
Hari-hari telah berlalu, ternyata sudah satu minggu Jidan mampu melewati hari-hari menjadi asisten dosen genit alias bu Arasi atau mahasiswa lain lebih familiar dengan nama Abrasi. Entah sejak kapan panggilan itu ada, mungkin dari generasi alumni terdahulu dan turun temurun hingga saat ini. Jidan dan Bu Arasi berjalan menyusuri ruangan kampus, dan di saat bersamaan ada yang berbisik-bisik melihat mereka berjalan berdua. Secara bu Arasi kan sudah lama menjomblo sedangkan Jidan tampangnya lumayan ganteng, jadi orang yang melihat mereka berdua seperti ibu dan anak atau lebih tepatnya seperti tante-tante dengan brondong.
"Eh lihat tuh ada anak kucing yang membuntuti ekor induknya. "kata seorang mahasiswa laki-laki dengan teman di sebelahnya saat Jidan dan bu Arasi lewat.
"Iya mungkin dia cari mangsa secara dia tidak punya uang, kan sebentar lagi pembayaran semester. "jawab mahasiswa satunya.
Bu Arasi tidak peduli dengan semua perkataan itu karna kata-kata seperti itu sudah lama ia dengar dan Jidan yang mendengar semua itu hampir meluapkan emosinya tapi langsung di halangi oleh bu Arasi.
"Biarin saja mereka mau bilang apa aku juga tidak peduli, lagi pula aku sudah kenyang dengan semua itu. "ucap bu Arasi menahan Jidan.
"Baik bu, aku ke kamar mandi sebentar ya udah gak tahan."
"Baiklah, setelah selesai langsung ke ruangan ibu ya. "kata Bu Arasi berjalan mendahului Jidan.
Setelah bu Arasi agak jauh dari pandangannya, Jidan berbalik arah dan menghampiri dua mahasiswa laki-laki yang tadi mencibir dirinya.
UHUK.... UHUK... UHUK
Jidan batuk di depan dua mahasiswa itu.
"Ngapain loe kesini, anak masih bau kencur seperti kamu mau apa. "ucap salah satu mahasiswa sombong itu.
Mahasiswa itu sudah berada di semester akhir, secara dia akan wisuda tahun ini, makanya banyak berulah dan sok menjadi kakak kelas.
Jidan tidak menjawab apa pun malahan dia langsung memegang tangan kedua mahasiswa itu dan mengusapkan kulitnya mengenai kulit tangan kedua mahasiswa itu.
Dua mahasiswa itu kaget dengan perilaku aneh Jidan.
"Apa yang kamu lakukan pada kami?"tanya salah satu mahasiswa itu dengan heran.
"Maaf... ini rahasia, tapi sebenarnya akhir-akhir ini kondisiku sedang kurang baik. Dokter bilang aku menderita penyakit rabies, aku hanya mencoba kepada kalian berdua ternyata kalian tidak langsung mati dan masih baik-baik saja setelah aku menyentuh kalian. "ucap Jidan sambil menunjukkan kedua telapak tangannya di depan kedua mahasiswa itu.
"Ra.. ra. bies.. katamu.... kamu gila ya.. "teriak kedua mahasiswa itu di depan Jidan.
__ADS_1
Kemudian kedua mahasiswa itu berusaha menggosok-gosokkan bagian tubuhnya yang tadi di pegang Jidan.
"IYA.. RA... BI... ES... " jawab Jidan nyaring di depan mereka berdua.
Dua mahasiswa itu langsung menjauhi tubuh Jidan sambil berlari menuju kamar mandi untuk mencuci bekas tangan Jidan agar tidak tertular penyakit rabies.
Secara penyakit rabies merupakan suatu virus mematikan yang menyebar ke manusia dari air liur hewan yang terinfeksi. Kedua mahasiswa itu langsung takut mereka berjalan terburu-buru menuju kamar mandi sambil menyenggol orang yang menghalangi jalannya. Jidan malah tertawa melihat kedua mahasiswa yang barusan ia kerjain. Sebenarnya kondisi Jidan baik-baik saja, ia hanya bergurau pada kedua mahasiswa itu untuk memberi pelajaran agar mulutnya diam dan tidak sembarangan berbicara.
"Ha... ha.. ha..rasain tuh emang enak aku kerjain. "kata Jidan mengejek kedua mahasiswa itu.
Tiba-tiba punggungnya di tepuk seseorang dari arah belakang, sontak ia langsung berhenti tertawa.
"Eh...ada apa nih ketawa keras seperti itu. "
Tak lama kemudian wajah Pakha muncul di depan Jidan.
"Astaga kaget. "kata Jidan sambil mengelus dadanya.
