
Di jalan setapak di sekitar rumah sakit, Nawang berjalan kaki seorang diri. Di sana ia masih sama menutupi wajahnya dengan sebuah cadar agar tidak ketahuan oleh suaminya.
"Kaysa maafin ibu belum bisa jenguk kamu nak."gumam Nawang sambil menelusuri jalan setapak kecil yang terletak di pinggir taman masih satu kompleks rumah sakit.
Langkahnya terhenti. Matanya lurus ke depan, memandang sekitar dengan tatapan kosong. Seperti orang yang tidak punya tujuan hidup. Memang benar. Sekarang Nawang tidak punya tujuan untuk berteduh setelah memutuskan untuk pergi dari rumah Rai, sosok laki-laki misterius bagi Nawang.
Terik matahari membakar tenggorokan. Nawang merogoh sakunya, ia menemukan sesuatu di sana.
"Hah.. tinggal dua ribu.. mana cukup untuk beli minuman. "batin Nawang menatap satu lembar uang di tangan kanannya.
Tubuhnya terasa panas begitu juga dengan tenggorokannya, tanpa sengaja ia melihat air mancur yang ada di taman. Matanya seketika melebar, bibirnya tersenyum. Cadar yang membuatnya merasa pengap ia lepas. Kemudian berjalan ke arah air mancur itu. Nawang menangkupkan kedua tangannya kemudian mengisinya dengan air lalu menyeruputnya.
"Alhamdulillah."kata Nawang bersyukur akhirnya tenggorokannya terasa segar kembali setelah mengalami kekeringan yang panjang.
PROK.. PROK.. PROK
Sebuah tepuk tangan mengagetkan dirinya yang tengah melepas dahaga. Nawang menoleh ke belakang ternyata seorang yang sangat ingin ia hindari tiba-tiba muncul dengan senyum licik dan bertepuk tangan menuju dirinya berada.
"Kasian sekali kamu naee, hidupmu malah seperti gembel sekarang. Aku tau kalau kamu bakal begini jika masih bersama laki-laki miskin itu. "suara Dandi bagaikan sambaran petir di siang bolong. Mampu memekakkan telinga Nawang saat ini.
Seperti biasanya tiba-tiba tubuh Nawang bergetar, dan merasa ketakutan jika di hadapkan oleh Dandi.
"Ngapain kamu di sini, pergi.. aku bilang pergi sekarang. "kata Nawang ketakutan sambil berjalan mundur.
"Aku ingin menjemput calon istriku. "jawab Dandi dengan tersenyum ke arah Nawang.
Nawang sangat gugup, kakinya terasa lemas, jilbabnya sekarang basah oleh keringat dingin.
"Pergi.. kalau kamu tidak pergi aku teriak sekarang."kata Nawang ketakutan.
Sepersekian detik tangan Dandi sudah mencengkeram lengan Nawang dengan keras.
"Arkk ..lepaskan aku.. to.. tolong. "
Brukk. Tiba-tiba sebuah kaki menendang tubuh Dandi hingga terjungkal ke tanah.
"Berani sekali kamu menyakitinya, langkahi dulu mayatku jika kamu ingin membawa Nawang. "ucap laki-laki itu kemudian menyerang Dandi tanpa memberi jeda untuk bernafas sedikit pun.
Laki-laki itu meninju habis Dandi hingga terkapar dan pingsan.
"Kamu tidak apa-apa? "tanya laki-laki itu pada Nawang yang meringkuk ketakutan di bawah pohon.
Kakinya terasa lemas, tubuhnya masih bergetar, tenaganya seketika down.
"I.. iya ak.. ku tidak apa-apa. "ucap Nawang masih meringkuk ketakutan.
__ADS_1
"Tenang saja dia sudah tidak bisa menyakitimu, ayo aku bantu berdiri. "kata laki-laki itu kemudian memapah tubuh Nawang yang tanpa tenaga untuk berjalan menjauh dari lokasi tersebut.
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk duduk di sebuah warung makan yang terletak tak jauh dari lokasi itu.
"Ini minum dulu."kata laki-laki itu menyodorkan satu botol air mineral ke arah Nawang.
Nawang menerima air itu dan meneguknya sampai habis tak tersisa.
"Makasih."kata Nawang pada laki-laki itu.
"Iya. "
"Maaf aku sempat berpikiran buruk padamu, maafkan aku Rai."batin Nawang sambil menatap Raihan yang tengah meminum botol minuman di tangannya.
"Kamu lapar? biar aku pesankan makanan ya. "kata Rai kemudian memanggil sang penjaga warung dan memesan dua porsi nasi goreng.
Beberapa menit kemudian nasi goreng sudah siap di santap.
"Ayo makanlah, tenang saja aku ya traktir kok. "kata Rai sambil tersenyum ke arah Nawang.
Nawang ragu-ragu menyendok nasi goreng itu, setelah masuk ke mulutnya ia ketagihan dan menyendok nasi itu hingga habis tak bersisa satu butir pun.
"Alhamdulillah, makasih ya Rai aku janji akan segera mengembalikan semua uangmu, maaf untuk kemarin karna aku pergi tanpa pamit padamu. "kata Nawang merasa bersalah pada Rai.
Ucapan Raihan mampu membuat Nawang tercengang. Seketika dia teringat masa kecilnya saat bersama dengan laki-laki culun saat di danau.
