Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Jalan Tengah


__ADS_3

Mentari menyingsing hari semakin terang, tubuh seakan tidak ingin beranjak dari hangatnya selimut bulu tebal. Mata terpaksa sayup-sayup terbuka karna cahaya matahari lurus menabrak netra. Tidak seperti biasanya pagi ini terasa sepi, burung-burung berkicau hilang lenyap tanpa suara. Hawa begitu dingin menusuk tulang, Jidan pun kembali menarik selimutnya.


"Ahh.. silau."gerutu Jidan kembali menutupi wajahnya dengan selimut.


Alaram kembali berbunyi membuat Jidan terganggu, ia pun terpaksa beranjak dari tempat tidurnya dengan setengah kesadaran dan mematikan kicau hp yang mengganggu telinganya. Matanya pun perlahan-lahan mampu ia buka dengan kesadaran penuh.


Namun tepat di depan wajahnya ada sosok tinggi hitam yang melotot ke arahnya.


"Astagfirullah kaget. "ucap Jidan sambil tersentak ke belakang.


"Ka.. kak Oci kenapa wajahmu kusut begitu bikin kaget saja. "


Ternyata sosok tinggi hitam itu Oci yang berdiri dengan wajah kusut beserta dua lingkaran hitam di sekitar matanya.


"Maaf Jid kalau aku mengagetkanmu, semalaman aku tidak bisa tidur. "Jawab Oci dengan wajah melasnya.


"Emangnya ada masalah apa yang membuat kak Oci tidak bisa tidur?"tanya Jidan penasaran.


"Biasa masalah rumah tangga, kamu gak kuliah kok baru bangun ini udah jam setengah delapan loh. "ucap Oci memberitahu.


"Waduh aku lupa hari ini kan ada bimbingan pagi."jawab Jidan sambil berlari ke arah kamar mandi.


Sementara itu di kampus bu Arasi sudah menunggu Jidan sekitar lima belas menit yang lalu.


Bu Arasi semakin kesal karna dari kemarin teleponnya tidak di angkat sama sekali.


"Jidan.. jidan... jidan... kemana aja sih kok gak nongol-nongol, telepon gak di angkat juga bisa-bisa aku telat ngajar nih."gerutu bu Arasi cemas.


Sudah dua puluh menit bu Arasi menunggu Jidan, jam tangan sudah menujukan pukul Delapan tepat saatnya ia memulai kelasnya. Dengan terpaksa bu Arasi pun masuk kedalam kampus tanpa bertemu Jidan sama sekali.


Sepuluh menit kemudian Jidan muncul dari gerbang depan sambil tergopoh-gopoh membawa setumpuk lembaran kertas di tangannya yang di atasnya tertulis sebuah kata "SKRIPSI".


"Alhamdulillah hampir saja aku telat bimbingan."ucap Jidan menarik nafas lega sambil menunggu giliran ia di panggil.


Di sela-sela menunggu giliran, Jidan mengambil hp yang semanjak semalam dan tadi belum sempat ia pegang. Saat di rumah ia hanya memasukan ke dalam tas begitu saja karna ia takut telat.


Setelah di lihat ternyata ada banyak panggilan tidak terjawab dari bu Arasi dan banyak juga pesan yang masuk. Jidan pun kembali menghubungi bu Arasi namun panggilannya malah di tolak.


"Gawat bu Arasi pasti marah."jidan begitu panik, ia tidak ingin kembali kehilangan orang yang ia cintai seperti dulu, saat ia merelakan Pakha.


"Mahasiswa selanjutnya silahkan masuk. "


Kini giliran Jidan untuk melakukan bimbingan dengan dosen pembimbingnya, Jidan pun memutuskan untuk melaksanakan bimbingan dulu, setelah itu baru mengurusi asmaranya.


Sementara itu di rumah Jidan, Oci masih melamun tentang tindakan apa yang harus ia ambil untuk menyelesaikan masalah yang melanda rumah tangganya. Akankah ia benar-benar harus merelakan Nawang istri tercintanya bersama Dandi atau dia harus mempertahankan rumah tangganya namun harus menerima konsekuensi yang terus-menerus melanda rumah tangganya.


