Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Siapa?


__ADS_3

Semenjak Rai mengetahui Nawang sudah menikah, ia seharian tidak keluar dari kamar. Nawang merasa bersalah, ia pun mencoba membuatkan cake untuk Rai.


Tok.. tok.. to


"Rai ini aku Nawang, keluar gih..ini aku buatkan cake untuk memperbaiki mood kamu. "


Nihil. Tidak ada jawaban atau reaksi apa pun dari dalam kamar. Sepi, kosong. Nawang kembali memastikan.


"Rai kamu di dalam kan. "kata Nawang tangannya menarik handle pintu dan ternyata tidak terkunci.


"Aku masuk ya. "ucap Nawang kemudian masuk ke dalam kamar Rai sambil membawa sepiring cake di tangan kirinya.


"A.... a... Rai. "teriak Nawang sambil menutup matanya dengan tangan kanan saat tiba-tiba Rai keluar dari kamar mandi hanya memakai ****** ***** saja yang menampakkan otot perut dan dada bidangnya.


"Kak Na... ma.. maaf. "ucap Rai sembarang menarik selimut yang tergeletak di atas ranjangnya untuk menutupi tubuhnya.


"Ada perlu apa kak? "tanya Rai dengan wajah memerah.


"E.. m.. anu.. ini..aku buatkan. Aku taruh sini saja. "kata Nawang gugup kemudian menaruh piringnya di atas meja yang berada di dalam kamar Rai.


Nawang langsung berlari berniat untuk keluar namun langkahnya terhenti ketika Rai sudah berada di depan pintu. Tubuhnya reflek mundur, Rai tetap berjalan maju ke arah Nawang yang nampak pucat ketakutan. Nawang semakin mundur ke belakang hingga punggungnya menatap tembok. Tinggal lima langkah lagi Nawang sudah berada di jangkauan Rai. Tubuh Nawang bergetar, peluhnya menetes membasahi kening dan pipinya. Sekarang Rai sudah berada tepat di depan Nawang dengan bertelanjang dada dan tangan kanan Rai memegang tembok pas di sebelah kepala Nawang saat ini. Wajah Rai mendekat ke wajah Nawang.


"Ap.. pa.. yang.. kamu.. lakukan?"Nawang gugup, jantungnya berdetak tak beraturan, ia takut jika Rai ternyata orang yang sama dengan Dandi yang hanya menginginkan tubuhnya.


Rai tidak menjawab apa pun, tangan satunya tiba-tiba menyentuh rambut Nawang.


"Ah.. ternyata hanya daun. "kata Rai mengambil daun yang tersemat di rambut Nawang.


Rai kemudian memundurkan tubuhnya yang hampir menempel di tubuh Nawang.


Alhasil wajah Nawang pun pucat pasi, kakinya bergetar, lidahnya terasa kelu, tenggorokan tiba-tiba terasa gersang.


Glek. Nawang menelan ludah saat menatap dada Rai yang sispack bak model itu.


"Ya udah kamu boleh keluar, aku ingin ganti baju. "ucap Rai sambil mengacak rambutnya yang masih basah.


Tubuh Nawang membeku sejenak, sepersekian detik kemudian ia mengangguk dan berjalan terburu-buru keluar dari kamar Rai.


Brakk.

__ADS_1


Nawang menutup pintu kamar Rai dengan keras.


Rai hanya mengangkat bahunya, "Kenapa dia, wajahnya tadi tampak memerah, apa dia sakit? ah.. entahlah aku tidak peduli, apa yang aku harapkan dari istri orang lain. "


Sementara Nawang masih mematung di depan pintu kamar Rai, ia menghela nafas.


"Sabar, Nawang, sabarrrr semua orang itu tidak jahat.... "kata Nawang membuang pikiran negatifnya.


Nawang kemudian langsung mengambil sapu berniat untuk bersih-bersih karna sudah tinggal gratis di rumah Rai dapat konsumsi pula, ia merasa berhutang budi pada Rai.


Sekitar beberapa menit saat Nawang masih sibuk mengepel lantai, tiba-tiba pintu kamar Rai terbuka dan Rai keluar dengan pakaian rapi seperti biasa ia akan berangkat kerja.


"Na.. aku berangkat dulu, oh ya jangan capek-capek ya.. ini ada sedikit uang bisa kamu gunakan untuk beli pakaian dan segala keperluanmu. "ucap Rai sambil menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan pada Nawang.


"Tidak usah, aku cukup nyaman kok dengan baju ini. "kata Nawang menolak.


Namun Rai tetap memaksa Nawang untuk menerima uang itu dan menaruhnya di telapak tangan Nawang.


