Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Terlihat di Matamu


__ADS_3

Matahari sudah berada di ufuk barat, tinggal menghitung beberapa menit ia akan tenggelam, hari semakin menunjukkan kegelapan. Namun di dalam hutan belantara sudah sepenuhnya gelap gulita karna tertutup oleh daun dan pohon raksasa besar yang masih berdiri kokoh di dalam hutan. Di sana terdapat manusia dan makhluk gaib yang saling duduk membelakangi di bawah pohon besar. Kedua makhluk beda alam itu sibuk dengan lamunan masing-masing.


"Siapa manusia ini, aku harus kabur darinya, karnanya kekuatanku menjadi tak berfungsi?"lamunan Pakha.


Sedangkan Boy juga masih tenggelam dalam lamunannya.


"Pakha aku tidak akan pernah lagi membiarkanmu pergi. "batin Boy berfikir keras bagaimana cara agar bisa menyakinkan Pakha lagi.


"EHEM.. "


Suara Boy membuyarkan lamunan Pakha.


"Ada apa?"tanya Pakha merasa terganggu.


"Tidak kok, kamu lapar tidak? kebetulan aku masih punya bunga kantil dan kembang melati di dalam tasku. "ucap Boy pada Pakha.


"Ho... ho.. ho.. emangnya aku kupu-kupu kamu tawari bunga? manusia tau apa sih tentang dunia gaib. "ejek Pakha sambil tersenyum tipis di sela bibirnya.


"Loh selama ini makhluk halus memang makan itu kan. "ucap Boy tidak mengerti.


"Aku bukan makhluk seperti mereka..manusia dan aku berbeda dari mereka....manusia kamu sok tahu sekali hi... hi.. hi. "Pakha kembali mengejek Boy.


"Panggil saja Boy.. kata manusia membuatku mual. "jawab Boy sedikit kesal.


Sementara itu Bima terlihat marah melihat Pakha tertawa dengan manusia yang membuatnya cemburu. Bima tersenyum kemudian memanggil sesuatu dalam mantra yang pelan-pelan ia ucapkan.


"Mawasita hamewasi. "


Sedetik kemudian kepulan asap tebal menyeruak di sekitar Bima, hingga muncul beberapa makhluk halus dengan tanduk di atas kepala mereka, wajahnya di penuhi bulu dengan tungkak kaki menghadap ke depan alias kakinya terbalik.


"HORMAT BAGINDA RAJA, ADA YANG BISA KAMI BANTU?"


"Aku punya tugas untuk kalian, habisi manusia itu, dan bawa ratu kembali ke istana! "perintah Bima pada makhluk di depannya.


"BAIK LAKSANAKAN. "


Kemudian para makhluk gaib itu menghilang dan tiba-tiba muncul di depan Boy dengan langsung menyerangnya.


"Sial berani sekali kalian menyerangku, makhluk jelek rasakan pembalasanku. "teriak Boy masih sibuk menghalau serangan makhluk tak di kenal itu. Sedangkan Pakha masih tidak tau motif apa yang menyebabkan makhluk itu menyerang Boy, tapi ia tidak terlalu peduli dengan itu.


"Ini kesempatan untuk kabur dari manusia itu. "batin Pakha.

__ADS_1


Kemudian ia berjalan pelan-pelan menjauh meninggalkan Boy yang masih sibuk berperang, karna kekuatannya tidak bisa ia gunakan ia pun tidak bisa menghilang ataupun terbang dengan kekuatannya.


Sekitar lima menit akhirnya Boy mampu menghabisi makhluk gaib itu, meskipun kekuatan kanuragannya sudah benar-benar habis. Ia menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskan sembarang.


Setelah ia sedikit tenang, ia melupakan satu hal penting yaitu keberadaannya Pakha mantan tunangannya. Boy menengok kesana kemari namun tidak ada siapa-siapa yang tersisa hanya suara jangkrik yang bernyanyi merdu.


"Keterlaluan aku kehilangan Pakha lagi, tidak.. aku harus mencarinya pasti masih berada di sekitar sini. "gerutu Boy kemudian berlari kesana-kemari mencari jejak Pakha.


Di rumah sakit


Kepala Jidan terasa pusing berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi, badannya sulit bergerak bahkan bernafaspun ia harus di bantu dengan alat bantu pernafasan. Ruangan begitu sepi hanya terdengar tetesan air infus yang jatuh bulir demi bulir. Perlahan Jidan mengangkat tangannya tampak sangat pucat dan dadanya terasa sesak. Hingga beberapa menit kemudian terdengar suara berderik dari pintu depan hingga terdengar langkah kaki seseorang yang berlarian masuk.


"Alhamdulillah nak kamu akhirnya sadar juga, mami sangat kwatir. "ucap mama Jidan.


Jidan hanya terdiam sambil menatap mamanya, kemudian muncul wajah adik perempuannya namun menampakkan wajah masam.


