
Nawang tertidur dalam sebuah mobil hitam yang dibawa oleh segerombolan pria berpakaian ninja. Di perjalanan Nawang terbangun dari pingsannya.
Awalnya ia bingung, “Di mana aku sekarang, siapa para pria ini.” Nawang berkata dalam hatinya.
Pada akhirnya dia sadar, bahwa ia sedang dalam perjalanan di dalam sebuah mobil mau menuju ke suatu tempat. Namun ia tak mengerti, kenapa dia ada dalam mobil dan mau dibawa ke mana dia. Melihat gadis yang dibawanya telah bangun, sang sopir menyapa.
“Mimpi indah tuan puteri?”
“Siapa kau? Dan, mau dibawa ke mana aku?” Jawab Nawang kaget dan bingung.
“Saya hanya pelayan. Tuan puterilah majikannya.”
“Maksud anda?” Nawang menurunkan nada bicaranya.
Tak lama mobil yang ditumpangi Nawang pun berhenti dengan lembut. Seorang pria membuka pintu dari balik pintu belakang mobil itu. Krek, pintu terbuka..
“Selamat datang tuan puteri.” Sapa lelaki yang membukakan pintu ramah.
Nawang tersenyum. Namun dalam hatinya, ia bingung.
“Kenapa orang-orang di sini begitu ramah dan memanggilku dengan sebutan tuan puteri?” Lalu Nawang turun dari mobil. Saat ia menginjakkan kakinya di tanah, ia pun merasakan nuansa dan perasaan yang begitu tenang. Sejenak ia menahan napas, lalu kemudian mengeluarkannya dengan perasaan lega. Tanah yang ia injak adalah hamparan rumput halus yang di atasnya di taruh karpet merah yang mengarah ke sesuatu yang berada tepat di ujung sana. Sejauh mata ia memandang, hanya hamparan bunga yang penuh dengan warna. Semilir angin menyerbukkan aroma yang sedap dan masuk ke dalam rongga. Sehingga membuat ia merasa tenang dan nyaman.
Ia berjalan bersama seorang pria yang terlihat seperti ninja. Terlihat dari setelan yang pria itu kenakan. Yaitu kaos ketat , celana hitam dan sepatu hitam namun sekarang para ninja itu sudah tidak menutupi wajahnya. Dan banyak sekali pria serta wanita dengan setelan yang sama pula. Setiap Nawang melewati mereka, mereka selalu tersenyum ramah dan menyapa “Selamat pagi tuan puteri.” Hal itu membuat Nawang merasa tenang sekaligus aneh.
Saat dia berjalan, ia memperhatikan sesuatu di ujung sana. Dia melihat tepat di ujung karpet merah itu, ada sebuah tenda kecil yang terlihat teduh dengan ditaruh satu meja dan dua kursi dan juga satu botol minuman jenis sampanye dan dua buah gelas. Seolah tempat itu telah disiapkan untuk ia dan seseorang. Kemudian sampailah Nawang di tenda yang ia lihat tadi. Ia disambut oleh satu pelayan. Lagi-lagi ia disapa dengan sapaan tuan puteri.
“Selamat datang tuan puteri.” Sapa pelayan itu dengan lembut. Nawang hanya menganggukkan kepala.
“Silahkan duduk.” Nawang pun duduk di kursi yang telah dipersiapkan oleh pelayan itu.
“Silahkan tuan putri ingin minum apa?” Pelayan itu menawarkan minuman pada Nawang.
“Teterserah apa saja ” Nawang menjawab dengan gugup hatinya masih merasa takut.
“Pluk…” Botol minuman merah itu dibuka lalu dituangkan ke dalam gelas yang telah disediakan tadi.
__ADS_1
“Silahkan diminum tuan puteri.” Karena merasa aneh dengan minumannya, Nawang terlebih dahulu menghirup aroma dari minuman tersebut. Lalu ..
“Apakah minuman ini bisa membuatku mabuk?” Tanya Nawang penasaran.
“Satu tegukkan tidak akan membuat tuan puteri mabuk.”
Nawang tidak jadi meminum karna dia tidak mungkin minum alkohol, dia sudah berjanji untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi setelah menikah dengan Oci sang pria bagai malaikat untuknya.
Akhirnya ia menaruh minuman itu di atas meja dan mencoba melihat suasana yang tampak di hadapannya.
“Bos, semua sudah beres.” Terdengar pelayan tadi sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
Tak lama munculah seorang pria dari arah yang berlawanan dengan Nawang. Sambil bersiul pria itu berjalan ke arah Nawang dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Nawang.
“Dandi?” Tanya Nawang kaget.
“Hay Naee, gimana aku bisa kan membalas perlakuan mu di mall tadi.” kata Dandi sambil tersenyum.
“Apa yang sebenarnya terjadi?di mana aku? "tanya Nawang cemas.
“Naee kau mencari ini, "kata Dandi sambil memegang sebuah hp di tangannya.
