat cinta pada kamar yang selalu ia jaga sepanjang hari, sebenarnya bukan cinta kamar tapi cinta pada kekasih bayangannya. Hanya tinggal bayangan saja se cinta itu apalagi kalau ada orangnya pasti sangat-sangat cinta deh, berlebihan gak sih aku nulisnya.
Sepi, sunyi hanya sebuah cahaya lampu tidur yang menemani lelaki kesepian malam itu. Hari-hari yang boy jalani seperti neraka, tanpa warna dan tanpa keceriaan semenjak hilangnya pakha dua bulan yang lalu. Entah kapan pakha akan kembali lagi di dunia nyata. Semoga saja ada seorang dukun atau kyai yang mampu melewati dunia gaib dan menyadarkan pakha. Semoga saja ada jalan untuk pakha kembali ke kehidupannya seperti dahulu kala agar orang-orang terdekatnya tidak menderita seperti sekarang ini.
"Pakha...., "gumam boy di setiap tidurnya.
Tanpa di sadari perasaan tulus itu sampai pada seseorang yang di tuju yaitu pakha.
Huh pakha membuka matanya di saat pria di sampingnya sedang terlelap.
Barusan ia bermimpi ada seorang laki-laki yang sedang memanggil namanya dan menunggunya pulang.
Itu yang membuat dirinya tersentak kaget dari tidur lelapnya itu.
"Siapa pria itu? kenapa ia tahu namaku?, "pertanyaan yang terbesit di dalam fikirannya saat ini.
Cukup dulu ya, ikuti kisah cinta pakha dan ketiga laki-laki tampan yang mencintainya, dan gimana keseruan rumah tangga oci dan nawang. Temukan jawabannya di episode selanjutnya, ikuti kisah ini sampai akhir ya, author masih punya banyak kejutan untuk kalian baca.
Like ๐ jika kalian menyukai cerita ini, komen di bawah ๐untuk memberi masukan atau dukungan untuk author.
__ADS_1