
"Jidan aku kecewa padamu, jangan temui aku lagi. "kata Pakha kemudian meninggalkan Jidan sendirian.
Akhirnya kebenaran sudah terungkap. Kebenaran itu layaknya matahari yang tidak akan terbenam selamanya, suatu saat akan terbit dan memancarkan sinarnya.
"Pakha maafkan aku. Aku manusia sampah yang tidak pantas menjadi sahabatmu. "batin Jidan melihat kepergian Pakha.
Pesta apa yang ada di benak kalian?
di sana pasti menyediakan minuman ringan, kue-kue atau makanan kecil bahkan terhidang berbagai jenis makanan dan minuman yang berlimpah yang di dalamnya terdapat gelak tawa atau acara-acara yang membuat happy.
Namun acara malam ini tidak seperti yang ada di benak kalian. Pakha sang pemilik acara hanya murung dan enggan memakan apapun di depannya.
"Sayang makan sate ini,aku bakar sendiri pasti enak loh."kata Boy sambil menyodorkan sepiring sate yang baru matang.
"Terima kasih Boy, tapi aku masih kenyang. "Jawab Pakha.
Sebenarnya dia tidak selera makan karena pikirannya sibuk memikirkan perkataan Jidan yang membuat hatinya sesak. Pakha benar-benar tidak habis pikir jika Jidan suka padanya lebih dari sahabat.
Kenapa laki-laki dan perempuan tidak bisa murni berteman ataukah memang benar jika pertemanan lawan jenis itu mustahil jika tidak ada perasaan suka di dalamnya?
Pakha sama sekali tidak menikmati pesta malam ini. Ia sangat kecewa pada Jidan yang sudah ia anggap sebagai laki-laki yang baik bak seorang malaikat namun kebaikan itu ternyata ada maksud di dalamnya. Betapa bodohnya kenapa ia tidak peka dengan kode-kode yang slalu Jidan berikan kepadanya. Kenapa Pakha harus mengetahui kebenaran ini sehingga membuat dirinya takut berada di dekat Jidan lagi. Kenyataan seringkali lebih panas dari terik matahari.
"Jid maafkan aku. "gumam Pakha.
"Eh tadi kamu ngomong apa sayang? "tanya Boy yang tidak mendengar dengan jelas.
"Tidak apa-apa kok, tubuhku masih sakit, aku hanya ingin istirahat. "kata Pakha.
"Baiklah mari aku antar. "kata Boy sambil memapah Pakha menuju kamar.
__ADS_1
Sementara itu Jidan memilih pulang tidak jadi ikut pesta karna ia tau tidak pantas berada di sekeliling keluarga Pakha. Jidan juga tau jika sekarang Pakha akan membencinya karena telah mengetahui perasaan suka terhadap dirinya yang akan melukai hati Pakha. Jidan kembali membuka bloger miliknya dan menulis apa yang ia rasakan untuk di ketahui dunia.
...Sakit tak berdarah...
Aroma bunga melati yang mekar kembali tercium setelah musim hujan, tapi aku tidak bisa lagi melihat gadis putih bagai melati itu tertawa di sisiku. Aku kehilangan kehangatan dan keceriaan, bersumpah tidak akan menyakiti hatinya lagi. Saat kita bertemu di kampus aku sangat bersyukur . Wanita itu membuat ku bergidik. Seperti ranting sebelum badai. Tapi kini ia telah hilang dan hanya tersisa mimpi buruk yang datang setiap malam. Itu menghancurkan hatiku. Kamu meminta agar aku membuktikan cintaku dengan berpisah denganmu. Apa ini sesuatu yang pantas ku dapatkan atau kah ini sebuah kutukan?
Takdir sangat kejam. Aku sedih dan sangat berduka. Tapi cinta ini tidak akan pernah hilang untuk selamanya.
Setelah Jidan menulis itu ia merasa marah dan melempar semua barang yang ada di hadapan nya. Memporak porandakan seisi kamar namun hatinya masih saja sakit.
"Hahaha Jidan kamu bodoh. "Jidan menatap dirinya di depan kaca kemudian tangannya menggenggam dan memukul kaca itu hingga retak. Kini tangan yang halus itu sekarang menjadi terluka dan banyak darah yang keluar bersama kekecewaan tiada ujung.
Tulang yang menopang tubuhnya seakan tidak berfungsi lagi tanpa sadar peluh bening juga ikut jatuh di lantai bersama tubuhnya. Jidan memeluk lututnya sambil membenamkan wajah yang sudah sepenuhnya di penuhi cairan bening yang terus-menerus mengalir dari matanya.
