Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Season 1 END


__ADS_3

Pakha dan Nawang duduk di belakang kosan, mereka berdua saling diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Hingga Pakha yang pertama kali membuka percakapan dengan kakaknya.


"Kak lihatlah langit itu, aku ingin seperti senja itu sebab senja lebih tau bagaimana cara permisi tanpa ada sedikit pun insan yang merasa tersakiti."kata Pakha tersenyum menatap langit sore.


"A.. apa maksudmu dek? "tanya kak Nawang gagap.


"Kak Nawang sebenarnya sudah tau kan sesuatu tentang aku, maaf Pakha terlambat memberitahu hal ini pada kakak. "ucap Pakha sedih sambil menatap langit-langit yang mulai berubah menjadi keabu-abuan.


Kak Nawang hanya diam menatap Pakha yang ingin menceritakan sesuatu pada dirinya.


"Sebenarnya hidupku sudah tidak lama lagi kak, kalau Pakha sudah pergi kakak tidak akan sedih kan? "tanya Pakha serius sambil menatap kakaknya yang matanya mulai berkaca-kaca.


"Jangan bicara seperti itu dek, bagaimana mungkin kakak tidak akan sedih kalau kamu tidak ada, maka dari itu tolong jangan tinggalkan kakak ya.."jawab kak Nawang memohon sambil memegang tangan adiknya yang terasa dingin.


"Aku tidak bisa janji kak, apa Pakha boleh minta satu hal pada kakak?".


Kak Nawang cuma mengangguk, ia tak mampu membuka mulutnya karna ia sedang bersusah payah menahan air matanya agar tidak keluar, ia tidak ingin adiknya bersedih saat melihatnya menangis.


"Aku harus kuat tidak boleh nangis di depan Pakha. "batin Nawang sambil meremas telapak tangannya sendiri.


"Kak tolong rahasiakan penyakit Pakha pada Boy, apa pun yang terjadi kakak harus merahasiakannya, dan berikan buku kecil ini pada Boy jika sesuatu terjadi padaku"ucap Pakha bersungguh-sungguh dengan wajah pucatnya.


"Iya kakak janji akan merahasiakan ini dari Boy. "jawab kak Nawang sambil menerima buku kecil milik Pakha kemudian memeluk adeknya dengan erat.


Namun tanpa di sadari ternyata Pakha pingsan dalam pelukan kakaknya. Kak Nawang panik langsung berteriak memanggil seseorang untuk menolong adiknya sambil menangis tersedu-sedu. Hatinya sakit melihat adiknya terkulai lemas seperti itu dalam pelukannya. Untungnya ada dua orang warga yang saat itu tidak sengaja melintas dan akhirnya mereka bisa menolong Nawang untuk membawa Pakha ke rumah sakit terdekat.


"Dek aku mohon bertahanlah hiks.. hiks.. "Nawang tidak bisa berpikir dan hanya terus menangis sambil memangku kepala adiknya di dalam mobil warga.


Sementara itu roh Pakha keluar dari tubuhnya, ia melihat kakaknya menangisi dirinya.


"Apa aku udah mati? "


Tiba-tiba ada tangan yang meraih tangannya.


"Belum, tapi detak jantungmu sudah mulai melemah. "sosok laki-laki menjawab pertanyaan Pakha.


"Kalau kamu mau, aku bisa membantu mu lebih cepat pergi dari dunia ini, dan jadilah ratuku seperti janjimu dulu. "


"Aku tidak menyangka akan pergi secepat ini, padahal aku baru saja memikirkan masa depan bersama Boy, tapi ya sudahlah kalau ini memang takdirku, aku mau ikut bersamamu dan menjadi ratumu"kata Pakha sambil menggenggam tangan Bima.


"Baiklah mari tuan putri ikutlah ke duniaku, ayo kita ciptakan dunia sesuai keinginan kita. "jawab Bima sambil tersenyum ke arah Pakha dan menggenggam erat tangan wanita yang sudah berpuluh tahun ia tunggu.


"SELAMAT TINGGAL BOY, SELAMAT TINGGAL KAK NAWANG, SELAMAT TINGGAL DUNIA ".ucap Pakha tersenyum.