Oci mengacak-acak rambutnya karena sangat frustasi.


"Apa yang harus ku lakukan sekarang, aku tidak ingin melukai hati Nawang, tapi aku juga tidak ingin terus begini. "gumam Oci.


Setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya ia memutuskan untuk pulang kerumah.


Setibanya di rumah Oci langsung masuk ke dalam rumah tanpa memberi salam seperti biasanya.


Di saat yang bersamaan Nawang baru saja selesai mandi, ia hanya berlilitkan sebuah handuk saja. Mata Nawang melebar tanpa ia sadari suaminya sudah menatapnya dengan tajam.


"Abi... alhamdulillah abi akhirnya pulang juga. "kata Nawang sambil memegang handuk agar tidak melorot.

__ADS_1


"Hmm. "Oci hanya menjawab satu kata saja.


Nawang pun seperti biasa tangannya reflek ingin mencium punggung tangan suaminya seperti biasanya saat Oci baru tiba di rumah. Namun ia melupakan satu hal penting, ia lupa kalau tangannya mempunyai tugas untuk memegang handuk yang ia kenakan, alhasil handuk itu pun terjun bebas dari tubuhnya dan terongok begitu saja di atas lantai.


Nawang baru sadar setelah handuk itu terlepas dari tubuhnya.


Sementara itu pusaka Oci langsung on begitu melihat tubuh istrinya yang tanpa busana.


"Surga apa ini. "batin Oci sambil menelan ludah.


Pipi Nawang pun langsung merah merona, dengan sigap tangannya langsung meraih handuk dan melilitkan kembali di tubuhnya.


"Maaf umi benar-benar tidak sengaja, bukan maksud umi untuk menggoda tapi.... "ucapan Nawang tiba-tiba berhenti setelah mulutnya terbungkam bibir Oci yang sudah bermain di bibirnya.


Setelah mulut Nawang terdiam Oci pun melepas ciumannya.


Kemudian berbisik di telinga Nawang.


"Sebenarnya aku masih marah dengan kejadian kemarin, dan kamu akan aku hukum untuk menebus kesalahanmu. "


Tubuh Nawang seketika menjadi merinding, ia takut jika Oci memukul dan menyiksanya. Tubuhnya bergetar kakinya sudah tak mampu menopang tubuh, perasaannya menjadi sangat takut.


Tiba-tiba Oci menyaut tubuh Nawang, dan sekarang Tubuh mungil itu sudah berada di kedua tangan Oci.


"A.. a.. bi beneran ingin menghukum umi? "tanya Nawang takut.


"Tentu saja abi akan menghukum umi dengan sangat berat. "jawab Oci mengancam sambil membopong tubuh istrinya menuju kamar utama.


Di Kampus


"Batas mengumpulan tugas minggu depan, pertemuan kita akhiri sampai disini. "kata bu Arasi pada mahasiswa.


"A.. alahh. "gerutu para mahasiswa yang tidak terima kerena mendapatkan banyak tugas.


Bu Arasi masih sibuk membereskan buku-buku dan hasil tugas mahasiswa, sementara mahasiswa satu-persatu sudah mulai keluar kelas. Suasana semakin lengang tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundak kirinya, tangan itu begitu dingin.


"Biar aku bantu. "


Tak lama kemudian muncullah seseorang yang sangat ia kenal sambil membawa dua botol minuman dingin di tangan kanannya.


"Bikin kaget saja kamu. "ucap bu Arasi kesal.


"Sorry, nih minum dulu, biar aku saja yang beresin. "jawab Jidan sambil tersenyum lebar.


Bu Arasi pun langsung menenguk habis minuman yang di berikan Jidan karna pas banget dia lagi kehausan setelah membimbing muridnya.


Setelah semua beres mereka berdua berjalan beriringan dan keluar bersama dari kampus tersebut.


Bu Arasi memulai obrolannya dengan bertanya pada Jidan.


"Kenapa telfonku tidak kamu angkat sama sekali sejak kemarin? "


"Emm sorry aku tidak sempat memegang hp dari kemarin, karna mendadak ada tamu dan baru tadi pagi aku melihat hp. "kata Jidan sambil menggaruk tengkuknya.


