
Jidan berlari sambil tergopoh-gopoh berjalan dengan membawa laptop berukuran maha besar dari gedung departemen. Jadwal kuliah pagi membuatnya gusar, karna dari semalam ia tidak bisa memejamkan matanya. Hal itu karena ia sedang menahan rindu pada seseorang, siapa lagi kalau bukan Pakha. kerinduan itu membuat detik, menit, jam dan hari menjadi bisu rasanya.
Jidan bangun tapi tak tahu pagi, siang, sore atau malam. Seperti ditelan oleh kebisuan yang luar biasa. Bukan saja bisu. Hambar.
Tanpa kabar apapun dari sahabat sekaligus pujaan hatinya.
Dia melangkah tetapi tak melihat tapak kakinya sendiri. Terlelap, tetapi bangun pun ada yang tertinggal dalam lelap malamnya. Bayangan Pakha selalu saja hadir menyelinap di setiap memorinya bahkan dalam mimpi pun slalu hadir setelah tiga hari tanpa kabar dan meninggalkannya. Pakha ada dalam mimpi malamnya tapi tak ada dalam bangun paginya. Mata tak mampu sepenuhnya tertutup jika terlintas Pakha dalam kepalanya.
Rindu apakah itu?
Semenjak Pakha mengetahui perasaan spesial nya ia tak pernah sekalipun menelfon atau mengirim pesan pada Jidan.
"Pakha aku rindu. "sudah hampir seratus kali Jidan mengeluarkan kata-kata yang sama semenjak Pakha menghindari dirinya.
Setiap detik, menit ,jam Jidan selalu memandang benda pipih yang slalu ia bawa kemana pun ia pergi berharap notif kedip-kedip LED merah menyala saat ada pesan masuk, terutama di saat-saat seperti ini. Namun sampai saat ini tak ada satu pesan pun yang berharga untuk di baca.
Jidan hanya bisa mengobrol dalam kebisuan. Tertawa dalam kebisuan. Menangis pun dalam kebisuan. Tangannya tak mampu menekan nomor telefon yang setiap saat ia pandangi.
Pertemuannya dengan dosen matkul pagi baru saja berakhir. Tiga jam saja Jidan dibimbing beliau. Pagi ini ia mendapatkan pelajaran yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Dosen yang biasanya baik bak malaikat itu tiba-tiba memarahinya, akibat ia datang terlambat. Jidan pun di berikan banyak tugas yang bahkan tidak sesuai dengan tingkatannya. Ini sebuah hukuman atau sebuah kemajuan? itu yang terpikir di benaknya. Seharusnya tugas itu untuk mahasiswa semester akhir tapi kenapa dosen memberikan tugas itu untuknya. Positif thinking saja anggap jika tugas itu membuatnya selangkah lebih maju dari mahasiswa yang lain.
Setelah selesai kuliah Jidan menyebrang jalan menuju ke toko buku depan kampus. Untuk apa Jidan kesana? yah untuk apa lagi kalau bukan mencari buku-buku untuk mengerjakan tugas kuliah seperti neraka itu. Tugas yang mampu menyiksa tubuh dan fikirannya.
"Akhirnya sampai juga di toko buku ini, Jidan semangat ayo kita cari buku matkul dosen jelek itu. "kata Jidan kemudian menelusuri setiap inci toko buku itu.
Matanya sibuk memilih buku namun ia lupa memerhatikan di depannya, alhasil ia menabrak seseorang yang juga sama-sama tidak melihat depan.
"Sorry. "kata mereka bebarengan.
Terkejut itu biasa namun ia semakin terkejut setelah mendengar suara yang sangat di rindunya.
Apakah ia sedang berhalusinasi seperti biasanya?
__ADS_1
kenapa sekarang ia melihat wajah Pakha di toko buku ini. Jidan terlalu sering memikirkan Pakha hingga wajahnya slalu muncul di benaknya, sampai-sampai ia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang halusinasi.
"Jidan cukup . Ayo move on hentikan halu mu yang slalu muncul di mana pun. "batin Jidan kemudian melangkah ke depan seperti biasanya tanpa memperdulikan sosok Pakha yang berdiri di depannya. Jika benar ia hanya berhalusinasi tidak apa-apa kan kalau ia menabrak bayangan itu seperti biasa yang ia lakukan. Namun hal yang membuatnya menjadi jantungan bayangan itu tak bisa ia tembus dan tubuhnya malah jatuh setelah menabrak sosok Pakha.
"Aduh. "suara dari halusinasinya.
"Tunggu dulu, biasanya jika aku menabrak bayangan Pakha tidak akan bereaksi seperti itu, tapi sosok itu kesakitan dan terjerembab ke dalam tumpukan buku, jangan-jangan..... "batin Jidan membulatkan matanya menatap sosok Pakha yang tersungkur di depannya.
