
Di setiap kampus tentu ada dosen yang genit. Mungkin masa remajanya atau masa nakalnya belum habis. Dosen jenis ini, baik masih bujangan atau sudah berkeluarga, mempunyai kecenderungan suka menggoda mahasiswa. Seperti yang sedang Jidan alami saat ini, ia terpaksa menjadi asisten dari sang dosen centil alias genit. Celakanya dosen ini kadang menggunakan “kekuasaan” yang dimilikinya untuk merayu mahasiswa. Dosen genit bisa merayu secara langsung maupun melalui telepon, SMS, atau WA. Dosen genit yang ceroboh biasanya ketahuan jejak digitalnya karena mahasiswa sering melaporkan “rayuan gombal” lengkap dengan bukti forensik ke jurusan atau dosen psikologi. Namun Jidan tidak mau melakukannya sebab dia berbeda dengan yang lain prinsipnya hanya jalani dulu ujian ini suatu saat pasti ada hikmah di dalamnya yang bisa menguntungkan dirinya di masa depan.
"Ehh sini jid!"perintah bu Arasi sang dosen genit.
"Iya bu ada yang bisa saya bantu? "tanya Jidan.
Hari ini adalah hari pertama dia bekerja sebagai asisten dosen di kampusnya. Dia sudah menyiapkan mentalnya untuk tetap sabar menghadapi dosen genit itu.
"Ini ada lembaran soal bawa ke ruangan saya, setelah selesai kamu susun presentasi dan ikut membantu saya nanti. "kata sang dosen kemudian berjalan bak seorang model berlenggak-lenggok di depan Jidan.
Jidan beristigfar melihat kelakuan dosen wanita itu.
"Astagfirullah sabar Jid ini ujian. "Batin Jidan sambil mengelus dadanya.
Bu Arasi sudah dari dulu terkenal sebagai dosen genit di antara mahasiswa yang lain, yah sampai sekarang dosen itu masih saja belum menikah. Padahal dia sudah mau menginjak kepala tiga. Tapi jangan di remehkan ia masih cantik kok seperti mahasiswa umur 25 nan. Bu Arasi sering di panggil mahasiswa dengan sebutan abrasi hal itu karna para mahasiswa yang di ajarnya sungguh muak dengan kelakuannya saat mengajar.
Bahkan para mahasiswa laki-laki menghindari duduk di bangku depan saat ia mengajar. Dulu pernah ada satu mahasiswa laki-laki yang duduk di depan dan langsung di goda sang dosen genit itu. Bahkan mahasiswa itu di colek-colek sampai merasa jijik. Rumor itu sudah tersebar di seluruh kampus bahkan Jidan juga sudah tau dari pertama kali masuk kuliah. Eh sialnya dia malah harus menjadi asisten sang dosen itu selama sebulan. Hal itu juga karna kesalahannya sendiri, kenapa juga tangannya mengenai jidat sang dosen sampai membiru. yah Jidan harus kuat menjalani semuanya karna itu untuk menebus perbuatannya.
Mendidik bukanlah sebuah seni atau keterampilan yang semakin menghilang. Masih banyak orang yang melakukannya sampai sekarang. Namun, semakin sedikit orang yang mampu menghargai peran ini (Jaques B)
Pakha kaget melihat Jidan berjalan membututi dosen yang terkenal genit. Ia diam-diam menculik Jidan dari belakang bu Arasi. Bu Arasi terus berjalan seperti seorang model tanpa menengok ke belakang dan ia tak menyadari jika asisten gantengnya sudah menghilang.
"Jid sadar, kamu gila apa membuntuti bokong bu Abrasi? "bisik Pakha di telinga Jidan.
"Arasi bukan abrasi. "kata Jidan sambil tersenyum kecil.
"Tuh kan otakmu harus segera di priksakan ke psikiater deh. "jawab Pakha begidik.
"Hahaha tenang saja aku masih waras kok. "jawab Jidan tertawa.
"La terus kamu tadi ngapain di belakang bu abrasi? "Pakha bertanya serius.
__ADS_1
"Arasi Pakha bukan abrasi, jika dia dengar siap-siap di amuk nenek sihir. "bisik Jidan.
