Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Sadar( 21+)


__ADS_3

Sekitar setengah hari Pakha pingsan, matahari sudah seutuhnya tenggelam. Pakha masih berbaring di balai bambu di dalam gubug reot Boy.


"Emm."gumam Pakha tersadar membuat Boy merasa lega.


"Terima kasih karna kamu sudah kembali untukku."kata Boy dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang aku sudah ingat semuanya, semua tentang kita dan semua tentang kenangan indah kita dahulu. "batin Pakha sambil menatap wajah Boy.


"Apa ada yang sakit? "tanya Boy kwatir saat melihat Pakha hanya bengong menatap dirinya.


Dalam hati Pakha ingin sekali mengatakan semuanya pada Boy bahwa ia sudah mengingatnya namun Pakha lebih memilih untuk diam karna ia tidak ingin memberikan harapan lagi pada manusia yang sudah beda dunia dengannya. Bagaimanapun cinta mereka tidak akan bisa bersatu kembali seperti dulu saat mereka masih berada di alam yang sama. Pakha sekarang sudah mengerti mengapa Tuhan memberikan kesempatan untuknya sampai hari ini, itu semua karna satu alasan yaitu Boy. Sampai saat ini Boy masih belum bisa move on dari Pakha, Boy masih tergila-gila ingin hidup bersama Pakha dan masih berharap hubungan mereka kembali lagi seperti dulu.


Hal itu tidaklah mungkin. Takdir Tuhan membuat mereka bisa bertemu kembali dengan satu tujuan penting yaitu mengembalikan kehidupan Boy seperti sebelumnya. Pakha ingin Boy hidup seperti dulu seorang pria yang ganteng memiliki kekayaan, selalu ceria, punya tujuan hidup bukan malah seperti sekarang seorang dukun yang gembel tanpa mempunyai satu pun hal yang berharga di hidupnya. Meskipun Boy tidak membutuhkannya sekarang, Boy hanya butuh Pakha di hidupnya saja membuatnya cukup namun itu bukan tujuan Pakha sebenarnya. Pakha hanya ingin Boy kembali seperti dulu.


*Sayang aku janji akan mengembalikan semua keadaanmu, aku juga janji akan menjaga cinta ini selamanya bahkan hingga aku mati dua kali bahkan seratus kali pun.*lamunan Pakha.


"Pakha. kamu masih ingat aku kan? "tanya Boy sambil mengibaskan tangannya di hadapan Pakha yang melamun.


Tanpa jawaban atau reaksi apa pun , Pakha masih diam melamun. Raut wajah Boy semakin kwatir.


"Pa... "Boy ingin kembali memanggil Pakha namun omongannya terhenti ketika Pakha malah bangkit dari tidurnya.


Tanpa Boy sadari Pakha tiba-tiba memeluk tubuh Boy begitu saja.


"Hangat, kamu tetap hangat seperti dulu Boy. "batin Pakha sambil meneteskan air matanya.


"Kamu tidak apa-apa? "tanya Boy kwatir.


"Iya, tolong tetaplah seperti ini sebentar lagi. "ucap Pakha masih memeluk Boy.


"Baiklah jika ini bisa membantumu tenang."Ucap Boy kemudian melingkarkan kedua tangannya di tubuh Pakha yang dingin.


Setelah cukup puas berpelukan Pakha melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Boy lekat-lekat, kemudian bertanya sesuatu padanya.


"Boy kamu taruh di mana cincin itu?"


"Mmm cincinnya aku kubur di dalam tanah, tenang saja cincin itu tidak akan lagi menyakiti kamu, cincin seperti itu aku bisa beli lagi jika kamu ingin. "


"Kamu kubur dimana cincin itu?"tanya Pakha sekali lagi.


"Aku kubur di belakang gubug ini. "


Persis setelah Boy selesai berbicara tiba-tiba Pakha langsung hilang.


"Loh kemana dia? "gumam Boy bingung atas hilangnya Pakha yang tiba-tiba.


Pakha muncul kembali pas di depan kuburan cincin pertunangannya. Tanpa berpikir dua kali Pakha langsung menggali cincin itu dengan kekuatannya yang tersisa saat ini. Tanah yang menutupi cincin itu terangkat bagaikan semburat lumpur, hanya butuh beberapa detik Pakha sudah berhasil menemukan cincin itu. Ia angkatlah cincin yang bersinar terang itu, cincin itu terbang menuju ke arahnya dengan sendirinya dan langsung memasuki jari manisnya pas seperti seharusnya cincin itu berada. Cincin itu langsung bersinar terang saat menyatu dengan jari Pakha, sinarnya meledak hingga mengejutkan burung-burung yang sedang terlelap di atas pohon. Boy tak kalah terkejutnya saat melihat sinar terang di belakang gubug reotnya.

__ADS_1


"Si.. sinar apa barusan? "gumam Boy kaget.


Sementara Pakha hanya tersenyum menatap cincin bermahkota bintang yang tersemat di jari manisnya.


"Aneh tubuhku terasa ringan, apa gara-gara cincin ini. "batin Pakha masih memandangi cincin di jarinya.


SPLASH


Pakha mencoba kekuatannya ternyata benar, kekuatanya yang tiba-tiba melemah saat dulu di dekat Boy menjadi pulih kembali karna cincin di jari manisnya. Kini kekuatan Pakha sudah sepenuhnya kembali, ia pun bisa berteleportasi semaunya, kekuatan sebagai ratu istana hutan kelam pun sudah kembali pulih. Karna itu kekuatan Pakha sekarang lebih tinggi dari hantu-hantu yang lain.


