Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Hati Sesak


__ADS_3

Setelah sampai di rumah, Oci langsung bergegas menuju dapur untuk mengambil es batu. Sementara Pakha dan Boy memutuskan untuk mampir sebentar di kosan Pakha.


"Ummi maafkan abi ya pipi ummi jadi sakit seperti ini. "kata Oci sambil mengompres wajah Nawang yang memar.


"Aku tidak apa-apa kok bii, tenang saja besok juga sembuh kok. "kata Nawang dengan tersenyum.


Hal itu ia lakukan agar Oci tidak kwatir lagi padanya.


Setelah Oci mengompres luka lebam Nawang tiba-tiba ada telepon masuk di hpnya. Tertulis sebuah nama Abah yang muncul di layar teleponnya. Tanpa ragu-ragu ia langsung mengangkat telepon tersebut.


"Waalaikumslm bah, iya alhamdulillah baik, emm insyaallah ya.... Emm baiklah. Waalaikumslm. "kata Oci menjawab telefon tersebut.


Nawang hanya menyimak dan mendengarkan tanpa tau apa yang barusan mereka bicarakan. Ia tidak ingin kepo soal telepon itu, Nawang langsung berjalan menuju kamar untuk istirahat. Tubuhnya sudah sangat kecapean dan pikirannya juga butuh ketenangan. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selang lima belas menit ia keluar dari kamar mandi hanya di bebat handuk di tubuhnya. Matanya melotot melihat suaminya sudah menunggunya di atas ranjang hanya dengan menggunakan ****** ***** saja yang melilit tubuh. Oci tersenyum melihat istrinya yang hanya memakai handuk. Nawang merasakan aura-aura kemesuman Oci sehingga membuat bulu kuduknya berdiri.


Oci mengedipkan sebelah matanya, sehingga membuat Nawang mendelik. Ia tahu kalau suaminya saat ini ingin di manja, tapi tubuh dan pikirannya capek tidak siap melakukan perang ranjang. Nawang mencoba menghindar dengan alasan ingin makan karna perutnya lapar, Oci pun mengiyakan. Mereka berdua akhirnya masak bersama. Mereka berdua saling mengerjakan tugas masing-masing, Oci menggoreng lauk sedangkan Nawang menyiapkan nasi dan sayur. Ketika semua sudah matang Oci dan Nawang duduk berhadapan di meja makan.


Ketika sedang asik menikmati makanan Oci membuka percakapan.


"mi aku pengen ngomong sesuatu. "kata Oci sambil menyendok lauk di depannya.


"Ngomong aja bi. "kata Nawang cuek masih asik menikmati makanannya.


"Tadi Abah telfon katanya kita di minta hadir di acara tujuh bulanan bu lek."kata Oci.


Nawang langsung diam sesaat dia juga langsung berhenti makan dan menaruh sendoknya di atas piring.


"Ummi udah kenyang, abi lanjutkan saja makannya. "kata Nawang kemudian berdiri dan meninggalkan Oci sendiri di meja makan.


Oci merasa bahwa ucapannya tadi menyinggung hati istrinya. Dia menyusul Nawang ke kamar dan terpaksa berhenti makan padahal masih belum kenyang.


"Ummi tunggu.... "teriak Oci mengejar Nawang.


Nawang terus saja berjalan ke arah kamar kini langkahnya semakin cepat setelah ia sadar jika Oci mengejarnya dari belakang.


Sesampainya di kamar Nawang langsung menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut termasuk wajahnya. Beberapa detik Oci sudah tiba dan kini berada tepat di sampingnya.


"mi maafkan perkataan abi tadi ya, jika ummi tidak ingin menghadiri acara tante tidak apa-apa kok, abi tau kok gimana perasaan ummi. "kata Oci.


Nawang hanya diam, entah kenapa perasaannya sangat sesak mendengar kata tujuh bulanan. Memori tentang calon anaknya yang keguguran saat berumur enam bulan kembali muncul di pikirannya. Ia tak kuasa mengingat kejadian tragis yang merenggut calon putranya itu, Nawang pun menangis dalam diam di bawah selimut tanpa sepengetahuan Oci.


Sementara itu Pakha dan Boy sudah tiba di kosan Pakha satu jam yang lalu. Kini mereka berdua sedang asik membuat kue kering untuk camilan Pakha. Boy membantu mengocok telur dan memisahkan putih telur dan kuning telur ke dalam wadah yang berbeda sedangkan Pakha membantu memelintir kue menjadi berbentuk oval kecil-kecil.


"Sayang ini telurku udah aku kocok dengan sempurna. "kata Boy berbisik di telinga Pakha.

__ADS_1


Pakha refleks melangkah mundur karna telinganya terasa geli akibat tanpa sengaja terkena bibir Boy yang berbisik di telinganya.


