
Mendung sudah menampakkan wajahnya, langit sebagian sudah menangis begitu juga dengan sang ibu yang menangis merindukan anaknya.
"Kaysa ibu kangen nak, sedang apa kamu sekarang."batin Nawang yang duduk di gazebo depan rumah Rai.
Sementara itu Rai hanya menatap Nawang dari jauh, ia hanya ingin memberikan Nawang waktu untuk sendiri.
"Na aku tau kamu sedang sedih, apa sebenarnya masalahmu? aku hanya tidak ingin terlibat dalam cinta pribadiku yang tak mampu memilikimu. "batin Rai masih berdiri di depan pintu rumahnya.
Udara semakin dingin begitu juga dengan hujan yang kian menderas mengalirkan serintik air mata yang ikut terjatuh bersama hujan.
Nawang menatap hujan dengan tatapan kosong, ia sangat merindukan buah hatinya Kaysa putri kecilnya yang sangat ia sayangi.
Angin tiba-tiba bertiup kencang seperti memberitahu suatu pesan, ternyata benar di balik angin itu Pakha mampu menemukan Nawang lewat bantuan angin dunia gaib.
Pakha tiba di hadapan Nawang yang masih menangis di bawah hujan.
"Kak apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu bisa berada disini, seharusnya kamu berada di rumah dengan kaysa dan kak Oci. "kata Pakha namun Nawang tidak bisa mendengar suaranya.
Nawang merasa hawa semakin dingin, ia pun menggosok-gosok bahunya dengan kedua tangannya dan menatap sekitar kemudian memutuskan untuk masuk ke dalam rumah Rai. Sementara itu Pakha juga mengikuti Nawang dari belakang.
Sesampainya di dalam rumah, Rai sudah duduk di depan tv sambil menyeruput kopi di tangannya dan sudah ada satu cangkir teh hangat yang tergeletak di atas meja tak jauh dari ia duduk.
"Duduklah, itu sudah aku buatkan teh hangat, minumlah agar badanmu lebih hangat. "kata Rai pada Nawang yang masih berdiri di samping Rai.
"Terima kasih Rai, dari dulu kamu memang tidak berubah. "jawab Nawang sambil tersenyum ke arah Rai dan ikut duduk di samping Rai namun dengan jarak yang masih aman.
Pakha merasakan ada yang aneh, pikirannya berkecamuk. Siapa Rai sebenarnya?apa yang di omongkan tetangga Oci itu benar? Tidak mungkin kakaknya tega berselingkuh di belakang Oci seorang laki-laki yang soleh dan baik. Tidak mungkin juga kakaknya tega meninggalkan anak dan suaminya dan malah memilih pria yang jelas tidak ada apa-apanya dengan Oci. Ya jika di lihat dari tampangnya Rai memang jauh lebih ganteng dari Oci tapi kalau di lihat dari kepribadiannya Oci lah yang lebih baik.
Pakha kesal dengan laki-laki yang sedang menyeruput kopi itu, dengan kekuatannya ia menyenggol kopi Rai hingga tumpah.
"Hi.. hi.. hi.. rasain tuh, berani sekali menghancurkan keluarga kak Nawang. "batin Pakha merasa bangga dengan perlakuan jelek yang baru saja ia lakukan.
Kopi itu pun tumpah mengenai baju dan juga celananya, Rai bingung dia merasa sepertinya cangkirnya tumpah dengan sendirinya namun ia tetap berpikir positif mungkin itu hanya perasaannya saja.
Nawang tak kalah kagetnya, ia menaruh kembali tehnya saat belum sempat ia minum dan membantu mengelap baju Rai yang ketumpahan kopi panas itu.
Pakha semakin kesal saat kak Nawang peduli pada Rai laki-laki yang ia anggap sebagai perusak rumah tangga kakaknya itu.
"Rai kamu tidak apa-apa kan, luka lebamnya harus segera di obati agar tidak semakin parah, tunggu sebentar aku ambilkan salep."kata Nawang yang juga panik.
__ADS_1
"Ti.. ti. dak usah na, biar aku sendiri saja, ka.. mu.. minum saja tehmu biar aku sekalian ganti baju. "kata Rai dengan wajah memerah dan langsung berdiri dari duduknya kemudian berjalan cepat menuju ke arah kamar.
"Apa yang aku pikirkan barusan, ingat Rai dia itu udah punya suami. "batin Rai saat berjalan ke arah kamarnya.
Sementara Nawang hanya menatap kepergian Rai dengan kwatir.
"Rai dari dulu kamu selalu membantuku tapi kamu tidak pernah mau menerima bantuanku. "gumam Nawang kemudian duduk kembali.
Pakha mendengar perkataan kak Nawang ia pun kaget, ternyata mereka berdua sudah saling kenal lama.
"Kak kamu bukan prempuan seperti itu kan? "kata Pakha namun Nawang tetap tidak bisa mendengar perkataannya.
Pakha memutuskan untuk berteleportasi dan menghilang dari rumah Rai, kemudian muncul kembali di rumah sakit tempat Boy di rawat.
Pakha kemudian terbang ke segala arah untuk mencari keberadaannya Boy namun ia kesulitan menemukannya.