"Iya maaf deh, lama-lama kamu jadi cerewet seperti emak-emak, atau jangan-jangan kamu memang sudah ketularan bu abrasi ya"ucap pakha meledek Jidan sambil pura-pura merapikan rambutnya yang tidak acak-acakan. Sehingga Jidan menyadari ada sesuatu di jari manis Pakha.
"Jangan bicara ngawur.. tidak lah masa aku ketularan emak-emak...iya-iya aku udah lihat tangannya gak usah di gituin. "ucap Jidan kemudian meraih tangan Pakha yang sedari tadi berusaha di perlihatkan padanya.
"He... he... he.. "Pakha malah tertawa saat Jidan mengetahui maksudnya.
"Nih cincin baru ya beli di mana tuh? "tanya Jidan sambil memperhatikan cincin yang melingkar di jari Pakha.
Pakha terlihat kesal dan manyun saat Jidan salah mengartikan maksudnya.
"Enak saja ini tuh pemberian Boy, dia kemarin melamarku. "kata Pakha bangga pipinya juga menjadi merah merona.
Seketika hati Jidan seperti tertikam sebuah pisau saat Pakha mengatakan kalau dirinya sudah di lamar kekasihnya. Hati Jidan belum sepenuhnya move on dari Pakha, kabar bahagia itu malah membuat hatinya terluka.
Meskipun Jidan sudah sangat berusaha melupakan perasaannya namun ia masih membutuhkan banyak waktu untuk mengubur rasa sukanya.
__ADS_1
"Selamat ya Pakha... ya udah aku pergi dulu soalnya bu Arasi sudah menungguku di ruangannya. "ucap Jidan kemudian meninggalkan Pakha begitu saja.
Pakha tidak mengerti dengan sikap Jidan barusan, entah mengapa sepertinya Jidan malah tidak menyukai kabar bahagianya.
"Apa tadi aku salah ucap ya, Jidan sepertinya tersinggung dengan perkataan ku. "batin Pakha melihat punggung Jidan menjauh darinya.
Setelah punggung Jidan menghilang dari pandangannya, tanpa sengaja matanya menangkap satu sosok yang mencurigakan, sosok itu sedang membentur-benturkan kepalanya di tembok kampus. Orang lain yang berlalu-lalang tidak menghentikan sosok baju merah itu, atau mungkin sosok itu hanya dia yang bisa melihatnya.
Pakha berjalan mengendap-ngendap berusaha agak mendekat untuk memastikan penglihatannya. Ia sudah berjarak dua meter dengan sosok berbaju merah itu.
Jantungnya berdetak kencang bukan karna jatuh cinta loh ya tapi karna merasa takut sekaligus menyiapkan mentalnya jika dugaannya benar kalau sosok itu bukan manusia.
Sosok itu masih saja membenturkan kepalanya ke dinding kampus, terlihat banyak darah yang merembes dan menempel di tembok yang di gunakan untuk membenturkan kepala sosok itu.
"Pakha ada telfon masuk cepat angkat siapa tau penting. "suara nada dering hpnya mengagetkan dirinya yang sedang tegang tegangnya menatap sosok misterius itu.
"Aishh mengganggu saja...siapa sih yang telfon. "kata Pakha kesal kemudian mengangkat panggilan itu dan pandangannya beralih menuju ponsel yang sedari tadi berdering.
"Waalaikumslm sayang, iya nih aku belum masuk kelas... iya udah sarapan kok.... iya bawel.. muachh.. waalaikumslm. "ucap Pakha saat menjawab telefon tersebut.
Setelah sambungan telepon itu berakhir Pakha kembali menatap sosok berbaju merah yang membenturkan kepalanya, matanya kaget setelah ia melihat ke arah yang sama sosok itu sudah menghilang dari pandangannya.
"Loh kemana sosok tadi, bukannya tadi dia sedang di situ ya. "gumam Pakha bingung saat kehilangan sosok itu.
Tembok bekas kepala sosok itu pun menjadi bersih tak berbekas, Pakha sangat heran dengan hal itu.
"Biarin lah itu bukan urusanku, aku harus masuk kelas sudah hampir jam 8 ."kata Pakha kemudian berbalik badan.
Namun ia malah terkejut ternyata sosok berbaju merah itu sekarang tepat berdiri di belakangnya dan sekarang wajah Pakha hanya berjarak lima senti dari wajah hancur yang di penuhi darah segar di kepalanya dan menampakkan lidah panjang menjulur keluar sampai kaki.
Pakha syok langsung kehilangan kesadaran saat itu juga.
Sekian dulu ya... kira-kira apa yang selanjutnya terjadi pada Pakha?nantikan jawabannya di episode selanjutnya... semangat membaca.
__ADS_1