
"Udah jangan sedih lagi, ayo duduk dulu. "Boy mengajak Pakha untuk duduk di bawah pohon kelapa sambil mengelap air mata yang jatuh di wajah cantik Pakha.
Pakha hanya linglung, kenapa dia bisa melupakan hal sepenting ini dengan Boy sang dukun yang dulunya memang kekasihnya.
Ingatannya memang belum sepenuhnya kembali namun ia tau manusia di depannya itu memang pernah ada dalam masa lalunya.
"Kamu bisa crita padaku, jika ada hal yang mengganggumu. "ucap Boy menatap wajah Pakha lekat-lekat.
Pakha hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak berbicara sepatah kata pun usai menangis tadi. Pikiran Pakha sangat kacau, dia takut jika ingatannya kembali seutuhnya dan bisa mengungkapkan misteri kematiannya yang membuatnya menjadi arwah gentayangan.
Tak terasa hari semakin gelap, senja sudah menghilang seutuhnya di gantikan oleh malam berjuta bintang dan bulan sabit yang terang.
"Apa dulu aku mati dengan tidak wajar? sebenarnya apa yang membuatku menjadi arwah seperti ini? "batin Pakha memandang laut lepas yang berkerlap-kerlip terkena cahaya bulan.
"Sayang.. em.. maksudku Pakha ketahuilah rasa cinta ini tetap sama seperti dulu. Tatkala seperti malam yang tak pernah jauh dari bintang."ucap Boy sambil membakar ikan hasil tangkapannya.
"Hah kamu bilang apa tadi? "tanya Pakha yang benar-benar tidak mengerti maksud perkataan sang dukun itu.
Boy membolak-balik ikannya yang sudah hampir matang kemudian berbicara kembali pada Pakha.
"Aku akan mencintaimu selamanya seperti bulan menahan malam, apakah kamu akan kembali menerimanya? "
Pakha hanya terdiam mendengar perkataan Boy yang masih fokus membakar ikan di depannya yang mulai menimbulkan bau harum.
"Tidak bisa..."
"Kenapa? "Boy kaget dengan jawaban Pakha dan menoleh ke arah Pakha tanpa memperdulikan ikannya yang mulai gosong.
"Terkadang kita harus mengiklaskan bintang dan menggantinya dengan bulan agar dunia ini tidak gelap, mungkin aku juga tidak bisa kembali lagi seperti dulu. "kata Pakha sambil tersenyum menatap langit malam yang indah juga mendengarkan deburan ombak yang merdu bagaikan nyanyian pengiring tidur. Tenang dan damai.
"Tidak jangan lakukan itu... ah... ikannya sudah gosong. "gerutu Boy kemudian membuang ikan gosong itu di sembarang arah dan fokus berbincang pada Pakha.
"Tak peduli seberapa berat patah hatimu, dunia takkan berhenti hanya karena kehilanganku.. segera lupakan aku Boy. "kata Pakha sambil menatap wajah Boy yang cemas.
"Aku lebih memilih jatuh cinta jutaan kali dan selalu mengalami patah hati dari pada memiliki hati yang kosong selamanya dan kadang-kadang, aku tidak tahu apa yang lebih menghantuiku. Kenangan tentangmu atau aku yang dulu bahagia."kata Boy kemudian ia berdiri dari duduknya berjalan ke arah pantai, mengambil sesuatu di atas pasir putih dan melemparkannya ke arah pantai sehingga menimbulkan riuh gemericik. Boy tau jika sekarang Pakha tidak lagi mencintainya seperti dulu namun apa dia salah jika setia pada pasangannya?
Boy berjalan menuju tengah pantai dengan ombak berbahaya yang bisa membawa siapa saja ikut masuk ke dalamnya. Pakha tidak mengerti apa yang akan Boy lakukan, ia hanya menatap manusia itu dari kejauhan. Kini tubuh Boy sudah setengah tenggelam entah apa yang sekarang ada di dalam pikirannya.
"Gila.. manusia itu mau bunuh diri lagi. "gumam Pakha kemudian dia terbang menghampiri Boy yang sudah hampir tenggelam.
"Boy ngapain kamu?kamu sudah bosan hidup?"Pakha mengomel di depan Boy dengan separuh badan tenggelam di dalam air yang dingin.
Byurr. Ombak menyapu tubuh Boy, seketika tubuh itu langsung tenggelam seutuhnya di dalam air pantai.
Pakha kaget melihat ombak yang tiba-tiba datang ke arah Boy tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat tubuh Boy dengan kekuatan supranaturalnya yang tersisa dan membawanya terbang menuju ke tepian.
"Boy bangun.."Pakha menggoyang-goyangkan tubuh Boy yang dingin.
__ADS_1
"Uhukh.. uhuk.. kenapa kau menolongku biarkan saja aku tenggelam "gumam Boy kemudian memuntahkan semua air laut yang tadi mengisi perutnya.
"Kamu.. itu ya.. dasar manusia nyebelin"jawab Pakha kesal sambil memelototi wajah Boy.
Pakha langsung berdiri tegak dari jongkoknya, dia langsung memalingkan tubuhnya dari Boy yang masih berbaring lemas di atas pasir putih. Tak lama kemudian Boy juga ikut bangun dari pingsannya dan berdiri di belakang Pakha yang hanya terlihat punggungnya saja.
