Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Tidak bisa di tebak


__ADS_3

Tubuh Boy sekarang sudah berada di sebuah kursi goyang dengan kedua tangan terikat ke belakang begitu pula kakinya. Sudah sepuluh menit lebih dia pingsan, raut wajahnya nampak pucat, persis seperti orang mati. Sedari tadi mata Pakha tidak pernah lepas memandang laki-laki yang terlelap dengan raut wajah tenang. Entah sebab apa hatinya tiba-tiba menjadi gelisah melihat manusia yang wajahnya cemong di tutupi kumis tebal dan rambut panjang kumal itu tidak juga sadar.


"Siapa manusia ini? aku seperti tidak asing dengan wajahnya. "batin Pakha, tangannya hendak menyentuh pipi Boy, namun tiba-tiba di hentikan oleh tangan Bima.


"Jangan sentuh bisa jadi dia hanya pura-pura pingsan , dia itu manusia yang sangat berbahaya."kata Bima memperingatkan.


Pakha mengurungkan niatnya untuk menyentuh wajah Boy, wajah yang sebenarnya sangat ia rindukan tapi ia tidak tau kalau ternyata manusia yang pingsan di depannya itu adalah laki-laki yang pernah berjasa di masa lalunya.


"Bim aku pergi dulu, kamu jaga dia kalau sudah sadar beritahu aku."kata Pakha pada Bima yang masih berdiri di depan Boy.


"Iya ratuku, kamu istirahat saja ke kamar nanti aku susul setelah membereskan masalah ini. "jawab Bima sambil tersenyum.


Pakha langsung berlalu meninggalkan Bima dan manusia penyusup yang tidak ia ketahui itu.


Pakha berjalan keluar tanpa arah, hatinya seperti tidak ingin meninggalkan manusia penyusup itu namun ia juga masih harus menyelesaikan tugasnya sebagai ratu.


"Apa yang barusan aku pikirkan, dia hanya manusia tidak penting, Bima pasti bisa mengatasi itu. "gumam Pakha kemudian menghilang untuk membantu para arwah yang lain.


Sementara itu di dalam istana, Boy akhirnya sadar juga dari pingsannya. Matanya menatap sayu sesosok pria tampan yang tadi menyerangnya.


"Akhirnya kamu sadar juga setelah setengah jam aku menunggu, manusia tidak tau malu. "ucap Bima sambil berdecak pinggang.


Boy kaget ternyata tangan dan kakinya sekarang terikat, ia berusaha melepaskan ikatan itu namun sia-sia ia tak mampu melakukannya. Tenaganya belum benar-benar pulih, badannya masih sangat lemas.


"Kemana prempuan yang tadi menyelamatkan ku? kenapa aku malah bersama pria brengs** itu. "batin Boy.


"Apa yang kamu lamunkan manusia bodoh, apa tujuanmu kamari? "tanya Bima dengan raut muka judes.


"Itu bukan urusanmu. "Ucap Boy.


"Manusia si*lan aku sudah tidak tahan dengan sikap burukmu, biar kubunuh sekarang juga kau!!"ucap Bima geram karna Boy tidak memberi tahu apa tujuannya.


"Tunggu!! iya biar aku jelaskan tapi tolong jangan bunuh aku. "


"Makhluk kamfret tunggu saja, akan ku balas kau jika tenagaku sudah pulih."batin Boy sambil menatap Bima dengan kebencian.

__ADS_1


"Tolong lepaskan aku, aku tidak sengaja tersesat di sini, biarkan aku hidup, aku janji tidak akan datang ke sini lagi. "ucap Boy memohon-mohon pada Bima.


"Ha... ha.. ha... lihatlah kau hanya manusia lemah yang meminta kehidupanmu di ampuni, OMONG KOSONG AKAN KU BUNUH KAU SEKARANG JUGA ."kata Bima.


"Jangan tolong ampuni aku kali ini saja, aku akan menuruti keinginanmu, tolong jangan bunuh aku. "kata Boy dengan tubuh bergetar.


Boy sekarang tidak bisa berbuat apa-apa dengan tangan dan kaki terikat seperti itu. Ia berkata seperti itu hanya untuk memanipulasi sosok di depannya saat ini dan tidak benar-benar akan mengabulkan permintaannya.


"Bagaimana aku bisa percaya pada manusia, aku raja di sini tidak butuh apa pun, aku sudah mempunyai segalanya. "jawab Bima sombong.


"Gawat makhluk bodoh itu tidak bisa di tipu, aku harus cari cara, aku tidak boleh mati di sini sebelum menemukan Pakha. "batin Boy gugup.


Dengan sekuat tenaga yang tersisa Boy mencoba melepaskan ikatan yang ada di tangannya, dengan kekuatan supranatural yang selama ini ia latih.


