
Pakha menjatuhkan tubuhnya dengan sembarang di kasur empuk kamar kosan. Hari ini ia terasa sangat lelah padahal tidak melakukan apa-apa, kejadian Boy yang tiba-tiba memukul Jidan membuat dirinya syok. Entah mengapa tubuhnya ikut merasakan sakit ketika mengingat Jidan yang babak belur seolah Boy baru saja menggiling Jidan menjadi bubur.
“Sekarang jam berapa ya?” gumam Pakha lalu melihat jam dinding di pojok kamar.
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, ia kaget karna hari ini ia akan pulang kampung. Meskipun dalam hati malas pulang ke rumah karena orang tuanya yang tak peduli keberadaannya namun Pakha tetap menengok keadaan orang tuanya, bagaimana pun mereka berdua tetap orang tua kandungnya. Lagi pula besok dia juga tidak ada jadwal kuliah.
Selesai mandi, Pakha langsung bersiap-siap untuk pulkam. Saat ia ingin menyalakan mesin motor yang ia pinjam dari teman kosnya ,tiba-tiba ponsel di sakunya berbunyi pertanda telepon masuk.
Ia segera mengambil hp di saku, di lihat sebentar kemudian memasukan kembali hpnya. Karna ada nama Boy yang muncul di layar telefonnya. Rasa hati ingin segera baikan pada Boy, namun hatinya masih jengkel. Merasa tidak terima dengan sikap buruk Boy yang baru ia ketahui kemarin. Bukankah pasangan yang baik itu harus menerima segala kekurangan pasangan. Pakha ingin seperti itu namun seolah-olah hatinya masih tidak terima. Ia mencoba melarikan diri dulu yaitu dengan cara pulang kampung. Agar Pakha tidak dulu bertemu Boy. Dan ia akan mencoba menerima kenyataan bahwa Boy juga manusia biasa yang bisa marah kapan pun, karna dia itu manusia bukan makhluk halus seperti Bima yang selalu bersikap baik padanya.
Hari ini waktu yang tepat untuk mengunjungi kampung halamannya. Sudah hampir dua bulan ia belum menginjakan tanah kelahirannya. Tas ransel, sarung tangan, jaket kulit, sepatu hitam dan juga tak ketinggalan helm yang sudah ia kenakan di kepala. Persiapan sudah lengkap, Pakha pun segera meninggalkan kosannya menuju ke kampung halaman.
Semenit setelah Pakha meninggalkan kosan, mobil Boy tiba di halaman kosan Pakha.
Dengan wajah cemas Boy langsung mengetuk pintu kos sambil berteriak memanggil nama Pakha. Nihil tidak ada tanda-tanda penghuni kos itu, sepi, sunyi hanya gelap yang terlihat seisi dalam kos itu.
Boy mencoba beberapa kali, ia sangat kaget ketika satu wanita berbaju hitam melotot di belakang tubuhnya.seketika ia pelan-pelan membalikan badan. Ternyata benar sosok wanita tua berdiri di belakangnya.
"Astaga kaget. "teriak Boy sambil melangkah mundur.
"Sedang cari siapa nak. "kata sosok itu yang wajahnya gelap tidak terlihat, karna menghadap berlawanan dengan cahaya lampu.
"Akak... huh"Boy menarik nafas kemudian melanjutkan omongannya.
"Aku sedang mencari penghuni kos yang bernama Pakha, sejak tadi ku panggil tidak ada jawaban. Apa nenek tau di mana dia sekarang? "tanya Boy pada sosok itu.
Sosok itu tidak menjawab, tiba-tiba ada semilir angin menerpa rambut putih itu sehingga tampak jelas wajah yang dari tadi tak terlihat karna faktor cahaya dan sebagian rambut yang menutupi wajah nenek itu.
"Sesesetan... "teriak Boy saat melihat wajah hancur dengan mata merah yang melotot kearahnya.
Boy langsung berlari kalang kabut, dan pada akhirnya dia tidak mengetahui di mana keberadaan Pakha sekarang.
Kini Pakha sudah sampai di setengah perjalanan, adzan magrib mulai terdengar di telinganya. Pakha pun memutuskan untuk berhenti sejenak di sebuah warung kecil di pinggir jalan untuk istirahat sekaligus untuk membasahi tenggorokannya yang sudah gersang.
"Bu es teh satu ya. "kata Pakha kemudian duduk menghadap meja yang penuh dengan berbagai macam gorengan.
Dengan cekatan tangannya langsung meraih tahu bakso yang terasa menggugah selera.
"niki unjuk an neng. "kata ibu warung menyerahkan es teh pesanan Pakha.
artinya :"ini minuman neng"
__ADS_1
"Terima kasih bu. "jawab Pakha langsung meneguk habis minuman itu.
"Ahh segar. "batin Pakha kemudian menaruh gelas kosong di depannya. Ia mengalihkan pandangan matanya untuk menghirup udara malam, tanpa sengaja matanya menatap sosok nenek berambut putih yang menatap tajam dirinya.
Warung yang di jadikan Pakha pemberhentian adalah warung kecil yang terletak di tengah hutan dan tidak mempunyai tetangga di sisi kirinya. Hanya hutan belantara dan suara jangkrik yang menjadi tetangga warung itu.
Pakha selalu lewat hutan jika ingin pulang ke kampung halamannya, karna itu akses jalan satu-satunya yang harus ia lewati.
