Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Sisi lain Bu Arasi


__ADS_3

"Hoam. "


Pakha masih saja menguap padahal ia sudah banyak tidur tadi malam.


"Oh aku ketiduran di sini, Jidan udah pergi ya. "batin Pakha sambil melihat suasana kos yang sudah sepi kemudian menaruh selimut yang menempel di badannya.


"Aouh leherku sakit banget gara-gara ketiduran di atas meja. "kata Pakha bangkit dari duduknya menuju ke kamar mandi.


Setelah ia selesai mandi, ia mengecek hpnya mungkin saja ada pesan masuk yang tidak ia ketahui. Ternyata benar ada dua pesan masuk yang mengantre dan belum sempat ia baca. Pesan pertama yaitu dari Boy dan pesan kedua dari Jidan.


(📨Pagi sayangku, nanti kalau ngampus aku jemput jam 7 ya, jangan di paksakan kalau belum benar-benar sehat jangan ngampus dulu. muach 😘)


Pakha membaca pesan dari Boy kemudian membalas pesan itu, setelah itu ia membuka pesan yang ke dua yaitu dari Jidan.


(📨Pakha sorry banget ya, tadi pagi aku langsung cabut tanpa pamitan sama kamu, soalnya aku tidak tega membangunkan kamu yang masih ngorok seperti kerbau dan terima kasih sudah membantu ku mengetik tadi malam. Cepet sehat ya sampai jumpa lagi di kampus.)


Pakha tersenyum membaca pesan Jidan.


" Kerbau katamu, Entah kenapa tadi malam aku seperti mendengar Jidan bilang sayang padaku, arkk mikir apa sih aku, mungkin cuma halu karna ngantuk. "batin Pakha kemudian menaruh hpnya kembali karna ia harus siap-siap pergi ke kampus.


Sementara itu Jidan sudah sampai kampus dari tadi jam enam pagi, dan sekarang ia sedang duduk di teras kampus karna ada janji temu dengan ketua rohis yang akan ia kasih proposal kebut semalamnya.


"Sorry brow nunggu lama ya. "kata ketua rohis sambil ngos-ngosan karna baru saja berlari agar Jidan tidak menunggu kelamaan.


"Iya tidak apa-apa kok, nih proposal yang aku janjikan tadi malam, maaf ya kemarin tidak jadi aku kasih soalnya ada beberapa yang aku revisi ulang. "ucap Jidan sambil memberi proposal itu.


"Oke baiklah, ya udah aku masuk dulu ya. "kata ketua rohis itu kemudian pergi meninggalkan Jidan di teras.


Jidan juga berjalan ke dalam kampus menyusul ketua rohis itu namun ia berbelok di jalur yang berbeda. Karna ia harus ke kelas untuk membantu bu Arasi mempersiapkan materi kuliah. Sebagai asisten bu Arasi, Jidan memerankan perannya dengan sangat baik walaupun awalnya agak malas tapi lama-kelamaan ia juga sudah terbiasa menjalani hari-hari yang sibuk seperti sekarang.


Jidan tiba di kelas itu lebih awal dari bu Arasi dan mahasiswa lain. Jidan memejamkan matanya sebentar di kelas itu karna tadi malam ia benar-benar kurang tidur. Bagaimana bisa tidur coba kalau setiap ia memejamkan mata slalu muncul wajah Pakha di mimpinya. Rasanya pasti sangat frustrasi mungkin dirinya gagal move on dari Pakha.

__ADS_1


"Pagi semua, "sapa bu Arasi pada para mahasiswa, matanya sambil mencari seseorang yang belum menampakkan batang hidungnya.


"Kenapa Jidan belum datang juga, biasanya ia tidak pernah terlambat seperti ini. "batin bu Arasi namun matanya menemukan satu mahasiswa yang malah tidur di atas meja yang terletak di pojok kelas. Bu Arasi tidak bisa melihat wajah mahasiswa itu karna mahasiswa itu menempelkan wajahnya di atas meja dan terhalang oleh kedua tangannya untuk sandaran kepalanya.


"Hey mahasiswa yang tidur di pojok sana, kamu itu mau ganti kamar tidur di kampus atau mau kuliah sih, berani sekali tidur di jam kelasku. "teriak bu Arasi pada satu mahasiswa yang tertidur di pojok.


Mahasiswa itu sama sekali tidak bergeming dengan teriakan bu Arasi mungkin sudah tidur dengan pulas sehingga tidak mendengar teriakan melengking bu Arasi yang bisa memecahkan gendang telinga saat mendengarnya.


Bu Arasi emosi dan berjalan menghampiri mahasiswa itu kemudian menggebrak meja yang di gunakan untuk tidur mahasiswa itu.


"Woy bangun. "


Akhirnya mahasiswa budeg itu terbangun juga karna gebrakan meja bu Arasi.


Namun bu Arasi malah mematung kaget setelah melihat wajah mahasiswa yang sudah bangun itu. Ternyata orang yang ia cari dari tadi adalah orang yang sama saat bu Arasi bangunkan.


"Ji.. jidan."Ucap bu Arasi heran.


