Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Malam gelap mencekam ,hawa dingin manusuk kalbu. Kesunyian malam di temani rintik hujan yang hampir mereda. Kini hanya tinggal beberapa orang yang masih berteduh di dalam kedai pasar malam. Sebagian orang memlilih untuk tetap berlari di bawah hujan lebat. Pakha juga ingin seperti mereka namun Boy melarangnya agar Pakha tidak jatuh sakit. Hawa dingin itu membuat Boy slalu ingin buang air kecil. Karna baju yang menyelimuti tubuhnya tinggal sehelai saja.


"Sayang aku ke kamar mandi sebentar ya. "kata Boy buru-buru.


"Iya jangan lama-lama hujannya sudah hampir berhenti ayo kita segera pulang, ".


"Iya sayang tunggu sebentar ya, aku udah tidak tahan lagi, "kata Boy sambil berlari menjauh.


Setelah kepergian Boy laki-laki itupun tersenyum. Ini adalah kesempatan yang bagus untuknya, dia tidak perlu menghilangkan banyak tenaga untuk menyingkir kan Boy.


Langkah kaki itu semakin mendekati Pakha.


"Sayang, "suara yang sudah lama ia ingin dengar mengagetkan Pakha yang berkutat dengan hpnya.


Pakha langsung berbalik badan ke belakang ternyata benar itu adalah suara laki-laki yang sangat dirindunya.


Dia mengucek matanya berulang kali dan laki-laki di hadapannya masih tetap tersenyum seperti tadi.


"Bima, "kata Pakha kemudian berlari menyambar tubuh Bima. Entah kenapa tubuh Bima terasa hangat saat tubuhnya kedinginan seperti ini, nyaman dan tentram itu yang Pakha rasakan saat ini. Air mata rindu pun keluar membasahi pipi cantiknya.


"Bim kemana saja kamu selama ini, kenapa engkau tega meninggalkan aku sendirian, "kata Pakha di sela tangisnya. Udah satu tahun ini dia tidak pernah melihat Bima, mungkin hanya suara-suara yang pernah ia dengar namun tanpa wujud Bima.


"Sayang maafkan aku...ikutlah denganku tubuhmu tarasa dingin, "kata Bima.

__ADS_1


Kemudian tubuh Pakha hilang begitu saja bersama Bima laki-laki yang pertama kali ia cintai. Hanya selang berapa detik Boy muncul di tempat itu dan ternyata Pakha sudah tidak ada di tempatnya. Boy merasa panik dan bertanya ke beberapa waiters di kedai itu namun tidak ada yang melihat. Dan ia bertanya ke seseorang di samping tempat duduknya yang juga lagi terjebak hujan seperti dirinya. Orang itu berkata jika Pakha tadi sedang berbicara dengan laki-laki tampan dan entah kemana ia pergi.


"Pakha sebenarnya kamu pergi dengan siapa mengapa tidak memberi tahu aku terlebih dahulu. "gumam Boy sambil memanggil nomor telefon Pakha berkali-kali namun tidak ada jawaban.


Sekarang Pakha dan Bima sedang asik berbincang-bincang di dalam restoran mewah namun anehnya restoran itu sepi pengunjung. Hanya mereka berdua dan para waiters yang terlihat berjejer rapi dan siap melayani apapun yang ingin ia pesan.


"Bim selama ini kamu kemana saja? kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku, "tanya Pakha dengan serius.


"Kita pesan makan dulu ya, nanti sambil aku jelaskan padamu, "kata Bima sambil memilih milih menu makanan.


"Aku sudah kenyang, aku hanya ingin mendengar penjelasanmu bim."kata Pakha dengan kesal.


"Baiklah aku akan jelaskan sekarang tapi kamu jangan keged dengan penjelasan ku ini, "kata Bima sambil menarik nafas panjang dan mengeluarkannya.


"Bim tunggu dulu, jika kamu bukan manusia kenapa aku bisa melihat bahkan bisa memegang tubuhmu. "kata Pakha menghentikan penjelasan Bima karna saking penasaran.