Akhirnya ikatan di tangannya berhasil lepas setelah bersusah payah hingga nafasnya tersengal.


"huh... huh... wahai raja yang bijaksana tolong lepaskan manusia lemah ini."kata Boy mencoba mengalihkan perhatian agar sosok di depannya tidak menyadari bahwa ikatan tangannya sudah terlepas.


"Ha... ha... iya aku sudah bijaksana dari dulu, sudah jangan banyak omong, mau mati aja cerewet kau."bentak Bima.


Bima kemudian mengeluarkan pedang kerajaannya untuk mengakhiri hidup Boy.


Craaash Boy menepis kilatan pedang Bima yang mengarah padanya.


"Hah sejak kapan ikatanmu bisa lepas, kamu berani melawanku? "kata Bima dengan emosi meluap-luap.


Boy tidak banyak bicara dia berusaha menghindar sesekali ia membalas serangan Bima dengan sisa tenaganya.


"Aku harus kabur dari sini, kekuatanku tidak mampu melawannya."batin Boy sambil berusaha untuk bisa melarikan diri dari Bima.


Mereka bertarung dengan sengit, tubuh Boy semakin lemas tenaganya hampir terkuras seluruhnya. Boy mencari cara agar ia bisa lolos dari mahluk itu.


"Aku sudah tidak kuat lagi." batin Boy kemudian melarikan diri selagi Bima sedikit lengah.


Buss Boy menyerang Bima dengan kepul asap yang memenuhi pandangan Bima, itu kesempatan Boy untuk melarikan diri dan bersembunyi.

__ADS_1


"arkk kemana manusia itu pergi, tidak akan ku biarkan kau lolos dariku. "teriak Bima sangat marah.


Namun Boy sudah berhasil bersembunyi yang berjarak agak jauh dari tempat kejadian, ia berjalan tertatih-tatih sambil menyeret kakinya yang terasa sakit.


"Kemana aku harus melangkah, istana ini sangat besar, bagaimana jika makhluk itu menemukanku kembali. "gumam Boy gusar sambil tetap berusaha menyusuri istana yang begitu besar ini hanya untuk menemukan jalan keluar.


Boy sudah menelusuri seperempat istana ini namun ia belum juga menemukan jalan keluar. Bukan hal yang sulit untuk Bima menemukan Boy. Sekarang mereka berdua hanya berjarak beberapa meter saja.


"Aku mencium bau manusia di sekitar sini, dia pasti tidak jauh dari sini."kata Bima berjalan mengendap-ngendap berusaha menemukan Boy.


Sedangkan Boy tidak tau jika Bima sudah berada beberapa meter saja darinya, ia tetap berusaha menemukan jalan keluar dengan sekuat tenaga yang hampir habis.


Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menarik Boy di balik pintu sehingga ia menghilang, di saat bersamaan Bima hampir saja menemukan keberadaan Boy.


"Kemana manusia itu pergi, baunya tiba-tiba hilang, hah aku sudah tidak merasakan keberadaannya lagi. Sial aku kelolosan. "teriak Bima marah karna ia kehilangan jejak Boy.


Ternyata tangan yang membekap mulut Boy dan merangkulnya dari belakang adalah Ratu Pakha.


Bima kemudian menghilang dari lokasi itu, karna di rasa situasi sudah aman akhirnya Pakha melepaskan tangannya yang membekap mulut Boy.


"Situasi sudah aman, kamu bisa pergi dari sini, pintu keluar ada di depanmu sekarang. "ucap Pakha pada Boy.


Boy masih terdiam membeku, tubuhnya sama sekali tidak bergerak, masih pada posisi yang sama, badannya membelakangi Pakha yang bicara padanya.


"Su.... suara ini. "batin Boy, tiba-tiba ia meneteskan air mata.


"Kenapa kamu tidak pergi, apa ak.... "Pakha belum sempat meneruskan kata-katanya tiba-tiba tubuh Boy berbalik kini wajah mereka berdua saling berhadapan.


Hal yang membuat Pakha terkejut pria di hadapannya sekarang sedang menangis.


"Kenapa kamu menangis. "ucap Pakha tidak mengerti dengan situasinya sekarang.


Tanpa aba-aba Boy menghampiri Pakha dan langsung memeluknya dengan erat.


Pakha semakin terkejut tubuhnya tiba-tiba terasa beku, matanya tiba-tiba juga mengeluarkan air mata, dadanya terasa sesak.

__ADS_1


"Pakha aku benar-benar merindukanmu. "ucap Boy masih memeluk Pakha.


Sekian dulu ya.. akhirnya dua takdir itu saling bertemu... terus bagaimana kelanjutan dua makhluk yang saling mencintai itu? namun sayang mereka sudah beda alam. Nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.


__ADS_2