Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Dititipkan Hanya Untuk Sementara


__ADS_3

Matahari mulai naik di atas peraduan menandakan pagi mulai tiba. Sang mata hitam akhirnya mulai sedikit terbuka menampakkan wajah dengan penuh luka. Kini kesadarannya kian merebak seperti butiran salju yang turun pertama kali. Dingin, sepi, hanya dua orang yang amat ia kenal duduk termenung di sampingnya sambil menahan tangis.


"Ayah... ibu.. dimana nawang? "kalimat pertama kali yang terucap saat ia mulai sadar.


Seorang ibu setengah tua menghampiri anak laki-lakinya sambil berkata.


"Dia masih di tangani oleh dokter nak, doakan saja serahkan semuanya pada Allah dan dokter."


"Apa yang sebenarnya terjadi pada nawang bu, bantu aku untuk melihatnya. "kini hatinya mulai gelisah memikirkan keadaan calon anak dan istrinya.


Abahnya mengambil kursi roda dan memapahnya menuju ruang operasi nawang.


Di depan ruang tersebut sudah ada Pakha, Boy, dan kedua orangtua nawang yang duduk menunggu jalannya operasi.


Saat wajah Oci terlihat di atas kursi roda Pakha tidak mampu menahan sedihnya seketika itu juga tangisnya langsung pecah di pelukan Boy.


Oci tidak mengerti dengan semua pemandangan yang telah di lihatnya sekarang.


"Sebenarnya apa yang sudah terjadi dengan istriku? aku mohon beri tahu aku yang sebenarnya karna dia adalah tanggung jawabku. "


Abah Oci mulai mendekati anaknya yang kebingungan dia mulai menjelaskan sedikit demi sedikit tentang keadaan nawang dan anaknya yang tidak bisa di selamatkan.


Seperti tersambar petir di siang bolong, hatinya terasa tercabik-cabik saat ini.


Dunia teramat keras bagai kutukan. Meluluhkan harapan yang tersisa.


Anak yang selama ini dia tunggu-tunggu telah pergi sebelum lahir di dunia, bahkan dia sudah menyiapkan segala keperluan untuk menyambut kelahirannya. Bukan akhir seperti ini yang ia harapkan. Seketika tatapannya menjadi kosong tak terarah. Seolah semangat dan kecerahan wajahnya terbang melayang terbawa hembusan angin.


Air mata Oci tak mampu turun hatinya terasa sesak seakan udara di sekitarnya hampa. Tubuh penuh luka itu sekarang bertambah luka, luka hati yang tidak bisa di gambarkan oleh kata-kata. Kenapa Allah hanya menitipkan kabar bahagia cuma sebentar saja, dan sekarang sudah mengambil dia dariku sebelum aku melihat wajah mungilnya tersenyum di dunia ini. Bahkan hatiku ingin menggendong tubuh kecilnya, harapan hanya tinggal harapan. lupuslah sudah semua angan dalam hati. Tubuhku serasa mati rasa jantungku terasa berhenti berdetak. Hanya kata ikhlas yang mampu aku lewati. Pikiran Oci berkecamuk entah apa yang dia rasakan saat ini ketika dirinya gagal menjadi seorang ayah walau kelahiran anaknya tinggal menunggu hari. Bukan kelahiran seperti ini yang ia harapkan tapi kelahiran dengan nyawa dan senyum kecil mungil anaknya.


Tak lama kemudian dokter bersama suster keluar dari ruang operasi, di tangan suster membawa tubuh kecil yang lunglai tak berdaya. Sekarang si kecil telah lahir tapi wajahnya sudah membiru hanya nampak raga dan jiwanya sudah pergi.


Semua mata memandang menangis melihat si kecil di depannya.


"Sus biarkan aku menggendong anakku untuk terakhir kalinya. "kata Oci tangannya menengadah bersiap menerima si kecil.


Suster memberikan bayi mungil tanpa nyawa itu di pangkuan Oci.


Oci mengelus wajah mungil anaknya yang sudah membiru, seketika itu air matanya jatuh tak mampu ia tahan. Melihat putra kecilnya sudah tak bernyawa lagi, baru kemarin ia menyapa tendangan si kecil di perut ibunya. Sekarang dia hanya bisa menggendong jasad anaknya untuk terakhir kalinya.


"Anakku bagaimana engkau tega pergi lebih dulu dari ayah, hiks hiks padahal ayah belum sempat mengazanimu, ayah belum sempat memperkenalkan siapa tuhanmu. Semoga engkau berada di surganya Allah. "kata Oci dalam hati.


Kemudian Oci menutup wajah anaknya dengan kain kafan.