Roh Pakha pun menghilang bersama dengan Bima dan kehidupan dunia gaib Pakha baru saja di mulai.


Sementara itu di rumah sakit dokter masih berusaha menyelamatkan Pakha, namun detak jantung Pakha malah semakin melemah dan tiba-tiba menghilang.


Titttttt


"Dok gimana ini kita gagal menyelamatkan nyawa pasien? "kata suster yang membantu operasi Pakha.


"Kita tambah joule, 250 joule."jawab sang dokter panik.


Usaha sang dokter tidak berhasil detak jantung Pakha tidak bisa kembali lagi. Kini tubuh Pakha sudah mulai dingin, akhirnya dokter telah menyerah.

__ADS_1


"Pihak keluarga nyonya Pakha?"tanya dokter saat keluar dari ruang operasi.


"Saya dok. "kata Kak Nawang dan ibu Pakha bersamaan.


"Gimana keadaan anak saya dok? "tanya ayah Pakha pada sang dokter.


"Maaf kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi nyawa nyonya Pakha tidak bisa kami selamatkan, detak jantungnya tiba-tiba melemah dan menghilang. Dengan begitu nyonya Pakha sudah kami pastikan meninggal dunia pada 9 september 2018 jam 9 lewat lima belas menit."kata sang dokter.


"Dokter bercanda kan? "kata ibu Pakha tidak terima kemudian menangis di pelukan Kak Nawang anak yang slalu ia banggakan.


"Tidak... tidak mungkin anak bandel itu sudah pergi...ha... ha.. DOKTER BERCANDA."teriak ayah Pakha sambil memukul dada Dokter yang menangani Pakha.


"Sudah cukup yah, kita harus merelakan Pakha agar beliau tenang di sisinya. "ucap Oci sambil merangkul ayah mertuanya.


Sampai akhir hidup anaknya, orang tua Pakha baru menyesali perbuatannya karna selama ini tidak pernah menyayangi Pakha. Ibu Pakha hanya bisa memeluk jenazah anaknya yang sudah kaku dan membiru.


"Maafkan ibu nak, selama ini ibu tidak pernah menganggap mu ada, ibu sangat menyesal , kenapa kamu lebih dulu pergi dari pada ibu nak hiks hiks"ucap ibu Pakha sambil menciumi mayat anaknya.


Kak Nawang hanya bisa menangis di dalam pelukan suaminya. Sedangkan ayah Pakha menghindar dan pergi keluar dari rumah sakit itu, namun kenyataannya ia malah diam-diam menangis di belakang rumah sakit sambil memukul tembok di depannya.


Penyesalan akan datang setelah kita benar-benar kehilangan, saat ada di depan mata, kita belum bisa merasakan kehadirannya dan pada akhirnya jika benar-benar tidak ada baru kita bisa merasakan kehadirannya di hidup kita. Namun semua itu sudah terlambat. Sayangilah orang yang masih ada di sampingmu, jangan membuatnya kecewa, jangan membuatnya bersedih karna jika kamu melukai hatinya, maka kamu akan menyesal kalau orang itu sudah benar-benar pergi dari dunia ini. Pada akhirnya akan menyesal seperti orang tua Pakha yang masih terbayang-bayang penyesalan seumur hidupnya karna telah menyia-nyiakan anaknya sendiri.


Di satu sisi Boy belum mengetahui kabar duka itu, dia masih sibuk rapat dengan kliennya.


"Rapat cukup sam..... uhkk"tiba-tiba hatinya terasa sakit seperti tertusuk belati tajam.


"Bapak tidak apa-apa? "kliennya kwatir melihat Boy yang tiba-tiba kesakitan.


"Aku tidak apa-apa kok, ya sudah jika ada hal lain yang ingin di bicarakan hubungi sekretaris kim saja. "kata Boy kemudian menutup rapat itu.


"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi, silakan hubungi beberapa saat lagi. "malah operator yang menjawab panggilan telefon Boy.


"Ukhh kenapa sih tidak bisa di hubungi."kata Boy kesal kemudian berlari menuju mobilnya untuk menghampiri Pakha di kosan seperti biasa.


Sesampainya di kosan, Boy kaget saat melihat segerombolan warga yang ramai-ramai di depan kosan Pakha.


