
...Senja & Rindu...
Senja menggantung manis di cakrawala
Senja tenggelam rindu ku simpan
Dibawah alismu hujan berteduh
Dalam merah matamu senja berlabuh
Penantianku setulus senja
Ikhlas menanti matahari di ufuk barat
Juga tidak menolak sore
Meskipun ia berubah menjadi kelabu
Senja tak pernah salah
Hanya kenangan membuatnya basah
Namun kehadirannya membuat kenangan
Kepergiannya membuat kerinduan
...Jidan(nr cahaya)...
Jidan masih menangis di bandara itu, hingga matanya sembab dan tubuhnya lemas. Dia tetap berusaha menghubungi bu Arasi namun sampai sekarang tidak ada jawaban. Hingga dua tangan memeluknya dari belakang.
"Kakak harus kuat....jangan seperti ini, ayo kita pulang. "kata clarisa adik Jidan.
Tubuh Jidan lemas, akhirnya harapannya terbang bersama dengan hilangnya bu Arasi.
Sementara itu di dalam pesawat bu Arasi menangis tersedu-sedu merasakan sakit hatinya di buang oleh ibu sendiri, juga sakit karena cintanya harus putus di tengah jalan.
Jidan merupakan penyemangatnya dulu saat semua orang membencinya, tapi mengetahui kenyataan pahit kalau mereka mempunyai hubungan darah membuat bu Arasi kecewa.
C G
Genggam tanganku sayang
Am G
Dekat denganku peluk diriku
F C
Berdiri tegak di depan aku
Dm G
Cium keningku tuk yang terakhir
C G
Ku kan menghilang jauh darimu
Am G
Tak terlihat sehelai rambut pun
F C
Tapi di mana nanti kau terluka
Dm G C
Cari aku ku ada untukmu
C F C
Ku tak membencimu
Dm Am G
Kuharap kau pun begitu
F C
Tak ingin kau jauh
Dm Em
__ADS_1
Tapi takdir menginginkan kita
G
Tuk berpisah
Dalam perjalanan bu Arasi membuka buku note yang baru saja ia temukan di tas Jidan saat lalu, Lembar demi lembar ia buka kembali namun ketika membuka halaman terakhir betapa terkejutnya bu Arasi, di lembar itu terdapat banyak harapan dari Jidan kepada dirinya.
*Untuk pertama kalinya saya ingin minta maaf karna menemukan buku bu Arasi di meja kampus, maaf juga aku tidak sengaja membuka isinya, maaf juga aku belum berani mengembalikan buku ini, aku hanya memilih waktu yang tepat agar tidak terjadi kesalahpahaman di antara kita.*
*Bu Arasi hiduplah bahagia*
*Tersenyumlah setiap hari*
*Beradalah di sampingku*
*AKU MENCINTAIMU BU ARASI*
Bu Arasi semakin meneteskan air matanya dengan deras setelah membaca tulisan harapan Jidan pada dirinya. Di tempat duduk dalam pesawat bu Arasi tidak bisa menahan air matanya sehingga pipi kering itu menjadi basah. Bu Arasi tak pernah lelah menangis untuk satu alasan yaitu Jidan sosok laki-laki yang sudah berhasil mengisi hatinya.
"Jidan maafkan aku...hiks.. hiks... "
Jidan akhirnya pulang bersama adiknya pada saat ia berangkat adiknya sudah membuntuti dari belakang, adiknya kwatir dengan kakaknya yang terlihat tidak baik-baik saja.
Sesampainya di rumah, Jidan menjadi linglung, clarisa menuntun Jidan masuk dan mendudukkannya di sofa. Lalu menghilang ke dapur mengambilkannya segelas air. Clarisa menyerahkan air itu. Jidan mengusap air matanya dan meneguk segelas air itu tanpa bersisa.
Seolah dunia ini sekarang berhenti berputar dan dia tak tahu bagaimana harus menghadapi mimpi buruk ini.
Clarisa mengusap bahu Jidan. “Sudah larut kak, Istirahatlah. Kau tidak bisa memutuskan apa pun saat ini.”
Jidan tak membantah. Dia beranjak menuju kamarnya.