"Jangan pergi, kumohon!"ucap Boy lirih sambil menatap punggung Pakha yang semakin menjauh.
Suara Boy barusan langsung menghentikan langkah Pakha, Ia pun kembali berbalik badan ke arah Boy.
Pakha menatap Boy dengan tajam, namun di antara wajah dingin itu, bibirnya menampakkan sedikit senyuman yang tidak terlihat dengan jelas.
"Kemarilah."kata Pakha sambil merentangkan kedua tangannya, bermaksud untuk memberi pelukan pada manusia dengan tubuh basah kuyub itu. Tanpa basa-basi Boy langsung berlari ke arah Pakha dan bergeliyut di pelukannya.
...Bintangku...
Angin pantai menghela pelan menyentuh kulit epidermisku
Menjadi saksi di malam penuh misteri
Misteri kehidupan yang gelap
Seperti malam tanpa bulan dan bintang
Namun hingga dia datang
Di antara bibir pantai dan bayang cahaya
Memandangmu bagaikan melihat bintang, Bintang yang indah dan yang paling terang
Dia memang tidak selalu terlihat
Tapi, dia selalu ada.
Sepanjang hidupku.. aku berusaha
Memahami garis-garis yang membentuk grak-gerik bayang dan mengembara
Di seluruh ruang untuk menggapai sel-sel Dalam tubuhku yang adalah bintang-bintang
Kemudian menuju padamu cahayaku
^^^karya : Boy (nr cahaya)^^^
Rumah sakit
__ADS_1
Di satu sisi seorang anak kecil menangis-nangis mencari ibunya.
"Ibu.. hiks.. hiks.. ayah ibu mana? kaysa rindu ibu.. kaysa mau ibu.. "
Setelah sadar kaysa tak henti-hentinya menangisi ibunya yang sama sekali tidak terlihat di dalam ruangan itu.
"Sayang ibu masih sibuk.. kaysa jangan nangis ya.. iya nanti ayah bawakan ibu. "ucap Oci membohongi kaysa agar berhenti nangis.
"Kaysa mau ibu sekarang huwa... "tangis kaysa semakin kencang.
"Cucu nenek yang cantik, berhenti nangis dong nih nenek punya boneka kesukaan kaysa. "kata ibunya Oci menghibur kaysa.
Kaysa berhenti menangis dan menerima boneka itu, namun boneka itu langsung ia lempar begitu saja kemudian kembali menangis.
"Aku maunya ibu gak mau boneka huwa."
Oci, dan nenek kaysa semuanya kewalahan menghadapi kaysa yang dari satu jam yang lalu belum juga berhenti menangis. Oci kemudian menemui dokter dan seketika tangis kaysa langsung berhenti setelah di suntik obat bius agar tertidur.
"Terima kasih dok. "kata Oci.
"Iya sama-sama. "jawab sang dokter kemudian meninggalkan ruang rawat kaysa.
"Nak Oci sebenarnya Nawang kemana?di saat kaysa sakit seperti ini kok dia tidak ada? "tanya ibu Oci yang tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Nawang hanya ada urusan sebentar, biar aku urus sendiri, tolong titip kaysa nek. "kata Oci kemudian keluar dari ruangan kaysa.
"Umi sebenarnya kamu kemana? polisi ikut mencarimu tapi kenapa kamu sudah tidak ada di hotel itu, sialnya cctv saat itu sedang dalam perbaikan. "batin Oci melamun di depan pintu ruang rawat kaysa.
Sementara itu Nawang masih berada di dalam rumah Rai, raganya di sana namun pikirannya jalan-jalan memikirkan kaysa putri kecilnya.
"Kaysa apa kamu baik-baik saja nak? "batin Nawang di depan meja makan. Tanpa sedikit pun menyendok makanan di depannya.
Rai mengernyitkan dahinya kemudian meletakkan sendoknya.
Drekk.
Rai berdiri dari duduknya berjalan menghampiri Nawang yang masih melamun. Tangan Rai menyendok makanan di depan Nawang kemudian mengarahkannya ke depan mulut Nawang.
"A.. a ayo buka mulutmu Na."ucap Rai sambil mengarahkan sendok di depan mulut Nawang.
Nawang kaget. Ia tidak sadar jika Rai sudah ada di depan wajahnya dan mengarahkan sendok penuh makanan kepadanya.
"Kenapa kamu di sini, apa yang kamu lakukan? "tanya Nawang kaget saat melihat Rai.
"Aku ingin memasukan makanan ini ke dalam mulutmu. "jawab Rai sambil menggoyangkan sendok di tangannya.
"Rai kamu tidak perlu melakukan hal seperti ini padaku, aku sudah bersuami. "kata Nawang.
__ADS_1
Rai mematung sejenak kemudian menaruh kembali sendok itu dan pergi begitu saja meninggalkan Nawang dengan raut wajah penuh kecewa.
Sekian dulu ya.. wah sepertinya Rai menaruh perasaan pada Nawang, tapi gara-gara Nawang berbicara seperti itu membuat semangat Rai patah seketika harapannya juga hilang. Apa yang akan terjadi pada mereka? nantikan cerita menarik lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.