"Hah.. dimana Boy di rawat kalau aku kelilingi satu persatu sampai bulan purnama pun tidak akan bertemu karna rumah sakit ini punya lantai lima. "kata Pakha kesal.
Dia pun memutuskan untuk mencari sang dokter yang mampu melihat dirinya dan di saat bersamaan dokter itu pas baru saja keluar dari ruang operasi berjalan dengan para perawat di belakangnya.
Pakha tersenyum kemudian terbang menghampiri dokter itu dan langsung mengahadang dokter itu dengan merentangkan kedua tangannya agar dokter itu berhenti.
"Ada apa dok? "tanya perawat yang juga kaget karna dokter di depannya tiba-tiba berhenti.
"Tidak ada apa-apa kok, kalian duluan saja nanti aku susul. "kata dokter itu.
"Baik dok. "kata sang perawat kemudian berjalan meninggalkan dokter itu yang masih berdiri di tempat yang sama.
"Hay dokter baik. "kata Pakha sambil tersenyum dan melambaikan tangannya di depan wajah sang dokter.
"Kamu bisa gak muncul sembarangan seperti ini, jantungku hampir saja copot."kata sang dokter terlihat sangat kesal.
"Sorry saya khilaf, soalnya ada hal penting yang ingin saya tanyakan. "jawab Pakha memasang wajah paling imut di seluruh dunia.
Dokter itu pun merasa tersentuh dan memberitahu di mana ruang rawat Boy berada. Tanpa mengucapkan sepatah kata terima kasih pada dokter itu Pakha tiba-tiba langsung menghilang pas setelah dokter selesai berkata.
"Dasar hantu, kalian itu tidak di ajarkan sopan santun apa. "gumam sang dokter merasa kesal kemudian melanjutkan jalannya menyusul perawat yang dari tadi sudah menunggunya.
CLINGG
__ADS_1
Pakha tiba di ruangan Boy, dia tersenyum saat melihat Boy di kelilingi oleh orang tuanya yang duduk di samping Boy.
Pakha terbang mendekat ke arah Boy yang belum sadarkan diri masih terpasang alat bantu pernafasan di hidungnya.
"Boy aku senang sekarang kamu sudah tidak sendirian lagi, hiduplah dengan baik jangan mencariku lagi seperti dulu. Hal yang harus aku lakukan sekarang adalah pergi, pergi dari semua kenanganmu dan pergi dari kehidupanmu. Maaf karna dulu aku sudah membuatmu menderita seperti ini, aku akan menghilangkan rasa sakitmu, hiduplah dengan baik tanpa diriku. "
CLINGG
Pakha mengarahkan tangannya ke wajah Boy, seketika cahaya terang muncul dari cincin Pakha dan cincin itu pun langsung terurai menghilang bersama dengan redupnya cahaya.
Pakha tersenyum ke arah Boy kemudian mengecup Boy untuk terakhir kalinya.
"Selamat tinggal sayang hiduplah dengan baik"
Clingg.. Pakha pun langsung menghilang dari rumah sakit itu.
Sementara itu sedetik kemudian Boy langsung tersadar.
Orang tua Boy memanggil dokter untuk mengecek keadaan Boy, alat bantu pernafasan pun di copot karna Boy sudah benar-benar membaik. Bagai keajaiban dalam satu hari Boy bisa pulih dan tidak merasakan sakit apa pun.
"Ma.. pa.. apa yang sebenarnya terjadi padaku? "tanya Boy linglung, ia seperti bayi yang baru lahir tidak bisa mengingat apa-apa lagi. Karna Pakha sudah menghapus ingatan Boy tentangnya dan semua yang berhubungan dengan dirinya selama ini agar Boy mampu hidup normal seperti sebelumnya.
"Iya sayang ini.. mama... ini.. papa.. syukurlah kamu sudah siuman. Mama sangat kwatir sekali nak. "kata ibu Boy.
Boy hanya diam, di dalam hatinya seperti merasakan kekosongan yang amat dalam tapi dia tidak tau itu apa. Boy merasa seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku aku tidak ingat apapun. "batin Boy menatap langit-langit kamar.
Sementara itu Pakha menangis tersedu-sedu di atas gunung sambil membenamkan wajahnya di antara lutut.
"Maaf Boy aku melakukan itu untuk kebaikanmu.. aku janji akan menyimpan cinta kita seorang diri bahkan sampai aku ke alam akhirat. "kata Pakha di sela tangisnya.
"Kamu sudah benar sayang. "suara seseorang tiba-tiba terdengar dan berjalan menghampiri Pakha yang masih menangis.
Seseorang itu merangkul Pakha dari belakang, Pakha pun langsung menangis di pelukan suami gaibnya yaitu Bima.
"Menangislah agar hatimu lega, kamu melakukannya dengan benar..sekarang tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita karna kamu di takdirkan menjadi pasanganku. "kata Bima sambil menepuk-nepuk punggung Pakha yang masih menangis.
Sekian dulu ya.. nantikan kejutan menarik lainnya di episode selanjutnya. Tetap semangat membaca.
__ADS_1