BRAKK
Jidan membanting pintu kamarnya dengan keras, tiba-tiba tubuhnya roboh. Air matanya mengalir dalam diam. Jidan ingin berlari mencari dimanapun bu Arasi berada namun entah mengapa, kakinya tak menemukan kekuatan untuk melakukannya.
"Hik... hiks... "Jidan menangis dalam diam terduduk di atas ranjang sambil membenamkan wajahnya di kedua telapak tangannya.
HUTAN KELAM
Aku melihat ayahku membawa sekop itu. air mata mengalir di wajahnya. Isak tangisnya tertahan, keluar dari mulutnya dengan berat dan parau. Ia mengangkat sekop itu tinggi-tinggi, lalu menghujamkannya ke tanah. Mata sekop itu merobek tanah seakan-akan tanah itu adalah daging segar.
Tiba-tiba bayangan itu muncul di dalam kepalaku yang berusaha melarikan diri dari manusia yang sibuk memerangi kawanan makhluk astral.
"Bayangan apa itu? apakah memori masa laluku? "
Apa itu ingatan saat jasadku di kebumikan?Mengingatnya membuatku terduduk di sini, di tengah-tengah serpihan hidupku seperti yang kau tahu, bagaimana sakitnya melihat diri kita sendiri telah mati?.
"Aku harus menemukan kuburanku sendiri, di sana mungkin aku akan menemukan jawaban misteri kematianku yang membuatku tidak tenang. "
Di sisi lain Boy sudah menyerah mencari Pakha bahkan sudah setengah hutan ia menelusuri namun tidak ada hasilnya, Pakha tidak terlihat di mana-mana bahkan aura astralnya tidak mampu Boy lacak.
"Kenapa kamu meninggalkan aku untuk kedua kalinya, apakah aku akan bertemu denganmu jika aku juga mati? "kata Boy sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh.
Boy mencari sesuatu dalam tasnya, kemudian Boy menodongkan sepucuk pistol ke dalam mulutnya sendiri dan berkata, langkah pertama menuju kehidupan abadi adalah aku harus mati.
Namun belum sempat pistol itu menembakkan peluru tiba-tiba pistol itu terlembar dari tangannya.
"Dasar manusia bodoh.. kamu tidak menghargai nyawamu sendiri bahkan orang yang mati ingin kembali hidup tapi kamu malah ingin mengakhiri hidupmu sendiri?"omel seseorang dari arah belakang.
Boy melihat samar-samar seseorang itu muncul dari semak belukar dengan membawa selendang biru dan mahkota cantik di atas rambutnya yang hitam panjang. Dengan sentuhan make up sederhana yang bersinar terkena cahaya bulan sabit.
"Pa... pakha? "
Wanita itu semakin berjalan mendekati Boy yang tersungkur di atas rumput hijau akibat ulah dirinya.
"Manusia bodoh. "ucap Pakha sambil memegang dagu Boy dan kini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja.
Namun bukanya takut Boy malah memeluk Pakha seperti baru saja menemukan seseorang yang telah lama di rindunya.
Flasback
Pakha menemukan kuburannya sendiri di sana terdapat bunga mawar putih yang segar, seperti baru saja ada seseorang yang mengunjungi makamnya. Pakha berusaha mencari tau dengan kekuatan yang ia miliki, ia melacak aura yang tertinggal di sana dan benar aura itu tak lain adalah aura laki-laki yang ada di dalam bayangannya tadi. Laki-laki yang menangis saat pemakamannya.
"Boy?jadi namamu adalah Boy.. manusia, dan siapa kamu sebenarnya kenapa selalu muncul di dalam memoriku? "
Back to beginning hutan kelam
"Pakha jangan pergi lagi ya!"ucap Boy masih memeluk Pakha.
"Boy siapa kamu sebenarnya?"ucap Pakha kemudian melepas pelukan Boy.
"Aku calon suamimu sayang, kita berencana menikah tapi kamu malah pergi lebih dulu meninggalkan aku. "jawab Boy memelas.
__ADS_1
"Ca... lon.. su.. a.. mi..? "kata Pakha tergagap-gagap karna masih tidak percaya dukun jelek di hadapannya ternyata calon suaminya dulu.
