
Awan gelap menyelimuti sang langit sore kala itu, hitam pekat tak terlihat seperti ada semburat tinta yang menyebar di setiap mata memandang. Bukan merah atau jingga yang terlihat namun awan gelap dan mendung yang terlihat. Tak terasa kini hati Pakha sudah ada tempat berlabuh, Boy sang pangeran hati yang baik, perhatian dan setia. Hanya jiwa prempuan yang beruntung yang dapat merasakan kasih sayangnya. Walau di ujung senja terdapat sang hati yang patah siapalagi kalau bukan Bima sang makhluk astral yang siap melindungi Pakha kapan pun. Cinta terkadang membutakan netra siapapun begitu juga dengan Bima dan Boy yang masih sama mencintai satu wanita di hidupnya. Bukan cinta yang romantis namun juga ada sebuah kepahitan yang melekat di antara keduanya.
Berbeda dengan dua sejoli yang bertemu secara tidak sengaja seperti kak Nawang dan Oci yang berakhir di dalam pelaminan. Cinta singkat yang terasa indah bila di jalani namun kehidupan mereka juga tidak begitu mulus dalam menjalani rumah tangganya. Sekarang kandungan nawang sudah menginjak 6 bulan dan beby semakin menunjukan tanda-tanda kehidupan sedikit tendangan di perut menandakan bahwa dia sedang menggoda ibunya.
"Adek lagi apa? kalau nendang jangan keras-keras ya nanti perut ibu sakit. "kata nawang sambil mengelus perut buncitnya.
"Sayang lagi apa?"tanya Oci ketika keluar kamar kemudian duduk di samping nawang sambil mengelus anak pertamanya.
"Tadi adek nendang mas. "
"Oh ya anak papa lagi nendang ya."
Mereka hanya tersenyum satu sama lain sambil menatap indahnya taman di depan mata memandang.
Tak berapa lama ada sebuah telfon masuk di hp Oci di layar telfonnya tertulis nama Boy. Tanpa menunda sedikitpun telepon itu langsung di jawabnya.
"Waalaikumslm Boy, ada apa tumben telfon aku....apa?? baiklah aku segera kesana nanti nawang biar aku ajak juga, waalaikumslm "tut tut sambungan telepon itu pun berakhir. Kak nawang yang melihatnya hanya melongo dan bertanya-tanya dalam pikiran nya. Belum sempat mulutnya terbuka untuk bertanya Oci sudah bersuara.
"Sayang kita ke rumah Boy yuk ada hal penting yang akan ia sampaikan kepada kita langsung, maukah engkau ikut denganku sayang? ".
"Hal penting apa mas? "tanya nawang masih penasaran dengan telfon tersebut.
"Aku juga tidak tau sayang dia hanya bilang padaku seperti itu. "
"Baiklah ayo kita kesana."
Tak berapa lama mereka berdua berangkat menuju rumah Boy dengan sebuah mobil. Jalanan yang macet membuat perjalanan mereka jadi terlambat dari jadwal janjian. Itu karna Oci harus hati-hati karna membawa bumil juga di sampingnya.
__ADS_1
Jalanan mulai sedikit lenggang mereka berdua mempercepat laju kendaraan namun ada sebuah motor yang melanggar lalu lintas dan mengabaikan keselamatan . Pengendara itu memotong jalanan sehingga mengagetkan Oci yang sedang melaju dengan kecepatan penuh. Sehingga Oci dengan refleks menekan rem secara tiba-tiba mobil yang di kendarainya berhasil menghindar dari tabrakan pengendara motor itu. Namun tanpa ia ketahui mobilnya melintang di tengah jalan. Tiba-tiba di sampingnya ada sebuah truk besar yang melaju kencang akhirnya tabrakan pun sulit untuk di hindari. Mobil Oci terbanting terbalik di pinggir jalan. Kepala Oci tertabrak setir di depannya dahinya mengeluarkan banyak darah dan ia pun kehilangan kesadaran. Sedangkan kak Nawang dia masih mempunyai kesadaran namun perutnya terasa sakit dan ada banyak darah yang keluar di bagian bawahnya.
"Mas bangun kumohon, argkk perutku sakit banget mas,,,, adek sayang kamu harus bertahan ibu akan menyelamatkan mu. "kata nawang sambil mencoba keluar dari mobil itu untuk meminta bantuan.
Tak lama kemudian warga datang berbondong bondong untuk menyelamatkan mereka berdua.
"Tolong seselamatkan anakku.... "kata nawang lirih kemudian ia juga kehilangan kesadarannya.
