Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Ketika Hati Lebih Jujur


__ADS_3

Tring.. triring....


"Assalamualaikum dek.. "


Suara yang Pakha sangat kenal dan ia kwatirkan sudah terdengar lagi.


Air matanya tak kuasa menetes karna rasa syukur yang tak terhingga pada sang pencipta.


"Waalaikumslm, gimana keadaan kak Nawang? tidak terjadi hal buruk kan? "tanya Pakha kwatir.


Di saat bersamaan Jidan sudah tiba di samping Pakha sambil membawa buku-buku yang ia pinjam dari perpustakaan.


"Ada apa kenapa kamu nangis? "tanya Jidan panik ia takut jika kejailannya tadi membuat Pakha nangis.


"Jid kak Nawang sudah kembali. "bisik pakha di telinga Jidan. Kemudian melanjutkan kembali obrolan di telefonnya dan meninggalkan Jidan yang mematung di tempat.


Bisikan Pakha membuat sang punya telinga menjadi baper.


Deg.. deg... deg...


Detak jantungnya berdetak kencang tak beraturan seperti ingin beranjak perang.


"Cukup aku harus move on. "batin Jidan sambil mengepalkan tangannya.


"Aduhh. "suara teriakan seseorang di belakangnya.


Tanpa sengaja kepalan tangannya mengenai jidat sang dosen wanita yang sedang lewat.


"Maaf bu saya benar-benar tidak sengaja. "kata Jidan sambil membungkuk, matanya melotot melihat ulah tangannya yang membuat jidat sang dosen menjadi membiru. Ia tak menyangka akan mendapatkan masalah sepagi ini, dan Jidan juga tak menyangka semangatnya untuk move on malah membawa petaka.


"Mati deh riwayat ku urusan dosen yang satunya aja belum kelar dan ini dapat masalah lagi sama dosen centil. "batin Jidan sambil menepuk jidatnya sendiri.


Kalian masih ingat kan dengan dosen yang memberi Jidan tugas lebih sulit dari biasanya dan tugas itu untuk satu tingkat di atasnya. Eh sekarang ia dapat masalah lagi dengan dosen yang terkenal dengan kecentilan nya. Sungguh nasib yang tidak beruntung, kenapa ia harus berurusan terus dengan dosen bikin emosi naik turun saja.


"Beruntung sekali wajahmu mampu menyelamatkan kamu dari hukumanku. "kata dosen wanita dengan bulu mata cetar seperti badai dan bedak setebal kasur.


"Hah apa maksud ibu? "tanya Jidan tak mengerti.

__ADS_1


"Kamu bisa menghindari hukuman kalau kamu mau jadi asistenku selama satu bulan. "kata dosen centil itu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Hah apa? "Jidan kaget dengan perkataan dosen tadi.


"Nyebelin deh, kuping kamu tuh selalu tidak dengar apa kataku... ganteng-ganteng budeg. "kata dosen wanita itu.


"Maaf bu saya sudah banyak jadwal, ibu boleh menghukum aku selain menjadi asisten ibu "kata Jidan.


"Tidak bisa kamu pokoknya mau tidak mau harus menjadi asistenku. "kata dosen itu dengan memaksa.


"Tapi bu... "jawab Jidan tidak trima.


"Jika kamu tidak mau dengan terpaksa ibu kasih nilai E dan di pastikan kamu akan mengulang semester ini. "Ancam dosen centil itu.


Mendengar ancaman bu dosen centil, Jidan terpaksa mau menjadi asistennya. Hal itu ia lakukan untuk bisa naik ke semester selanjutnya. Ia kini semakin sibuk, selain tugas dari dosen sebelumnya belum selesai, kini ia juga harus menjadi asisten dosen. Tanpa di ragukan lagi menjadi asisten dosen itu sibuknya kayak apa kalian tau sendiri lah. Dia juga punya tanggung jawab sebagai ketua tingkat (kating) yang harus ia handle. Sungguh nasib yang sangat tidak beruntung. Jidan juga harus menyiapkan mentalnya untuk menghadapi sikap dosen centil itu kedepannya. Pikiran beserta tubuhnya seperti terbelah-belah di beberapa pihak.


"Hei polisi jelek beraninya kamu mengurungku di sini. "teriak Dandi saat di sel penjara.


Polisi mengabaikan teriakan Dandi namun macan di sebelahnya terbangun karna teriakan Dandi barusan.


"Heii anak baru, sialan kau. "kata macan itu kemudian memukul wajah Dandi.


Orang itu satu sel dengan Dandi panggil saja dengan macan karna ia paling galak dan paling di takuti napi yang lain. Dengan rambut gondrong ;muka lebar ;badan hitam gendut dengan lengan di penuhi banyak tato membuat siapapun begidik ngeri jika melihat macan itu mengamuk.


