Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Buah Hati Kakak


__ADS_3

Pakha muncul di sebuah rumah mewah, hal itu ia lakukan dengan satu tujuan yaitu untuk menyelamatkan Boy agar bisa kembali lagi seperti kehidupannya dulu. Pakha melihat sebuah daun lebar yang unik, seketika langsung muncul sebuah ide di pikirannya. Selembar daun ia petik dengan kekuatannya, Pakha juga menuliskan suatu pesan di daun itu kemudian menaruhnya pas di depan pintu sang pemilik rumah. Pakha menatap cemas pesannya itu, berharap ada seseorang yang membuka pintu yang tertutup rapat tersebut.


"Ku harap ada seseorang yang menemukan pesan ini dan bisa menemukan kamu Boy. "gumam Pakha kemudian tubuhnya kembali menghilang dari rumah mewah itu.


Beberapa saat kemudian di waktu bersamaan Pakha menghilang seseorang membuka pintu yang masih tertutup rapat itu sambil membawa sapu di tangannya. Selembar daun yang berisi pesan itu tidak sengaja terinjak oleh kaki orang tersebut. Ia merasakan akan keanehan pada kakinya dan ternyata benar ia menginjak sebuah daun yang aneh, orang itu pun mengambil daun itu.


"Hah aneh sekali daun ini seperti ada tulisannya. "gumam orang itu, kemudian berteriak memanggil tuannya.


Tak lama kemudian sang tuan pun menghampiri dirinya sambil merasa kesal.


"Ada apa inah kenapa teriak-teriak seperti itu, tolong jangan seperti itu kamu tau kan nyonya sedang sakit. "kata sang tuan.


"Maaf tuan soalnya saya terlalu antusias, saya janji tidak akan mengulanginya lagi. "kata bibi itu dengan menundukkan kepalanya karna merasa sangat bersalah sudah berteriak-teriak seperti itu di saat nyonyanya sedang sakit.


"Apa yang membuatmu antusias seperti itu? "tanya sang tuan penasaran.


Bibi itu pun memberikan selembar daun yang penuh dengan tulisan di dalamnya.


Sang tuan merasa tersentak, ia masih merasa tidak percaya pada pesan itu. Kepala sang tuan menengok kesana kemari meneliti, menyelidiki siapa yang berani mempermainkannya. Namun anehnya tidak ada siapa pun yang terlihat di sekitar rumahnya kecuali bi inah sang pembantu yang sudah lama bekerja di rumahnya dan tidak mungkin mempermainkannya seperti ini.


"Kamu menemukan ini di mana bi? "Tanya sang tuan menatap tajam pembantunya.


"Sa.. saya menemukan daun itu di depan pintu tuan, saya rasa itu bisa jadi petunjuk untuk menemukan tuan muda yang sudah lama menghilang. Tidak ada salahnya kan kalau mencoba menuruti pesan itu siapa tau itu beneran petunjuk dari Allah untuk tuan. "kata sang bibi namun juga merasa cemas.


"Akan saya pikirkan. "kata sang tuan kemudian kembali masuk ke dalam rumah.


Sementara itu Pakha kembali berteleportasi dan muncul kembali di depan rumah kakaknya, satu-satunya keluarganya yang sangat ia sayangi. Pakha menatap sendu sebuah rumah yang nampak sepi dan tidak terawat seperti dulu. Pakha merasa ada keanehan dengan suasana rumah kakaknya itu.


"Aneh rumah ini terasa sepi bahkan tanaman-tanaman banyak yang layu, apa kak Nawang dan kak Oci sudah pindah rumah. "batin Pakha menatap sekitar dengan heran.


Pakha pun memutuskan untuk kembali menghilang namun sebelum ia berteleportasi pintu yang dari tadi tertutup rapat mulai terbuka. Pakha pun mengurungkan niatnya, ia menatap ke arah sang pintu berharap yang muncul adalah seseorang yang ia rindukan yaitu kak Nawang. Namun realita tidak seindah keinginan bukanya Nawang yang muncul di balik pintu itu tapi seorang anak kecil yang cantik. Pakha terbang menghampiri anak kecil itu yang masih mematung di depan pintu seperti menatap dirinya.


Setelah arwah Pakha sampai di dekat sang anak, anak kecil itu terlihat sedikit ketakutan.


"Apa dia bisa melihatku? "batin Pakha sambil menatap tajam sang anak kecil itu.


"Hay cantik kamu bisa melihatku? "tanya Pakha pada sang anak sambil melambaikan tangannya di wajah sang anak.

__ADS_1


Anak perempuan itu masih terdiam membisu, Pakha pikir anak kecil itu pasti tidak bisa melihat dirinya namun tak lama kemudian anak kecil itu menganggukkan kepalanya. Pertanda ia bisa melihat Pakha.


Pakha pun tersenyum senang, karna anak kecil itu bisa memberitahukan dimana keadaan kakaknya Nawang.


"Kamu tau di mana sang pemilik rumah ini."kata Pakha pada anak kecil itu.


Belum sempat mendengar jawaban dari sang bocah, Pakha mendengar suara dari dalam rumah sedang memanggil-manggil seseorang.


