
Tok... Tok.. Tok..
Suara ketokan pintu membuat sang pemilik kamar menjadi kesal.
"Aissh apa lagi sih, mengganggu terus. "gumam Boy sambil berdecak kesal.
Dengan langkah terpaksa ia pun membuka pintu tersebut, sebuah wajah yang menampilkan senyum lebar di wajahnya di ikuti dua orang yang menunduk ke bawah sedang berdiri di depan Boy yang dingin sedingin bongkahan es batu.
"Ada apa? "tanya Boy ketus.
Aura dingin seketika menerpa wajah orang yang berada di depannya, rasa gelisah dan takut menyeruak masuk ke dalam tulang.
"Sa.. sa.. ya.. membawakan yang tuan muda suruh, ini si tukang cukur dan ini si dokter kulit."kata sang kepala pelayan dengan wajah ketakutan.
"Oh..masuklah.. yang tidak berkepentingan silahkan pergi.. aku tidak suka KERAMAIAN. "jawab Boy dengan menekankan kata keramaian.
Kepala pelayan itu pun sadar atas omongan Boy, ia pun mohon undur diri, sementara dua orang yang akan mengurus penampilan Boy berada di ujung kegelisahan.
"Aku takut... "bisik sang tukang cukur.
"A... aku juga. "kata sang dokter kulit.
Mereka berdua saling pandang dan berbisik takut melakukan kesalahan yang bisa membahayakan nyawa keduanya.
"Masuklah kalian sedang menunggu apa? aku tidak suka orang yang lelet. "kata Boy yang sudah duduk di depan cermin yang besar.
"Ba.. baik. "jawab mereka berdua secara bersamaan.
Tanpa berpikir panjang mereka berdua pun lang sung sibuk melaksanakan tugas masing-masing.
"Tuan ini rambutnya pengen di bentuk seperti apa? "tanya si tukang cukur.
Krik.. krik.. krik..
Tidak ada satupun jawaban yang keluar dari mulut Boy. Karna ia sedang sibuk melamun memikirkan perkataan Oci yang barusan tentang dirinya.
"Arkk bikin kesel saja. "gumam Boy sehingga membuat dua orang yang sedang sibuk mengurus dirinya seketika mematung.
"Ma..maafkan kami tuan, jika kami membuat tuan tidak nyaman. "kata salah satu dari mereka sedangkan sang dokter kulit merasa ketakutan dan berada di belakang sang tukang cukur.
"Hah ngapain berhenti ayo lanjutkan, orang aku bukan kesal karna kalian."kata Boy menarik nafas panjang. Padahal ia tak sengaja bergumam karna terlalu banyak pikiran eh si tukang cukur malah mengira ia kesal dengan dirinya.
Setelah menempuh waktu satu jam, kini sudah sampai di tahap akhir, make up natural di padukan lipsgoss tipis untuk melembabkan bibir tak lupa dengan gaya rambut yang membuat siapa pun takjub bagai mahkota raja yang indah tak tertandingi.
Jeng.. jeng... Boy sudah selesai melakukan semua perubahan diri, warna wajah yang seperti arang itu berubah menjadi seputih salju bahkan Boy terlihat seperti seorang pangeran yang gagah dan ganteng sama seperti dulu saat ia masih menjadi pemuda yang sukses.
"Good job, kalian melakukan tugas dengan baik, ambil cek itu satu-satu. "kata Boy sambil tersenyum saat menatap penampilan barunya di depan cermin.
__ADS_1
"Tu.. tuan.. bukankah cek ini terlalu banyak, apa ini tidak salah? "tanya sang tukar cukur.
"Iya tuan.. nominal ini sepertinya salah tulis. "kata sang dokter kulit yang masih tidak percaya dengan angka nol yang segitu banyaknya.
"Itu hadiah untuk kerja keras kalian hari ini, segera keluarlah dari kamar ini. "kata Boy kemudian berdiri dari duduknya sambil merapikan dasi yang tersemat di antara jasnya.
"Ba.. baik tuan, terima kasih banyak..kami keluar dulu. "kata mereka berdua kemudian bergegas meninggalkan kamar Boy.