Sementara itu sampai sekarang nawang belum sadarkan diri namun alhamdulillah operasinya berjalan dengan lancar dia sekarang sudah di pindahkan di ruang perawatan. Si kecil sudah di kubur di halaman rumah Oci saat ia sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Sudah dua hari nawang belum sadarkan diri.

__ADS_1


Oci, Pakha dan seluruh keluarga selalu bergantian menjaga nawang tak terkecuali dengan Oci dia selalu menunggu setiap hari di samping nawang. Hanya nawanglah keluarga berharga yang ia cintai dia tidak akan membiarkan nawang juga pergi seperti anaknya.


"Kak istirahatlah biar Pakha yang menjaga kak nawang, ini saya bawakan nasi bungkus dari tadi kakak belum makan."kata Pakha.


Oci tidak menjawab Pakha dia hanya menggelengkan kepalanya tanda ia tidak mau meninggalkan nawang.


"Ya sudah kalau kakak masih ingin menemani kak nawang, saya keluar sebentar ya soalnya ada bimbingan dosen nanti siang, ini nasinya saya tinggal di sini nanti di makan. "kata Pakha kemudian melangkah keluar dari kamar rawat nawang.


Oci tidak mampu untuk makan jika istrinya sampai sekarang belum sadarkan diri.


"Sayang cepat sadarlah aku tidak ingin juga kehilangan kamu. "kata Oci sambil mencium punggung tangan istrinya.


Beberapa saat kemudian ada gerakan jari nawang yang menandakan ia sudah mulai sadar.


Ketika netranya terbuka dia sudah berada di rumah sakit hanya Oci yang tersenyum menyambut kesadarannya.


Tangannya refleks mengelus perutnya namun seperti ada yang aneh sekarang perutnya sudah tidak buncit lagi.


"Mas kenapa dengan perutku kenapa tidak buncit lagi,, sebenarnya apa yang telah terjadi padaku,, di mana anakku sekarang? "runtutan pertanyaan yang terlontar di mulut nawang ketika dia baru saja sadar.


Oci belum sempat menjawab pertanyaan, nawang langsung menangis hebat.


"Sayang yang sabar ya anak kita sudah tenang di sisinya, "kata Oci sambil memeluk istrinya.


"Anakku.... ibu belum sempat menggendongmu kenapa engkau tega pergi secepat itu hiks hiks. "


...PUISI UNTUK SI KECIL...


Jalan indah di sebuah pilu


Ibu sangat ingin melihatmu


Mendengar tangisanmu dan memelukmu


Ku ukir namamu dalam sebuah batu


Selamat jalan putra pertamaku..


Hanya dalam sekejab engkau hilang


Jiwaku hilang isi terasa kosong


Musim semi berganti kemarau gersang


Ku selipkan salam perpisahan panjang

__ADS_1


Sesaat aku terkenang


Fotomu membuatku rindu


Bintang kecil pergi tinggalkanku


Saat mengingatmu hatiku


Tak menentu...


Biarkan luka hilang bersama waktu


Ikhlas ku membuatmu tenang


Pergilah bersama bayang-bayang


Angan hanya tinggal di kenang


ku lukis dalam potret jejergenjang


ku kecup nisan pengganti kening


Bismilllah adalah namamu


Semoga engkau....


Menjadi cahaya yang bisa menuntunku


Malaikat kecilku.....


Aku akan selalu mengingatmu dalam kalbu


karya: nr (cahaya)


Satu minggu telah berlalu akhirnya nawang bisa keluar dari rumah sakit yang sangat menyesakkan. Oci membawa istrinya untuk mengunjungi makam anak yang belum sempat ia lihat.


Batu nisan bertuliskan nama Bissmilah bin Oci di siram dengan air dan bunga. Dikecup sang ibu yang gagal melahirkan dirinya dengan selamat di dunia ini. Saat nisan anaknya di depan mata nawang tak kuasa menahan tangisnya. Dia menangis sambil memeluk batu nisan putra pertamanya.


"Nak tenanglah di sana ibu akan belajar untuk mengikhlaskanmu. "kata nawang sambil menaruh usg terakhirnya saat berumur 6 bulan.


"Mas kenapa anak kita di namai bismillah? "tanya nawang penasaran.


"Bissmilah berarti untuk meniatkan segala sesuatu yang dilakukan atas nama Allah. Bismilah juga bisa berarti memohon restu atau kelancaran pada Allah,,,semoga dengan kepergian anak kita bisa memberi kebahagiaan baru. "


Nawang hanya mengangguk mengerti, hari sudah semakin gelap saatnya ia bergegas meninggalkan makam putranya. Oci membantu nawang untuk berdiri kemudian manaruhnya di kursi roda menuju mobil untuk pulang istirahat.

__ADS_1


Sekian dulu gays.... nantikan cerita menarik di episode selanjutnya..... semangat membaca.


__ADS_2