
Setelah berjalan sejauh lima ratus meter akhirnya mereka berdua tiba juga di tempat penginapan Rai, laki-laki yang baru Nawang kenal tepat saat ia berada di dalam kereta.
"Ayo silahkan masuk, tidak apa-apa, aku tidak akan menggigitmu kok. "
Rai melepas sepatunya dan menatap Nawang dengan senyum manis.
Nawang mengangguk. Kaki kotornya mulai ikut masuk ke dalam penginapan sederhana Rai, jika di perhatikan dengan seksama kaki Nawang ternyata banyak yang lecet karna dari tadi ia tidak memakai alas kaki saat turun di stasiun dan berjalan sampai depan penginapan Rai.
"Rapi, bersih juga unik."batin Nawang saat melihat isi ruang penginapan Rai yang tertata rapi dan estetik dengan banyak lukisan unik yang terletak indah di sepanjang dinding.
"Nawang kemarilah! "Rai menyuruh Nawang untuk duduk di kursi yang ia tunjuk.
Nawang masih melamun tidak merespon perkataan Rai, tanpa dua kali berkata Rai langsung menghampiri Nawang dengan membawa kotak ditangannya.
Rai tiba-tiba jongkok di depan Nawang yang berdiri tangannya dengan cekatan membalut luka kaki Nawang dengan hansaplas.
Nawang melotot tajam, ia kaget dengan perlakuan Rai pada dirinya.
"Di suruh duduk gak mau, jadi susahkan. "gumam Rai namun terdengar jelas di telinga.
"Apa yang sedang kamu lakukan? "
"Punya matakan. "jawab ketus Rai.
"M.. ma.. maksudku.. aku tidak apa-apa. "Ucap Nawang sambil melihat kakinya yang di tempeli banyak hansaplas.
"Sudah selesai, sana bersihkan dirimu dahulu. "Rai mendongak ke atas.
Kini pandangan mereka berdua saling bertemu, karna dari tadi Nawang melihat ke arah bawah dan Rai tiba-tiba saja mendongak ke atas.
Rai langsung berdiri kemudian berjalan meninggalkan Nawang yang masih berdiri mematung.
"Aku kenapa sih, mikir apa aku tadi... "batin Rai sambil menepuk-nepuk pipinya yang memerah.
Sedangkan Nawang langsung berjalan masuk ke kamar mandi yang Rai tunjuk.
Ceklek. Pintu kamar mandi dikunci, Nawang langsung membasuh wajahnya dengan air kran yang mengalir.
"Wajahku kenapa merah begini. "batin Nawang sambil menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan saat bercermin di depan kaca wastafel.
TOK.. TOK.. TOK
"Iya bentar.. "ucap Nawang kemudian berjalan membuka pintu kamar mandi.
"Ini untuk sementara pakai dulu."kata Rai sambil memberikan Nawang kaos panjang dan celana jeans milik Rai waktu masih smp.
"Ma.. makasih. "ucap Nawang sambil menerima pemberian Rai.
__ADS_1
Rai tidak menjawab apa pun, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Nawang yang masih mematung di depan pintu.
"Kamu baik Rai seperti mas Oci, abi aku rindu."batin Nawang saat melihat kepergian Rai yang hanya menampakkan punggung lebarnya.
Sementara itu di sebuah hutan terdalam seorang manusia asik berbincang-bincang dengan makhluk gaib di sebuah gubuk reot milik Boy sang dukun berwajah kucel.
"Apaan sih, dasar manusia halu. "ucap Pakha geram saat mendengar perkataan Boy jika bersama dirinya.
"Ha.. ha.. dulu kamu benar-benar suka banget loh pergi ke pantai denganku, kita Bahkan saling berbalas pantun disana. "ucap Boy menceritakan masa lalunya saat bersama Pakha.
"Pantai apa itu? "batin Pakha, ia tidak mengerti apa itu pantai, karna ingatannya masih hilang dan selama ia hidup sebagai makhluk gaib hanyalah gelap yang ia temui sepanjang hidupnya. Kegelapan tiada ujung. Meskipun istananya lengkap sih dengan kemewahan di bandingkan gubug reot Boy yang tidak ada apa-apanya dengan kenyamanan istana hutan kelam. Namun selama itu Pakha tidak bernah bertemu dengan dunia luar yang indah, dunia manusiawi yang tidak pernah ia bayangkan.
"Bagaimana kalau kamu ikut aku ke pantai? akan aku tunjukkan bagaimana indahnya pantai. "kata Boy memberi tawaran pada Pakha.
"Mmm.. baiklah, tapi sebelum itu bagaimana kalau kamu membersihkan tubuh dan rambutmu itu terlebih dahulu."ucap Pakha sambil melirik Boy dengan tatapan jijik.
"Ah.. jadi dari tadi kamu merasa terganggu dengan bau tubuhku ya, ku kira makhluk halus sepertimu tidak bisa menciumnya.. he.. he.. sorry soalnya aku belum pernah mandi semenjak satu tahun yang lalu. "ucap Boy sambil menggaruk tengkuknya.
"BUSET.. gak ketombean apa tu rambut, gak panuan apa tu kulit.. ih jorok banget sih..amit-amit kalau dulu aku pernah pacaran sama kamu. "batin Pakha sambil menutup hidungnya dan matanya melotot tajam ke arah Boy.
"Ya udah aku mandi dulu ya.. atau kamu mau ikut? "tanya Boy sambil tersenyum ke arah Pakha yang menutupi hidungnya.
"Ih.. amit-amit deh emang aku setan mesum apa. "jawaban Pakha sambil memonyongkan bibirnya ke depan.
"Manisnya.. meskipun kamu tidak ingat aku tapi kamu tetap Pakha yang dulu ku kenal."batin Boy, kemudian berjalan menuju sungai untuk mandi.
