
Nawang mulai mengerjabkan matanya, sebuah kamar dengan cat warna putih dan juga seongok baju di atas sofa petama kali ia lihat saat membuka mata. Tubuhnya terasa dingin, seketika ia menyadari sudah tanpa pakaian sehelai pun yang membungkus tubuhnya, hanya satu helai selimut tebal yang sekarang menutupi tubuhnya.
"Apa yang sudah terjadi padaku.. hik.. hiks.. "
Perasaan takut itulah satu-satunya yang sekarang Nawang rasakan.
Sesaat setelah ia bangun seseorang keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk di tubuhnya, seseorang itu tak lain adalah Dandi.
"Hiks... hiks... kamu jahat tega sekali mengotori tubuhku seperti ini hiks.. hiks.. "kata Nawang di sela tangisnya.
"Ngomong apa sih naee? aku tidak mengerti perkataanmu. "jawab Dandi sambil tersenyum ke arah Nawang.
"Kamu benar-benar iblis. "ucap Nawang marah.
"Naee kamu harus berterima kasih padaku, berkat aku kamu pasti akan terbebas dari pria miskin itu. "kata Dandi nyengir.
"Cuihh. "Nawang melempar ludahnya ke arah Dandi.
"Jorok banget sih naee, tapi tidak apa-apa sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya."ucap Dandi kemudian berjalan meninggalkan Nawang yang masih menangis di atas ranjang.
"Abii.. maafkan umi.. hiks.. tidak bisa menjaga kesucian umi.. aku memang tidak pantas lagi untuk abi.. hiks.. hiks. "Nawang menangisi keadaannya sekarang.
"Kaysa.. dimana...kaysa.. "Nawang baru ingat kemarin ia bersama kaysa.
Nawang langsung bergegas memakai bajunya, ia tidak peduli lagi dengan hidupnya, pikirannya hanya memikirkan putri semata wayangnya.
Ceklek.. ceklek...
Terkunci pintu kamarnya terkunci... Nawang berusaha keras membuka pintu namun ia tidak berhasil membukanya.
Beberapa saat kemudian pintu itu pun terbuka, munculah Dandi di balik pintu itu dengan membawa selembaran kertas yang di atasnya sudah ada materai.
"Cepet tandatangani jika ingin kaysa selamat. "Dandi memaksa Nawang menandatangani surat yang tidak tau apa isinya.
"Apa ini? dimana kaysa sekarang? "tanya Nawang gugup.
"Udah tandatangani dulu, jangan lama-lama kaysa keburu membiru nanti. "Dandi kembali mengancam Nawang.
__ADS_1
Akhirnya Nawang pun menandatangani surat itu dengan tangan bergetar. Dandi merasa senang karna dia sudah berhasil menjalankan rencananya, ia tinggal menunggu Oci untuk menyempurnakan rencana jahatnya.
"Dimana kaysa?? cepat berikan kaysa padaku. "tanya Nawang sangat marah.
"Jangan naif naee...nanti kamu akan sangat berterima kasih padaku. " kata Dandi.
"AKU TANYA DI MANA KAYSA SEKARANG? "Teriak Nawang hingga suaranya terdengar dari luar.
"Kaysa aku pinjam dulu, tapi tenang saja dia aman kok bersamaku. "kata Dandi kemudian keluar lagi dari kamar dan mengunci kembali pintu itu.
"Kamu benar-benar iblis jahat Dandi...Aku benci.. padamu.. hiks. hiks. "kata Nawang sambil menangis merangkul lututnya di depan pintu yang terkunci.
Sementara itu Oci sudah sampai pada tempat yang Dandi katakan lewat chatnya, ia membawa dua lembar kertas yang sudah di tandatangani. Oci kemudian menelfon Dandi.
"Woy... b*ngsat dimana Kaysa sekarang aku sudah membawa surat yang kamu mau, aku juga sudah datang sendiri. "teriak Oci marah.
"Santay broo.. mau bikin gendang telingaku pecah apa, serahkan kertasnya pada anak buahku nanti dia yang akan menemuimu. "ucap Dandi dalam telefon.
"Laki-laki si*lan, cepat beritahu aku dimana Nawang dan kaysa sekarang. "Oci sangat tidak sabar ingin bertemu anak istrinya.
"Santay broo gausa teriak-teriak seperti itu aku tidak budeg, tiruti saja mauku nanti aku serahkan kaysa. "jawab Dandi.
"Emm oke. "jawab Dandi di ujung telepon, kemudian telepon itu pun berakhir.
