
Hari yang di tunggu-tunggu akhirnya datang, mentari bersinar terang seperti ikut menyambut kepulangan Pakha pagi ini. Kak Nawang sibuk menata semua barang-barang yang akan di bawa pulang, dan Oci sibuk dengan administrasi rumah sakit. Sedangkan Pakha hanya duduk di kursi roda menatap orang-orang dari jendela yang berlalu lalang di depannya. Dia juga sedang menunggu pria yang sudah janji ingin menjemputnya. Namun batang hidungnya belum juga kelihatan. Sekitar sepuluh menit Pakha menunggu akhirnya pria itu datang juga. Namun yang membuat kaget dia datang tidak sendiri melainkan bersama sesosok makhluk berbulu besar dan seorang perempuan cantik di belakangnya.
"Sayang gimana sudah siap semuanya? "tanya Boy kemudian cipika-cipiki dengan Pakha.
Mata Pakha masih menatap penasaran siapakah yang berada di belakang Boy.
"Oh sampai lupa, ma kemarikan?"kata Boy kemudian mengambil sesuatu dari tangan perempuan itu.
"Ini sebagai hadiah atas kepulanganmu dari rumah sakit."kata Boy kemudian memberikan boneka Teddy Bear yang besar.
Ternyata sosok berbulu besar dan perempuan cantik di belakang Boy tadi mamanya Boy sambil membawa boneka besar.
Mama Boy masih bersalam-salaman dengan Kak Nawang kemudian menghampiri Pakha.
"Tante...eh maksudku ibu?"kata Pakha kaget melihat calon mertuanya juga ikut menjemput dirinya.
"Sayang ibu kangen banget."kata ibu Boy sambil merangkul Pakha di kursi roda itu.
"Pakha juga bu. "jawab Pakha kemudian ibu Boy melepaskan pelukannya.
"Sayang gimana keadaanmu sekarang? "tanya ibu Boy.
"Alhamdulillah bu sudah lebih baik, terus gimana keadaan tantenya Boy yang dulu koma? "tanya Pakha ingin mendengar kabar tante Boy yang dulu di jenguknya .
"Dia sudah meninggalkan dunia ini dengan tenang. "jawab ibu Boy lirih.
"Innalilahi wainnailahirojiun, bu aku turut berduka atas meninggalnya tante. "kata Pakha merasa bersalah menanyakan hal itu pada ibunya Boy.
"Iya tidak apa-apa sayang, itu sudah menjadi takdirnya. "jawab ibu Boy sambil mengelus pucuk kepala Pakha.
Pakha merasa iba dengan kejadian duka yang baru saja menimpa pada keluarganya Boy, kenapa Boy tidak pernah memberitahunya selama ini. Boy pasti sangat kesulitan karna dia harus bolak balik ke rumah sakit menjaga Pakha, dan kejadian itu pasti juga membuat Boy terpukul.
"Boy kamu pasti kesulitan karena aku. "batin Pakha sambil menatap Boy.
Flashback
Kejadian saat tubuh Pakha melemah dan dokter mengatakan hanya keajaiban tuhan yang bisa menolongnya, dan menyuruh kak Nawang menandatangani dokumen persetujuan melepas seluruh alat bantu Pakha saat tidak ada kemajuan sedikit pun. Dan waktu itu Roh Pakha dan Bima juga menyaksikan sendiri kejadian itu.
Di saat bersamaan Boy juga di kejutkan dengan kabar bahwa tantenya menghembuskan nafas terakhir hari itu. Betapa terguncangnya hati Boy mendengar kabar duka yang baru sampai di telinganya, dokter baru saja mengatakan hal yang sama untuk merelakan kekasih hatinya. Boy tidak ingin kehilangan kedua orang penting dalam hidupnya. Dia terduduk lemas di lantai, saat bersamaan roh Pakha tidak sadarkan diri di pangkuan Bima dan menghilang.
Setelah itu Boy berlari ke mushola untuk solat dan mendoakan Pakha agar cepat tersadar dari komanya. Dia meminta pada tuhan jika ia harus kehilangan dua orang yang ia sayang sekaligus, dia tidak mampu hidup lagi di dunia ini. Terutama jika ia harus kehilangan Pakha. Boy berdoa sangat khusu' sambil menangis tak kuasa menahan beban di hatinya. Dan atas izin Allah saat itu juga roh Pakha kembali lagi di tubuhnya. Bisa kita ambil hikmahnya, Allah tidak akan memberikan ujian terberat pada umatnya yang melebihi kemampuan umatnya.
...Back to beginning Pakha akan pulang dari rumah sakit....
