
Saudara?apa yang ada di benak kalian?
Saudara adalah anggota keluarga yang seibu/atau seayah suatu individu.
Bagaimana jika kalian malah mencintai saudara sendiri? bukan cinta sebagaimana keluarga tapi cinta sebagai lawan jenis/pasangan. Apakah perasaan mencintai itu suatu hal yang salah? tidak!menurutku takdir lah yang lebih kejam dan perasaan itu tidak pernah salah. Semua makhluk hidup berhak mencintai satu sama lain, seperti cinta manusia kepada manusia, cinta manusia kepada hewan, cinta manusia kepada tumbuh dsb.
Hari ini alam tidak seperti biasa, langit mendung seolah tau kalau ada banyak kesedihan di bumi. Awan sedang melihat keadaan, di mana hujan pantas turun untuk mengganti tangisan pilu. Sekarang Jidan sedang menangis di depan makam Pakha.
Dan mendadak seberkas sinar matahari membersit dari gundukan mendung. Gerimis tiba-tiba turun bersama kilas cahaya tipis di langit. Pelan-pelan membasahi area makam. Bulir-bulir air berlomba-lomba meluncur turun dari mega hitam menuju bumi yang basah dan ikut menghapus air mata Jidan yang sudah membasahi pusara cinta pertamanya.
"Pakha apa yang harus aku lakukan sekarang, dulu aku telah kehilangan dirimu wanita yang aku cintai, dan sekarang aku tak akan sanggup jika harus kehilangan dia kembali. "ucap Jidan sambil mengelus batu nisan Pakha.
Kini seluruh tubuh Jidan sudah basah terkena air hujan, badannya menggigil kedinginan namun masih sanggup ia tahan. Kenyataan pahit yang mampu merobek hati dan jiwanya membuatnya tidak bisa berdaya. Sakit hatinya tak mampu mewakili sakitnya mencintai saudara sendiri. Di satu sisi ia harus bahagia punya saudara baru tapi di sisi lain bagaimana ia bisa sanggup untuk memudarkan rasa cinta yang sudah pekat di dalam hati. Bahkan seribu anak panah menusuk tubuhnya tidak bisa mewakili bagaimana rasa sakitnya harus satu rumah dengan orang yang kita anggap pasangan. Apakah bisa??tidak terjadi apa-apa?
"Pakha apa aku ikut dirimu saja agar rasa sakit ini terkubur bersama jasadku? aku... aku tidak akan sanggup bila harus hidup seperti ini hiks...hiks.. "ucap Jidan memeluk makam Pakha.
Dunia lain
PAKHA.... PAKHA...
Sekejab aku langsung terbangun.
Akhir-akhir ini dalam mimpiku selalu muncul laki-laki dengan wajah samar yang menangis memanggil namaku, mimpi itu terus berulang hingga menyebabkan banyak misteri yang menimbulkan ratusan pertanyaan di dalam otakku.
"Siapa laki-laki itu? "
Dia menangis seolah aku sangat berarti dalam hidupnya. Dia terisak sambil beberapa kali menyebut namaku. Sampai saat ini pun aku tidak tau siapa dia. Kepalaku pusing dadaku terasa sesak saat aku berusaha mengingat kembali wajah pria di mimpiku.
"Sayang ada apa, apa tadi malam aku terlalu keras? "tanya Bima kwatir.
"Tidak kok, kepalaku hanya pusing saja tapi sudah tidak apa-apa. "jawab Pakha kemudian berdiri dari ranjang empuknya.
"Mau kemana lagi? "
"Aku harus membantu arwah yang lain, aku punya tugas yang sangat banyak. "ucap Pakha kemudian menyulap pakaiannya menjadi layaknya seorang ratu.
"Biarkan saja mereka tenang di istana ini, lagi pula itu bukan urusan kita kan."gerutu Bima karena masih ingin bersama Pakha.
