Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Sebenarnya Rai.


__ADS_3

Bumi telah menjadi satu desa besar, dengan telepon diletakkan dari satu ujung ke ujung lainnya dengan transportasi udara, cepat dan aman.


Drett.. drett.. drett..


Telfon bergetar sebanyak tiga kali, Rai yang baru selesai berkemas pun dengan sigap mengangkat telepon tersebut.


"Lima menit aku akan sampai di sana. "


Tut.. tut..


Panggilan langsung berakhir begitu saja sama seperti sebelumnya.


Ketika kakinya ingin melangkah keluar, hpnya bergetar lagi. Hal itu membuat Rai semakin jengkel.


"Kalau tidak sabar cari saja sendiri."ucap Rai kesal kemudian mematikan hpnya dan pergi menuju stasiun kereta.


Sementara itu Dandi yang mempunyai sifat temperamen itu langsung melempar hpnya mengenai kepala salah satu anak buahnya.


"Arkk sakit bos. "


"Banyak b*cot kau..mau aku robek tu mulut. "Dandi semakin marah ketika jawaban Raihan barusan tidak sesuai dengan harapannya.


"Maaf bos. "ucap anak buah Dandi kemudian keluar dari dalam kamar Bosnya itu.


Sebenarnya Raihan dari beberapa hari yang lalu sebelum bertemu Nawang di hotel, ia dimintai tolong sepupunya yaitu Dandi untuk mengurus surat cerai Nawang dengan Oci tanpa melihat nama yang bersangkutan namun tanpa sengaja dia melihat prempuan berlari ketakutan di labirin hotel yang kebetulan ia lewati.


Dengan rasa kwatir dan penasaran Raihan memutuskan untuk menghentikan prempuan itu yang tak lain adalah Nawang sendiri. Bukan alih-alih rasa penasarannya terjawab namun prempuam itu ternyata sosok yang ia kenal, wajahnya sangat familiar. Ternyata wanita yang barusan ia temui itu adalah Nawang atasia sahabat kecilnya yang dulu selalu bermain di dekat danau dengan dirinya saat Raihan liburan di villa milik keluarganya.


Flashback

__ADS_1


Nawang dan Raihan pertama kali bertemu saat berusia 7 tahun di tepi danau adeldang. Saat itu ia sedang liburan bersama keluarganya dan ia berjalan-jalan sendiri di tepi danau yang tidak jauh dari villa milik keluarganya. Mereka berdua berkenalan dan selalu bermain bersama selama satu bulan, hingga akhirnya Raihan kembali lagi ke kota dan pergi meninggalkan Nawang yang menangisi kepergiannya. Hingga suatu saat lima tahun kemudian Raihan kembali liburan di villa yang berada di kampung, secara kebetulan ia bertemu kembali dengan Nawang saat berusia dua belas tahun saat itu Nawang sedang menangis karna jatuh dari sepeda dan Raihan lah yang menolongnya. Mereka berdua seperti takdir setelah berpisah beberapa tahun di pertemukan kembali oleh alam. Raihan pun sempat berfikir jika dia dan Nawang bertemu lagi di umurnya yang sudah sweet seventeen ia menyimpulkan bahwa Nawang adalah jodoh yang Tuhan siapkan untuknya. Dan anehnya di umur sembilan belas tahun tanpa sengaja bertemu kembali dengan Nawang saat berada di halte bus. Saat itu hari sedang hujan lebat Raihan duduk di halte untuk berteduh, tiba-tiba ada seorang prempuan yang berlari ke arahnya dengan tubuh sebagian basah terkena air hujan.


"Boleh duduk di sini? "


"Iya silahkan. "kata Raihan tidak peduli, ia masih asik main game di tangannya.


Nawang pun duduk tepat di samping Raihan saat itu tanpa satu obrolan apa pun, sebenarnya Raihan tidak sadar jika perempuan di sampingnya adalah Nawang teman kecilnya saat di danau adeldang. Hingga sebuah telepon berbunyi dan Nawang mengangkat telepon tersebut.


"Iya, Nawang masih di halte bu, sebentar lagi kalau hujan agak mereda Nawang akan segera pulang. "kata-kata Nawang sampai di telinga Raihan saat itu. Dengan bekal rasa penasaran Raihan memutuskan untuk menyelidik siapa Nawang sebenarnya dan selalu mengikuti Nawang hingga akhirnya rasa penasaran itu terjawab sudah saat Nawang pulang di rumahnya yang berada di kampung dekat dengan danau adeldang.


"Benar dia adalah Nawang yang dulu bermain denganku. "gumam Raihan, wajahnya tersenyum melihat keluarga Nawang.


Hingga sekarang mereka berdua tidak sengaja bertemu lagi di hotel saat ia ingin membantu sepupunya Dandi. Takdir itu yang membuat Raihan sangat baik sekali pada Nawang. Karna Raihan juga menyukai Nawang lebih dulu dari pada Dandi sepupunya. Ternyata Dandi dan Raihan dua orang bersepupu itu menyukai wanita yang sama.