"Pantas saja kamu aku tinggalkan, wajahmu saja tidak terawat begini, bajumu saja seperti seratus tahun tidak di cuci juga rambutnya yang panjang dan gembel, di lihat dari keadaannya sekarang dia pasti manusia yang sangat miskin. "batin Pakha mengomel dalam hati karna ia tidak terima memiliki calon suami yang jelek lebih persis dengan orang gila yang ada di pinggir jalan.
(Karna ingatan Pakha belum sepenuhnya kembali, ia masih belum tau masa lalu Boy yang sangat ganteng dan kaya raya.)
"Sayang kamu ingat aku? "tanya Boy antusias.
"Tidak. "jawab Pakha singkat dan hal itu juga kembali mematahkan semangat Boy.
"Haah. "jawab Boy kecewa.
"Tidak apa-apa jika aku harus merelakan kekuatanku menjadi lemah di dekat manusia ini, tapi jika dia ada kaitannya dengan masa laluku aku bahkan rela kehilangan kekuatanku sekarang. "batin Pakha sambil mengamati wajah Boy yang sekarang banyak di tumbuhi jenggot dan kumis yang panjang.
Boy mengajak Pakha ke kediamannya yang tak jauh dari hutan kelam itu, Pakha pun menuruti perkataan Boy, ia terpaksa harus ikut dengan manusia dukun yang tidak benar-benar ia kenal itu. Apa pun resikonya meskipun dia harus mengabulkan keinginan manusia itu agar kaya atau apapun Pakha akan turuti. Hal itu ia lakukan untuk mengetahui masa lalunya.
Beberapa menit kemudian mereka berdua tiba di kediaman Boy.
"Hah gubuk reot.. ck.. ck.. benar-benar miskin ni manusia. "batin Pakha heran saat melihat sebuah gubuk reot yang terbuat dari jerami dan kayu apa adanya.
"Ayo masuk."kata Boy bersemangat.
Pakha pun terpaksa masuk ke dalam gubuk itu, ternyata di dalamnya banyak sekali alat ritual dan juga bunga-bunga yang di gunakan Boy untuk memanggil makhluk halus.
"Hey.. manusia.. em maksudku Boy..kamu ingin kaya tidak?aku bisa membatumu menjadi kaya dengan kekuatanku yang tersisa. "kata Pakha menawarkan diri pada Boy.
"Ha... ha.. ha.. aku tidak butuh semua itu.. aku hanya butuh kamu. "kata Boy mampu membuat Pakha tercengang.
"Dasar manusia gila, di tawari kekayaan malah nolak, maunya apa sih? "geram Pakha.
Boy berjalan mendekati Pakha, sedangkan Pakha tidak sadar jika Boy mendekatinya karna sedari tadi ia sibuk menatap gubuk reot Boy yang tidak ada kata layak jika di sebut sebagai tempat tinggal.
Grep tiba-tiba kedua tangan Boy memeluk Pakha dari arah belakang. Pakha kaget namun kekuatannya tidak bisa melepaskan pelukan erat Boy.
"Aku mencarimu bukan untuk kekayaan tapi aku ingin menikahimu. "bisik Boy pada telinga Pakha.
Am Em
pernahkah kau bertanya
F C G
seperti apa bentuk air tanpa wadah
Am Em
pernahkah kau mengira
F G
seperti apa bentuk cinta..
Pakha hanya terdiam membeku setelah mendengar bisikan yang mampu membungkam rapat mulut dan tubuhnya.
"Apa.. me.. menikah.. tidak salah dengar kan. "batin Pakha kaget.
"Sayang ayo menikah."Boy kembali berkata namun cukup jelas dan tidak berbisik-bisik lagi.
C Em
rambut warna warni bagai gulali
F G
imut lucu walau tak terlalu tinggi
C Em
pipi chubby dan kulit putih
F G
senyum manis gigi kelinci..
F Em
membuatku tersadar..
Dm G F
bentuk cinta itu..ya kamu..
Wah... sebenarnya apa yang akan terjadi selanjutnya?akankah mereka akan bersatu meskipun sudah beda dunia? temukan jawabannya di episode selanjutnya.
__ADS_1
(Pesan Terakhir_Lyodra Ginting)
(Bentuk cinta_Eclat)