"Kenapa nenek itu menatap tajam ke arahku, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu. "batin Pakha yang sedikit melirik nenek tua berbaju seperti kebaya kuno lengkap dengan tongkat kayu di tangannya untuk kaki ketiga.
"Bu di sini ada desa lain di dalam hutan? "tanya Pakha pada ibu pemilik warung.
"Mboten wonten neng, niki namung alas rasan. "jawab bu penjaga warung dengan bahasa jawa.
artinya:
("Tidak ada neng, ini cuma hutan saja")
"Oh begitu ya bu. "jawab Pakha mengerti perkataan ibu pemilik warung.
Sebenarnya Pakha adalah anak keturunan jawa dan suku dayak. Gen jawa di turunkan oleh ibunya dan dayak di turunkan oleh ayahnya. Makanya dia juga sedikit mengerti bahasa jawa meskipun tidak fasih.
"Ibu tidak takut sendirian menjaga warung di sini?"Pakha kembali bertanya pada si penjaga warung.
"Kula mpun kulino neng, ing desa ibu nggeh piyambak."jawab sang ibu.
artinya:
("saya sudah terbiasa neng, di desa ibu juga sendirian")
"Oh begitu ya bu, ya sudah saya ingin melanjutkan perjalanan dulu. Ini uangnya, kembaliannya ibu ambil saja. "kata Pakha sambil memberi uang lima puluh ribu ke ibu pemilik warung.
"Matur suwun neng. "jawab sang pemilik warung dengan tersenyum.
artinya:"Terima kasih neng"
Pakha hanya mengangguk kemudian melanjutkan kembali perjalanannya. Karna adzan magrib sudah selesai berkumandang. Jalan gelap yang hanya di terangi kunang-kunang menambah aura mencekap di sepanjang perjalanan Pakha.
"Setelah sekian lama, kenapa aku kembali bisa melihat makhluk halus sih. "batin Pakha di atas motornya yang melaju dengan kecepatan sedang.
Di rumah Tante
__ADS_1
Nawang dan Oci akhirnya sampai juga di rumah tantenya yang akan mengadakan syukuran tujuh bulanan anak ke dua mereka.
Setibanya di sana Nawang di sambut gembira oleh keluarga Oci ,termasuk ibunya Oci yang langsung memeluk Nawang seperti anaknya sendiri tidak membedakan kalau Nawang adalah menantu.
"Gimana keadaanmu ndok, udah baikan belum. "tanya Ibu Oci masih memeluk Nawang.
"Alhamdulillah bu. "Jawab Nawang.
Setelah itu Nawang langsung di gandeng ibu Oci menuju ke dalam rumah. Sedangkan Oci manyun melihat ibunya memperlakukan Nawang seperti itu, sedangkan dia bahkan hanya bersalaman saja.
"Ibu melupakan siapa yang anaknya ya. "gumam Oci menatap kepergian Nawang bersama ibunya. Kemudian ia berjalan menghampiri saudara yang lain yang berkumpul berbincang-bincang bersama abahnya.
Setelah Nawang sampai di dalam rumah tante Oci bersama ibu mertuanya. Ia satu-persatu menyapa sanak saudara Oci. Setelah itu ia menuju ke dapur untuk membantu mempersiapkan acara doa bersama nanti malam.
Ketika ia membawa banyak gelas di nampan yang berisi teh panas, tiba-tiba ada anak kecil yang tanpa sengaja menabrak dirinya saat anak kecil itu berlari. Dengan begitu ia dan juga nampan yang berisi gelas pun jatuh bersamaan.
Suara gelas pecah pun sampai terdengar dari luar.
"Dek kamu tidak apa-apa kan. "Nawang bertanya pada anak kecil yang barusan menabraknya. Ia malah mencemaskan orang lain dan tidak menyadari jika dirinya lah yang terluka sedangkan anak kecil itu tidak apa-apa.
Anak kecil itu syok dengan kejadian barusan dan cuma diam mematung ditempat. Beberapa detik kemudian orang-orang mulai berdatangan termasuk Oci yang tiba lebih dulu di bandingkan yang lain.
"Ummi.... "kata Oci kaget melihat Nawang dan pecahan gelas-gelas yang berserakan.
Nawang juga kaget mendengar teriakan Oci barusan. Ia takut jika Oci memarahi dirinya atas kecerobohan yang barusan ia lakukan.
"Bii aku.... "Jawab Nawang ragu-ragu.
Dengan sigap Oci langsung membopong Nawang yang bersimbah darah. Nawang kaget dengan apa yang Oci lakukan. Nawang hanya diam saat Oci membopongnya, dia juga kaget dengan kejadian tidak di sengaja itu. Pikirannya malah kwatir dengan anak kecil tadi bahkan dia belum juga menyadari kalau tangan dan kakinya berdarah.
"Ummi tahan sebentar ya.. "kata Oci sambil membopong Nawang menuju kamar.
Sesampainya di dalam kamar Oci mendudukkan Nawang di tepi ranjang.
"Bii gimana keadaan anak kecil tadi, tidak apa-apa kan? "tanya Nawang kwatir.
"UMMI CUKUP. "bentak Oci di hadapan Nawang. Oci kwatir setengah mati terhadap dirinya sedangkan dia malah mengkhawatirkan orang lain. Tanpa sadar Oci malah membentak Nawang.
Nawang pun sangat terpukul dengan bentakan Oci barusan, seketika air matanya langsung jatuh bersama dengan rasa sakit yang ia rasakan.
Sekian dulu ya... masih penasaran apa yang akan terjadi? nantikan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1