
Malam menyemburkan napasnya ke dalam kosan bagaikan hewan berbulu hitam. Detik-detik suara jam. Derit lantai papan ketika ia menyelinap keluar dari kamar. Semua tenggelam oleh kesunyiannya. Tapi Pakha sangat menyukai malam. Ia merasakan malam menyelubungi kulitnya bagaikan janji. Bagaikan mantel yang ditenun dari kebebasan dan bahaya. Setelah semua canda tawa yang baru saja ia lalui bersama keluarga Boy. Entah mengapa harapan demi harapan ingin masuk ke celah-celah pintu di keluarga Boy semakin tinggi. Pakha berharap bisa menjadi bagian dalam hidup mereka, keluarga yang hangat sehangat mentari pagi di musim dingin membawa secercah harapan baru bagi Pakha.
Jam sudah berada di tengah kesunyian malam, namun rasa kantuk belum juga menghampiri ,mata yang masih cerah itu memandang langit biru dengan sedikit bintang malam.
Bintang terlihat bersinar seperti memberi selamat atas kebahagiaan Pakha malam ini. Setelah Boy mengantar Pakha pulang ke kosan sampai detik ini pun ia belum juga tertidur.
"Jika aku tau akan bertemu dengan keluarga Boy aku pasti memakai gaun terbaik bukan malah gaun panjang jelek ini, huh aku pasti terlihat gembel di keluarga Boy yang berkelas itu. "kata Pakha mengeluh di depan kosan.
Angin malam menjadi teman curhatnya, mungkin Pakha akan terus menyesali kebodohannya.
Namun kebodohan itu mengantar kan dirinya sampai ke keluarga Boy. Senang sih tapi ada yang kurang. kekurangan itu yah masalah penampilan Pakha yang membuat dirinya kurang percaya diri. Rambut yang awut-awutan, muka tanpa make up, dan sandal jepit itu membuat dirinya tidak bisa tidur karena malu.
Pertemuan tanpa sengaja itu seharusnya tidak terjadi, bukan waktu yang tepat untuk Pakha berkenalan dengan keluarga Boy, namun karna keadaan yang tak mendukung akhirnya Pakha bertemu juga dengan mereka meskipun dengan penampilan apa adanya alias gembel.
Sesaat ketika ia sudah kepikiran untuk mengikuti Boy, Pakha langsung buru-buru melacak keberadaan Boy, tanpa persiapan apa pun tanpa make up dan dengan baju santai panjang yang menjadi pilihannya karna udara kala itu dingin merebak kemana-mana. Hanya berbekal Hp dan sebuah dompet kecil di tangannya yang berharga malam itu. Ia kira rencana yang di susun akan berjalan sesuai dengan harapan tanpa ketahuan Boy namun malah melenceng melewati batasan.
"Kira-kira Boy udah tidur belum ya. "kata Pakha sambil mengotak atik hp di tangannya.
Tanpa sengaja dia malah memencet nomor Boy.
"Apa yang aku lakukan sekarang, "kata Pakha kaget melihat hpnya memanggil Boy.
Seketika itu ia langsung ingin mengakhiri panggilannya namun naasnya panggilan itu sudah menunjukan detik-detik panggilan. Itu artinya panggilannya sudah di angkat Boy.
"Assalamualaikum sayang, ada apa malam-malam begini telfon?"suara Boy di ujung telepon.
" Waalaikumslm, akaku hanya rindu. "Pakha mencomot sembarang topik.
__ADS_1
"Baru ketemu masa udah rindu."ejek Boy.
"Ih jangan gr dulu aku belum selesai bicara, aku tuh rindu afis bukan kamu Boy. "kata Pakha bohong.
"Sayang jangan malu seperti itu jika memang rindu aku bilang saja, jangan malah melempar kan pada afis."kata Boy sambil tertawa.
(afis adalah wanita mungil ponakan Boy yang imut dan pintar)
"Sudah dulu aku ngantuk. "kata Pakha kesal lalu mengakiri telefonnya.
Kini wajahnya sudah memerah, entah mengapa sudah berkali-kali dirinya mempermalukan diri sendiri seperti itu.
Kenapa juga dirinya malah bilang rindu pada Boy, apa tidak ada kata lain selain itu, yah penyesalan itu ada di akhir, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
Rasa kantuk sudah menyerang seluruh tubuh Pakha, kakinya mulai beranjak masuk ke dalam kosan untuk istirahat.