"Sayang ibu harus pulang duluan, maaf karna tidak bisa mengantarmu sampai rumah, biar Boy yang mengantarmu sampai rumah, soalnya ibu masih banyak janji temu hari ini. "kata Ibu Boy berpamitan pada Pakha.
"Iya bu tidak apa-apa kok, terima kasih sudah menyempatkan diri untuk menjenguk Pakha. "kata Pakha.
Kemudian Ibu Boy memeluk Pakha dan berpamitan juga Pada Kak nawang.
"Boy kemarilah.. "panggil Pakha saat Boy asik berbincang-bincang dengan kak Nawang.
Boy langsung menghampiri Pakha saat mendengar namanya di panggil.
__ADS_1
"Sayang ada apa kok memanggilku? "tanya Boy kemudian jongkok mensejajarkan tubuh nya dengan tinggi Pakha yang duduk di kursi roda.
"Kenapa tadi ibumu di suruh bawa boneka sebesar itu? kasihan tau.... "kata Pakha kesal.
"Maaf itu keinginan ibuku sendiri untuk membawanya, dia mungkin kasihan melihat pangeran seganteng aku membawa boneka besar. "kata Boy bercanda.
"Apaan sih siapa yang ganteng coba. "jawab Pakha sambil manyun.
"Hehe iya-iya sekali lagi maaf ya. "kata Boy.
Beberapa saat kemudian Oci datang membawa semua berkas-berkas kepulangan Pakha.
"Dek ayo kita pulang, semua berkas sudah selesai aku urus. "kata Oci.
"Baiklah. "kata Pakha.
Kemudian Boy mendorong kursi roda Pakha keluar dari rumah sakit. Sedangkan kak Nawang dan Oci membawa barang-barang Pakha untuk di bawa pulang dan menaruhnya ke dalam mobil.
Sementara itu Jidan melihat Pakha dari kejauhan, dia ingin sekali berada di dekat Pakha dan ikut mengantarkan kepulangannya namun dia harus tau batasan sebagai seorang sahabat. Dan Jidan hanya bisa melihat Pakha dari jauh.
"Pakha semoga engkau segera sehat."batin Jidan kemudian menatap mobil rombongan Pakha meninggalkan rumah sakit.
Sesampainya di rumah Pakha langsung berbaring ke kamar tamu di rumah kak Nawang.
"Sayang istirahat lah, aku akan membantu Kak Nawang dan Oci membongkar barang di mobil. "kata Boy kemudian menyelimuti Pakha.
"Iya sana bantu kak Nawang dan Kak Oci. "jawab Pakha.
Setelah itu Boy hilang di balik pintu, kemudian Pakha mengambil hp nya dan mengecek ada pesan masuk atau tidak. Ternyata ada banyak pesan masuk yang belum sempat ia baca, dua dari grub wa, dan sepuluh dari Jidan sahabat baiknya yang setiap hari memberikan ucapan doa untuk kesembuhan Pakha.
"Assalamualaikum Jid, lagi ngapain?"tanya Pakha.
"Waalaikumslm, ini aku lagi di jalan pulang, tadi baru saja selesai cari buku referensi. "kata Jidan bohong padahal dia baru pulang dari rumah sakit menjenguk dirinya dari kejauhan.
"Nanti kamu sibuk tidak, begini hari ini aku sudah di izinkan dokter pulang, dan nanti malam ada pesta kecil-kecilan untuk merayakan kepulanganku dari rumah sakit. Jika kamu tidak sibuk datanglah kemari biar ramai. "kata Pakha.
"Baiklah sepertinya aku nanti malam punya waktu luang, aku akan datang ke pestamu, kirimkan saja alamatnya padaku. "jawab Jidan di ujung teleponnya.
"Yey aku tunggu kedatangan mu ya. "kata Pakha happy.
"Udah dulu ya Pakha soalnya aku masih di jalan mengendarai motor. "Jawab Jidan.
"Ah baiklah sampai ketemu nanti malam. "kata Pakha kemudian mengakhiri sambungan telepon itu.
Waktu berjalan cepat kini senja sudah mulai berganti petang, banyak orang sibuk kesana kemari untuk menyiapkan pesta yang akan di laksanakan malam ini.
Kini penampilan Pakha sudah siap sebelum para tamu undangan datang, meskipun hanya teman-teman Pakha dan sanak saudara saja yang di undang tapi Pakha tetap berpenampilan cantik dan elegan. Dengan balutan gaun panjang berwarna biru dongker yang pas di badan, tak lupa mahkota kecil di atas kepalanya dengan rambut hitam yang di gerai menambah cahaya kecantikan Pakha malam ini. Dia terlihat cantik bagaikan bidadari yang turun ke bumi.