Boy tidak peduli dengan mereka berdua, ia hanya menyipitkan matanya kemudian melirik jam tangan mahal yang baru itu.
"Huh sudah waktunya ngantor. "gumam Boy kemudian berjalan keluar kamar.
Sementara itu Pakha masih sibuk mencari tau tentang kakaknya, ia seharian mengikuti kegiatan kak Nawang saat berada di kediaman Raihan. Nawang sedang memasak untuk sarapan Rai yang akan berangkat kerja namun Pakha sangat kesal melihat kedekatan mereka berdua. Pakha berniat ingin mencekik leher Rai yang masih sarapan menikmati hasil masakan Kakaknya.
Ketika tangan Pakha ingin mencekik leher Rai entah kenapa ia urungkan.
"Huh.. aku tidak bisa mengontrol kebencian ini."gumam Pakha kesal pada dirinya sendiri saat ia hampir saja tidak bisa mengontrol emosinya.
Pakha pun ikut duduk di tengah-tengah mereka berdua yang sedang menikmati sarapan paginya, matanya tak henti-hentinya menatap Raihan dengan tatapan benci.
Uhuk.. uhuk..
Raihan tidak sengaja tersedak dengan sendirinya, entah mengapa ia merasa seseorang sedang mengawasi dirinya dari tadi, hawa panas tak biasa seperti menyerubungi dirinya.
"Rai.. kamu gak papa? "tanya Nawang kwatir dengan sigap menuangkan minuman dan memberikan kepada Rai.
"Terima kasih na. "kata Rai kemudian menaruh gelas kosong di atas meja.
"Iya.. makan pelan-pelan saja. "kata Nawang.
Sementara itu Pakha semakin kesal melihat kedekatan mereka berdua, ia berpikir kalau kakaknya itu benar-benar mempunyai hubungan spesial dengan Rai.
"Seharusnya tidak usah di kasih minum, biar orang b*ngsat itu mati sekalian."kata Pakha sangat marah.
"Aku harus cari cara agar kak Nawang bisa kembali lagi ke rumah."kata Pakha bersungguh-sungguh.
Setelah sarapan selesai Rai pun pamit pada Nawang untuk berangkat kerja. Nawang pun melakukan tugasnya seperti biasa, cuci piring, menyapu dan ngepel lantai. Setelah rumah di rasa bersih Nawang pun membersihkan dirinya dan memakai pakaian rapi tak lupa ia pun menyematkan cadar di wajahnya. Hal itu membuat Pakha merasakan keanehan pada kakaknya itu.
"Kak Nawang aneh sekali, mau ngapain ya dia pakai pakaian aneh itu. "gumam Pakha kemudian mengikuti kakaknya kemanapun ia pergi.
Nawang pun menaiki sebuah angkutan kecil antar kota yang berdesak-desakan dengan para pedagang yang ingin ke pasar.
Pakha merasa jijik melihat orang-oranf kumuh itu, ia pun memilih melayang di atap pas berada di atas kepala sang supir. Angkut itu berhenti ketika seseorang melambaikan tangannya, wanita tua dengan tubuh rentan memasuki angkut, karna angkut sudah penuh nenek tua itu terpaksa harus berdiri dengan tubuh rentannya. Nawang yang mendapatkan tempat duduk merasa kasian melihat nenek tua itu sehingga ia pun merelakan tempat duduknya untuk di gunakan oleh nenek tua itu. Nawang pun menggantikan nenek itu dan memilih berdiri. Pakha yang melihat kebaikan kakaknya menjadi terharu.
"Kak aku tau kalau kamu baik, jadi aku yakin kamu pasti tidak akan tega meninggalkan kaysa putrimu dan lebih memilih pria jelek itu kan. "kata Pakha pas di depan wajah kakaknya yang tertutup cadar itu.
Nawang tidak bisa melihat dan mendengar perkataan Pakha namun ia marasakan hawa dingin yang tiba-tiba menerpa tubuhnya bersama angin yang semilir dari jendela angkutan.
__ADS_1
"Cah ayu.. apa kamu punya seorang adik? "tanya sang nenek tua yang tadi ia berikan tempat duduk.
