Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
R.U.M.O.R


__ADS_3

Dalam perjalanan menuju ke kampus, tiba-tiba Jidan menemukan poselnya berteriak memanggil. Nomor yang tertera di layar kaca ponsel itu tidak dikenalinya, segera ia mengangkatnya.


“Bisa kita bertemu di taman kampus ? aku tunggu di tempat duduk bawah pohon.” Jelas suara tersebut.


“Tunggu!!! Kamu siapa?” Tanya Jidan penasaran.


“Itu tidak penting, aku menunggumu.” menutup telepon.


Langkah Jidan menuju kampus terhenti di pertengahan jalan. Karena rasa penasaran terhadap siapa yang menelepon barusan, dia memutar jalan menuju taman kampus untuk memastikan jika pertemuan ini adalah memang untuk sesuatu hal yang benar-benar penting.


Sesampainya di taman kampus, ia menemukan sesosok wanita cantik berdiri membelakanginya. Dia merasa seperti pernah mengenal wanita itu, sampai-sampai ia merinding jika itu benar wanita yang ingin dia hindari.


Jidan memandang heran dari kaki hingga ujung rambut.


“Permisi, saya Jidan. Apakah Anda yang barusan menelepon saya tadi?” tanyanya memastikan.


wanita itu pun membalikkan badan ke arah Jidan.


“Iya Jidan, aku wanita yang sudah kau rebut hatiku.” kata wanita itu sambil tersenyum menggoda.


“Bu Arasi?” katanya sambil menunjuk ke arah Bu Arasi sang dosen genit.


“Iya, aku memang menghubungi mu dengan nomor ku yang baru agar kamu mau datang ke sini.”


Tanpa menjawab Jidan berlari meninggalkan dosen genit itu.


"Eh Jidan mau kemana kau? berhenti aku ingin bicara!! "teriak bu Arasi.


Jidan tidak peduli lagi dengan panggilan bu Arasi, karna ini masih pagi belum waktunya menjadi asisten dosen itu.


"Belum puas apa dia melihat wajahku setiap hari delapan jam, aku sudah muak melihat wajah genit itu. "kata Jidan bergumam sambil berjalan ke dalam kampus.


Bu Arasi yang masih duduk di bawah pohon itu terlihat kesal sekaligus bingung dengan tingkah Jidan itu yang semakin hari semakin aneh. Seolah sedang menghindari dirinya. Bu Arasi diam dan terus berdiam diri tanpa menghiraukan sapaan mahasiswa lain yang sedang lewat.


Para siswa semakin membenci bu Arasi dengan tatapan tak suka melihat sikap sekaligus kepribadian bu Arasi yang sok cantik di kampus ini.


“Lihatlah abrasi sok cantik itu, jijik banget gak sih.”kata mahasiswa laki-laki dengan temannya.

__ADS_1


"Iya jijik banget aku lihatnya, ngapain pagi buta begini tebar pesona di taman biar laki-laki naksir padanya. "jawab teman mahasiswa kemudian berjalan menuju ke dalam kampus namun berhenti di mulut koridor.


Bu Arasi mendengar perbincangan dua mahasiswa tadi yang membahas dirinya. Ia tetap cuek karna sudah terbiasa mendengar bullyan mahasiswa yang mengolok-ngolok dirinya dari belakang. Bu Arasi pura-pura tidak dengar dan berjalan anggun menghampiri dua mahasiswa yang sedang menjelek-jelek kan dirinya.


BRUG


"Sorry aku tidak sengaja. "kata bu Arasi sambil menutup mulut.


Dua mahasiswa itu pun terjatuh ke lantai setelah bu Arasi dengan keras menabrak mereka berdua. Hati bu Arasi jengkel mendengar perkataan mahasiswa itu, ia memang dengan sengaja berjalan di tengah dan menabrak kedua mahasiswa itu.


Setelah menabrak bu Arasi pergi begitu saja.


"Rasain tuh, kena kan loh dengan tubuh yang tadi kau bilang jijik. Sana mandi kembang tujuh rupa biar bersih. "batin bu Arasi dengan tersenyum.


Dia sangat puas mengerjai mahasiswa itu.


Kedua mahasiswa yang terkena tubuh bu Arasi itu menjadi heboh sendiri.


"Ihh tubuhku kena kulit bu Abrasi, nanti kalau gatel-gatel gimana dia kan kegatelan. "kata salah satu mahasiswa korban tabrak lari bu Arasi.


Dua mahasiswa itu berlari sambil loncat-loncat karena jijik tanpa sengaja malah menabrak Jidan yang baru keluar dari kamar mandi.


