
"Ahh..” Pakha melenguh pelan, berusaha menutupi cahaya yang menyilaukan matanya dengan telapak tangan. Pandangannya kabur, namun terlihat bahwa ada sesosok di sana. Seseorang yang tampak heboh melihat Pakha, seperti baru melihat idolanya.
“Pakha .. Pakha … ini aku Boy….”suara terdengar tak jelas di telinga Pakha.
Pakha mulai sedikit sadar, sejak cahaya menyilaukan itu mengenai matanya, dia menelisik ke sekitar untuk memastikan kembali keberadaannya.
"Ini bukan di neraka kan? "batin Pakha dalam hati.
“Dokter! Dokter!!”Suara itu kembali terdengar di telinga Pakha.
Perlahan-lahan Pakha mulai dapat melihat dengan jelas, siapa orang yang teriak-teriak dan rupanya dialah Boy alias kekasihnya yang terlihat sangat tengil dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Seiring dengan itu, Pakha baru menyadari ada banyak hal yang telah di lewatkan. Pakha berada di sini, terbaring lemas dengan infus di tangan, selang oksigen di hidung, dan kabel-kabel di tubuh. Juga perban yang membebat kepala dan lengannya.
Akhirnya Pakha kembali sadar setelah 10 hari koma. Dia tidak lagi bisa mengingat kejadian saat bersama Bima. Saat ia masih menjadi roh. Ingatan Pakha terakhir hanya sedang menyebrang jalan dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
"Kenapa aku bisa ada di rumah sakit? kenapa kepalaku sangat pusing? "pertanyaan Pakha di dalam hatinya.
Tak lama kemudian datang seorang lelaki memakai seragam putih dan dua orang wanita di belakangnya, juga mengenakan pakaian putih. Dia pastilah dokter yang dipanggil Boy, dan dua orang di belakangnya pastilah perawat. Dokter mendekati Pakha, memeriksa. Ia mengatakan satu-dua kalimat sebelum akhirnya melangkah keluar. Pakha tersenyum melihat tingkah Boy yang terlalu heboh melihatnya membuka mata.
"Sayang ini aku Boy, apa kamu sudah baikan? "tanya Boy kwartir.
Pakha hanya mengangguk, entah mengapa lidahnya terasa kelu saat ia ingin berbicara.
"Alhamdulillah terima kasih banyak Tuhan, Engkau masih memberikan kesempatan untuk kekasih ku yang paling aku sayang bangun lagi..” Air matanya menetes kali ini di sertai isak tangis. Boy langsung memeluk Pakha dengan erat.
Pakha kembali tersenyum.
“Susudah berapa lama aku di sini?” tanya Pakha lemah.
“Sudah hampir 10 hari."kata suara perempuan yang tiba-tiba memeluk Pakha. Yah siapa lagi kalau bukan kak nawang kakak yang paling menyayangi adik kecilnya, meskipun Pakha sekarang sudah dewasa tapi menurut kak nawang masih Pakha kecil seperti dulu.
"Tau nggak, lo itu adik yang paling menyebalkan yang pernah aku punya. Setiap hari aku harus datang ke sini demi melihat kamu tidur. aku harus rela ngoceh nggak jelas hanya untuk melihat kamu terdiam. Berjam-jam aku harus mondar-mandir demi melihat jemari mu bergerak. kamu itu.. kamu itu…”
Belum selesai mengoceh kak Nawang langsung di peluk Oci.
“Sssttt… sabar mi!!! Pakha baru sadar, bukannya bersyukur malah ngomel seperti ini.” kata Oci menenangkan Nawang.
__ADS_1
Kak Nawang kembali memeluk adiknya yang masih lemas itu sambil berkata.
“ Maafin ucapan kakak tadi ya dek, akhirnya setelah 10 hari perjuangan Kakak tidak sia-sia…”
“Tunggu! Apa? sesepuluh hari kak? Aku tidur selama sepuluh hari?” kata Pakha terbelalak mendengar kalimat Kak Nawang.
Kak Nawang melepaskan pelukannya, mengangguk tersenyum sambil menyeka ujung matanya.
“Apa yang terjadi denganku kak?”
“Kamu nggak ingat?” Kak Nawang balik bertanya, sambil menatap adiknya.
Pakha menggeleng, benar-benar tak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya.
