
Jidan hanya menggertak, semua omongan yang ia katakan untuk melaporkan para mahasiswi itu tadi cuma akal-akalan nya saja untuk memberi efek jera pada orang penyebar hoaks. Menjadi asisten dosen genit memang suatu musibah yang harus ia hadapi termasuk saat menjadi bahan pembicaraan mahasiswa lain lambat laun rumor itu akan menyebar di kampusnya. Jidan sudah banyak memikirkan tentang hal itu, dia mahasiswa yang cerdas. Setelah melewati banyak pikiran keputusannya tetap sama dia harus menjadi asisten bu Arasi untuk menebus kesalahannya akibat tidak mengaja memukul jidat bu Arasi sampai benjol. Dengan begitu Jidan sudah menyiapkan hatinya jika mahasiswa lain membicarakannya di belakang seperti kejadian tadi.
"Heh Jid sini, ada yang ingin aku bicarakan. "bisik Pakha memangil Jidan yang lewat di depannya.
Jidan pun langsung menghampiri Pakha yang bersembunyi di belakang tembok.
"Ada apa? "tanya Jidan pada Pakha.
"Ada berita buruk Jid. "kata Pakha masih dengan berbisik.
"Berita apa? "Jidan kembali bertanya karna tidak mengerti maksud Pakha.
"Kamu tau gak, semua mahasiswa sudah tau kalau kamu menjadi asisten bu dosen genit, berita itu lagi hangat-hangat nya di bicarakan mahasiswa lain di kampus ini. "kata Pakha serius.
Jidan hanya biasa saja mendengar perkataan Pakha barusan tanpa syok sedikit pun.
Pakha tak habis pikir melihat Jidan yang biasa saja setelah mendengar ceritanya, bahkan yang kaget malah Pakha melihat ekspresi Jidan barusan.
"Loh Jid kamu kok biasa saja sih,emang kamu udah tau. "kata Pakha tak mengerti dengan raut wajah Jidan.
"Terus aku harus gimana? kaget... syok gitu. "jawab Jidan.
"Ihh dasar bodoh.. "kata Pakha sambil menampol wajah Jidan.
"Sakit tauk... bekas pukulan Boy kemarin saja belum sembuh.."kata Jidan kesal dengan kelakuan Pakha padanya.
"HeHe sorry aku lupa...kamu sih nyebelin, masa dengar berita heboh seperti itu biasa saja. Kalau aku jadi kamu mesti akan lompat dari lantai 3 ini karena malu. "kata Pakha.
"Yaudah jangan jadi aku kamu tidak akan kuat. "kata Jidan sambil tersenyum melihat wajah Pakha yang tidak puas mendengar reaksi Jidan.
"Nyebelin a ini bukan film milea untuk dilan, kamu suka bercanda terus.... "jawab Pakha cemberut sambil berdecak pinggang.
"Iya maaf aku salah. "kata Jidan meminta maaf sambil tersenyum kecil melihat reaksi Pakha yang terlihat mengemaskan.
"Aku gak pengen mendengar kata maaf Jid."kata Pakha sambil memonyongkan mulutnya.
"Terus pengen dengar apa? "tanya Jidan sambil mencubit kedua pipi Pakha karna sudah tidak tahan melihat keimutan Pakha.
"Terserah kamu saja deh, masa bodoh lah. "jawab Pakha kemudian pergi begitu saja meninggalkan Jidan.
"Eh tunggu main kabur-kaburan saja.. "jawab Jidan kemudian mengejar langkah Pakha dan mensejajarkan langkahnya.
"Atau kamu pengen dengar kata love dari aku? "goda Jidan saat berjalan bersama Pakha.
"Apaan sih Jid.. bercanda lagi ku pukul kau. "kata Pakha memperingatkan Jidan.
Jidan hanya tertawa mendengar ancaman Pakha yang menurutnya sangat lucu. Akhirnya mereka berdua bercanda di sepanjang perjalanan menuju kantin.
Sesampainya di kantin, mereka berdua duduk berhadapan. Pakha memesan teh hangat sedangkan Jidan hanya menitip makanan ringan saja ke Pakha.
Tanpa sengaja dia berpapasan dengan dosen yang sedang berada di kantin.
