
"APA?YANG BENAR?KAMU MELIHAT ARWAH PAKHA?. " teriak Nawang kaget.
Dandi tersenyum kecil di sela aktingnya yang serius.
"Tadinya aku tidak percaya tapi yang aku lihat beneran arwah Pakha, mmm... tapi bo.. ong ha... ha.. ha."Dandi tertawa terbahak-bahak.
"Sudah cukup. bercandaanmu keterlaluan Dan, jika tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan silahkan angkat kaki dari rumah ini. "kata Nawang kesal karena merasa di permainkan.
"Naee maaf aku tidak bermaksud bohong padamu, aku hanya rindu padamu, sudah lama aku tidak melihat wajah bersinar ini. "ucap Dandi sambil menyentuh wajah Nawang.
PLAKK
Nawang kaget tiba-tiba tangannya refleks bergerak menampar wajah Dandi dengan keras, sehingga meninggalkan memar.
Dandi tak kalah kagetnya tiba-tiba ia mendapat tamparan yang cukup keras seperti itu.
"Naee sakit!! kenapa kamu tiba-tiba menamparku...sakit naee. "ucap Dandi sambil memegang bekas tamparan Nawang, wajah Dandi begitu memelas seolah-olah terlihat seperti anak kucing.
"Apa yang barusan aku lakukan?"batin Nawang menyesali perbuatannya.
"Ja... jangan coba-coba sentuh aku lagi, a.. aku bukan orang yang pantas kau tunggu, kau tahu kan sebegitu jahat dan tak tahu malunya diriku. "kata Nawang menundukkan wajahnya.
Nawang merasa sangat bersalah karena bukan cuma satu atau dua kali telah menyakiti Dandi baik secara sengaja ataupun tidak sengaja. Namun Dandi tidak pernah menyakitinya bahkan untuk satu kali pun tidak pernah malahan Dandi selama ini banyak membantunya.
"Maafkan aku Dandi, aku harus bersikap jahat padamu agar kamu menyerah padaku. "batin Nawang, sebenarnya hatinya sangat getir memperlakukan Dandi cinta pertamanya sekejam itu.
"Aku suka dirimu yang seperti itu naee, berapa pun kamu menyakitiku aku tidak peduli bahkan seribu kali pun rasa sakit ini tidak bisa menandingi rasa sakitku saat tidak melihat wajahmu, sampai kapan pun aku akan tetap mencintaimu naee. "kata Dandi sambil tersenyum ke arah Nawang.
"Jangan tersenyum, dasar bodoh. "ucap Nawang marah tiba-tiba matanya menjadi basah.
"Justru kamu yang jangan menangis. "jawab Dandi kedua tangannya sambil menyeka air mata Nawang yang menetes di wajah cantiknya.
Hati Nawang seketika tersanyat setelah mendengar pernyataan Dandi yang sangat tidak ingin ia dengar, ia langsung menepis tangan Dandi dengar keras. Nawang kemudian berbalik badan, sekarang Dandi hanya melihat punggungnya saja.
"Baiklah kamu tahu kalau aku jahat, sekarang aku akan mengatakan hal jahat padamu. Aku Nawang atasia tidak akan mengabulkan hal yang kau inginkan tentang diriku, walaupun aku harus mati sekalipun aku tidak akan pernah mencintaimu."kata Nawang masih membelakangi Dandi, namun tanpa Dandi ketahui air matanya mengalir begitu deras.
Dandi hanya melongo, dia tidak tau harus bilang apa, kini wajah yang tanpa beban itu menjadi kecewa bercampur dengan rasa marah.
__ADS_1
Sementara itu Oci berjalan keluar dari sebuah pusat perbelanjaan tangan kanan dan kirinya di penuhi oleh bungkusan barang belanjaan yang rencananya akan ia beri pada Nawang sebagai kejutan karna ia baru saja di promosikan atasannya.
"Ummi pasti suka, putri kecilku juga pasti senang dapat mainan baru."ucap Oci dengan senyum semangat kemudian berjalan menuju mobilnya yang terparkir dan memasukan semua barang belanjaannya.
Mobil Oci pun meninggalkan pusat berbelanjaan itu.
Di rumah Nawang
"Kenapa kau mengatakan hal seperti itu naee?! aku sungguh tidak mengerti!"kata Dandi tangan kanannya memegang tangan nawang, meskipun Nawang masih menampakkan punggungnya di depan Dandi, tanpa aba-aba Dandi langsung menarik tubuh Nawang sehingga sekarang wajah mereka saling berhadapan.