Bima melanjutkan penjelasannya atas pertanyaan Pakha. Setelah penjelasan itu selesai, tubuh Pakha menjadi lemas. Sekarang Pakha mengerti ternyata semua keanehan yang selama ini ia rasakan saat bersama Bima terjawab sudah. Teka-teki yang selama ini belum ia temukan jawabannya sekarang telah terjawab. Meskipun hati tidak bisa menerima semua itu namun inilah kenyataan yang sebenarnya.


"Bim antarkan aku kembali ke kedai, aku ingin pulang, "kata Pakha lirih.


"Sayang apa kamu tidak ingin bersamaku selamanya dan bahagia bersamaku? "tawar Bima.


"Bim maafkan aku, sekarang ada Boy yang sangat mencintai ku di dunia ini, aku tidak akan menyakiti hatinya lagi. "kata Pakha sambil meneteskan air mata.

__ADS_1


"Baiklah aku akan setia menunggu kapan pun kamu siap dan aku berjanji akan selalu melindungi mu, tinggalah bersamaku jika hidupmu sudah berakhir di dunia, ber bahagialah sampai waktunya kita bersama, dan hanya hari ini kamu bisa melihatku , sampai jumpa di bulan purnama selanjutnya, Selamat tinggal Sayang. "


Setelah kata-kata panjang perpisahan itu tak terdengar lagi dalam sekejab tubuh Pakha sudah kembali di kedai tempat ia berteduh. Bahkan ia belum sempat menjawab ucapan selamat tinggal pada Bima, namun ia kini sudah kembali ke tempat pertama kali. Seketika tubuhnya terduduk lemas. Kenyataan yang menyakitkan itu membuat hati dan pikirannya hancur.


Kini Pakha hanya terduduk linglung di bawah pohon depan kedai. Sudah tiga jam berlalu sejak ia menghilang Boy tak henti mencari dan menyusuri sekitar kedai. Hingga akhirnya Boy menemukan Pakha yang meringkuk di bawah pohon.


Boy langsung memeluk Pakha saat ia melihat kekasihnya itu, dia sangat kwartir jika terjadi sesuatu pada Pakha. Boy langsung menuntun Pakha menuju mobilnya untuk mengantarkan pulang karna malam semakin larut.


Baru tadi dia melihat Pakha tersenyum bahagia dan sekarang malah terlihat mengenaskan seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Pakha terdiam seperti ini pikirannya hanya berputar-putar dan ia tak berani bertanya pada Pakha. Mungkin Pakha akan menceritakan sendiri jika dia sudah siap bercerita. Boy hanya tidak ingin menambah kesedihan kekasihnya. Jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Akhirnya Boy sampai juga di depan kosan Pakha, kemudian ia membantu Pakha untuk turun dan mengantar Pakha sampai dalam kosan.


"Sayang boleh gak aku malam ini menginap di sini mataku sudah lelah jika harus menyetir kembali, aku takut mengantuk di jalan"kata Boy beralasan. Boy berkata demikian karna ia tak ingin meninggalkan Pakha sendirian yang terpuruk seperti ini.


Pakha hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya dengan pakaian basah. Kepalanya sangat pusing jika mengingat semua penjelasan Bima di luar nalar manusia itu. Akhirnya ia pun terlelap beberapa saat setelah terbaring di ranjang.


Boy membuka pintu kamar Pakha sambil membawa teh hangat namun ternyata Pakha sudah tertidur pulas di atas ranjang.


Boy menghampiri Pakha dan melepaskan sepatu Pakha yang masih terpakai. kemudian membenarkan selimut Pakha yang terbuka menampilkan baju basah yang memperlihatkan tubuh Pakha keseluruhan. Seketika pusakanya langsung berdiri tegak. Boy segera keluar dari kamar Pakha, dia tidak ingin sesuatu terjadi atas ketidak sadarannya.


Boy kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu kosan Pakha. Disana bukan malah istirahat namun bayangan tubuh Pakha selalu menari-nari di kepalanya.


"Aiss dasar otak gila kenapa masih saja terbayang-bayang hal itu".gusar boy di sofa itu ,namun lama kelamaan matanya pun bisa terpejam setelah tadi bersusah payah mengusir bayangan tubuh Pakha yang tidak sengaja terekspos. Bagaimana pun Boy kan tetap laki-laki normal dan dia baru pertama kali melihat yang seperti itu. Wajar saja jika pusakanya reflek bangun.


Sekian dulu ya... nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2