Setelah Boy pergi ke sungai, Pakha menjalankan rencana awalnya yaitu untuk mencari tau tentang manusia itu. Ia menggeledah semua barang-barang milik Boy tak terlewat satupun. Namun bukan petunjuk yang ia dapat hanya sebuah keris kuno, berbagai macam alat ritual dan bunga yang ia temui.
"Sedang apa kamu? "
DEG
Suara Boy tiba-tiba mengagetkan dirinya yang masih berada di pojok gubuk.
"Cepet banget sih, mandi atau cuma menyelam tu manusia. "batin Pakha kesal kemudian tubuhnya berbalik menuju ke arah sumber suara di belakangnya, tak lupa wajahnya tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.
"Ah.. aku.. "perkataan Pakha tiba-tiba terhenti ketika melihat wajah Boy.
Wajahnya seketika seperti di terpa hawa kesegaran saat melihat wajah Boy yang bersih dari debu juga rambut panjangnya yang nampak lurus saat masih basah.
"Apakah benar dia dukun kumal itu? "batin Pakha tidak percaya yang sekarang berdiri di depan wajahnya adalah dukun kumal yang ia kenal.
Baju yang masih basah memperlihatkan lekukan tubuh Boy bak model, yah meskipun masih terhalang selembar kain namun nampak terlihat sangat jelas sampai-sampai mulut Pakha menganga lebar dan bunga yang tadi ia pegang sampai terjatuh ke tanah.
Meskipun wajah Boy masih tertutupi kumis tebal juga berewok namun kegantengannya tidak bisa di pungkiri, ia masih terlihat gagah dengan wajah bersih kulitnya putih persis seperti artis papan atas jika berewok dan kumisnya di hilangkan.
"Ehem.. kok malah bengong. "
__ADS_1
"Emm... anu...ah tadi aku hanya ingin mengambil bunga ini. "kata Pakha kemudian mengambil kembali bunganya yang tadi terjatuh.
"Ya udah.. ayo sekarang berangkat. "
"Kemana? "tanya Pakha gugup, sekarang wajahnya sangat merah persis seperti kepiting alaska yang baru di angkat dari kukusan.
"Ke pantai sayangku...katanya tadi pengen lihat pantai. "jawab Boy kemudian tersenyum melihat wajah Pakha yang nampak merah berseri.
"Oh... "
Pakha hanya menjawab satu kata, entah mengapa dirinya sangat gugup melihat manusia itu.
Mereka berdua pun mulai berjalan kaki menuju ke pantai dengan melewati jalan pintas ke arah hutan yang Boy pandu, semenjak Boy tinggal lama di dalam hutan dan meninggalkan kekayaan beserta keluarga nya ia sudah begitu hafal jalan pintas menuju ke segala arah.
Di dalam perjalanan tanpa Boy ketahui Pakha selalu melindunginya, saat ada ular yang tidak sengaja ingin mendekati Boy, Pakha dengan sigap menghabisi ular itu dengan sisa kekuatannya. Sehingga perjalanan itu terasa aman sampai tujuan.
Sekitar setengah jam perjalanan dari hutan itu, akhirnya mereka berdua sampai juga di pantai yang belum terjamah manusia satupun itu, suasana sepi hanya deburan ombak yang terdengar nyaring dari kejauhan.
Splash.. splash...
Suara ombak menghancurkan batu karang, juga hamparan pasir putih yang berkelap-kelip seputih salju dengan langit senja berwarna merah jambu yang terbentang luas, indahnya pohon bakau yang berdiri gagah di bibir pantai, juga angin sejuk yang menambah keelokan pantai tak berpenghuni itu. Pantai yang masih benar-benar asli.
Pakha tersenyum melihat mahakarya sang pencipta dengan macam keindahan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Pantai? inikah yang namanya pantai. "batin Pakha menatap indahnya ombak pantai yang melambai-lambai dari kejauhan.
"Indah bukan? "kata Boy yang juga berdiri di sampingnya sambil membusungkan dadanya dan merentangkan kedua tangannya seperti berada di atas kapal titanic, sambil menghirup kesegaran angin pantai. Rambut panjangnya yang sudah kering ikut menari-nari di terpa angin, juga wajah ganteng yang tertutup kumis itu tersenyum riang ke arah Pakha yang juga menengok ke arahnya.
"Ukhh.. "tiba-tiba kepala Pakha terasa berat dan splas.. ingatan masa lalunya tiba-tiba muncul.
flashback
"Ha... ha.. sayang ayo kejar aku.. "teriak Pakha yang berlari di bibir pantai, di belakangnya terdapat seorang laki-laki memakai celana pendek, t-shirt putih yang mengejar dirinya.
"Sayang tunggu aku.. "teriak laki-laki itu kemudian menangkap tubuh Pakha dan menggelitik i pinggang Pakha. Mereka berdua terlihat sangat riang dan tertawa terbahak-bahak.
flasback end
"Pakha.. kamu kenapa? apa yang sakit? "tanya Boy kwatir saat melihat Pakha memegang kepalanya.
"BOY WILLIAM. "gumam Pakha kemudian air matanya menetes saat menatap wajah Boy.
"Hah barusan kamu bilang apa? "tanya Boy saat mendengar gumaman Pakha yang tidak jelas.
GREP
Tiba-tiba Pakha memeluk tubuh Boy dengan erat.
__ADS_1
"Maaf.. maaf.. hiks.. hiks. "kata Pakha masih memeluk tubuh Boy yang seketika membeku.
Sekian dulu ya..wah ingatan Pakha sudah mulai kembali.. gimana sih kelanjutan asmara beda dunia itu? temukan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Tetap semangat membaca.