Dandi kemudian menelfon anak buahnya yang sudah berjaga di beberapa titik. ia menghubungi satu-persatu anak buahnya itu untuk memastikan jika Oci datang seorang diri.
"Iya bos, sepertinya tidak ada orang lain yang mengikutinya. Keadaan terpantau aman bos. "ucap anak buah Dandi di ujung telfon.
Dandi mengakhiri telfon itu kemudian menyuruh anak buahnya untuk membawa kaysa yang sudah pucat untuk di bawa kepada Oci, dari kemarin kaysa tidak di beri makan atau pun air, karna Dandi tidak peduli dengan bocah itu, sehingga keadaan bocah kecil itu menjadi pucat.
"Kaysa.... "gumam Oci melihat putrinya terkulai lemas di gendongan salah satu anak buah Dandi.
"A.. ya.. h. "ucap putrinya kemudian tak sadarkan diri.
"Kaysa sayang bertahanlah nak, ayah pasti akan menolongmu."kata Oci cemas melihat putrinya.
"Jangan banyak omong kau, mana surat yang bos suruh?"tanya anak buah Dandi.
__ADS_1
Oci langsung melempar kertas itu pas di wajah anak buah Dandi, sementara itu langsung di berikan kepada Oci.
"Kaysa sayang... bangun nak ini ayah.. "ucap Oci membangunkan putrinya yang sudah lemas.
"Dimana Nawang? "Oci bertanya kembali pada anak buah Dandi.
"Banyak omong kau... "ucap anak buah Dandi kemudian menendang Oci dengan kakinya hingga tersungkur, dan meninju wajah Oci beberapa kali, namun Oci tetap memeluk dan melindungi putrinya dengan sepenuh hati agar putri kecil yang selama ini ia harapkan tidak terluka. Setelah di rasa Oci tak berdaya anak buah Dandi pun pergi meninggalkan Oci.
"Nak bertahanlah ayah akan membawamu ke rumah sakit. "Ucap Oci kemudian menggendong anaknya dengan sekuat tenaga yang tersisa meskipun cara berjalannya terhuyung-huyung.
Nawang hanya mampu menangis di depan jendela kaca melihat suami dan anaknya yang di siksa anak buah Dandi. Nawang tidak bisa berbuat apa-apa jendela dan juga pintu kamarnya terkunci dengan rapat. Jendela kaca yang tebalkan sepuluh senti itu tahan pecah dan tak bisa di pecahkan meskipun tsunami menimpanya.
"Maafkan ibu... nak.. ibu tidak bisa menolong kaysa lagi... hiduplah dengan baik bersama mas Oci.. "Nawang meratapi ketidak becusannya menjadi seorang ibu, karna dirinya kaysa putrinya berada dalam bahaya.
"Aku percayakan kaysa padamu mas..hiks.. hiks.. "batin Nawang di sela tangisnya melihat kepergian Oci sambil membawa putrinya yang terkulai lemas.
Ceklek
Pintu kamar itu pun terbuka menampakkan wajah Dandi yang tersenyum lebar penuh kemenangan.
"Naee sebentar lagi kamu akan jadi milikku.. peluk aku sayang... "ucap Dandi menghampiri Nawang.
Tanpa Dandi ketahui dari tadi tangan Nawang menyembunyikan sesuatu di balik badannya.
Brakk prang
Sebuah fas bunga tiba-tiba menghantam kepala Dandi, darah mengucur dari kepala Dandi dan ia pun jatuh pingsan saat itu juga.
Pintu yang lupa terkunci itu akhirnya jadi celah untuk Nawang kabur dari Dandi. Dengan tubuh bergetar Nawang pun berlari keluar dari kamar terkutuk itu, saat ia mendengar langkah kaki ada seseorang yang datang ke arahnya, Nawang bergegas sembunyi.
"Suara apa itu... ayo kesana. "ucap salah satu anak buah Dandi menghampiri sumber suara.
Setelah di rasa cukup sepi Nawang langsung berlari keluar dari tempat persembunyiannya untuk menuju ke pintu keluar dari hotel itu.
Pintu keluar sudah berada di depan mata, Nawang berusaha mempercepat larinya namun sosok suara menghentikan langkahnya.
"TUNGGU DULU..... "
__ADS_1
Nawang pun mematung seketika, di ujung pintu kebebasan yang belum berhasil ia lewati.
Sekian dulu ya.. hah siapa sih yang menghentikan Nawang? jangan-jangan itu salah satu anak buah Dandi atau siapa ya? Temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.