Jidan kaget dengan tatapan dua orang yang baru saja menabraknya. Tidak meminta maaf tapi malah menatapnya dengan menohok seperti dia baru saja mencuri permata.


Dua mahasiswa itu langsung pergi dari hadapan Jidan.


"Kenapa sih mereka menatapku seperti itu, emang ada masalah dengan penampilanku. "batin Jidan sambil memeriksa penampilannya.


Kemudian dia berjalan ke koridor kampus tanpa sengaja telinganya menangkap percakapan segerombolan mahasiswa yang sedang asik mengobrol.


"Tau gak sih dengar-dengar ada mahasiswa ganteng loh yang suka sama dosen genit kampus kita, menurut rumor laki-laki itu selalu membututi bokong bohay bu Abrasi. "kata salah satu mahasiswi yang asik mengobrol.


Teman-teman yang lain sedang antusias mendengar perkataan mahasiswi itu.


Jidan yang merasa di sebut dan ikut tersangkut paut di dalamnya merasa kesal dengan rumor palsu yang barusan dia dengar dengan telinganya sendiri. Jidan merasa harga dirinya di injak-injak kalau di bicarakan hal yang tidak dia lakukan dan tidak benar seperti itu. Jidan berjalan dengan langkah kaki yang terdengar keras menuju segerombolan mahasiswa wanita yang asik membicarakannya dari belakang.


"Oh benarkah kalau bu Arasi di sukai mahasiswa laki-laki dan selalu mengikuti bokong bu Arasi? "kata Jidan ikut menyahut perkataan mahasiswi itu.

__ADS_1


Para perempuan itu pun kaget langsung terdiam dan semua tatapannya menuju ke arah Jidan.


"Heh kamu, kenapa diam saja, tadi percakapan kalian terlihat seru sekali"kata Jidan sambil menunjuk mahasiswa berbaju kuning yang tadi bersemangat membicarakan dirinya.


"Kenapa? itu bukan urusanmu. "jawab cuek mahasiswa berbaju kuning yang tidak tau jika laki-laki di hadapannya adalah orang yang baru saja dia bicarakan.


"Hwahaha. "Jidan malah tertawa keras di depan para wanita itu.


Mereka hanya diam tak mengerti dengan ketawa Jidan yang seolah di buat-buat.


"Loe... loe.... loe.. dan terutama elo..."kata Jidan menunjuk satu persatu mahasiswa perempuan di depannya.


"Kamu tau gak hukuman untuk orang yang menyebarkan rumor palsu itu seperti apa, kalau tidak salah di penjara 15 tahun udah begitu di denda 1 M."kata Jidan pada wanita-wanita di hadapannya.


"Apa maksud kamu, kenapa kamu ngawur seperti itu. Mana buktinya jika kita menyebarkan rumor palsu?"sanggah salah satu wanita yang memakai rok hijau.


"Kalian pengen bukti. nih buktinya... "kata Jidan sambil menunjukkan rekaman ponsel miliknya yang sangat jelas merekam obrolan mereka.


Mereka hanya terdiam membeku melihat bukti yang barusan Jidan tunjukkan.


"Kamu tidak usah ikut campur deh, ini urusan kami tidak ada urusannya denganmu. "kata sang wanita berbaju kuning yang tadi asik membicarakan Jidan.


Jidan malah kembali tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban konyol wanita berbaju kuning itu yang tidak tau kalau laki-laki yang ia bicarakan adalah dirinya.


"Laki-laki yang barusan kamu bicarakan adalah aku. "kata Jidan sambil membusungkan dada merasa menang melawan para wanita itu.


Mereka langsung melotot tak percaya, mulut mereka juga langsung terkunci rapat saat itu juga.


"Kalian sudah mencemarkan nama baik ku, aku tidak terima dengan itu, kalian juga telah mencemarkan nama baik bu Arasi salah satu dosen di kampus ini. Dengan bukti yang aku punya kalian tidak akan bisa mengelak. tunggu saja hukuman yang akan kalian terima. Pikir sendiri. "kata Jidan menggertak para mahasiswi itu sambil menghentakkan kakinya.


Mahasiswa itu menjadi takut nyali mereka menciut seketika. Mereka pun panik dan cemas dengan perkataan Jidan barusan.


Sementara itu Jidan malah pergi begitu saja meninggalkan mereka yang terlihat panik.


"Bagus Jidan. Good job. "gumam Jidan sambil berjalan dengan percaya diri menjauh dari mereka.


Sekian dulu ya... masih banyak loh kejutan seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.

__ADS_1


__ADS_2