
Aku tak pernah menunggumu. Kamu tak pernah sengaja datang. Tapi kita sengaja dipertemukan Tuhan. Entah untuk saling duduk berdampingan atau saling memberi pelajaran. Kehidupan sulit ditebak bagaimana kelanjutannya. Jalan kecil yang semakin sempit dan sempit...
"Apa? woy manusia sadarlah? "jawabku kemudian memukul manusia itu dengan keras agar pelukannya itu terlepas.
Untung saja pukulanku barusan bisa melepas pelukan dari manusia bodoh itu, aku pun sedikit menjauh dari sang dukun yang sangat gila.
"Sayang ketahuilah semua ini adalah takdir ilahi yang telah dituliskan berjuta-juta tahun yang lalu. Kamu dan aku, kita adalah pasangan yang serasi, bukankah begitu sayang? "kata-kata manusia gila itu mampu membuat bulu kudukku berdiri.
"Bullshit.. kamu memang sudah tidak waras."teriakku tidak percaya dengan perkataan Boy yang tidak masuk akal.
"Sayangku.., jodoh tetap misteri, syukuri ketidak tahuan itu dengan merencanakan dan mengupayakan yang terbaik menuju pernikahan suci di dunia nan fana ini. "manusia itu kembali mengeluarkan kata-kata mautnya yang mampu mencairkan bongkahan batu es di dalam hatiku.
Semenjak aku bergentayangan menjadi arwah Ratu di hutan kelam ini, kata-katanya mampu membuat dadaku merasakan getaran yang aneh. Getaran yang tidak aku rasakan saat bersama Bima yang merupakan suami gaibku, dan juga Raja di hutan kelam ini. Wajah Bima jauh lebih enak di pandang dari pada wajah manusia itu, tapi entah mengapa hatiku yang selama ini merasa kehilangan pemilik seketika menemukan kembali pemiliknya.
"Boy siapa kamu sebenarnya? "
Dirumah Nawang
Rumah yang nyaman untuk berteduh dibangun oleh tangan manusia. Rumah tangga yang kukuh dibangun oleh kepercayaan, kepedulian dan komunikasi yang sehat.
Setelah berada beberapa menit perjalanan akhirnya Nawang sampai juga di kediamannya.
"Terima kasih pak, ambil saja kembaliannya. "kata Nawang kemudian turun dari taksi tersebut.
Dari kejauhan dia melihat putri kecilnya yang asik bermain dengan neneknya. Namun dari kejauhan juga matanya menatap sosok manusia yang sangat ia benci.
"Mau apa dia di sana. "batin Nawang kemudian berjalan terburu-buru ke arah kaysa putri kecilnya.
Namun langkah kakinya kalah cepat dengan langkah kaki orang itu yang jaraknya lebih dekat dari kaysa, seseorang yang selalu menciptakan keretakan rumah tangganya.
"Halo.. kaysa cantik... kangen tidak sama om. "kata Dandi yang sudah mengambil kaysa saat bermain dan menggendongnya.
"Om Dan.. apa.. sini? "tanya kaysa.
Sementara itu Nawang sangat marah melihat Dandi yang menggendong putri kecilnya, dia mempercepat langkahnya agar cepat sampai.
"Lepaskan tangan kotormu dari kaysa putriku. "kata Nawang marah pada Dandi.
"Naee aku rindu kaysa. "jawab Dandi sambil menggoda kaysa yang berada di gendongannya.
"Ada apa sih ndok.. biarkan saja Dandi, oh ya.. kenapa sudah pulang?"tanya ibu mertuanya.
"Astaga sampai lupa... assalamualaikum ma. "kata Nawang kemudian mencium punggung tangan mertuanya.
"Waalaikumsalam ndok, nak Oci mana? kenapa pulang naik taksi. "tanya ibu mertuanya.
"Oh tadi mas Oci bantu cari Jidan ma, saat saya kesana Jidan tidak ada di kamarnya mereka semua sibuk mencari Jidan, dan mas Oci menyuruh saya untuk pulang lebih dulu takutnya kaysa rewel."kata Nawang matanya sambil mengawasi Dandi.
"Yaudah kalau begitu, saya tadi belum selesai masak, ibu mau lanjutin dulu kan kamu sudah pulang, kamu lanjut jagain kaysa ya. "
__ADS_1
"Baik ma, maaf loh tadi gara-gara kaysa mama jadi repot."kata Nawang merasa bersalah.
"Tidak apa-apa ndok, oh ya..Dandi masuk gih minum dulu. "kata mertua Nawang.
"Iya tante baik banget deh. Nanti saya masuk masih ingin main dulu sama kaysa. "jawab Dandi sambil tersenyum pada Nawang.
Sedangkan Nawang tidak berekspresi sama sekalai, wajahnya datar-datar saja malah lebih menunjukkan sangat sebel melihat Dandi.
Setelah ibu mertuanya masuk Nawang berjalan menghampiri mereka berdua.
"Dandi berikan kaysa padaku. "ucap Nawang matanya memelotot tajam ke arah Dandi.
"Tidak hari ini aku ingin mengajak kaysa jalan-jalan. "jawab Dandi tersenyum kemenangan.
"Tidak boleh, Dandi kemarikan kaysa.. cepat.. selagi aku minta baik-baik . "gertak Nawang .
"Galak amat sih naee, ambil sendiri kalau bisa. "ledek Dandi , ia memang memancing Nawang agar mendekat padanya.