Kini penampilan Jidan sudah awut-awutan, persis seperti orgil. Pemandangan tak mengenakan juga terlihat di dalam kamarnya yang seperti kapal pecah akibat ulah Jidan sendiri. Jidan menangis tanpa suara meratapi kebodohannya. Jika saja ia tidak menulis perasaannya di blogger hal itu pasti tidak akan terjadi dan dia masih bisa berteman dengan Pakha sampai sekarang. Penyesalan itulah yang berulang-ulang Jidan rasakan. Menyesal itu datangnya belakangan jika datangnya di awal itu namanya pendaftaran. So jangan berbuat gegabah yang akan membuat kita menyesal di kemudian hari.
Sementara itu Nawang dan Oci sedang berbincang-bincang dengan sanak saudara yang lain.
"Nunggu di kasih aja dhe. "jawab Nawang.
Setelah mendengar perkataan itu hatinya terasa di cabik-cabik bagaimana mungkin budhe nya tega bertanya seperti itu padanya, yang baru saja kehilangan calon anak.
Sebagai seorang ibu pasti Nawang juga pengen yang namanya menimang anak namun hanya Tuhan yang mengatur semua apa yang terjadi di dunia. Nawang kembali sedih mengingat kejadian saat ia harus kehilangan calon buah hatinya. Rasa hati ingin menangis saat itu juga, tapi ia tidak mungkin melakukannya di hadapan para tamu undangan. Nawang berharap semoga Tuhan segera memberikan kepercayaan lagi padanya untuk menitipkan seorang anak di rahimnya.
"Mas aku ke kamar mandi sebentar ya. "kata Nawang meminta ijin suaminya yang masih berbincang-bincang dengan saudara yang lain.
"Iya ummi. "Jawab Oci kemudian kembali mengobrol dengan lawan bicaranya.
Nawang langsung melangkah cepat menuju kamar mandi, hatinya sudah tidak tahan untuk meluapkan kesedihannya.
__ADS_1
Sesampainya di kamar mandi Nawang langsung mengunci pintu, ia juga tak lupa menyalakan kran kamar mandi.
"Ya Allah kenapa hati ini terasa sesak mendengar perkataan budhe, apa ini artinya aku belum mengikhlaskan bismillah. "kata Nawang di depan wastafel kamar mandi.
(Bismillah adalah nama calon anaknya yang baru saja keguguran).
Kenangan itu seperti embun, tanpa perlu kita pinta, matahari dengan caranya akan membawanya pergi.
Sudah hampir setengah jam Nawang berada di kamar mandi menangis. Setengah jam menangis tak cukup membuat hatinya lega, bahkan ia masih butuh banyak waktu untuk meluapkan seluruh emosi yang terpendam. Namun suara ketokan pintu dari luar mengagetkan dirinya yang tengah sibuk menangis.
Nawang langsung menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya dan mencuci muka untuk menyembunyikan bahwa dirinya baru saja menangis.
"Iya bentar. "Jawab Nawang kemudian membuka pintu kamar mandi itu.
"Ternyata ummi yang ada di dalam."kata Oci.
Belum sempat menjawab pertanyaan Oci, tiba-tiba Nawang terhuyung ke depan.
"Ummi kenapa? apa yang sebenarnya terjadi?ummi sakit? "pertanyaan beruntun yang Oci tanyakan.
"Bi tanya satu-satu dong, ummi bingung jawabnya. "jawab Nawang.
"Maafkan abi, mari aku antar ke kamar tidur. "Kata Oci kemudian menggendong Nawang ala bridestyle.
Nawang segera ke kamar tidur di temani suaminya tanpa menceritakan apa yang barusan terjadi. Dia tidak mau Oci berprasangka buruk pada budhenya. Terkadang diam juga bisa membantu menyelesaikan masalah.
Sementara itu Pakha hanya melamun di depan jendela kamar sambil menatap rintik hujan yang turun membasahi genting.
"Jika rintik hujan tak mampu menghapus sedihku, maka aku berharap matahari datang esok hari membawa kebahagiaan yang baru."batin Pakha tangannya sambil menampung rintik hujan.
__ADS_1
Pesta yang di harapkan berjalan lancar dan happy itu malah melukai hati dua wanita cantik yaitu Pakha dan Nawang selaku tuan rumah.
Sekian dulu ya nantikan kejutan lainnya di episode selanjutnya.