"Boy kamu ih, jangan mesum dong. "kata Pakha melotot di depan Boy, mendengar kata mengocok dia malah keingat handuk melorot yang dulu pernah Boy alami.


"Memesum apa. "jawab Boy tak mengerti maksud Pakha.


Padahal ia sama sekali tidak berkata mesum pada Pakha dia hanya berkata kalau telurnya sudah selesai ia kocok.


"Eh aku tadi bilang apa? "batin Boy sambil mencerna omongannya barusan.


Setelah di cerna dengan baik ia baru sadar ternyata omongannya benar-benar mesum. Ia kan seorang laki-laki pastinya juga mempunyai telur dan barusan ia malah ngomong kalau telurnya udah selesai ia kocok.


Kini wajahnya memerah menahan malu, ia baru sadar kalau salah ngomong. Mungkin maksud perkataan Pakha bahwa ia mesum itu mengarah ke situ.


"Dasar mulut mesum. "batin Boy sambil menampol mulutnya sendiri.


"Sayang maaf ya tadi aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin menyerahkan ini. "kata Boy gugup sambil menyerahkan hasil kerjaannya.


"Iya tataruh di situ saja. "kata Pakha tak kalah gugupnya. Wajahnya pun memerah seperti wajah Boy saat ini.


(Pakha terbayang saat handuk Boy yang melorot sehingga tanpa sengaja benda pusakanya dan kedua telurnya nampak jelas di depan matanya.)


"Aku mikir apa sih, dasar otak mesum, Pakha ayo fokus buat kue"batin Pakha sambil menepuk wajahnya dengan kedua tangannya.


"Ada apa kenapa kamu tertawa seperti itu? "tanya Pakha tak mengerti.


Boy tidak menjawab pertanyaan Pakha malah tubuhnya semakin mendekat ke arah Pakha. Kini tidak ada jarak yang memisahkan mereka berdua. Tubuh Boy hampir saja menempel di tubuh Pakha kira-kira hanya terpisah satu jengkal saja. Mata Boy menatap lurus ke wajah Pakha. Jantung Pakha berdetak kencang jika melihat wajah Boy dari dekat, bahkan detak jantungnya kecepatannya melebihi orang yang kena serangan jantung. Wajah Pakha sekarang juga terlihat merona.


Coba saja kalian jadi Pakha mungkin kalian juga akan seperti itu. Bagaimana mungkin merasa biasa saja jika di hadapan kita ada seorang pangeran ganteng bak nabi Yusuf yang hanya berjarak satu jengkal dengan wajah kita. Kalau aku sih langsung tak cium tanpa ragu-ragu. Ketika Boy memajukan wajahnya, Pakha refleks langsung menutup kedua matanya sambil sedikit memonyongkan bibirnya ke depan bersiap menerima ciuman dari Boy. Sedetik, dua detik bahkan sampai sepuluh detik tidak terjadi apa-apa padanya. Bukan bibir Boy yang terasa namun malah tangan hangat yang menangkup wajahnya. Kini wajahnya sudah berada di tengah-tengah kedua telapak tangan Boy. Seketika Pakha kaget, ia langsung membuka matanya.


"Sayang kenapa kamu menutup mata seperti itu? "tanya Boy yang wajahnya masih di depan Pakha seperti tadi.


"A.. A.. "mulut Pakha hanya menganga perasaannya gugup sekaligus merasa malu karena terlalu berharap lebih pada Boy.


"Ini ada tepung di wajahmu, biar aku bantu bersihkan."kata Boy sambil menyingkirkan tepung yang menempel di wajah Pakha dengan kedua tangannya.


Pakha langsung cepat-cepat melepaskan tangan Boy dari wajahnya.


"Aku bisa sendiri. "kata Pakha salah tingkah.


"hum baiklah. "jawab Boy.


Kemudian berjalan menjauh dari Pakha dan kembali ke posisi semula yang berada di depan Pakha dengan di pisahkan oleh meja dapur. Boy kembali membantu Pakha bahkan ia seperti manusia tanpa dosa yang sudah membuat Pakha jadi salah paham seperti itu.

__ADS_1


Pakha kesal dengan kejadian tadi, kemudian ia berjalan ke arah kaca dan bercermin. Pakha langsung mengusap sisa tepung di wajahnya. Hatinya merasa jengkel sudah di buat salah paham oleh Boy. Ia tidak terima dan ingin membuat wajah Boy juga cemong seperti dirinya. Pakha pun melancarkan aksinya, dari sisi belakang tiba-tiba ia menyentuh wajah Boy dengan kedua tangannya yang penuh dengan tepung putih sehingga sekarang wajah Boy juga ikut cemong seperti dirinya.