"Gak takut a, lagi pula aku kan tidak ada mata kuliah dengannya jadi aman deh. "kata Pakha bangga.
Dia memang tidak di ajar Dosen genit itu karna dia berbeda jurusan dengan Jidan.
Setelah beberapa obrolan dengan Pakha, Jidan memutuskan untuk kembali lagi menuju ruangan Dosen genit itu.
"Jidan benar-benar sudah tidak waras. "kata Pakha melihat punggung Jidan yang berlari meninggalkan dirinya. Jidan belum memberitahu Pakha alasan mengapa dia terus membuntuti bokong aduhai itu. Dia bilang pada Pakha bahwa dia harus menuruti perintah Dosen genit itu karna suatu hal. Jidan berjanji akan menjelaskan semuanya pada Pakha jika ia punya waktu luang.
Setelah batang hidung Jidan menghilang dari pandangannya, ia melanjutkan tujuannya yaitu menuju ke perpustakaan.
Sementara itu di sel tahanan perang dingin masih terjadi antara Dandi dan sang macan bertubuh besar.
"Apa loe... "kata Dandi kesal melihat macan yang terus menggerang ingin melahapnya hidup-hidup.
"Sini biar ku cukil bola mata jelek itu. "jawab sang macan.
"HAY KALIAN BERDUA BISA DIAM TIDAK" teriak salah satu penjaga sel.
Selang beberapa menit polisi datang menuju ke arah jeruji yang mengurung Dandi.
"Saudara Dandi pengacara anda ingin bertemu."kata polisi itu.
"Oh baiklah."Jawab Dandi kemudian berlagak sombong di hadapan musuhnya sambil menjulurkan lidah.
Sang macan hanya geram ingin sekali mencabik mulut Dandi jika berada satu kandang dengannya.
Sementara itu di kediaman Nawang, dua orang berjalan mondar mandir tanpa tujuan, jika sudah mentok tembok kembali lagi. Hingga pada akhirnya mereka berhenti setelah saling bertabrakan.
"Aduh. "suara bebarengan mereka berdua.
__ADS_1
"Abi kok nabrak aku sih. "
"Ummi juga ngapain nabrak abi. "jawab Oci.
Kemudian mereka berdua duduk di sebuah kursi yang terletak di depan tv sambil memikirkan langkah yang harus mereka ambil.
"Jadi gimana bi, kalau kita tidak cukup bukti setelah sidang Dandi bisa bebas begitu saja. "kata Nawang kwartir.
"Abi juga bingung mi, terus mau gimana lagi kalau sudah kalah ya menyerah saja, semoga Allah cepat memberikan hidayah kepadanya untuk segera bertaubat. 'Jawab Oci.
"Abi baik banget sih. "kata Nawang tiba-tiba mencium pipi Oci.
"Hemm ya ummi menggoda abi nih. "kata Oci sambil tersenyum jail.
"Apaan sih bi dikit-dikit di bilang menggoda, kalau gak suka di cium ya sudah. "kata Nawang kesal kemudian berjalan menuju kamar dan menutup pintu dengan suara keras.
Oci kaget kemudian menyentuh mulutnya.
"Upss salah lagi deh nih mulut, sembarangan aja kalau ngucap. "kata Oci sambil menampol mulutnya sendiri.
Oci kemudian berjalan menghampiri Nawang di dalam kamar. Untungnya kamar itu tidak terkunci.
"Mi maafkan abi tadi salah bicara. "kata Oci sambil memasang wajah melas.
Nawang cuma terdiam namun dalam hati ia tertawa.
"haha Abi lucu sekali wajahnya, pengen ngunyel nguyel deh. "sambil melirik Oci.
"Mii jangan diam terus ah. "kata Oci merayu.
Nawang semakin ingin menjaili suaminya, kapan lagi kan bisa melihat wajah imut suaminya itu kalau bukan sekarang. Dia tetap menjalankan misinya untuk pura-pura ngambek dan Oci masih berusaha untuk merayu Nawang agar tidak gambek lagi.
__ADS_1
Begitulah keseruan rumah tangga mereka berdua, meskipun banyak rintangan menghadang mereka mencoba tetap kokoh berdiri seperti nyiur di tepi pantai.
Sekian dulu ya... nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.