Alarm nyaring berbunyi. Pakha langsung terbangun karena kaget. Ini kesekian kalinya dia bangun agak siang. Dan alarm itu, sudah sepuluh kali berbunyi. Baru kali ini juga Pakha benar-benar sadar, bahwa dia memiliki jadwal kuliah.
Dengan langkah tergesa-gesa ia menuju kamar mandi, dan dalam waktu sepuluh menit dia sudah keluar dengan handuk kecil di atas kepalanya.
"Haduh udah hampir jam tujuh, Boy pasti sudah menuju kemari. "gumam Pakha sambil memoles wajahnya dengan 3 macam bedak tak lupa ia menambahkan ayeshedow sebagai bumbu pelengkap. Tak ketinggalan lipstik pink di padukan dengan lipsgosh putih yang menghiasi bibir mungilnya. Tak lupa rambut hitam yang tergerai di sisirnya sampai licin selicin seluncuran di kolam renang.
Di sela kesibukan itu teleponnya berbunyi.
"Iya sayang tunggu sebentar ya, aku mau menyiapkan buku mata kuliah dulu. "kata Pakha sambil menarik nafas panjang.
"Tenang saja aku tunggu sampai kamu selesai. "kata Boy di ujung teleponnya.
__ADS_1
Setelah panggilan telefon itu berakhir Pakha kembali melanjutkan kesibukannya yang belum selesai. Namun ada satu hal yang sekarang memakan banyak waktunya yaitu pemilihan baju. Pakha mengacak-acak semua stok pakaiannya di lemari. Namun sampai saat ini masih belum juga ketemu. Kata sebentar itu akhirnya memakan waktu lima belas menit. Karna pengalaman pahit penampilan nya tadi malam sekarang dia harus berhati-hati dalam berpakaian meskipun hanya ngampus.
Setelah di rasa baju udah pas, akhirnya Pakha bisa percaya diri lagi di depan Boy.
Tara keluarlah Pakha dari kosan. Dengan riasan wajah setebal gunung mahameru dan baju kuning bersinar seterang matahari yang menyilaukan mata. Senyumnya tak kalah cerah dari semua benda yang menempel di badannya. Kini penampilan Pakha bisa di katakan mewah bukan seperti mahasiswa namun seperti prinses yang siap berdansa dengan pangeran di pesta kerajaan.
"Sayang kamu beneran pengen ke kampus pakai itu. "kata Boy sambil menunjuk Pakha.
"Iya sayang emangnya kenapa? ada yang aneh? ".
"Tidak aneh kok hanya saja kamu terlalu cantik hari ini. "kata Boy sambil tersenyum.
Pipi Pakha memerah seketika setelah ia mendengar perkataan Boy.
Jika aku yang Pakha tanya pasti akan ku jawab begini. Aneh banget, norak tau, dan terlalu glamor itu bukan anak kuliah melainkan tante-tante yang siap ke kondangan. Namun karna cinta Boy itu cinta buta maka semua pakaian yang di pakai Pakha pasti terlihat cantik.
Setelah semua selesai mereka berdua siap melunjur ke kampus tercinta.
Boy mengantar Pakha hanya di depan kampus saja karna kampus mereka berbeda. Pakha turun dari mobil itu mereka berdua ber cipika-cipiki kemudian melambaikan tangan sebagai simbol perpisahan sementara.
Tak lama kemudian mobil Boy hilang di telan keramaian jalan raya pagi.
Ketika kaki Pakha melangkah untuk pertama kalinya, tanpa ia sadari high heels yang ia pakai patah satu. Hal itu membuat kakinya yang kemarin sakit menjadi tambah sakit. Karena tubuhnya tak mampu menahan beban yang tak imbang di kakinya. Akhirnya dia jatuh tersungkur dengan wajah mencium tanah basah di sekitar gerbang kampus.
Hanya butuh waktu sedetik para mahasiswa lain tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian lucu di depan mata mereka. Begitulah orang indonesia tertawa dulu baru menolong atau update status dulu baru bertindak.
Namun di antara gelak tawa yang terdengar terdapat tangan seorang laki-laki yang terulur ke arah Pakha dan siap menolong kesulitan Pakha saat ini. Bagaikan malaikat yang datang di waktu yang tepat.
__ADS_1
Sekian dulu gays. kira-kira itu tangan siapa ya, apa jangan-jangan malaikat beneran. Nantikan kelanjutannya di episode berikutnya. Semangat membaca.