Para tamu undangan satu persatu sudah mulai datang, termasuk Boy yang sudah singgah pertama kali saat Pakha belum siap hingga sudah cantik seperti ini.
Di antara tamu undangan itu sahabat baiknya belum nampak juga.
"Jidan mana ya? "batin Pakha kemudian memanggil nomor Jidan.
__ADS_1
Eh ternyata Jidan sudah ada di depan pintu sambil melambaikan tangan yang memegang HP.
Pakha langsung mematikan panggilan telefon nya kemudian melihat Jidan berjalan ke arahnya dengan terburu-buru.
"Duh aku hampir saja terlambat. "kata Jidan dengan nafas tak beraturan akibat lari.
"Kamu tuh di tunggu lama banget, sini duduk dulu, acaranya lima menit lagi mau di mulai. "kata Pakha menyuruh Jidan untuk duduk di sampingnya.
"Iya sorry tadi jalanan sedang ramai jadi aku tidak bisa ngebut. "jawab Jidan lalu duduk di samping Pakha.
Ting,, ting, ting suara hp Jidan berkali-kali terdengar.
"Angkat dulu sana. "kata Pakha.
"Itu cuma para pembaca yang berkomentar di bloggerku, bukan telfon. "kata Jidan menatap langit malam.
"Eh kamu punya Blogger?"tanya Pakha penasaran.
"iya cuma untuk main-main saja. "kata Jidan merendah.
"Coba sini aku lihat. "kata Pakha dengan tiba-tiba meraih HP Jidan dari genggaman tangannya dan langsung membuka komentar yang sedari tadi mengganggu telinganya.
Jidan hanya melongo kaget saat HP nya di rampas paksa dari tangannya.
Pakha sibuk menyekrol tulisan-tulisan Jidan di blog itu, tanpa sengaja matanya menemukan bacaan yang menarik.
"Cinta pertamaku.... "kata Pakha membaca judul yang tertera di blogger Jidan.
"Eh kembali kan hpku sekarang . "kata Jidan panik namun ia tidak berhasil merebut HP itu dari tangan Pakha.
"Ih pelit amat sih Jid, pinjam sebentar kok aku lagi penasaran nih dengan karya sahabat aku, judulnya menarik Jid jadi pengen baca deh. "kata Pakha matanya tak henti membaca kata-perkata tulisan di blogger Jidan.
Kini hati Jidan berdegub kencang, ia sangat panik berharap Pakha tidak menyadari jika di tulisan itu adalah tentang dirinya waktu smp.
"Eh tunggu dulu sepertinya aku tidak asing dengan kisah ini. "kata Pakha sambil mengingat ngingat kejadian masa lalunya.
Kini keringat Jidan turun dengan daras sampai membanjiri seluruh tubuhnya, ia tau bahwa sebentar lagi perasaan yang ia simpan rapat-rapat itu akan segera terbongkar.
"Jid siapa orang yang kamu maksud di tulisanmu itu? "Pakha bertanya serius sambil menatap mata Jidan.
Jidan semakin gemetaran tidak mampu membuka sedikit pun mulutnya seperti ada magnet yang merekatkan terasa kaku dan tercekat.
"Jid jawab aku, perempuan yang kamu tulis bukan aku kan? "tanya Pakha makin serius.
Hal itu membuat Jidan tidak bisa mengelak, itu memang tentang dirinya masa lalu saat bersama Pakha.
"Hahaha titidak lah, mana mungkin itu kamu. "jawab gugup Jidan.
"Jid kenapa kamu berbohong seperti ini padaku. "kata Pakha sambil menatap Jidan dengan kecewa.
Jidan hanya diam dia tau jika Pakha sudah menyadari bahwa tulisannya itu tentang dirinya.
"Baiklah aku jujur sekarang... Pakha aku sayang sama kamu lebih dari teman, I love you more this is friends. Lebih dari apapun. Pakha Sorry aku punya perasaan ini sama kamu.... tapi perasaan ini perasaan yang tidak bisa aku kontrol.... tulisan itu memang benar dirimu.. bertemu denganmu adalah takdir...dan menjadi temanmu adalah pilihan. Tetapi jatuh cinta kepadamu di luar kendaliku. "kata Jidan sambil menatap wajah Pakha.
__ADS_1
Pakha kaget dengan pengakuan Jidan barusan. Dia tidak menyangka sahabat baiknya menganggap nya lebih dari seorang teman.
Sekian dulu ya, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya apakah Pakha akan membenci Jidan karna mengetahui perasaannya yang lebih????Semangat membaca episode selanjutnya...