Di Rumah Oci


"Abi dan Kaysa kemana ya? tumben rumah ini sepi sekali.. semoga Kaysa baik-baik saja. "gumam Nawang yang sedang menyamar sebagai prempuan bercadar agar tidak ketahuan Oci. Sebenarnya Nawang merasa malu jika bertemu kembali dengan suaminya, ia tak mampu menampakkan wajahnya di depan Oci. Nawang merasa sangat berdosa karna tubuhnya sudah di cicipi Dandi meskipun dengan cara di paksa, ia merasa jadi prempuan hina yang tidak pantas untuk Oci yang terlalu baik. Nawang merasa dirinya sangat kotor.


Beberapa saat kemudian pintu rumah Oci terbuka nampaklah wajah abahnya Oci yang terlihat sayu dan sedih.


"Itu abah kan, ngapain abah sampai berada di sini, sebenarnya apa yang telah terjadi. "batin Nawang merasa gusar.


Abah menghentikan taksi yang lewat, dia segera masuk ke dalam taksi itu. Karna penasaran Nawang pun mengikuti taksi tersebut. Setelah menempuh perjalanan beberapa menit sampailah taksi itu pada sebuah rumah sakit kecil. Abah turun dari taksi itu, Nawang pun ikut turun juga dari taksinya. Masih membuntuti punggung abah dari kejauhan tibalah di ruang rawat melati, ruang rawat khusus anak. Di sana terlihat kaysa putri kecilnya di gendong Oci di susul umi kulsum ibundanya Oci keluar dari ruang tersebut sambil menenteng tas tranparan berisi pakaian.


Nawang tiba-tiba meneteskan air matanya saat melihat putri kecilnya yang terlihat pucat.


"Kaysa ibu ingin memelukmu nak, maaf tapi ibu tidak berani muncul di depan ayahmu"kata Nawang saat melihat putrinya dari kejauhan.


Tiba-tiba Kaysa yang berada dalam gendongan Oci berjalan menuju ke arah Nawang saat ini, sehingga Nawang bergegas untuk bersembunyi menghindar dari mereka.

__ADS_1


"ibu.. ibu.. "rengek Kaysa yang masih memejamkan matanya.


Tanpa sengaja Nawang pun mendengar putrinya memanggil-manggil dirinya.


Setelah mereka berdua lewat, Nawang langsung keluar dari persembunyiannya.


"Ibu benar-benar minta maaf nak, jika waktunya sudah tiba ibu janji akan menemui kaysa."batin Nawang sambil melihat kepergian Oci bersama putrinya.


Sementara itu Rai sudah tiba di tempat tujuannya, dia sedang di maki-maki oleh sepupunya. Namun mulut Rai tetap bungkam meskipun anak buah Dandi beberapa kali memukuli tubuhnya.


"Cepat jawab di mana kamu menyembunyikan Nawang? dasar cecunguk si*lan, PLAKK "Dandi menampar wajah Rai, ia sangat marah besar pada Raihan, karna ia baru saja mendapatkan info dari anak buahnya bahwa Raihan pernah jalan bersama seorang wanita yang mirip sekali dengan Nawang.


"Berapa kali aku bilang aku tidak tau di mana Nawang, karna wanita itu bukan Nawang. "ucap Rai bohong yang terduduk di atas lantai dengan wajah babak belur.


Dandi semakin terpancing emosi, ia berjalan mendekati Raihan kemudian menjambak rambut Rai dengan keras sambil membisikan sesuatu di telinga Rai.


"Jika kamu terbukti menyembunyikan Nawang dariku, aku akan membunuhmu meskipun kamu sepupuku sendiri. "


Dandi melepaskan rambut Rai kemudian menendang Rai dan pergi begitu saja bersama anak buahnya.


Rai menatap kepergian Dandi dengan tatapan benci, ia mengusap darah di ujung bibirnya dengan siku kanannya.


"Dasar iblis, nyesel gue pernah bantu loe. "kata Rai kemudian bangkit, lalu pergi dari hotel terkutuk itu dengan tubuh sempoyongan.


*Cinta itu memiliki begitu banyak hal kecil. Berkorban di dalam diam, melindungi yang pantas dilindungi dan memperhatikan dari kejauhan. Cinta itu bertengkar dan berdamai lagi. Cinta itu gagasan pertama yang hangat dan membuat rasa kantuk di pagi hari, dan ciuman terakhir di malam hari.


Cinta itu juga saling merindukan dan puncak rindu paling dahsyat ketika dua orang tak saling telepon, SMS, wa tapi keduanya saling mendoakan.*


Sekian dulu ya.. wah ternyata Raihan dan Dandi tidak sefrekuensi ya.. Rai tetap melindungi Nawang meskipun tubuhnya harus menerima pukulan Dandi sepupunya sendiri. Nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2