Nawang syok tubuhnya seketika membeku, saat di hadapkan pada situasi yang mendebarkan ketika melihat sorot mata Dandi yang menawan
Setelah lima belas menit perjalanan akhirnya Oci sampai juga di halaman rumahnya, ia turun dari mobil untuk mengambil barang-barang di dalam bagasi mobil. Matanya tidak sengaja melihat mobil pajero yang terparkir tak jauh di halamannya.
"Aneh aku seperti tidak asing dengan mobil itu, entahlah mungkin aku salah lihat. "
Oci melangkah dengan terburu-buru karna ia sudah tidak sabar memberikan kejutan untuk istri dan anaknya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti dan barang-barang yang ia bawa terjatuh dari kedua tangannya setelah melihat Dandi memegang tangan Nawang. Mata Oci melotot tajam seperti ingin menguliti Dandi saat itu juga.
"Dandi lepaskan tanganku, jangan seperti ini."kata Nawang sambil meronta-ronta agar tangannya bisa terlepas dari Dandi.
Dandi hanya mengernyitkan dahi, semakin Nawang meronta Dandi semakin memegangnya dengan erat.
"Dandi....sa... sakit. "
Dandi tidak peduli, tanpa aba-aba dia malah memajukan wajahnya hanya berjarak lima cm dari wajah Nawang sambil membisikkan sesuatu di telinga Nawang.
"Aku pernah bilang kan? aku tidak akan mundur. "
Nawang terdiam dia tidak mengerti apa maksud perkataan Dandi barusan, Nawang meronta berusaha menjauhkan wajahnya dari Dandi, tapi tangan kiri Dandi malah memegang kepala Nawang agar tidak menjauh dan tiba-tiba Dandi mencium bibir Nawang. Mata Nawang melotot tajam ketika Dandi tiba-tiba menciumnya.
"Ti.. tidak.. Dan.. be.. berhenti. "Ucap Nawang sambil berusaha melepaskan ciuman Dandi.
"DANDI BRAMATYA"
Nawang kaget kemudian menggigit bibir Dandi sampai berdarah, Dandi kesakitan dan ciuman itu pun terlepas. Nawang kemudian mendorong tubuh Dandi dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Laki-laki brengs** ,laki-laki pel*cur, baji**** ."ucap Oci sambil meninju wajah Dandi.
"Abi cukup... tenangkan dirimu. "kata Nawang sambil berusaha memisah mereka berdua.
Tiba-tiba saja kaysa keluar dari rumah setelah mendengar keributan dari luar.
"Ah itu ibu.. ayah... "kaysa melihat kedua orang tuanya di halaman rumah dan menghampiri mereka berdua yang tengah sibuk bertengkar.
"Acu campelin ibu ma ayah ala. "kata kaysa berjalan ke arah keributan.
Nawang yang tengah melerai perkelahian Oci dan Dandi tidak menyadari bahwa putri kecilnya juga ikut bersama mereka.
"Abi berhenti, Dandi berhenti.... "
"Laki-laki kurang ajar aku akan menghabisimu. "kata Oci sambil adu pukul dengan Dandi. Oci memundurkan tubuhnya untuk menghindari pukulan Dandi, namun tanpa sengaja ia malah menendang kaysa yang berada tepat di belakangnya.
Brak kaysa pun terjungkal akibat terkena kaki Oci.
"Huwa..... sakit ayah. "kaysa seketika menangis kencang.
Oci tersadar dan berhenti berkelahi setelah mendengar tangisan putrinya.
Nawang kaget saat menoleh ternyata kaysa terjungkal di belakang ayahnya.
"Kaysa... kamu gak papa nak... maaf ibu tidak menyadari kehadiranmu. "kata Nawang langsung menggendong putri kecilnya.
"Huwa... aaaa. "
Oci panik dan langsung menghampiri kaysa di gendongan Nawang.
"Sayang maaf ayah benar-benar tidak sengaja, kaysa mana yang sakit hemm. "ucap Oci panik.
Mereka berdua langsung menenangkan kaysa dan berjalan meninggalkan Dandi yang kesakitan di halaman rumah Nawang.
"Sial aku di tinggal sendirian, lihat saja aku akan memisahkan kalian berdua, tunggu waktunya tiba kamu akan menangis darah Oci. "gumam Dandi kemudian bangkit sambil menyeka darah di ujung bibirnya.
Sekian dulu ya.... mampukah Dandi kembali merebut hati Nawang? dan gimana sih kelanjutan rumah tangga Oci yang selalu saja di warnai dengan benalu dan orang ketiga nantikan kelanjutannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1