"Aku pergi dulu."kata Pakha langsung menghilang dari pandangan Bima.
__ADS_1
Bima kesal kemudian melempar bantalnya mengenai udara kosong.
Di saat Pakha ingin membantu arwah lain ia malah menemukan suatu keanehan yang tiba-tiba muncul di alam bawah sadarnya.
Seketika kepalanya menjadi pusing.
..."Anak tak tau diri, nilai sampah. "...
Tiba-tiba bayangan wajah laki-laki yang menjadi ayahku muncul bersama ingatan masa lalu yang sedikit demi sedikit terkuak. Masa lalu yang buruk, ingatan yang justru aku ingin melupakannya bahkan setelah kematian menjemput. Kehidupan apa yang pernah aku jalani sebelumnya?
Ingatan kelam itu membuatku ingin mati kembali setelah mati, apa hal itu yang membuatku menjadi ratu di hutan kelam ini?
kehidupanku yang kelam apakah karena itu aku tidak tenang dan tidak di trima di sisi Tuhan?
Milyaran pertanyaan masih berputar-putar di kepalaku.
Nenek syamsin, aku ingin menanyakan bagaimana kehidupanku pada nenek syamsin. Aku pun bersusah payah mencari keberadaannya yang kadang ada dan kadang tidak ada. Melalui usaha dan kegigihan yang kuat akhirnya aku menemukan Dia. Aku pun bertanya sesuatu tentang diriku sendiri padanya. Nenek syamsin hanya memberikan Tiga patah kata. "orangtuamu masih hidup".
Kenyataan yang baru ku dengar bahwa orang tua ku masih hidup membuat aku penasaran. Aku berencana ingin mengunjungi mereka.
Dan malam ini aku datang menemuinya, sesampainya di dunia manusia aku nyaris tidak bisa mengenali orang tuaku. Rambut yang hitam berubah menjadi memutih, tubuh mereka terlihat kurus, dengan banyak lipatan di sekitar pipi mereka/keriput yang membuat hatiku teriris pilu. Aku baru menyadari ternyata orang tuaku sudah tua. Satu hal yang membuatku kaget, ayahku telah keluar dari pengkarakterannya selama ini. Keangkuhan yang pernah bersarang di jiwanya telah lenyap menjadi sekam.
"Pakha maafkan kami, tolong tenanglah di alam baka, ka... kamu itu sudah mati. "kata ibuku dengan tubuh bergetar.
Sikap mereka kepadaku kali ini jelas-jelas menunjukan dosa mereka begitu besar terhadapku. Sebenarnya aku tidak begitu ingat tapi dadaku terasa sesak setiap kali aku melihat wajah mereka. Seperti ada rasa dendam yang mengakar di dalam hati. Aku pun terpelatuk dan turut terisak menahan rasa sakitnya hati ini. Namun dari cara bicaranya terlihat benar kalau mereka benar-benar menyesali semua sikapnya selama kami bersama. Di saat yang sama aku mendapat gambaran kembali masa silam atas sikapku yang baik kepada mereka meskipun mereka bersifat sebaliknya.
Ternyata sifat keras ayah telah memicu rasa takut dan sesak yang tadi aku rasakan. Apakah karna mereka berdua aku tidak tenang? tapi intuisiku berkata lain. Bahkan setelah bertemu mereka hatiku masih dipenuhi beban yang tak tau sepenting apa aku melewatkannya. Aku memutuskan untuk pamitan pada mereka. Aku kembali ke hutan kelam di mana tempat ku berada saat ini, hutan yang penuh dengan energi kelam, energi jahat, energi hitam yang membumbung pekat.
"Astaga kaget. "teriak Bima saat tiba-tiba Pakha muncul di depannya.
"Maaf bim. "ucap Pakha lesu.
"Dari mana sayang, kenapa wajahmu suram begitu? "tanya Bima penasaran.
