
Pagi dengan aura remang-remang, mentari seperti enggan keluar dari tidur lelapnya. Planet mars menampakkan sedikit cahayanya, jingga dengan keindahan sinar mentari yang hampir terbit. Di bawah langit itu ada satu jiwa yang berusaha tegar, di bangun tidurnya dia hanya melamun di tengah jendela kamar yang terbuka lebar. Udara pagi begitu sejuk menerpa ujung jilbabnya yang membuat siapa pun menjadi beku.
Awal kehadiranmu membuat haru bahagia, berharap tangan kecil hangat menggenggam tangan dingin besar milikku. Hadirmu membawa secercah cahaya, namun cahaya itu sekarang sudah hilang di telan kekejaman takdir. Alam telah menjemput mu lebih awal. Bissmilah sebuah nama yang selalu ku sebut dalam setiap doaku. Berharap pucuk bunga mekar di surga yang indah. Kehilanganmu membuat jiwa ragaku lemah hilang kekuatan. (Nawang melamun di jendela sambil menatap terbitnya matahari).
Tuhan mengapa Engkau hanya menitipkan dia sebentar padaku, kenapa engkau tak membiarkan diriku melihat wajahnya. Bahkan aku ingin merasakan kehangatan tubuhnya. Kenapa Engkau tak memberikan kesempatan diriku untuk menjaganya. Kapan Engkau memberiku kesempatan untuk menimang buah hati?
(Batin Nawang menengadah ke langit sambil meneteskan air mata)
Tiba-tiba suara Oci mengagetkan lamunannya.
"Ummi ternyata ada di sini. "kata Oci sambil memeluk Nawang dari belakang.
Nawang cepat-cepat menghapus air matanya, takut ketahuan oleh suaminya.
"iya bi aku ingin menikmati udara pagi. "jawab Nawang masih dengan suara serak seperti orang yang baru saja menangis.
"Ummi kenapa? "tanya Oci kemudian membalik badan Nawang agar dirinya dapat melihat wajah istrinya dan dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Ummi nangis?Ada masalah apa?.. Ummi boleh cerita pada abi, biar abi dengarkan. "kata Oci kemudian memeluk Nawang.
HIKS HIKS
Nawang hanya mampu menangis di pelukan Oci, tanpa bisa berkata-kata hatinya sungguh sesak jika mengingat kejadian lalu ingin sekali menangis agar perasaannya sedikit lega.
Setelah beberapa menit akhirnya Nawang berhenti menangis. Ia melepaskan pelukan Oci kemudian duduk di sofa dekat ranjang.
"Bi kemarilah. "kata Nawang.
Oci kemudian menghampiri Nawang dan ikut duduk di sampingnya.
"Ummi bisa cerita sekarang, kapan pun abi siap mendengarkan."kata Oci sambil menatap mata istrinya yang masih sembab.
"Bi ummi akan ikut di acara tujuh bulanan tante, tadi ummi hanya mengingat anak kita yang sudah tiada "kata Nawang berusaha untuk tegar.
"Ummi serius ingin datang?"tanya Oci.
"Hmm. "jawab Nawang sambil mengangguk berusaha untuk tersenyum.
"Ummi beneran gak papa? "Oci bertanya sekali lagi karena masih ragu.
"iya bi, ayo kita segera siap-siap ke sana. "jawab Nawang kemudian beranjak dari sofa menuju kamar.
Sedangkan Oci hanya diam melihat punggung Nawang berjalan menjauh darinya. Tatapan mata Oci menyimpan banyak ke kwatiran.
"Mi semoga Allah memberikan jalan kemudahan untuk rumah tangga kita"batin Oci kemudian beranjak dari duduknya untuk bersiap-siap juga.
Sementara itu di Pagi buta Dandi sudah berada di halaman rumah Nawang. Untuk apa lagi kalau bukan untuk melihat wajah yang ingin ia lihat.
Dari tadi ia sibuk melihat Nawang dari kejauhan yang melamun di jendela kamar. Dandi juga melihat Oci yang memeluk Nawang dari belakang. Hatinya sakit melihat adegan romantis di pagi buta mampu menusuk jiwa ke jombloannya. Dia emosi kecemburuannya sudah sampai di ubun-ubun. Kalau di biarkan terus menerus semakin lama akan meletus seperti gunung merapi, dan membabi buta orang tak bersalah.
__ADS_1
"Naee tunggu sebentar lagi, aku akan membuatmu lepas dari jerat laki-laki brengsek itu. "batin Dandi sambil mengepalkan tangannya.