Dandi yang belum mengetahui tenaga lawannya itu sekuat gajah, ia malah menantang pria bertubuh besar itu sehingga tambah membuat amarah sang macan berkobar-kobar. Akhirnya dia dan macan itu bertengkar, sialnya hanya satu pukulan saja Dandi sudah terkapar lemas di atas lantai.


"Sini kau cecunguk kecil berani sekali melawanku, biar ku kirim kau ke alam barzah. "kata macan itu kemudian berjalan menghampiri Dandi yang terkapar.


Ketika macan itu ingin kembali memukul Dandi, polisi yang bertugas melihat kejadian itu kemudian memisah mereka berdua. Sekarang Dandi dan macan itu sudah berbeda kandang. Polisi melakulan itu agar tidak saling melukai antar napi.


Meskipun sekarang kandang mereka berpisah namun tetap saja bersebelahan.


"Apa kau lihat-lihat. "kata Dandi geram di kandang barunya.


Sedangkan macan itu melompat-lompat seperti ingin menelan Dandi hidup-hidup namun sekarang ia tidak bisa melakukannya.


"Awas saja kau..... "geram macan itu dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Hahaha aku tidak takut...paling besok aku akan segera keluar dari tempat kumuh ini. "kata Dandi sombong.


Ia percaya bahwa ia bisa menyewa pengacara yang paling mahal dan keren untuk bisa membebaskan ia dari dalam penjara.


"Hei gemuk tempat ini tuh tidak pantas untuk sultan seperti diriku...tempat ini tuh lebih cocok untuk sampah kotor sepertimu. 'kata Dandi mengejek macan di sebelahnya.


Macan itu semakin marah namun tidak bisa menyentuh tubuh Dandi, macan itu hanya meninju kawat yang menyekat di antara mereka berdua.


Begitulah keadaan di dalam sel saat Dandi tiba, yang awalnya damai menjadi rusuh tak karuan. Dandi sekarang menjadi tahanan sementara, jika pengacaranya bisa membuktikan bahwa Dandi tidak bersalah maka dia langsung bebas setelah sidang. Dan jika bukti-bukti yang di kumpulkan kurang maka Dandi pun bisa langsung bebas. Memang begitu lah prinsip hukum.


Sementara itu di kediaman Nawang begitu sejuk dan damai, seperti mendapat hujan di tengah musim kemarau.


"Ummi lagi apa? "tanya Oci sambil merangkul pinggang Nawang.


"Ini bi ummi barusan telfon Pakha, aku kwatir dia kepikiran soal aku. "jawab Nawang.


"Terus gimana? "Oci bertanya lagi.


"Iya udah gitu saja, abi sekarang suka kepo deh. "kata Nawang sambil mencubit perut Oci. Namun tanpa sengaja tangannya malah mencubit ular kobra milik Oci.


"Ummi menggoda abi ya. "kata Oci sambil tersenyum menja.


Nawang hanya diam tidak mengerti apa maksud perkataan suaminya itu. Ia kemudian berjalan menuju kamar tidur kemudian mencopot bajunya karna ia mau mandi, badannya sudah di penuhi oleh keringat. Oci membuntuti dari belakang, ia mengira istrinya sudah siap untuk enak-enak.


"Ummi pengen di kamar mandi ya?"tanya Oci tentang enak-enak namun perkataan itu punya maksud lain di pikiran Nawang.


"Iya bi, badanku udah lengket nih pengen cepet-cepet."kata Nawang pengen cepet-cepet mandi.


"Ayo abi udah siap nih."kata Oci kemudian bersemangat melepas baju yang menempel di tubuhnya.


"Udah siap apa bi? "Nawang bertanya benar-benar tidak mengerti maksud suaminya .


"Siap untuk buat dedek. "Jawab Oci sambil melepas seluruh pakaiannya.


"Apa sih maksud abi. "Nawang mengernyitkan dahinya.


"Ini maksud abi. "kata Oci lalu mendorong Nawang ke kamar mandi kemudian mengunci kamar mandi itu.

__ADS_1


"Abiii apa yang kamu lakukan? tidakk jangan biii..... ehhh geli bi... "teriak Nawang di balik kamar mandi yang tertutup itu. Entah apa yang terjadi di dalam sana. Menurut kalian mereka sedang ngapain ya??


Sekian dulu ya...gimana sih kelanjutan Dandi di dalam penjara dia akan di adili atau akan bebas begitu saja. Terus gimana kelanjutan Jidan yang harus menjadi asisten dosen centil?? nantikan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.


__ADS_2