"Ngapain kamu tidur di sini?"tanya bu Arasi heran.


"Hehehe tadi saya datangnya kepagian dan tidak sengaja malah tertidur di sini saat menunggu kelas masuk. "Ucap Jidan sambil nyengir kuda.


"Baiklah cepat bangun dan bantu aku membagikan lembar ini ke mahasiswa. "kata bu Arasi sambil memberi Jidan setumpuk kertas.


"Siap delapan enam. "jawab Jidan kemudian bangkit dari kursi dan langsung membagikan kertas yang di berikan padanya.


Setelah dua jam berlalu, akhirnya kelas kuliah telah selesai, Jidan meregangkan otot-ototnya karna sudah kelamaan duduk saat membantu bu Arasi memilah skripsi mahasiswa.


"Jid saya pulang duluan ya, terima kasih atas bantuanmu hari ini. "kata bu Arasi.


"Iya bu sama-sama. "jawab Jidan sambil memberi salam pada bu Arasi.

__ADS_1


Kelas sudah lengang dari mahasiswa hanya Jidan yang tersisa dari kelas itu. Ketika Jidan juga akan keluar dari ruangan itu tanpa sengaja ia melihat ada buku kecil warna hijau yang tergeletak di atas meja. Jidan pun menghampiri meja itu kemudian mengambil buku kecil itu.


"Arasi ananta, emm ini pasti notebook milik bu arasi yang tertinggal. Aku kembalikan besok pagi saja deh. "kata Jidan kemudian memasukan buku kecil itu ke dalam tasnya.


Di satu sisi bu Arasi sedang bingung mencari sesuatu, barang-barang di atas meja berhamburan juga isi tasnya yang sudah tumpah ruah kemana-mana. Namun barang yang ia cari tidak kunjung ketemu. Wajah bu Arasi semakin panik saat semua ruangannya sudah ia periksa dan tidak juga menemukan benda yang ia cari.


"Gawat bagaimana kalau diaryku jatuh ke tangan orang lain, bisa malu tujuh turunan kalau isi dari buku itu di sebar luaskan oleh tangan tidak bertanggung jawab. "batin bu Arasi wajahnya sangat cemas karna kehilangan buku berharganya.


Kini ruangan dosen milik bu Arasi persis seperti kapal pecah akibat ulah bu Arasi sendiri yang lupa menaruh buku diarynya.


Jidan sudah sampai di rumah, ia langsung melempar tasnya di ranjang dan segera merebahkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang persis di samping tas ransel yang tergeletak. Tanpa sengaja buku kecil bu Arasi terlempar keluar dari dalam tasnya saat tadi Jidan melemparkan tasnya dengan keras. Jidan penasaran dan langsung meraih buku kecil yang terlempar keluar dan tanpa sengaja isinya malah terbuka Jidan penasaran kemudian membacanya sambil tiduran.


Matanya melotot bulat tatkala buku yang sekarang ia pegang ternyata bukan notebook biasa melainkan sebuah diary milik bu Arasi.


*Dir... diary. Senin, 20/10/21


Tuhan beri aku satu malaikat saja, yang bisa menjadi teman ku, yang bisa aku ajak curhat dan bisa menerima semua sifatku tanpa mencela kekuranganku. Kenapa semua orang membenci diriku??bahkan hembusan nafasku saja mereka merasa terganggu. apa aku salah hidup di dunia ini bersama kalian? apa ini adil untuk aku yang menderita di kehidupan abu-abu ini. Pada siapa aku mengeluh akan semua yang aku rasakan.


Meskipun seratus duri menusuk jantungku aku akan tetap bertahan hidup walaupun dengan rasa sakit yang membayangi langkahku.


Aku tak punya apa-apa, aku hanya manusia tak terlihat. Jika aku menghilang apakah mereka akan berhenti mencibirku?


Hati Jidan merasa tertusuk saat membaca diary bu Arasi yang hidup sendirian sebatangkara. Ia merasa berdosa telah mencela bu Arasi seperti mahasiswa yang lain. Ternyata selama ini bu Arasi sangat menderita tidak punya teman sama sekali dan merasa hidup sendirian dengan cibiran-cibiran yang membuatnya down.


Jidan kembali membalik halaman buku kecil itu dan membaca setia kata yang di tulis bu Arasi tanpa terlewati satu pun. Tanpa sadar Jidan ikut merasakan penderitaan yang selama ini bu Arasi rasakan, ia menyesal telah memandang sebelah mata bu Arasi dosen yang terkenal genit itu padahal sebenarnya itu hanya rumor yang mahasiswa buat untuk bahan bullyan.


"Bu maaf selama ini aku telah salah menilaimu. "batin Jidan kemudian kembali membalik halaman buku itu.


Akhirnya keseluruhan isi buku diary milik bu Arasi di baca oleh Jidan yang menjadi asistennya sendiri.


Sekian dulu ya... kira-kira apa yang selanjutnya terjadi? apakah Jidan akan menyebarkan isi diary itu agar ia tidak menjadi asisten dosen genit itu lagi atau Jidan akan menyimpan rahasia itu untuk dirinya sendiri? temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2