Para warga dan polisi ikut mengevakuasi korban tabrakan itu ambulan mulai berdatangan untuk membawa korban tersebut termasuk Oci dan Nawang.
"Kenapa mereka berdua terlambat lama sekali padahal aku sudah menunggu hampir dua jam jika jalanan macet pun tidak akan selama itu. "pikiran Boy merasa tidak enak saat ini.
Tak lama kemudian hp di sakunya berbunyi menampilkan sebuah nomor tak di kenal Boy tanpa pikir panjang langsung mengangkatnya. Ketika ia baru berbicara beberapa kata dia sangat kaget.
"Astagfirullah baik saya akan segera kesana. "
Rasa bersalah menyelimuti hati Boy jika saja ia tidak meminta Oci dan Nawang untuk kerumahnya kejadian tragis itu tidak akan pernah menimpa mereka berdua. Dokter menelfon Boy terlebih dahulu karna panggilan terakhir jatuh di nomernya. Orang tua Oci dan Nawang pun belum tahu tentang kejadian ini bahkan Pakha adik nawang pun belum juga mendengar berita ini. Hanya Boy orang pertama yang tahu kejadian ini ia sampai lupa untuk mengabarkan pada Pakha kekasih hatinya. Saking paniknya ia tidak kepikiran untuk menghubungi siapapun.
Entah kenapa perasaan Pakha hari ini seperti tidak enak ia selalu teringat Kak nawang terus.
"Kak nawang lagi ngapain ya, aku jadi kepikiran terus."gumam Pakha sambil memanggil nomor kak nawang namun tidak ada jawaban sama sekali.
Mungkin kakaknya lagi sibuk hanya itu yang Pakha pikirkan kemudian dia menelfon Boy.
"Hallo sayang lagi apa? "kata Pakha di ujung telfonnya.
"Sayang maaf aku belum sempat memberitahumu Oci dan kak nawang mengalami kecelakaan tadi pagi ia sekarang sedang di tangani di RS Mawar, "
__ADS_1
Tanpa menjawab apapun Pakha langsung berlari memesan taksi sambil menangis panik. Kak nawang adalah satu-satunya keluarga yang dari dulu menyayanginya meskipun orangtuanya tidak peduli padanya. Ia sangat takut jika harus kehilangan kak nawang.
Tak berapa lama Pakha telah sampai tujuan dia bertanya kepada pusat informasi tentang kak nawang, setelah penjaga itu memberitahu ruangannya ia segera berlari menuju ruangan kak nawang.
Kak nawang masih berada di ruang IGD di depan ruangan itu terdapat Boy yang menunggu dengan cemas. Pakha langsung memeluk Boy sambil menangis meluapkan segala kesedihannya. Dia benar-benar takut jika terjadi apa-apa dengan kak nawang.
Boy merusaha menghibur Pakha agar ia berhenti menangis namun nihil hasilnya. Pakha masih menangis sambil sesegukan sementara ruang operasi masih merah menyala itu menandakan operasi belum selesai.
Boy menyuruh Pakha untuk duduk sambil menunggu proses itu selesai rasa kekhawatiran mereka berdua pun belum hilang sebelum dokter keluar dari ruang itu.
Boy menghubungi Abah Oci dan mengatakan bahwa Oci dan Nawang sedang mengalami musibah kecelakaan.
Abah Oci segera menuju ke sana setelah menerima telefon Boy.
Tak berapa lama lampu merah operasi sudah padam kemudia seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Dok gimana keadaan kakak saya apakah operasinya lancar? "tanya Pakha dengan cemas sambil meremas jarinya.
"Alhamdulillah operasinya lancar tapi..., "dokter belum sempat menjelaskan di sela oleh Pakha.
"Tapi kenapa dok, Kakak saya tidak kenapa-napa kan dok? "
"Kakak anda tidak apa-apa namun bayi di kandungannya tidak bisa kami selamatkan, kami sudah berusaha sangat keras namun kami harus melakukan kuret terhadap janin tersebut agar kakak anda bisa di selamatkan."
Pakha terkulai lemas dengan apa yang dokter katakan namun dia juga harus segera bertindak agar kakaknya masih bisa di selamatkan dia langsung menandatangani lembaran dokumen untuk melakukan operasi kuret tersebut agar dokter segera melakukan penanganan lebih lanjut.
Cukup dulu ya nantikan cerita selanjutnya di episode selanjutnya,, kira-kira gimana keadaan Oci dan nawang setelah mengetahui kabar jika anak pertamanya tidak jadi lahir di dunia???
__ADS_1