"Jadi... kamu? "tanya Nawang kaget.
"Iya aku anak laki-laki culun yang waktu kecil bermain di danau dengan prempuan cengeng yang dikit-dikit menangis bahkan ia juga menangis saat aku pulang dari liburan."
"Revan jadi itu kamu, pantas saja aku merasa tidak asing denganmu, jadi nama depanmu Raihan? "tanya Nawang.
"Iya nama lengkapku Raihan revansa admoharjo. "
Akhirnya dari yang terasa canggung seketika berubah menjadi akrab, Nawang dan Raihan saling berbincang-bincang mengenang waktu kecil mereka yang di penuhi dengan kelucuan, sehingga kejadian mengerikan yang baru saja terjadi sedikit terlupakan oleh gelak tawa mereka berdua.
Hutan kelam
Di satu sisi, Pakha dan Boy sudah meninggalkan pantai yang indah itu, mereka berdua kembali ke gubug reot milik Boy.
Boy menyuguhkan bunga kantil dan beberapa bunga mawar di hadapan Pakha.
"Ini silahkan di makan jika kamu lapar, dan ini ada air untuk minum kalau kamu haus, matahari di luar sangat terik. "kata Boy sambil menyodorkan sebuah nampan berisi bunga lengkap dengan satu cawan air.
Pakha bukan berterima kasih, ia malah tertawa terbahak-bahak di depan Boy.
__ADS_1
"Hey manusia.. kamu pikir aku sejenis demit apa? "kata Pakha di sela tertawanya.
"Terus kalau bukan bunga makanmu apa? "Boy bertanya serius sekali, wajahnya terlihat sangat penasaran saat menatap Pakha yang tak henti-hentinya tertawa.
"Aku memakan tubuh manusia.. tapi boong.. ha.. ha.. ha. "Pakha kembali tertawa lagi.
"Hih.. bercanda mu keterlaluan, bikin merinding saja. "ucap Boy sambil menggosok tengkuknya yang terasa gatal.
"Huh, makasih lo kamu hari ini sudah bikin aku tertawa lepas."kata Pakha berhenti tertawa karna sudah merasa capek dan lemas.
Sudah beberapa hari ia tidak makan apa pun, ia juga tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk bisa kembali ke istana hutan kelam karna kekuatannya melemah saat berada di dekat Boy.
"Aku serius tanya malah kamu bercanda trus"gumam Boy kecewa karna Pakha selalu bercanda saat ia sedang bertanya serius.
"Kamu tenang saja aku tidak akan mati dua kali kok, aku bahkan masih kuat tidak makan dalam 40 hari kedepan."Kata Pakha sambil merapikan rambutnya yang berantakan.
"Ya udah deh kalau begitu."ucap Boy kemudian membuang nampan di depan Pakha yang penuh bunga pemujaan itu.
Setelah itu Boy berjalan ke pojok gubuk dan mengambil sesuatu di kantong tasnya. Boy membawa kotak kecil berwarna merah kemudian menyerahkan ke arah Pakha yang melotot tidak mengerti maksud sang dukun itu.
"Ambillah. "
"Hah apa ini? "
"Selamat ulang tahun Pakha. "kata Boy ketika Pakha menerima kotak kecil itu.
"Ulang tahun? apa ini hari ulang tahunku? "batin Pakha tanpa pikir panjang ia langsung membuka kotak kecil itu pas di depan Boy yang masih berdiri tegak di depannya.
CLING
cahaya terang yang menyilaukan mata langsung menerpa wajah Pakha ketika ia berhasil membuka kotak itu, Boy juga tak kalah terkejutnya. Ini pertama kalinya ia menyaksikan benda itu bersinar terang saat menemukan pemiliknya. Boy tersenyum lega melihat hal itu.
Tiba-tiba tangan Pakha bergetar hebat, ia seperti tertarik pada suatu dimensi lain. Di sana ia melihat sebuah puzle-puzle masa kecilnya hingga ia dewasa yang terpampang jelas di depan matanya. Termasuk saat Boy melamarnya di jembatan waktu itu. Pakha seperti menyaksikan sebuah bioskop namun bioskop itu tentang dirinya sendiri masa lalu.
"Ukhh..."Pakha seketika ambruk, kotak kecil itu beserta cincin berbentuk bintang milik Pakha saat masih hidup terlempar ke tanah.
"Pakha.. kamu tidak apa-apa? "tanya Boy kwatir, ia tidak menyangka kalau Pakha akan jadi seperti ini setelah ia memberikan cincin tunangannya dulu kepada Pakha, niatnya untuk memberi kejutan gagal sudah.
Pakha pingsan tak bergeming. Boy cemas ia terus menerus menggoyangkan Pakha namun Pakha tidak juga bangun.
"Arkk sial. "
Boy merasa frustasi ia menjambak rambutnya sendiri, karna tidak tau apa yang harus ia lakukan agar Pakha sadar kembali. Jika saja Pakha manusia Boy pasti sudah beberapa kali memberikan nafas buatan untuk Pakha namun Pakha sekarang kan sudah menjadi arwah. Apa yang harus Boy lakukan sekarang? semua ini terjadi akibat ulahnya sendiri. Sebab cincin itu bertabrakan dengan aura gelap Pakha, cincin itu mempunyai aura yang bersinar terang.
Wow. apa yang akan terjadi pada Pakha setelah ia menemukan cincin masa lalunya itu? temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1