"Kamu selalu saja kepo dengan urusanku. "jawab Pakha sambil melengos dan berjalan meninggalkan Bima.
"Aneh kenapa sikapnya berubah-ubah seperti itu, saat masih jadi manusia ia begitu lembut dan manis. "gumam Bima sambil melihat kepergian Pakha.
Di rumah Jidan
__ADS_1
Suasana begitu mencekam, seakan akan terjadi badai yang menerpa keluarga Jidan.
Ibu Jidan hanya mengaduk-aduk piring di depannya tanpa memakan satu sendok pun. Sedangkan ayah Jidan tetap makan lahap tanpa mempedulikan sekitarnya, mungkin karna ia sedang sangat lapar. Sedangkan adik Jidan, clarisa merasa muak dengan suasana di meja makan kali ini, ia melirik ke kanan dan ke kirinya menampakkan dua orang yang tidak menyendok makanan sama sekali.
TRING
Sendok di tangan clarisa sengaja dia banting, namun keadaan malah tambah ruyam.
"Clarisa apa-apaan kamu, jangan tidak sopan seperti itu. "bentak ayah Jidan.
"Aku tidak nafsu makan pa, di kanan kiriku mereka berdua hanya mengaduk makanan di piring. Sebenarnya ada masalah apa sih, kenapa kalian tidak menghargai makanan seperti itu. "teriak clarisa kesal sambil memonyongkan bibirnya.
"Clarisa cukup, berani sekali kamu meninggikan suaramu di depan mama papa dan juga sekarang ada tamu."teriak ayah Jidan tak kalah kerasnya.
"Sudah cukup kalian jangan bertengkar seperti itu, aku ingin mencari Jidan. "jawab mama Jidan kemudian berdiri dari duduknya meninggalkan meja makan.
"Saya juga permisi dulu om."kata bu Arasi mengejar mama Jidan.
"Sebenarnya ada apa sih, kenapa suasana begitu menyebalkan seperti ini, aku sudah kenyang hanya dengan mendengar teriakan papa barusan"kata clarisa kemudian ikut meninggalkan meja makan dan berjalan menuju ke kamarnya.
"Sudahlah kalian pergi saja, biar aku sendiri yang menghabiskan makanan ini ha... ha.. ha... "gumam papa Jidan sambil mengunyah makanan di mulutnya.
Papa Jidan tergolong orang yang bodo amat, asalkan pekerjaannya beres dia akan tenang, meskipun para keluarganya perang sekalipun ia tidak begitu peduli. Karna yang ada di dalam otaknya masalahmu ya masalahmu bukan masalahku.
Sementara itu mama Jidan dan bu Arasi berdebat di halaman rumah Jidan, hal itu karena bu Arasi ingin mendengar penjelasan ibu kandungnya yang selama ini tidak ada kabar dan tega meninggalkan dia begitu saja.
"Ibu JAHAT macam p*lacur, bagaimana mungkin orang tua tega membuang anak kandungnya sendiri, sementara ibu malah sibuk bahagia dengan keluarga yang baru."teriak bu Arasi kesal.
Langkah mama Jidan terhenti, ia kemudian berbalik badan dan berjalan menghampiri bu Arasi.
PLAKK
Tiba-tiba tangan mama Jidan menampar pipi bu Arasi.
Bu Arasi semakin naik darah, mengapa dia harus mendapat perlakuan yang tidak baik dari ibu kandungnya sendiri. Namun anehnya tangan mama Jidan setelah menampar putrinya tiba-tiba bergetar.
Hati bu Arasi merasa tercabik-cabik tak terbentuk ketika baru saja mendapatkan tamparan keras dari ibu yang selama ini ia rindukan. Bu Arasi pun langsung terisak dan akhirnya air matanya tidak mampu ia bendung dan menjadi tumpah ruah di wajah cantiknya.
Sekian dulu ya... nantikan keseruan lainnya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1