"Pagi pak."sapa Pakha pada dosen itu.
"Kamu itu Pakha kan? "tanya dosen laki-laki itu.
"Iya Pak saya Pakha mahasiswi menejemen. "jawab Pakha.
__ADS_1
"Kebetulan banget kita bertemu di sini, ayo ikut ke ruangan bapak sebentar. "kata dosen itu.
Pakha tak mengerti mengapa pagi-pagi begini sudah di panggil dosen ke ruangannya.
Jidan kaget melihat Pakha mengikuti dosen itu.
"Mau kemana? "bisik Jidan.
"Ke neraka. "bisik Pakha sambil memesang muka sedih.
Jidan geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu yang setiap hari mampu membuat harinya berwarna.
Sesampainya di ruang Dosen.
"Pakha aku sebenarnya ingin jujur padamu. Meskipun kau mungkin tidak akan menyukai bahkan tidak mencintaiku tapi aku tidak akan menyerah…”.kata dosen itu to the point.
Pakha kaget tidak mengerti apa yang barusan dosen itu katakan. Kalimat dosen itu menggantung dan Pakha pasti tau akhirnya apa yang akan ia katakan.
"Tidak mungkin dosen tua ini suka padaku kan, ingat umur pak. "batin Pakha memasang muka sedih.
“Pakha, sebenarnya aku…”.
“…”
“…”
(Semuanya menjadi hening, karena memang diruangan itu hanya ada Pakha dan Dosen itu)
“…”
“Sebenarnya aku…”
“…ingin memberikan surat , tadi ada seseorang yang menitipkan surat untuk diberikan langsung padamu. Karna bapak cukup akrab dengan ayahnya, dengan terpaksa bapak mengiyakan dan akan menyampaikan surat itu padamu. Ini! Terimalah.” Tukas Dosen itu.
Pakha menerima surat rahasia itu, dan setelah ia keluar dari ruangan dosen, tanpa pikir panjang Pakha segera membuka surat yang sampai sekarang tidak tau siapa pengirim akhirnya akan ketahuan.
*Kau pasti tidak sabar membuka surat ini bukan? Aku tahu itu, karena keringatmu terlihat banyak. Dengar Pakha, bukan malaikat kecilku yang selama ini aku cintai. Kau pasti bertanya-tanya siapa aku?. Iya kan?
Jika kau ingin tau siapa aku. Nanti sore jam 4 datanglah sendirian ke depan Sungai hanasui, aku akan menunggumu.❤*
Pakha langsung memasukan surat no name itu, kemudian ia berlari ke dalam kampus karna sudah jam 8 waktunya kuliah di mulai.
Sementara itu di kediaman Dandi laki-laki perisor yang masih menjalani hukumannya di rumah. Dia sudah bosan berada di rumah terus seperti itu. Sudah berhari-hari dia memutuskan untuk di rumah saja dan menghabiskan waktunya untuk bermain game. Semakin hari moodnya menjadi tambah buruk.
"Dasar polisi B*ngs** kenapa sih gak pergi-pergi dari rumah gue. Aku jadi gak bisa pergi sesuka hati, sia**n. "kata Dandi sambil membanting game konsolnya .
Suasana di rumah Dandi begitu sepi, setiap lima jam sekali polisi berganti tugas untuk berjaga di rumah Dandi, hal itu di manfaatkan Dandi untuk kabur dari tahanan rumah. Dia meloncati pagar rumahnya seperti rubah. Dengan kelicikannya ia mampu kabur lagi seperti dulu.
"Gue dilawan. "kata Dandi setelah dia berhasil lolos dari penjagaan Polisi.
Polisi pun tak menyadari jika tahanan rumah yang ia jaga sepenuh hati itu dengan santainya bisa berkeliaran di luar rumah.
Tujuan Dandi kabur cuma satu, untuk bertemu Nawang. Dandi sudah rindu berat seberat batu gunung besar. Kali ini dia berencana ingin menemui pujaan hatinya, bukan seperti dulu yang hanya melihat Nawang dari kejauhan.
Oci terlihat keluar dari rumah dengan membawa banyak dokumen di tangannya.
Nawang menyusul dari belakang namun dengan kondisi yang tidak begitu bagus.