"Iya nek, tapi.. adik saya sudah berada di surga. "jawab Nawang sambil menatap pepohonan di luar jendela.
"Cah ayu selesaikanlah masalahmu agar adikmu juga merasa tenang di sana. "kata sang nenek.
Kemudian nenek tua itu melirik Pakha yang berdiri di depan Nawang, ia tersenyum pada Pakha. Namun Nawang mengira nenek itu tersenyum padanya dan membalasnya dengan anggukan kepala. Angkutan itu berhenti sang nenek tua itu pun ikut turun dari angkutan tersebut, sementara Nawang masih melanjutkan tujuannya dan harus berhenti di pemberhentian selanjutnya.
"Apa maksud perkataan nenek itu. "batin Nawang melamun memikirkan kata-kata nenek tadi, Nawang masih belum mengerti mengapa nenek tua itu bisa tau kalau dia punya seorang adik. Dan perkataan nenek tua itu seperti sambaran petir di siang bolong. Hatinya seperti ada ledakan rasa penasaran yang harus ia pecahkan.
Tanpa sadar Nawang meneteskan air mata saat mengingat kembali kisah adiknya yang harus berakhir di usia muda tanpa kasih sayang kedua orang tuanya.
"Kak Nawang nangis? "kata Pakha saat melihat kakaknya meneteskan air mata.
Nawang buru-buru menghapus air mata itu agar tidak ketahuan orang lain.
"Aku tidak harus bersedih seperti ini, benar kata nenek itu aku harus menyelesaikan masalahku agar Pakha bisa tenang di sana. "batin Nawang kemudian ikut turun saat angkutan itu berhenti di pemberhentian terakhir.
"Sebenarnya apa yang membuat kakak sedih tadi. "kata Pakha masih membuntuti punggung kakaknya.
Tanpa sadar ia terbang mengikuti kemana kakaknya pergi. Namun hal yang membuatnya kaget jalan itu terasa tak asing lagi baginya.
"Tunggu dulu bukannya ini jalan menuju rumahnya."kata Pakha berbicara sendiri.
Ternyata benar kakaknya berhenti tepat di depan rumah Oci namun anehnya ia seperti sedang bersembunyi.
"Kakak ngapain di sini ayo masuk. "kata Pakha menyuruh kakaknya masuk. Namun sialnya kak Nawanng mana mungkin bisa mendengar suaranya.
Beberapa menit menunggu akhirnya seseorang keluar dari dalam rumah, siapa lagi kalau bukan Oci dan kaysa.
"Sayang gak boleh nakal ya.. nanti jangan menyusahkan nenek. "kata Oci pada putrinya yang sekarang berada di gendongannya.
Sementara itu kaysa hanya mengangguk saja.
"Kak lihatlah itu suamimu dan anak kecil yang cantik itu sedang merindukanmu. "kata Pakha pada kakaknya dan tentunya Nawang pun tidak bisa mendengar apa yang Pakha katakan.
Nawang hanya terdiam menatap mereka berdua dari kejauhan.
"Kaysa ibu kangan. "kata Nawang.
Pakha pun melotot tajam, saat mendengar perkataan kakaknya barusan.
"Kalau sama-sama rindu kenapa tidak di temui saja sih bikin kesal saja, sebenarnya ekting apa lagi yang akan aku saksikan"gerutu Pakha yang tidak habis pikir dengan kelakuan kakaknya.
Pakha menggaruk rambutnya dengan frustasi melihat tingkah kakaknya itu, Pakha pun kesal karna sampai saat ini ia belum tau apa alasan kakaknya bersikap seperti itu. Misteri itu menjadi tugas Pakha kali ini.
Sekian dulu ya.. kekonyolan apa saja yang akan Pakha lakukan untuk mengungkapkan misteri kakaknya? Dan bagaimana kisah Boy yang kehilangan ingatannya tentang kisah cintanya, akankah ia bisa benar-benar terlahir menjadi sosok yang baru dan menjalani kehidupannya dengan tenang atau kah ada kendala-kendala lain yang menggaggu karirnya yang cemerlang. Temukan kisah seru lainnya di episode selanjutnya. Tetap semangat membaca.
__ADS_1