Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)

Sang Malam Memeluk Bintang (Misteri Hantu Hutan Kelam)
Keluar Kota


__ADS_3

Jam dinding menunjuk di angka 9 malam, hanya angin malam dan kesunyian yang menyelimuti dinginnya musim semi. Ketika mata ingin terpejam namun sang kelopak tak ingin menuruti. Detik telah berputar melewati angka-angka yang menunjukan semakin gelapnya malam. Tepat pukul 10 malam ada sebuah pesan masuk di antara kesunyian. Saat itu juga lelaki yang menderita insom itu segera bangkit untuk mengecek telefon nya. Ternyata sebuah pesan yang sangat ingin ia hindari datang di waktu yang tidak tepat. Kini perasaan nya seperti di hadang badai ada kala ia harus lari atau dia akan ikut pergi terbawa di dalamnya. Pilihan itu seperti tiada arti kini kegelisahan itu semakin kuat setelah ia melihat seorang wanita yang meringkuk lelap di bawah selimut.


"Sayang apa yang harus aku lakukan sekarang?, keadaan ini tak bisa aku pilih, aku tak ingin meninggalkanmu sendirian dalam melewati masa sulitmu namun aku juga tidak bisa melewatkan kesempatan berharga ini. "Oci kemudian mengecup nawang yang masih tertidur pulas.


Kecupan itu membuat sang pemilik terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya yang duduk menatapnya.


"Mas belum tidur juga? "tanya Nawang sambil menguap karna masih ngantuk.


"Iya insom mas kambuh lagi, mas belum ngantuk, kamu tidur lagi sana istirahat yang cukup agar tubuhmu kembali sehat. "kata Oci sambil membenarkan selimut Nawang yang terbuka.


"Baiklah aku lanjut tidur lagi ya mas, "kata Nawang.


Tak lama kemudian dia kembali terlelap dalam mimpinya yang sempat tertunda. Oci kembali menatap ponselnya dan berkali-kali membaca pesan itu. Tanpa sadar suara kakek tua sudah berkumandang yang menandakan subuh telah tiba. Mata yang belum sempat terpejam itu terasa berat namun tak bisa ia tidurkan karna pikirannya sedang kacau saat ini. Dia langsung mengambil air wudhu, setelah itu dia membangunkan istrinya untuk solat berjamaah.


Setelah ritual sarapan pagi selesai Oci mencoba berbicara pada Nawang.


"Sayang kemarilah mas ingin bicara, "kata Oci.


Kemudian nawang menuju kearahnya.


"Duduklah."kata Oci sambil menepuk pahanya.


"Aku duduk di situ mas? "tanya Nawang sambil memicingkan matanya dengan heran.


"Iya sayang, "jawaban Oci membuatnya merinding.


Sekarang posisi Nawang sudah duduk di pangkuan Oci. Kini waktunya Oci untuk membujuk bidadari surganya itu.

__ADS_1


"Sayang maaf aku mengatakan hal ini mendadak soalnya mas baru dapat pesan tadi malam, ".


"Pesan apa mas? "tanya Nawang penasaran.


"Begini mas kan minggu lalu baru menjalin kerja sama dengan perusahaan di Kota A dan kepala perusahaan itu meminta mas untuk menjadi wakil untuk sambutan di cabang barunya selama seminggu, namun jika kamu tidak mengizinkan mas untuk keluar kota, mas akan menolaknya, "kata Oci menjelaskan dengan sangat hati-hati.


"Mas jangan menolak tawaran itu, aku baik-baik saja kok, mas gak boleh kwatir dengan aku, sekarang aku sudah mendingan kok,"kata Nawang sambil tersenyum untuk menyembunyikan kesedihan nya. Padahal baru lima hari yang lalu ia kehilangan bintang kecilnya namun sekarang dia harus merelakan orang yang ia sayang jauh darinya.


"Sayang kamu serius? "tanya Oci dengan penuh semangat. Namun hati kecilnya masih tidak tega meninggalkan Nawang sendirian.


Nawang hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan suaminya itu. Oci kemudian mengecup kening nawang sebagai tanda terima kasih karna sudah mengijinkannya untuk bisnis luar kota.


"Sayang bagaimana jika aku meminta Boy dan Pakha untuk datang berkunjung agar kamu tidak kesepian selama mas keluar kota?"tanya Oci antusias.