Flashback
Pada hari ketujuh Pakha terbaring di rumah sakit, dokter berkata bahwa hanya keajaiban Tuhan yang bisa membuatnya sadar. Intinya, dokter angkat tangan, sudah melakukan tugas semaksimal mungkin. Kalau dalam waktu dua hari kondisinya tak ada kemajuan, dokter akan melepas seluruh alat bantu di tubuhnya. Artinya Pakha akan mati.
Di tengah keputusasaan Kak Nawang atas kondisinya, ia tiba-tiba terpikirkan akan hal konyol. Dia meminta Boy untuk memberikan benda berharga yang Pakha sayangi. Berharap Pakha akan sadar setelah di berikan barang kesukaannya. Namun hasilnya Nihil.
Pukul 9 malam, Boy melihat jemari Pakha bergerak. Ia segera memanggil dokter yang segera disambut dengan kabar gembira bahwa kondisi Pakha mengalami kemajuan pesat. Malam itu Boy tidak tidur, menunggu Pakha akan kembali menggerakkan jemari. Namun pukul 4 pagi Boy tertidur di samping ranjang karena kelelahan.
Dan hari terakhir di mana semua selang dan alat bantu lainnya akan di lepas Pakha sadar dan membuka mata setelah sepuluh hari terpejam.
...Back to the beginning ruangan tempat Pakha di rawat....
Tok tok tok
Sebuah ketokan pintu mengagetkan penghuni ruangan itu.
"Assalamualaikum. "salam dari seorang laki-laki tampan sambil membawa sekeranjang buah di tangannya.
"Waalaikumslm. "jawab dari dalam ruangan.
Perlahan laki-laki itu mendekat dan bersalaman dengan Boy, Oci kemudian Nawang yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
Setelah adegan salam-salaman itu selesai dia menghampiri Pakha yang menatap dirinya.
Oci, Nawang dan Boy berinisiatif untuk meninggalkan mereka berdua, untuk memberi privasi antar sahabat.
"Pakha apa kamu masih bisa mengingat ku? "tanya Jidan cemas.
"Siapa kamu. "jawab Pakha.
"Kamu beneran tidak ingat aku?"tanya Jidan namun di sertai kecemasan yang sangat luar biasa.
"Tenang saja aku masih ingat semuanya kok, aku itu cuma kecelakaan Jid bukan amnesia. "kata Pakha sambil sedikit tersenyum karna berhasil menjaili sahabat baiknya.
"Syukur lah, jantungku hampir saja kau buat copot ,Pakha gimana kondisimu sekarang? "tanya Jidan sambil memegang tangan Pakha.
"Alhamdulillah sudah lumayan Jid. "jawab Pakha.
Waktu itu Jidan juga sangat kwartir dengan keadaan Pakha, meskipun tidak setiap hari menjenguk Pakha namun perjuangan nya juga tidak bisa di anggap remeh. Dia di rumah sehabis kuliah pasti mengadakan acara doa bersama dengan adik beserta ayah ibunya, bukan hanya itu setiap malam ia bahkan tidak pernah absen untuk tahajjud sambil mendoakan kesembuhan Pakha sahabat sekaligus orang yang ia cintai. Meskipun kontribusi nya tidak begitu terlihat namun dia juga tak henti mendoakan Pakha di setiap sujudnya.
"Pakha aku takut sekali dengan kejadian itu, setiap hari tidurku tidak nyenyak bahkan kejadian itu selalu muncul menjadi mimpi buruk di setiap tidur ku, aku bersyukur kamu bisa kembali sadar. "kata Jidan.
"Lebay kamu Jid, udah belum melonya, mau pegang tanganku sampai kapan nih? atau nunggu Boy lihat baru mau kau lepas. "kata Pakha.
Seketika Jidan langsung melepaskan genggaman tangannya.
"Sorry aku tidak sengaja. "kata Jidan dengan tersipu malu.
Pakha hanya sedikit tersenyum melihat wajah Jidan yang merah merona.
Di sisi lain di depan pintu sudah ada Boy yang mengawasi gerak gerik mereka berdua. Kalian tahu kan gimana sikap Boy yang lebay, bucin dan juga cemburuan mana mungkin ia bisa melepaskan Pakha berduaan begitu saja dengan laki-laki lain meskipun itu sahabatnya sendiri.
Saat ini mata Boy sedang menatap tajam mereka berdua di balik kaca sambil menggigit bibirnya.
Sekian dulu ya.....dengan temperamen Boy yang cemburuan apa yang kalian pikirkan jika Boy melihat mereka berdua pegangan tangan?
Temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1