"Kaysa sayang kemari nak. "kata Nawang memanggil kaysa dari kejauhan.
Namun kaysa tidak menyahut dan masih asik bermain boneka di depannya. Nawang pun terpaksa harus mendekati Dandi untuk mengambil kaysa yang sibuk bermain di depan Dandi.
Setelah sampai di samping Dandi, Nawang langsung meraih tubuh kaysa dan menggendongnya. Namun tiba-tiba mulut Nawang di bungkam dari arah belakang dengan saputangan yang sudah di beri bius.
Brukk
Nawang pun dengan sekejab langsung pingsan di pelukan Dandi. Sedangkan kaysa menangis setelah melihat ibunya tak sadarkan diri.
Dandi pun membius juga kaysa hingga pingsan. Kemudian dia menelfon seseorang, setelah sambungan telepon itu berakhir dua orang berbaju hitam lengkap dengan penutup kepala datang menghampiri Dandi.
"Cepet bawa bocah itu kedalam mobil, biar aku sendiri yang bawa Nawang ke dalam mobil. "kata Dandi menyuruh anak buahnya.
"Baik bos. "
Dalam sekejab mobil Dandi pun bergegas meninggalkan halaman rumah Nawang. Keadaan yang tadi ramai menjadi lengang seketika.
Di Rumah sakit
"Nomor yang anda hubungi tidak menjawab silahkan tinggal kan pesan suara . "
Sudah hampir lima kali Oci menghubungi Nawang namun tidak ada jawaban sama sekali.
"Ummi sudah sampai rumah belum ya.. tumben teleponku tidak di jawab. Apa gara-gara kaysa rewel ? "batin Oci, dia berusaha membuang pikiran negatifnya.
Oci pun mengantongi kembali hpnya dan kembali masuk ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Jidan.
Sementara itu di dalam mobil Nawang masih pingsan dan sedang di pangku Dandi. Sedangkan kaysa di letakkan sendirian di kursi belakang mobil.
"Tu bocah mau kita apakan bos? "tanya salah satu anak buah Dandi.
__ADS_1
"Berisik kau, mau gue robek tu mulut."ancam Dandi pada anak buahnya, ia takut Nawang sadar.
Perkataan Dandi mampu membungkam kedua mulut anak buahnya.
Sekitar setengah jam perjalanan tibalah mereka di tempat tujuan yaitu sebuah hotel yang terletak jauh dari kota. Lokasinya lumayan sulit di temukan.
"Bawa tu bocah di kamar sebelah, biar Nawang aku urus sendiri. "kata Dandi memerintah anak buahnya.
"Baik bos. "
Brukk
Dandi melempar tubuh Nawang di atas tempat tidur.
"Berat juga kamu naee. "gerutu Dandi meregangkan tangannya yang capek membopong Nawang.
Dandi mengunci pintu kamar kemudian mulai menjalankan rencananya agar Nawang tidak keburu bangun. Dandi mengambil hpnya kemudian tersenyum licik melihat Nawang yang tak sadarkan diri di atas tempat tidur.
"Naee dulu aku pernah bilangkan, apa pun akan aku lakukan untuk mendapatkan mu termasuk cara kotor seperti ini. "kata Dandi kemudian mencium bibir Nawang dengan liar.
Di rumah Oci
"Assalamualaikum ummi, kaysa... "Salam Oci saat membuka pintu rumahnya.
Suasana begitu sepi bahkan tidak ada satu orang pun di rumah.
"Mereka pada kemana ya, ibu... umi.. kaysa... "Oci memanggil mereka bertiga namun sama tidak ada jawaban satu pun.
Oci kemudian berjalan menuju kamar untuk mengecek Nawang yang biasanya ikut tertidur saat memeluk kaysa namun setelah ia buka kamar terasa kosong tidak ada satu orang pun.
"Aku telfon ummi saja siapa tau mereka pergi jalan-jalan bersama nenek. "batin Oci kemudian memanggil Nawang hasilnya nihil.
"Kok tidak aktif terus sih, coba aku telfon ibu."garam Oci kemudian menelfon ibunya.
Tut... tut... tut..
"Assalamualaikum Oci, ada perlu apa nak? "suara ibundanya.
"Waalaikumsalam ibu... kaysa dan Nawang di sana bu? "
"Tidak ada nak, ibu pikir mereka berdua pergi bersama Dandi tapi entah kenapa Nawang tidak ijin ke ibu...tut.. tut.. "sambungan telepon langsung terputus begitu saja.
"Lah kok langsung di matiin, kenapa ya.. tidak biasanya Oci seperti ini. "kata ibunya heran.
Setelah telefon itu berakhir, Oci mendapatkan sebuah pesan wa dari nomor tidak di kenal. Oci langsung membuka pesan itu.
📨"Istri dan anakmu sedang bersamaku... datanglah dengan membawa surat cerai dan tanda tangani jika ingin putri kecilmu selamat. INGAT JANGAN BAWA POLISI, JIKA KAMU MELANGGAR ANAKMU AKAN MATI SAAT ITU JUGA.
"Dandi brengs*k, b*ngsat aku akan membunuhmu dasar iblis. "kata Oci marah.
__ADS_1
Ho.. ho.. ho.. gimana sih kelanjutannya apakah Oci mau menuruti ancaman Dandi?terus gimana kelanjutannya kisah asmara Jidan dengan bu Arasi yang masih tunggal sedarah?dan bagaimana kelanjutannya kisah cinta sang pemeran utama dengan sang dukun? temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.