Orang itu pun sudah berada di belakang sang bocah.


"Kaysa sayang kamu kemana saja, ayah panggil kenapa tidak menjawab?".


"Ayah.. "jawab kaysa langsung menghambur ke pelukan orang tersebut.


Orang itu ternyata seseorang yang Pakha kenal.


"Kak Oci. "batin Pakha menatap wajah Oci dan wajah anak kecil itu.


Pakha sekarang sudah mengerti jadi anak kecil cantik itu adalah keponakannya sendiri.


Oci menoleh ke arah yang di tunjuk kaysa namun ia tidak melihat apa pun kecuali udara kosong, namun sejatinya yang berdiri di situ adalah Pakha.


"Ha.. ha.. putri ayah sudah pintar ya, bidadari itu tempatnya di atas sayang bukan di bawah seperti itu.. "jawab Oci kemudian mengelus kepala putrinya karna merasa gemas.


Namun tanpa sadar Pakha malah meneteskan air matanya, ia sangat terharu akhirnya kakaknya di beri kesempatan untuk memiliki buah hati setelah kehilangan anak pertamanya, bahkan wajahnya hampir mirip dengan wajah kakaknya.


"Jadi kamu itu anak kak Nawang."batin Pakha sambil tersenyum ke arah kaysa dan Oci.


Kaysa merasa kesal karna perkataannya tidak di percaya oleh ayahnya.


"Ayah di sana ala bidadali benelan yah, kaysa tida.. boong cumpah kaysa tida.. boong. "kaysa masih bersikeras memberitahu ayahnya.


"Iya.. iya ayah percaya kok."kata Oci untuk membuat putrinya senang namun dalam hati Oci merasa ingin tertawa dengan keimutan putrinya. Namanya juga anak kecil semua yang ia bicarakan itu hanya halusinasi pikirnya.


Mendengar jawaban ayahnya barusan membuat kaysa cemberut, matanya masih menatap Pakha yang masih berdiri di tempat yang sama.


Karna merasa di tatap Pakha pun tersenyum ke arah Kaysa.

__ADS_1


Kaysa pun meronta-ronta minta turun dari gendongan ayahnya. Oci pun menurunkan kaysa di lantai, setelah turun kaysa pun berlari ke arah Pakha saat ini.


"Kaysa jangan lari nanti jatuh. "kata Oci kwatir melihat putrinya berlari seperti itu. Menjadi pengasuh seorang diri memang tidak gampang apalagi Oci hanya seorang laki-laki yang harus mempunyai waktu ekstra untuk bekerja juga menjaga kaysa putrinya. Sampai saat ini Oci belum sempat mencari Nawang kembali, karna setiap hari ia sangat sibuk. Oci sebenarnya masih sangat mencintai Nawang namun keadaan lah yang memisahkan keduanya.


Betapa terkejutnya Pakha saat kaysa mampu memegang tangannya saat ini.


"Yah ini bidadalinya. "kata kaysa pada Oci ayahnya.


Oci tidak bisa melihat apa pun ia hanya melihat udara kosong yang kaysa pegang. Oci hanya tersenyum ke arah kaysa, ia tidak ingin membuat putrinya sedih.


Oci kembali menghampiri kaysa, dan menyamakan tingginya dengan kaysa.


"Iya ayah percaya padamu, aku yakin bidadari dan semua malaikat pasti sayang kaysa."kata Oci sambil meneteskan air mata.


"Tapi ibu tida ayang kaysa, ibu ahat..kaysa di inggal ibu. "kata kaysa memberontak.


"Kaysa tidak boleh bicara seperti itu, ibu pasti sayang kaysa.. nanti ibu juga pulang membawakan kaysa boneka cantik yang besar sekali. "kata Oci menenangkan putrinya.


"Huwa.. kaysa indu ibu.."kaysa malah menangis dengan kencang.


Oci pun langsung menggendong kaysa dan menenangkannya.


Sebenarnya Oci juga sangat merindukan Nawang namun sekarang ia belum bisa mengetahui kabar apa pun tentang istrinya itu.


"Semoga Dandi memperlakukan ummi dengan baik. "batin Oci kemudian kembali masuk ke dalam rumah karna para tetangga sedang mempertontonkannya.


Oci tidak tau jika Nawang melarikan diri dari Dandi dan malah bersama orang baru yaitu Raihan.


Sementara itu Pakha pun menguping pembicaraan tetangga Oci.


"Eh jeng kasian sekali mas Oci harus mengurus putrinya seorang diri, padahal ia itu laki-laki soleh, Nawang tega bener berselingkuh meninggalkan suami dan anaknya. "


Perkataan itu membuat Pakha marah, ia tidak rela jika kakaknya di jelekan seperti itu. Pakha yakin kak Nawang tidak mungkin melakukan perbuatan tercela seperti itu. Pasti telah terjadi sesuatu yang tidak ia ketahui.


"Apa yang sudah aku lewatkan selama ini, apa yang sebenarnya terjadi? kak Nawang dimana kamu sekarang? "batin Pakha kemudian ia menghilang dari rumah Oci.


Sekian dulu ya, temukan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2