"Sayang kamu ih."kata Boy kesal.


Boy tidak terima pakha membuat wajahnya seperti itu ia pun membalas Pakha. Hingga akhirnya mereka berdua saling balas membalas dan dapur yang bersih itu menjadi berantakan. Pakha berlari Boy pun dengan semangat mengejar Pakha dimana pun Pakha berlari. Hingga pada Akhirnya Pakha tidak bisa lari lagi dari kejaran Boy dia sudah menatap tembok belakang dan sekarang Boy dari depan berjalan menuju ke arahnya sambil merentangkan kedua tangannya.


"Tertangkap."kata Boy kemudian memeluk Pakha dengan kedua tangannya yang dari tadi sudah ia rentangkan. Pakha hanya diam saja, Boy melepaskan pelukannya setelah satu menit berlalu. Tanpa aba-aba tiba-tiba bibir Boy mendarat di bibir Pakha. Ia pun kaget dengan ciuman Boy yang tiba-tiba seperti itu. Mata Pakha melotot bulat sempurna saat merasakan bibir lembut Boy berada di bibirnya. Mereka berdua pun melakukan ciuman panas di pojok dapur. Hal yang dari tadi Pakha inginkan akhirnya kesampaian juga.


Karena sedang asik dengan permainan bibir Boy, Pakha melewatkan tujuh kali panggilan masuk di hpnya, dan kali ini sudah delapan kali berbunyi namun tanpa jawaban sedikit pun. Akhirnya membuat kesal oleh orang yang menelefon.


"Tu orang sibuk ngapain sih, tidak biasanya dia mengabaikan telfonku seperti ini. "kata Jidan kesal.


Setelah panggilannya berakhir belum sempat melepaskan hp dari genggaman tangan eh sudah ada panggilan masuk saja.


"Eh gak salah nih" Kata Jidan terkejut melihat sebuah nama di telefonnya, ia langsung mengangkat telefon itu.


"Hallo Jidan... Lagi apa? "suara genit yang terdengar seolah-olah sedang di reka, hal itu berhasil membuat bulu kuduk Jidan berdiri.


"Kepo amat sih soal hidup ku"batin Jidan kesal.


"Lagi mengerjakan tugas kuliah bu. "jawab Jidan bohong.


"Rajin amat sih lelaki ku ini. "Suara lemah lembut yang terdengar seolah di buat-buat.


Jidan mendelik mendengar kata-kata barusan.


"Hah ibu tadi bilang apa? "tanya Jidan pura-pura tidak mendengar.


"Hehehe tidak apa-apa kok, besok pagi kamu bisa datang ke restoran Muaci tidak? Ini loh ada beberapa materi yang harus kamu kerjakan . "kata bu Arasi.


"Waduh bu sepertinya aku tidak bisa deh, bagaimana kalau ibu kirim lewat email saja biar nanti saya kerjakan. "jawab Jidan memberi solusi agar dia tidak bertemu sang dosen genit.


"Tidak bisa pokoknya kamu harus datang, kalau tidak. Kamu tau sendiri kan konsekuensi nya kayak gimana. "kata bu Arasi tegas.


"La dalah kok malah maksa sih bukanya tadi bertanya ya aku jawab kenapa malah ngegas sih. Dasar ABRASI. "batin Jidan kesal.


"Baiklah kalau ibu memaksa, besok aku akan datang ke sana. "kata Jidan dengan terpaksa.


"Gitu dong... kamu memang anak ganteng. "kata bu Arasi kemudian mengakhiri obrolannya.


Jidan kesal kemudian membanting hpnya di kasur. Hatinya udah di buat jengkel oleh Pakha yang tidak menjawab telefonnya eh sekarang di buat semakin jengkel oleh bu dosen centil. Jidan ingin menolak namun ancaman dosen itu sungguh menakutkan. Ia tidak ingin mendapat nilai rendah di mata pelajaran bu Arasi, Jidan ingin berusaha mendapatkan nilai baik di semua mata kuliahnya. Sungguh cobaan yang berat bagi dirinya saat menjadi mahasiswa sekalipun asisten dosen di kampus dengan berbagai tugas yang harus ia selesaikan. Sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah buat Jidan namun yang menjadi permasalahannya itu sebagai asisten dosen bu Arasi si dosen yang terkenal genit, ia harus tabah menghadapi semua sifat genit dosen itu selama satu bulan lamanya. Satu hari bersama dosen genit itu terasa seperti satu tahun, apa lagi kalau harus bersama satu bulan tidak kebayang siksaan batin yang harus Jidan alami. Jidan ingin cepat-cepat lulus kuliah saat itu juga.


Sekian dulu ya... nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2