"Terima saja, aku pergi sekarang."kata Rai langsung pergi.


Nawang tersenyum melihat uang di telapak tangannya, karna dari kemarin ia sangat rindu kaysa putri kecilnya namun apa daya ia tak mempunyai uang sepersen pun untuk naik kendaraan menuju ke rumahnya.


"Nak moga kamu baik-baik saja ya.. ibu kangen. "batin Nawang kemudian memasukan uang itu ke dalam sakunya dan melanjutkan bersih-bersihnya.


"Itu amplop apa ya? ".


Rasa penasaran Nawang membumbung tinggi, perasaannya tidak enak seperti ada suatu hal yang menggelitik di dalam lubuk hatinya.


"Tidak apa-apa kan kalau aku mengintip sedikit."gumam Nawang.


Penasaran, Nawang pun mengambil amplop tersebut. Di depannya, terdapat tulisan tangan yang di tulis dengan rapi.


...NAWANG ATASIA JURUSAN PGSD...


Hanya itu saja yang tertera di depannya. Nawang celingak-celinguk untuk memastikan keadaan aman. Tanpa menunggu lama, ia buru-buru membuka amplop tersebut. Tampaknya, isinya cukup tebal. Kemudian, Nawang merogoh ke dalamnya. Sepertinya, isinya setumpuk foto. Yang terjadi berikutnya membuat Nawang terkejut. Setumpuk foto yang ada di tangannya tersebut semuanya berisi foto-foto Nawang saat masih kecil hingga ia kuliah. Mulai dari saat ia duduk berdua di pinggir sungai dengan laki-laki culun yang seumurannya, foto ia tertawa di atas ayunan saat masih kecil, bahkan ketika Nawang sedang duduk sendirian di depan kampus. Semua foto di ambil dengan angle dari kejauhan.


"Apa ini? siapa Rai sebenarnya? "


Tiba-tiba Nawang merasa merinding. Buru-buru ia memasukan kembali semua foto itu ke amplop dan menatanya seperti semula.

__ADS_1


Badannya langsung terasa dingin, rasanya seperti mau pingsan.


Hal itu membuat Nawang bertekad untuk segera pergi dari rumah ini, seketika tekadnya menjadi berlipat ganda.


"Aku harus pergi sekarang..rumah ini tidak aman."


Adzan dzuhur sudah berkumandang, saatnya Rai untuk pulang.


"Na.. aku pulang. "kata Rai saat membuka pintu rumahnya.


Suasana terlihat sepi, Rai memanggil Nawang beberapa kali namun tidak ada jawaban sama sekali. Saat ia sibuk memanggil Nawang tanpa sengaja matanya melihat secarik surat yang tergeletak di atas meja ruang makan. Rai menghampiri kertas itu kemudian membacanya.


*Maaf aku pergi tanpa pamit kepadamu, aku rindu keluarga ku, terima kasih sudah memberikanku tumpangan selama ini, untuk uang yang baru saja kamu kasih aku pinjam terlebih dahulu, suatu saat aku akan mengembalikan padamu. Nawang*


Rai langsung merobek kertas itu setelah membacanya. Dia berteriak frustasi.


"Sial malah pergi."


Beberapa saat hp di sakunya bergetar, ia pun segera mengangkatnya.


" Ada apa? apa? Kak Dandi sudah sadar? baiklah aku akan segera ke sana. "


Telepon itu ia matikan begitu saja saat sang pembicara masih belum sempat menyelesaikan perkataannya. Rai melempar hp beserta tas punggungnya di sofa kemudian dia berjalan menuju ke kamarnya.


Hotel Cempaka


"Gimana? "


"Anu bos, katanya setelah urusannya selesai Raihan akan langsung datang kemari. "kata salah satu anak buah Dandi.


"Kunyuk itu selalu saja sibuk."gumam Dandi kepalanya masih di penuhi dengan kain perban.


"Kemarikan hpku.. "kata Dandi minta hp pada anak buahnya.


Anak buah Dandi langsung memberikan hp tersebut, Dandi langsung menghubungi seseorang.


"Cari sampai ketemu, dasar br*ngsek kalau kamu tidak becus mencarinya aku pecat sekarang juga. "kata Dandi sambil marah-marah kemudian membanting telfon tersebut.


"Sial.. di mana Nawang sekarang.. cepat hubungi kunyuk itu, suruh cepat kemari."teriak Dandi pada anak buahnya.

__ADS_1


"Baik Bos. "jawab anak buah Dandi kemudian menelfon kembali seseorang yang di sebut kunyuk itu.


Sekian dulu ya... sebenarnya ada hubungan apa Rai dan Dandi, mungkinkah mereka saling kenal? nantikan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.


__ADS_2