Dandi kemudian pergi meninggalkan halaman rumah Nawang. Dari subuh tadi ia berusaha kabur dari rumahnya sendiri. Karna ia masih berstatus menjadi tahanan rumah, para polisi masih sibuk menjaga rumahnya. Namun karna kelicikan Dandi yang menyamai iblis jahat maka polisi-polisi yang menjaga tidak menyadari jika tahanannya berhasil kabur dan bisa berkeliaran di luar rumah. Dandi memutuskan untuk kembali lagi ke rumahnya setelah melihat Nawang untuk mengusir rasa rindu. Dia tidak ingin mendapat masalah baru jika ketahuan kabur dari hukumannya.
Di tempat lain terdapat laki-laki dengan kemeja batik berlari sampai nafasnya tersengal.
"Gawat aku terlambat. "
Laki-laki itu kembali merapikan kemejanya yang kalang kabut karena buru-buru, ia kwatir keterlambatannya akan menjadi petaka baru.
"Maaf bu saya terlambat, tadi kejebak macet di jalan huhhuh. "kata Jidan membungkuk suaranya masih ngos-ngosan.
"Iya tidak apa-apa kok, kamu cuma terlambat setengah jam dari waktu kita janjian. Duduklah "kata bu Arasi terlihat sedikit kesal.
"Terima kasih. "jawab Jidan kemudian duduk di depan bu Arasi.
"Pesan minum dulu gih. "kata bu Arasi sambil melambaikan tangan ke pelayan.
"Tidak usah bu saya ingin buru-buru pulang, masih ada beberapa tugas yang sudah deadline dan belum aku selesaikan. "kata Jidan beralasan agar tidak berlama-lama dengan dosen genit.
"Tenang saja, aku bisa bantu kerjain jika kamu mau "tawar dosen genit itu sambil meraih tangan Jidan yang tergeletak di atas meja.
Jidan refleks membanting tangan bu Arasi sambil berteriak.
"TIDAK USAH"
Bu arasi melotot akibat tangannya di hempaskan begitu saja. Jidan yang menyadari perbuatannya pasti akan membuat sang dosen marah. Ia langsung berusaha merubah suasana yang mencekam dengan sedikit candaan.
Dosen itu hanya diam dia masih kesal dengan kelakuan Jidan barusan. Jidan harus mencari cara lain agar bu Arasi tidak mengamuk.
"Bu lihatlah di sana ada bidadari. "kata Jidan sambil menunjuk ke arah bu Arasi.
Bu Arasi tertarik dan menoleh ke arah yang di tunjuk Jidan ternyata tidak ada apa-apa. Bu Arasi tambah kesal kemudian semakin melotot tajam ke arah Jidan.
"Lihatlah di sana ada bidadari cantik yang sedang menatap ke arahku. "kata Jidan berharap sang dosen menyadari apa maksudnya.
"Jidan maksud kamu apa? "tanya bu Arasi semakin tak mengerti maksud Jidan.
"gawat gimana nih aku kan tidak pandai merayu. "batin Jidan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bu Arasi semakin kesal akibat ulah Jidan dan ia terasa seperti di permainkan oleh Jidan.
"Ini tugas untuk kamu, besok pagi harus selesai semuanya, aku pergi dulu. "kata bu Arasi kemudian melempar sebuah flashdisk pada Jidan.
Jidan melongo melihat kepergian bu Arasi yang terlihat kesal padanya. Apes sudah dirinya saat ini, nilai tinggi gagal ia dapatkan karna dosen genit itu sekarang membenci dirinya.
Jidan menghembuskan nafas dengan kasar, tangannya meraih benda pipih kemudian menghubungi nomor seseorang.
"Ada apa Jid tumben nelfon. "Suara Pakha di ujung telfon.
__ADS_1
"Biasanya juga telfon... kenapa telfonku tidak kamu angkat? "tanya Jidan kesal.
"Eh emang kapan kamu telefon? "Pakha malah kembali bertanya.
"Dasar budeg... "gumam Jidan kesal karna Pakha tidak menyadari jika kemarin dia menelfon Pakha berkali-kali.
"Apa..barusan kamu bilang aku budeg.. Awas aja kalau ketemu akan aku buat budeg beneran telingamu. "kata Pakha teriak tidak terima di katain Jidan.
"Siapa takut Wekk, yaudah hari ini bisa ketemu tidak? "Ejek Jidan mengompori Pakha agar mau bertemu dengannya.
"Baiklah. Emang pengen ketemu di mana? "Pakha berhasil ia hasut.
"Nanti aku share lokasinya. "jawab Jidan tak kalah semangat.