"Pakha apa yang kamu lakukan?"tanya Boy penasaran saat melihat banyak tanah berceceran di sekitar gubug reotnya.


Tubuh Pakha berbalik seketika ia sudah berhadapan dengan Boy, dengan kekuatannya Pakha bertaleportasi, hanya butuh dua detik ia sudah berada pas di depan wajah Boy yang hanya berjarak beberapa senti saja.


"Astaga naga.. "Boy terlonjak kaget ia mengelus-elus dadanya karna Pakha tiba-tiba sudah berada di depannya padahal tadi masih berjarak beberapa meter darinya.


"Sorry kalau bikin kamu kaget. "kata Pakha sambil tertawa cekikikan.


"Ih sekarang ketawamu serem persis setan. "kata Boy begidik ngeri.


"Aku memang setan Boy kenyataan itu sudah tidak bisa terbantahkan. "Jawab Pakha sambil tersenyum kecil saat melihat raut muka Boy yang nampak lucu saat ini.


Mata Boy tertuju pada jari manis Pakha yang dari tadi menyita perhatiannya.


"Cincin itu? ".


"Lepaskan cincin itu sekarang, aku tidak ingin kamu pingsan lagi gara-gara cincin itu, maaf di hari ulang tahunmu kamu malah hampir celaka gara-gara aku. "kata Boy merasa bersalah.


"Lihatlah sekarang aku sudah tidak apa-apa kan walau memakai cincin ini."kata Pakha sambil memperlihatkan jari manisnya yang tersemat cincin itu.


Boy hanya mengangguk, namun dalam hati ia masih merasa kwatir.


Tiba-tiba Pakha membisikan sesuatu di telinga Boy.


"Ayo main denganku Boy. "


"Hah, apa kamu bilang barusan? ".


"Ayo main ranjang denganku Boy. "ucap Pakha dengan jelas.


Bluss wajah Boy seketika menjadi merah persis seperti kepiting rebus.


"Kamu ..se.. serius?".


"Iya aku serius sayang."Ucap Pakha dengan kata-kata yang membuat Boy mabuk kepayang.


Sebenarnya di saat ingatannya sudah sepenuhnya kembali, ia ingin sekali saja memberi hadiah untuk Boy, karna dari semasa hidupnya dulu, Boy selalu menjaganya dengan baik bahkan ia tidak pernah melakukan hal aneh pada Pakha. Pakha hanya kasian saja pada Boy, dia harus hidup menderita selama bertahun-tahun akibat kehilangan dirinya.

__ADS_1


CETIK


Hanya dengan menjentikan jari, Pakha sudah bisa berteleportasi. Ia membawa Boy di sebuah kamar tidur big size lengkap dengan fasilitas lengkap seperti hotel. Boy takjub tubuhnya masih mematung, mulutnya pun menganga air liurnya hampir menetes keluar saat melihat kamar tidur seperti rumahnya dulu, rumah mewah yang rela ia tinggalkan demi mencari arwah Pakha. Namun hal yang membuatnya kaget kenapa ia bisa tiba-tiba berada di sebuah kamar mewah begini.


"Ini tidak mimpi kan. "gumam Boy sambil mencubit pipinya sendiri.


"Ini tidak mimpi sayang. "jawab Pakha yang sudah memakai gaun transparan yang sangat tipis sedang terlentang di atas ranjang big size itu.


"Kemarilah. "kata Pakha menggoda Boy.


GLUKK


Boy menelan saliva saat melihat pemandangan yang menajubkan di depan matanya.


"Ja.. jadi kita beneran mau itu? "tanya Boy gugup, alhasil ular kobranya pun sudah sepenuhnya bangun.


"Hehem. "jawab Pakha mengangguk.


SPLASH


Pakha tiba-tiba menarik Boy ke atas ranjang, ia m*****t bibir Boy dengan ganas. Sementara itu tangan Pakha membuka kancing kemeja Boy yang lusuh, dan membuangnya di atas lantai.


Nafas Boy tersengal, Pakha menghentikan aktivitasnya itu.


"Sambil bernafas sayang. "ucap Pakha kemudian melanjutkan kembali aktivitasnya.


Tubuh Boy terasa panas, ia sudah tidak tahan lagi dengan ular kobranya yang meraung-raung ingin keluar. Boy langsung merobek pakaian bawahnya yang sudah compang-camping itu dan membuangnya begitu saja. Tangan Boy langsung menyibak gaun transparan Pakha, bibirnya meninggalkan jejak satu persatu di tubuh Pakha.


"Emm. "Pakha hanya meracau tidak jelas menikmati perlakuan Boy padanya.


Boy pun memainkan milik Pakha hingga basah.


"Sekarang lakukan sayang aku sudah tidak tahan."kata Pakha.


Tanpa basa-basi ular kobra Boy langsung masuk ke dalam gua yang rimbun oleh pepohonan itu.


"Emm sayang..ah."Pakha mend*s*h nikmat begitu juga dengan Boy.


Hingga ular kobra Boy mengeluarkan bisanya, begitu juga dengan Pakha.


"Em ah. Makasih sayang. "ucap Boy kemudian roboh di samping Pakha karna tubuhnya lemas.


Sementara itu, Bima selaku suami gaib Pakha sangat marah besar saat mengetahui istrinya sedang bersama manusia itu.


Bima bisa menemukan dimana pun Pakha berada karna Pakha sudah menjadi satu dengan jiwa Bima sang penguasa istana hutan kelam.


"Manusia si***n aku akan membunuhmu."batin Bima saat melihat aktivitas manusia dan makhluk gaib itu.

__ADS_1


Sekian dulu ya.. nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya. Tetap semangat membaca.


__ADS_2