__ADS_1
Satu kakinya di perban sampai betis, sedangkan tangannya penuh plester yang banyak menempel. Dandi kaget dengan keadaan Nawang yang baru ia ketahui. ia merasa kwatir dan cemas.
"Hati-hati di jalan bii. "kata Nawang sambil tersenyum ke arah Oci.
Oci mengangguk kemudian mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah. karna Oci mendadak ada meeting dengan bosnya makanya dia ngantor sore begini.
Nawang membalikkan badan berniat ingin masuk rumah. Tiba-tiba langkahnya berhenti setelah melihat Dandi sudah berdiri tegap di mulut pintu sambil tersenyum ke arahnya.
"Dandi bukannya kamu masih... "
"Masih di penjara maksudmu. "Dandi menyelak perkataan Nawang.
Nawang langsung terdiam, bibirnya tercekat tak mampu dia buka.
"Naee aku merindukan mu, sangat merindukan mu. "kata Dandi.
Kemudian Dandi mendekat ke arah Nawang. Nawang kaget tubuhnya refleks mundur.
"Naee jangan takut aku tidak akan menyakitimu, mari aku bantu masuk. "kata Dandi.
"Aku bisa sendiri. "jawab Nawang jutek.
Mereka berdua duduk di ruang tamu, keadaan menjadi canggung dan sunyi. Nawang memutuskan untuk memulai percakapan dengan Dandi.
"Apa maumu? "tanya Nawang.
"Aku hanya ingin melihat wajahmu naee. "jawab Dandi sedih dengan sikap jutek Nawang kepadanya.
"Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan pergilah dari sini, aku tidak ingin terjadi fitnah di antara kita. "kata Nawang.
Tiba-tiba Dandi menuju ke arah Nawang, tanpa aba-aba ia langsung memeluk Nawang.
Nawang kaget dengan perlakuan Dandi yang tiba-tiba memeluknya seperti itu, mata Nawang melotot bulat tubuhnya terasa terkunci. ia tak mampu menyingkirkan tubuh Dandi yang lebih besar dari tubuhnya, di tambah lagi kaki dan tangannya sedang terluka. Nawang pun tak bisa berkutik saat di peluk Dandi.
"Dan lepaskan aku, aku bilang lepaskan aku sekarang. "kata Nawang panik.
"Begini saja sebentar, aku sangat merindukan mu naee, jangan terluka seperti ini jika tidak ada aku. aku janji akan membebaskan kamu dari segala penderitaan ini, tunggu sebentar lagi"kata Dandi masih memeluk Nawang.
Nawang hanya diam tidak mengerti apa maksud perkataan Dandi barusan, ia kan terluka gara-gara kecerobohannya sendiri yang menjatuhkan gelas sehingga mengenai kaki dan tangannya.
"Lepaskan aku sekarang juga. "kata Nawang dengan mengeraskan suara.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah melepaskanmu naee. "jawab Dandi.
Nawang tak mengerti apa maksud perkataan Dandi yang selalu menyimpang , dia hanya minta melepaskan tubuhnya yang ia peluk tapi jawaban Dandi malah seperti itu.
"Lepaskan apa aku teriak maling biar tetangga datang. "ancam Nawang.
"Baiklah aku lepaskan, tapi janji beri aku waktu untuk mengobrol denganmu meskipun cuma lima menit. "jawab Dandi.
Nawang menyetujui permintaan Dandi, mereka berdua pun mengobrol di ruang tamu dengan waktu sesusai permintaan Dandi.
Sementara itu Pakha sudah tiba di Sungai Hanasui sesuai dengan permintaan surat rahasia itu, matanya sibuk mencari-cari orang itu dan setelah itu matanya menangkap sesosok pria dengan kepalanya di tutupi sebuket bunga ah itu bunga mawar putih kesukaannya. Pakha mendekatinya perlahan-lahan dan tiba-tiba tangan pria yang satu lagi menarik Pakha lebih dekat saat ia tahu Pakha didepannya.
Lalu pria itu menepiskan bunganya dan memperlihatkan wajah hangat yang tersenyum padanya.
Sekian dulu ya... siapa sih pria misterius itu? nantikan jawabannya di episode selanjutnya. Tetap semangat membaca.
__ADS_1