"Ya terserah mas aja, "Jawab nawang. Keputusan itu membuat Oci senang namun nawang sebaliknya. Ia merasa tidak ada yang mendukungnya dalam melewati kesedihan, bahkan kuburan anaknya aja masih basah dan belum mengering. Namun ia tidak mau egois dan hanya terpuruk dalam kesedihan. Untuk itu nawang mengijinkan suaminya keluar kota.


"Boy kamu adalah lelaki imperfect. "kata boy memuji dirinya sendiri karna terlihat ganteng di depan cermin. Hari ini dia sangat bersemangat setiap wekend dia pasti akan meluangkan waktunya untuk berkencan. Dengan wajah ceria dengan memakai pakaian casual dan sepatu santai berwarna putih dengan celana hitam pendek menambah auranya menjadi bersinar.


Tak lama kemudian bel rumahnya berbunyi yang membuat laki-laki percaya diri itu tersenyum dan segera membuka pintu rumahnya.


"Sayang kamu udah sa.... "belum sempat ia melanjutkan kata-kata nya ternyata di depannya bukan wanita yang ia tunggu. Betapa terkejutnya Boy saat ini karna yang sekarang ada di depannya adalah laki-laki yang sangat ingin ia hindari.


"Assalamualaikum boy."Salam Oci sambil tersenyum di depannya.


Karna saking terkejut nya Boy sampai lupa menjawab salam Oci.


Oci mengulangi salamnya kembali sambil menepuk bahu sahabatnya itu, karna dari tadi dia datang hanya bengong di depan pintu.

__ADS_1


"Ahhh waalaikumslm, maaf tadi lagi banyak pikiran malah sampai lupa mempersilakan masuk,, ayo masuk. "kata Boy sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Mau minum apa ci? "tanya Boy.


"Tidak perlu repot-repot, aku kesini hanya sebentar saja. Ada yang ingin aku bicarakan padamu. "kata Oci.


Kata-kata Oci yang barusan ia dengar membuat tubuhnya kaku saat itu juga, seperti ada bom yang siap meledak kapan pun saat ia bergerak, rasa takut, cemas itu yang sekarang Boy rasakan. Namun hari ini tiba waktu untuk ia mengungkapkan rasa bersalah yang selama ini ia pendam.


"Boy, Oci. "bersamaan mereka berkata.


Keadaan yang dari tadi mencekam sekarang lebih berwarna karna terdengar gelak tawa mereka berdua.


"Kamu masih sama saja ya, kamu ngomong duluan saja. "kata Oci di sela tawanya.


"Kamu saja aku kan tuan rumah dan kamu sudah jauh-jauh datang kesini, "jawab Boy.


"Baiklah aku yang akan mengalah,"


Oci menceritakan semua rencana nya yang ingin ke kota dan meminta Boy untuk sesekali berkunjung ke rumah nawang jika ia punya waktu.


Boy menyetujui permohonan tersebut, saat Oci sudah selesai berbicara kini saatnya ia meminta maaf pada Oci.


"Oci aku meminta maaf karna aku kamu jadi kehilangan calon anakmu, jika saja hari itu aku tidak memintamu datang dengan nawang pasti kejadian itu tidak akan terjadi pada kalian. Maaf juga baru sekarang aku meminta maaf padamu, kamu dan nawang boleh membenciku itu semua salahku, "belum sempat ia menyelesaikan perkataannya Pakha sudah berdiri di depan pintu dengan tatapan seperti pembunuh.


"Apa yang barusan kalian bicarakan?"perkataan yang membungkam mulut Boy saat itu juga. Dia takut Pakha mendengar semua perkataannya dan membenci dirinya. Saat itu juga Boy ingin menangis ia tak ingin kehilangan Pakha untuk kedua kalinya. Karna ia tahu jika kak nawang adalah keluarga satu-satunya yang menyayangi Pakha sampai saat ini begitu juga Pakha yang hanya menyayangi nawang.


Sekian dulu gayss... apa yang akan terjadi selanjutnya?apakah Pakha akan membenci boy dan meninggalkannya jika ia mengetahui hal ini?? sampai bertemu di episode selanjutnya......

__ADS_1


__ADS_2