Jidan tidak tahan untuk bersuara melihat ekspresi adiknya yang tidak antusias atas kesadaran Jidan.


"Heh cerewet kenapa dengan wajahmu, berapa lama aku tidak bangun kenapa wajahmu jadi jelek begitu. "ucap Jidan lirih.


"Kak Jidan berani sekali ya membuatku kwatir dan satu lagi berhenti memanggilku cerewet."jawab adik Jidan wajahnya masih manyun.


Namun hal yang membuat Jidan penasaran di belakang tubuh adiknya terdapat sesorang namun sampai sekarang belum menampakkan wajahnya. Jidan sangat penasaran siapa orang itu sebenarnya.


Ketika mulutnya ingin bertanya pada adiknya tak lama kemudian seseorang itu maju kedepan menampakkan wajahnya.


Namun bukan rasa senang yang Jidan dapat setelah mengetahui rasa penasarannya, ia justru terlihat kecewa dan marah setelah melihat wajah sosok itu.


"Pergi kamu... "ucap Jidan pada sosok itu.


"Maaf...maaf jika aku punya salah."jawab sosok itu dengan menundukkan wajahnya.


"Ma... aku pengen bicara empat mata dengannya. "ucap Jidan pada mamanya.


"Baiklah, ayo kita keluar dulu beri waktu untuk kakakmu menyelesaikan urusannya. "jawab mama Jidan kemudian mengajak adiknya ikut keluar dari ruangan Jidan.


Ruangan menjadi sepi sunyi hanya terdengar hembusan nafas di antara mereka berdua.


"Bu Arasi mendekatlah! "perintah Jidan.


Kemudian bu Arasi melangkah maju mendekati ranjang Jidan berbaring.

__ADS_1


"Duduklah di sampingku. "Jidan kembali mem buka suaranya.


Bu Arasi pun kembali menuruti perintah Jidan, ia duduk di kursi samping Jidan.


Tiba-tiba tangan Jidan meraih tangan bu Arasi yang terlihat gemetar.


"Tanganmu terasa dingin, aku merindukanmu Arasi. "ucap Jidan masih memegang tangan bu Arasi.


Namun bu Arasi tiba-tiba melepaskan tangan Jidan dengan Paksa.


"Jidan cukup... hentikan perasaanmu.. kita kakak adik..kita tidak pantas berlaku seperti ini. "kata bu Arasi dengan lantang.


"Aku tidak percaya... sampai kapan pun kamu itu bukan kakak aku. "ucap Jidan menyanggah kebenaran yang baru ia ketahui kemarin.


"Tapi... aku kakakmu Jid... "bu Arasi kembali menyakinkan Jidan, murid sekaligus adik kandungnya beda ayah.


"ARKKK SA.. SAKIT.. "tiba-tiba Jidan teriak kesakitan.


Bu Arasi kaget dengan sigap memencet tombol darurat untuk memanggil dokter.


Beberapa detik dokter bersama dua orang suster datang terburu-buru ke ruang rawat Jidan. Bu Arasi sangat kwatir dan juga cemas saat menunggu di luar ruangan bersama ibu dan adik Jidan.


Beberapa menit setelah cemas menunggu dokter keluar dari balik pintu ruang rawat Jidan bersama dua dokter yang tadi bersamanya.


"Bagaimana keadaannya dok? "tanya mama Jidan.


"Alhamdulillah kondisinya sudah agak stabil, tolong jangan biarkan pasien mengingat hal-hal yang membuat sindrom sakit hatinya kambuh lagi untuk sementara waktu. Kondisinya masih belum benar-benar stabil. "kata dokter menjelaskan kondisi Jidan.


"Sindrom sakit hati? apa itu dok? "tanya bu Arasi penasaran.


"Jadi begini, pasien mengalami yang namanya kejang saraf yang di akibatkan rasa sakit hati yang berlebihan, dan tubuhnya memilih untuk menolak kebenaran yang terjadi, dan itu bertabrakan dengan memori di dalam otaknya sehingga mengakibatkan kompilasi pada hatinya. inilah yang di namakan sindrom sakit hati. "ucap dokter tersebut.


Bu Arasi langsung terdiam tanpa bisa berkata-kata sedangkan ibu Jidan hanya bisa menangis di pelukan adik Jidan setelah mendengar penjelasan dokter barusan.


Setelah dokter selesai memberikan obat penenang tak lama kemudian ayah Jidan datang dari arah berlawanan sambil menenteng tas Jidan yang sedikit terbuka.


"Ma gimana kondisi Jidan? "tanya ayah Jidan kemudian menaruh barang-barang yang ada di tangannya di atas kursi tunggu. Tanpa sengaja bu Arasi menangkap sesuatu yang sangat familiar di dalam tas Jidan barusan. Sesuatu yang telah lama ia cari dan sampai sekarang belum ia temukan.


"Buku itu.. "batin bu Arasi.


Sekian dulu, kira-kira buku apakah itu sehingga membuat bu Arasi kaget bukan main? temukan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2