"JIDAN.... "teriak sosok itu lagi.
"Pakha apa benar itu kamu?"tanya Jidan memastikan jika matanya tidak salah.
"Sekarang kamu buta? kenapa kamu tidak melihat ku yang sebesar ini dan malah menabrak ku dengan keras, kamu dendam padaku. "teriak Pakha keras sambil melempar buku ke arah Jidan. Pas banget lemparan itu kena kepala Jidan.
"Aww sakit. "seketika Jidan tersadar jika ia baru saja merasakan sakit brarti yang di hadapannya itu benar-benar nyata.
"Pakha maafkan aku.. aku benar-benar tidak sengaja. "kata Jidan sambil mengulurkan tangannya berniat membantu Pakha yang masih terduduk di atas lantai.
"Tidak usah aku bisa sendiri, "kata Pakha kemudian menepis uluran tangan Jidan dan berdiri sendiri.
Jidan kaget kemudian merelakan tubuhnya sebagai kasur untuk Pakha.
Kini tubuh mereka berdua saling menempel, pakha sekarang berada di atas tubuh Jidan dan kini mata mereka berdua saling bertatapan.
Tidak bisa di pungkiri jantung Jidan berdegub kencang bahkan Pakha mampu mendengar detak jantungnya. Pakha kaget mendengar detak jantung Jidan yang berpacu dengan kecepatan maksimal itu. Pakha buru-buru menyingkir dari tubuh Jidan yang ia tindih.
"Jid kamu tidak apa-apa kan, apa jantungmu baik-baik saja? "tanya Pakha kwatir.
Jidan tidak mampu menjawab pertanyaan Pakha, ia memejamkan mata berniat mengambil nafas agar jantungnya kembali normal baru menjawab pertanyaan Pakha. Namun hal tidak terduga terjadi padanya, Pakha malah memberi nafas buatan untuk Jidan, kini bibir mereka pun saling bertemu.
"Jidan aku mohon jangan mati dulu, aku bahkan belum sempat meminta maaf padamu karna sudah menjauhimu tanpa sebab. Aku janji jika kamu sadar kembali akan rujuk sama kamu dan melupakan semua kata-kata yang pernah kamu ucapkan dulu. "kata Pakha sambil menangisi tubuh Jidan.
__ADS_1
Jidan tambah kaget mendengar perkataan Pakha barusan. Siapa juga yang mati, ternyata sahabatnya masih sama bodohnya seperti dulu.
Jidan sedikit tersenyum dia enggan membuka mata dan ingin menjaili Pakha lebih lama namun ia merasa kasihan dengan sahabatnya itu.
Jidan pun memutuskan untuk membuka matanya yang tadi terpejam.
"Jid kamu sudah sadar, ini berapa? "tanya Pakha sambil menyodorkan jarinya berbentuk huruf V di depan Jidan.
"Dua. "jawab Jidan.
Rasa hati ingin tertawa sepuasnya melihat kebodohan Pakha namun suasana tidak mendukung.
"Alhamdulillah kamu akhirnya sadar juga. "kata Pakha sambil menarik nafasnya.
Kemudian ia berkata lagi.
"Jid terima kasih tadi kamu sudah menolong ku sehingga aku tidak jatuh ke lantai dan maaf aku malah membuat mu jadi seperti ini. "kata Pakha sambil menundukkan wajahnya.
Jidan duduk kemudian menyentuh pundak Pakha sambil berkata.
"Pakha aku tidak apa-apa kok, jika kamu merasa bersalah bagaimana jika kita kembali baikan dan berteman kembali seperti dulu."
"Hmm"jawab Pakha tanpa semangat.
"Kok gitu jawabnya, mana nih Pakha yang dulu punya semangat berkobar-kobar. "kata Jidan.
"Iya Jidan kita kembali berteman. "teriak Pakha di telinga Jidan.
Jidan tertawa melihat Pakha begitu kesal padanya.
"Hahaha gitu dong anak baik. "jawab Jidan sambil mengelus pucuk rambut Pakha.
__ADS_1
Akhirnya mereka berdua kembali akur lagi dan kembali menjadi sahabat. Sahabat sejati adalah dua orang atau lebih yang memiliki hati yang tulus dan saling membantu dan memaafkan kesalahan salah satunya. Seperti bulu ayam yang akan kembali rapat jika kita merenggangkan nya. Kini Jidan pun akan melupakan rasa cinta yang bisa menjadi jarak antara Pakha dan dirinya. Jidan berjanji tidak akan mempunyai perasaan lebih terhadap Pakha dan akan menjadi sahabat terbaik selamanya hingga mereka berdua menjadi kakek dan nenek. Bahkan hingga ajal menjemput.
Sekian dulu ya... masih banyak kejutan loh yang author siapkan di episode selanjutnya. Semangat membaca.