"Itu.... mengapa bisa ada di kamu. "jawab Nawang bingung.
"Emm itu sudah saya atur, sekarang kamu tidak perlu hp ini lagi. "kata Dandi kemudian membuang hp Nawang di dalam kolam renang.
"Tunggu..... "teriak Nawang melihat hp miliknya di buang begitu saja, malangnya ia tidak sempat menyelamatkan hpnya dan sekarang sudah tenggelam di bawah kolam renang.
"Tenang saja aku nanti akan menggantikan yang baru. "kata Dandi dengan santainya.
Nawang terlihat sangat marah bukan masalah hpnya tapi bagaimana dengan nomor yang ada pada hp itu. Tamatlah riwayatnya dia tidak bisa menghubungi siapapun sekarang.
Tak lama Dandi menjentikkan jari tangannya dan memanggil pelayan seolah seperti kode. Nawang hanya diam karena tak mengerti.
“Apa artinya itu?”
__ADS_1
“Bukan apa-apa. Ini hanya kebiasaan kita di sini”kata Dandi.
“Kita?”tanya Nawang semakin bingung.
“Ya. Maksudku aku dan mereka.” Para pelayan berdatangan dengan membawa makanan yang sepertinya terlihat mewah dan menggoda selera. Setelah semua hidangan ditaruh di atas meja, para pelayan mempersilahkan untuk disantap.
“Silahkan, bos dan tuan puteri. Selamat menikmati.”
“Terima kasih. Kalian boleh pergi.” Sementara Nawang tetap saja bingung dengan semua hal yang sedang dihadapinya.
“Apa ini? Kenapa mereka memanggilku tuan puteri dan memanggilmu, bos. Dan hidangan ini, aku tidak mengerti.”tanya Nawang serius.
“Sambil menunggu kau mengerti, lebih baik kita nikmati hidangan ini.” Dandi tersenyum.
"Tidak mau. "kata Nawang tegas.
Bagaimana ia bisa menikmati makanan mewah itu jika dari tadi pikirannya selalu berada di tempat lain. Gimana keadaan Oci apa dia sangat kwartir? pikiran Nawang berkecamuk.
"Tenang saja ini tidak ada racunnya kok naee, cepat makan kasian tuh para pelayan udah susah-susah menyiapkan tapi tidak kau hargai seperti itu. "kata Dandi.
Akhirnya mereka berdua menikmati dan menyantap hidangan tersebut. Dandi terlihat sangat bersemangat. Sementara Nawang makan secara perlahan. Bukan karena hidangannya, hanya saja banyak sekali pertanyaan yang mengganjal di kepalanya. Sehingga membuat ia bingung. Tak lama mereka telah menghabiskan hidangan yang ada. Dandi meneguk air perasan jeruk lemon yang tampak segar dengan tiga bongkah es.
“Baiklah acara makan sudah selesai sekarang ayo ikuti aku, jika kamu menolak, kamu tidak akan bisa pulang.” Seru Dandi semangat. Nawang terpaksa mengikuti ke mana langkah Dandi . Hingga sampailah mereka berdua di sebuah pohon yang besar dan rindang. Pohon itu berada tepat di dekat tebing yang dangkal, membuat hembusan angin terasa begitu nyaman masuk ke rongga hidung.
“Lihatlah hamparan bunga di bawah sana. Hirup angin yang berhembus ini.” Kemudian Dandi mencoba memegang telapak tangan Nawang, mereka pun saling berhadapan. Nawang diam saja, seolah terhipnotis. Angin berhembus, Nawang memejamkan matanya menghirup udara yang begitu damai.
"Naee dari dulu hingga sekarang aku masih mencintaimu, aku tau perbuatan ini salah tapi aku tidak bisa memungkiri hatiku sendiri. "kata Dandi sambil memegang tangan Nawang.
Nawang diam seribu bahasa entah apa yang di pikirkannya saat ini.
Sementara itu di alun-alun desa, sejumlah lelaki berkumpul. Suasananya begitu tegang. Masing-masing orang cemas dengan kejadian yang telah menimpa Nawang. Hati Oci cemas tak karuan begitu juga dengan Pakha yang juga syok mendengar penculikan kakaknya. Polisi belum mau mencari korban jika belum menghilang satu hari, hal itu membuat Oci tambah kwatir. Kekhawatiran itu bertambah setelah mendengar kabar burung yang beredar, mereka diculik untuk dijadikan tenaga kerja ilegal di negeri tetangga atau untuk di mutilasi. Para lelaki di desa itu pun akhirnya memutuskan untuk mengambil sikap. Mereka tidak mau jika terjadi apa-apa pada penduduknya.
Malam itu juga mereka memilih Oci, untuk menjadi pemimpin. Tekad mereka sudah bulat, apa pun caranya mereka harus menemukan jalan keluar dari masalah yang telah menimpa salah satu warganya. Keadaan di sekitar halaman rumah Oci pun menjadi ramai oleh warga yang sibuk mencari Nawang.
Sekian dulu ya... nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1