"Sebenarnya ada apa ini kok ramai-ramai? "tanya Boy kaget melihat kerumunan warga yang berbincang-bincang.


"Begini mas, tadi ada salah satu penghuni kos ini yang tiba-tiba pingsan saat mengobrol dengan kakaknya dan malam ini denger-denger nyawa anak itu sudah tidak tertolong lagi. Kami sedang membereskan kamarnya untuk mengosongkan agar bisa di tempati anak kos yang baru. "ucap bapak-bapak itu.


"Innalilahi wainnailaihirojiun, terus siapa nama anak kos itu pak? "tanya Boy cemas dan berharap bukan nama tunangannya.


"Emm piik... siapa ya bapak lupa.. piik.. pikha, oh bapak ingat namanya kalau tidak salah pikha. "kata bapak itu.


"Pakha maksud bapak namanya Pakha? "tanya Boy dengan tubuh bergetar.


"Ah iya itu Pakha namanya Pakha, mas kenal dengan orang itu? "tanya bapak itu.


Seketika tubuh Boy langsung terkulai lemas di tempat itu juga, rasanya tenaganya hilang tanpa tersisa mendengar nama kekasihnya di sebut bapak tadi.


"Tidak... tidak mungkin.. aku harus memastikannya sendiri. "ucap Boy kemudian bangkit dan langsung mengendarai mobilnya menuju rumah Pakha yang ada di kampung.


Sesampainya di depan halaman rumah Pakha , Boy melihat ada bendera kuning yang terpasang di depan rumah Pakha.


Boy berusaha untuk tenang dan perlahan-lahan memasuki kerumunan warga yang mengelilingi jenazah yang tertutup kain kafan putih.

__ADS_1


"Permisi bu, kalau b.. boleh tau na... nama..jenazahnya siapa ya. "tanya Boy tergagap-gagap.


"Namanya Pakha mas. "jawab ibu itu kemudian melanjutkan membaca tahlil.


Lutut Boy bergetar, perlahan-lahan menghampiri jenazah yang tertutup kafan putih dan membuka perlahan wajah yang tertutup kain kafan itu.


Hatinya seperti tersayat pedang, terasa perih sekaligus sakit ketika melihat wajah yang paling dia sayang sudah dingin dan membiru.


"Sayang ayo bangun jangan tidur di sini. "kata Boy menggoyang-goyangkan tubuh Pakha ,air matanya tak kuasa ia tahan sehingga mengalir membasahi pipi Pakha yang sudah membiru.


Kak Nawang menghampiri Boy dan berusaha menenangkannya.


"Boy ikhlaskan Pakha agar ia bisa tenang di sisinya. "kata kak Nawang sambil menepuk-nepuk punggung Boy yang menangis histeris.


"Sayang jangan tinggalkan aku sendiri bagaimana bisa aku hidup tanpamu...tidak aku akan ikut mati agar bisa di surga bersamamu. "kata Boy sambil memeluk jenazah Pakha.


"Boy cukup jangan berfikir seperti itu kakak ada sesuatu untukmu, Pakha menitipkan sesuatu untuk di berikan padamu. "kata kak Nawang.


Seketika tangis Boy langsung terhenti dan bangkit mengikuti langkah kaki kak Nawang yang berjalan meninggalkan keramaian menuju sebuah kamar.


"Ini Pakha berpesan padaku untuk memberikan buku ini jika terjadi sesuatu padanya. "kata Kak Nawang sambil memberi buku pada Boy.


Boy kaget ternyata buku yang di serahkan padanya adalah buku Diary yang waktu itu ia berikan kepada Pakha saat hari kelulusannya.


Setelah Boy menerima buku itu, Kak Nawang kembali ke ruang tengah sedangkan Boy duduk terkulai lemas sambil memegang buku diary Pakha.


7 September 2018


Dear Tuhan....


Apakah aku masih bisa merasakan kehidupan yang lebih lama dengan orang-orang yang ada di dekatku. Aku tidak ingin melihat Boy bersedih karena ku Tuhan. Aku sangat sayang padanya, aku ingin merasakan hidup bersama dalam satu keluarga dengannya, aku tidak ingin berpisah, aku ingin selalu bersamanya, ingin memiliki anak yang lucu, dan bisa menua bersamanya.