"Baiklah sampai ketemu NANTI JIDOON. "kata Pakha kemudian mengakhiri teleponnya.
"Apa??tadi barusan dia memanggilku jidon. Haha dasar Pakha, kenapa aku sudah merindukannya ya.. Eh tunggu dulu mikir apa sih aku"batin Jidan sambil geleng-geleng kepala.
Beberapa menit Pakha sudah sampai di lestoran tempat Jidan menunggu. Lestoran itu lokasi yang sama saat pertemuannya dengan bu Arasi tadi.
"JIDOON. "teriak Pakha pas di telinga Jidan.
Jidan yang tidak mengetahui kedatangan Pakha akhirnya kaget sampai terjungkal dari kursi yang ia duduki. Pakha tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit melihat Jidan terjungkal di depan matanya. Jidan cepat-cepat bangkit dari lantai, ia sangat malu karna semua mata tertuju padanya. Seisi restoran itu pun ikut tertawa melihat adegan lucu yang mampu mengocok perut siapa pun yang melihatnya.
"Pakha kamu apa-apaan sih. "kata Jidan kesal pipinya merona menahan malu.
"Tuh kan aku beneran membuat telinga mu budeg. Salah siapa ngatain aku budeg. "Ejek Pakha sambil tersenyum kecil di ujung bibirnya.
Akhirnya mereka berdua memesan beberapa makanan kemudian Jidan menceritakan semua kejadian pada Pakha termasuk saat dirinya terpaksa harus menjadi asisten dosen genit selama satu bulan penuh. Pakha tertawa mendengar kebodohan Jidan. Suasana di antara mereka berdua terlihat bahagia seperti sepasang kekasih saat orang lain melihatnya. Padahal mereka berdua hanya sahabat baik meski pun Jidan sempat mempunyai perasaan terhadap Pakha. Namun ia berusaha untuk move on agar tidak kehilangan Pakha seperti dulu.
Di saat bersamaan Boy lewat di depan lestoran itu, tenggorokannya terasa haus dan ia pun akhirnya mampir untuk membeli minuman. Saat menunggu antrean, matanya tak sengaja menemukan Pakha di antara pengunjung lestoran itu. Boy pun tersenyum riang dan berjalan mendekat ke arah Pakha. Namun yang membuat dia terkejut ternyata Pakha tidak sendirian. Boy melihat punggung laki-laki yang nampak dari belakang dan sedang tertawa bersama Pakha. Lantas ia sangat cemburu melihat kekasihnya menemui pria lain di belakangnya. Kecemburuannya membutakan hati dan pikirannya. Boy pun menghampiri laki-laki yang bersama Pakha, dengan amarah kecemburuan ia pun langsung memukul laki-laki itu dari belakang tanpa tau wajah siapa. Akibat ulahnya yang tiba-tiba Pakha kaget dan berusaha meterai mereka berdua.
"Boy cukup, hentikan...! "perintah Pakha.
Seketika Boy langsung berhenti, dia pun kaget ternyata laki-laki yang ia pukuli tak lain adalah Jidan teman kuliah Pakha. Wajah Jidan sudah memar akibat beberapa pukulan Boy yang membabi buta.
"Boy apa yang kamu lakukan, kenapa kamu seperti ini, kamu seperti bukan Boy yang ku kenal. "kata Pakha kecewa.
Pakha kemudian membantu Jidan berdiri dan mendudukannya di kursi lestoran itu.
"Jid kamu tunggu di sini sebentar ya. "kata Pakha.
Jidan hanya mengangguk, Pakha kemudian menarik tangan Boy dan menyeret keluar dari lestoran itu. Sesampainya di luar ia menghempaskan tangan Boy dengan keras.
"Kamu sudah gila, kenapa kamu tiba-tiba memukul Jidan. Apa salah Jidan padamu? "tanya Pakha geram.
"Sayang... Aaku khilaf.. aku hanya tidak suka melihat kamu dengan laki-laki lain selain diriku. "jawab Boy merasa bersalah.
"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran mu Boy, aku kecewa padamu. "kata Pakha.
__ADS_1
Pakha kemudian meninggalkan Boy di depan lestoran, dan menuju ke arah Jidan. Pakha kembali menoleh Boy namun dengan tatapan tidak suka kemudian kembali berjalan ke dalam lestoran. Boy hanya diam di tempat, ia menyesali perbuatannya. Akibat amarahnya yang masih ada kakinya menendang tempat sampah di sampingnya sampai pecah, emosinya memuncak ketika melihat Pakha merangkul Jidan dan berjalan meninggalkannya.
Sekian dulu ya.... nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.