"Ohhh seperti itu... "jawab bu Arasi sambil cemberut.


"Aha setelah ini ada acara ke mana? "

__ADS_1


"Emm entahlah aku belum kepikiran. "jawab bu Arasi.


"Bagaimana kalau kamu ikut aku ke suatu tempat. "tanya Jidan serius.


"Kemana? "tanya bu Arasi dengan raut muka penasaran.


"Rahasia, nanti kamu tau sendiri."jawab Jidan sambil tersenyum penuh misteri.


"Baiklah. "


Akhirnya bu Arasi menyetujui ajakan Jidan, setelah meninggalkan kampus mereka berdua langsung menuju lokasi yang Jidan janjikan.


Sekitar lima belas menit akhirnya mereka berdua sampai di tujuan yang Jidan janjikan, motor Jidan berhenti pas di depan pagar rumah mewah yang begitu sepi. Bu Arasi tidak tau maksud Jidan berhenti di depan pagar rumah mewah itu.


"Jid ngapain kita berhenti di sini bukanya tadi kamu ingin mengajakku ke suatu tempat? "tanya bu Arasi kebingungan.


"kita sudah sampai, ini yang tadi aku maksud. "jawab Jidan kemudian turun dari motor dan mengambil sesuatu di kantongnya.


Bu Arasi masih bengong takjub melihat rumah seluas itu karna selama ini ia hanya tinggal di rumah kontrak sederhana sebatangkara. Semenjak ibu satu-satunya meninggalkan dia saat masih berumur delapan tahun, ia hidup bersama neneknya dan semenjak neneknya meninggal ia pun terpaksa meninggalkan kampung halamannya untuk mengejar cita-citanya di kota. Hingga akhirnya ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 nya dengan beasiswa prestasi dan sekarang dia menjadi Dosen di salah satu kampus terkenal.


Jidan selesai membuka gembok pagar miliknya. Ia pun kembali menaiki motor bututnya menuju ke dalam pagar.


Suasana begitu sepi, lengang tanpa ada seorang pun yang tinggal di rumah mewah itu. Bu Arasi masih terdiam dalam lamunan hingga suara Jidan menyadarkan lamunannya.


"Silahkan masuk bu. "


"Hah apa? "bu Arasi melongo karna mungkin dia salah dengar.


"Silahkan masuk bu Arasi. "jawab Jidan tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"Tu.. tunggu dulu ma.. masuk ke dalam? "tanya bu Arasi memastikan.


"Iya masuk kedalam rumahku. "jawab Jidan heran.


"Jadi ini rumahmu? "tanya bu Arasi melotot tajam.


"Iya emang ada masalah dengan rumah ini? kenapa reaksi bu Arasi begitu terkejut? "Jidan keheranan.


"Ha.. ha.. ha. tidak ada masalah kok. "jawab bu Arasi tiba-tiba tertawa namun di buat-buat.


(Gawat kalau ini rumah Jidan aku pasti akan bertemu dengan adiknya yang kemarin aku kata-kata i kasar, tamatlah riwayatku sekarang, bagaimana kalau adiknya sudah bercerita pada orang tua Jidan, mau di taruh di mana ni muka. lamunan bu Arasi)


"Woy kok malah melamun ayo masuk. "kata Jidan lalu menarik tangan bu Arasi untuk segera masuk ke dalam rumah.


Bu Arasi dengan berat hati akhirnya melangkah ke kandang singa, tubuhnya di selimuti hawa panas dingin, perasaannya sungguh cemas.


"Silahkan duduk, mau minum apa? "tanya Jidan sambil melempar tasnya ke sembarang arah.


Bu Arasi tidak mendengar perkataan Jidan karna pikirannya masih tenggelam dalam lamunan kecemasan.


"Bu... mau minum apa? "Jidan kembali bertanya dengan nada yang agak tinggi.


"Ahh.. apa aja boleh. "jawab bu Arasi.


"Baiklah tunggu sebentar aku buatkan dulu. "jawab Jidan kemudian berjalan menuju dapur.


Sekian dulu ya. nantikan keseruan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2