Sebelum aku berpisah dengannya, apakah aku boleh pergi ke tempat faforit kami Tuhan. Tuhan aku ingin membuatkan kekasihku sebuah puisi, tapi tangan ini sudah tidak berdaya. Sepertinya tenagaku terkuras habis, tubuhku semakin lemas, dan sepertinya aku juga ingin berbaring dan tidur di tempat tidurku. Tapi sebelumnya aku ingin mengucapkan kata


“I Love You Boy, aku sangat bersyukur kamu pernah hadir di hidupku."


Sayang *m**aaf jika suatu saat aku pergi lebih dulu darimu...jangan berputus asa, hiduplah dengan baik meski tanpa aku. aku yakin kamu adalah laki-laki yang kuat yang pernah aku temui. Percayalah suatu saat kita akan bersama di kehidupan yang kekal, tapi ingat kamu tidak boleh mempercepatnya. Satu hal lagi, mungkin jika ini tulisan terakhirku di dunia ini, aku ingin semua torehan-torehan ku dan kisah hidupku yang aku tulis di buku ini bisa di baca oleh banyak orang. Maaf aku memberikan beban padamu seberat ini. Sekali lagi aku sangat bahagia pernah hidup bersamamu, menjadi kekasih mu, menjadi tunanganmu. Aku di sini akan tetap cinta dan sayang padamu selamanya*.


^^^Pakha.^^^


Boy membaca tulisa itu sambil menangis, dia benar-benar terpukul atas kepergian Pakha yang tiba-tiba. Ternyata di balik halaman terakhir diary itu terdapat sebuah cincin yang menempel di buku itu.


"Kenapa kamu sudah mempersiapkan ini semua, aku tidak menyangka akan benar-benar kehilanganmu untuk selamanya. "gumam Boy sambil memeluk erat buku kecil itu dan menangis sejadi-jadinya.


Pakha berinisiatif menulis itu karena ia merasa hidupnya sudah tidak lama lagi, dan disisa umurnya itu ,Pakha ingin membuat orang-orang yang ia sayangi bahagia. Pakha tidak ingin mereka terpuruk karena kepergiannya nanti. Dia mencoba untuk tegar dan kuat dihadapan mereka semua, mungkin melalui penyakit itu ia bisa lebih dekat dengan mereka. Mungkin ini memang sudah jalan terbaik untuk Pakha.


Seandainya tidak ada Boy di sisinya, mungkin Pakha tidak bisa melukis dunia yang indah ini dengan penuh warna.


(SEASON 1 SELESAI....)


Cerita ini saya ambil dari kisah nyata sahabatku yang aku kutip dari buku diary miliknya. Berikut ini adalah gambar buku diary miliknya.



Nantikan kelanjutannya di season 2 pada tahun 2022, jangan terlalu kecewa dengan Sad ending ya..soalnya saya tulis berdasarkan crita di buku diary itu, aslinya sih pengen happy ending tapi aku tidak mau mengubah fakta aslinya.Siapa pun pasti ingin akhir crita happy ending, termasuk saya sebagai author. Jangan terlalu cemas soalnya akan saya lanjutkan di season 2, apa sih yang akan terjadi pada Boy setelah di tinggal pergi kekasihnya? bagaimana kemajuan asmara Jidan dengan sang dosen genit, dan apa saja sih yang Dandi lakukan saat menjadi perisor(perebut istri orang) yang slalu menjadi duri di rumah tangga Nawang dan Oci?dan keseruan tentang Pakha yang sudah hidup bersama Bima makhluk halus yang sudah setia menunggunya untuk menjadi ratu di kerajaan hutan kelam(versi karangan aku ya karna kisah aslinya sudah aku tuangkan di season 1 semua) dan masih ada keseruan lainnya yang bakal author kasih untuk kalian. Aku cinta kalian semua. Terima kasih telah berkunjung dan setia mengikuti jalan cerita ini sampai akhir. Tetap semangat membaca sampai bertemu lagi di season 2.

__ADS_1


Selamat natal dan tahun baru.


__ADS_2