
Istana merupakan bangunan mewah yang khusus dirancang untuk kenyamanan hidup.
Struktur bangunannya serba besar dan megah. Emas dan marmer sering menjadi simbol kemewahannya.
Tak hanya bangunan utamanya, istana juga memiliki taman yang tak kalah luas.
Orang-orang yang menghuni istana pasti akan hidup nyaman, bahagia, dan damai.
Namun tidak dengan kondisi Pakha yang sekarang. Ia sudah tiba di dalam istana hutan kelam tempat Bima berada. Untuk ke dua kalinya akhirnya ia bisa menginjakkan kaki di istana Bima namun kali ini bukan perasaan bahagia seperti pertama kali melainkan perasaan cemas yang selalu berlari-lari di pikirannya.
"Pakha kamu kenapa? "tanya Bima kwatir.
"Bim aku takut tidak akan bisa kembali lagi di raga ku. "kata Pakha.
"Jika hal itu terjadi aku janji akan menjadikan mu ratu di istana ini, dan aku juga janji akan menjaga mu selamanya. "kata Bima.
Pakha hanya terdiam, dia sangat kecewa kenapa hari sial itu datang secepat ini bahkan ia belum sempat mempersiapkan semua hal sebelum benar-benar pergi dari dunia. Bagaimana mungkin ia bisa pergi dengan tenang jika semua urusan di dunia masih belum terselesaikan. Hatinya masih di penuhi dengan semua kecemasan. Meskipun Bima memperlakukan Pakha dengan baik di istananya namun hatinya selalu risau ,entah berfikir tentang kak Nawang maupun Boy yang ia tinggal begitu saja.
"Bim aku ingin menengok keadaan keluargaku."kata Pakha.
"Iya sayang tapi kamu harus ganti pakaian dulu, udah berapa hari kau memakai baju lusuh itu? "tanya Bima sambil tersenyum kecil.
"Arwah tidak perlu ganti baju Bim. "kata Pakha sambil manyun.
"Kalau arwah tidak butuh ganti baju bagaimana kalau aku tidak memakai baju di segala aktivitas yah termasuk di hadapan mu? "kata Bima menggoda Pakha.
"Apapa? "tanya gagap Pakha.
"Aku bisa loh dalam sekejab seperti itu di hadapan mu sekarang juga? "goda Bima.
"Iya iya aku ganti baju deh, tapi janji jangan tampil tanpa pakaian di hadapan ku. "kata Pakha gugup, dengan rona wajah yang sedikit memerah.
Cling... sedetik tubuh Pakha telah berganti pakain dengan dress putih pendek yang terlihat elegan di tubuhnya.
__ADS_1
"Bim ini agak terlalu berlebihan gak sih? "tanya Pakha sambil memutar badannya.
"Kamu cantik. "jawab Bima.
Seketika hati Pakha langsung dag dig dug.
"Kenapa nih jantungku, cuma di bilang cantik saja lebay begini. "batin Pakha.
Di saat itu juga Bima sedang bergelut dengan pikiran nya untuk segera menjadikan Pakha ratu di istananya.
"Pakha aku berharap kamu benar-benar tidak bisa kembali di tubuhmu, agar aku bisa secepatnya menjadikan mu pendamping ku. "batin Bima.
"Bim ayo kita pergi melihat keadaan di dunia. "kata Pakha.
Bima kemudian berjalan mendekati Pakha namun Pakha malah refleks mundur. Kini wajahnya dan Bima hanya berjarak satu inci. Pas banget untuk adegan ciuman. Namun bukan itu yang terjadi. Bima hanya ingin melihat kecantikan Pakha dari dekat kemudian meraih tangan Pakha untuk di gandeng. Pakha langsung mundur selangkah wajahnya merah seperti matahari pagi.
"Kok malah mundur katanya pengen pergi ke dunia manusia. "kata Bima.
Sekarang Pakha tersenyum malu, dengan kejadian barusan.
Pakha menatap keadaan sekitar, matanya melihat seorang laki-laki yang termenung duduk di lantai depan pintu ruangan dirinya di rawat.
Ia memghampiri laki-laki itu.
"Boy maafkan aku membuatmu jadi seperti ini."kata Pakha sambil berjongkok di depan Boy. Tangannya ingin mengelus pipi Boy namun tidak bisa dan hanya menembus kepala Boy. Seketika air mata Pakha jatuh dengan derasnya. Tanpa sengaja air mata itu mengenai tangan Boy.
Boy kaget dengan tetesan air yang mengenai tangannya ,dan langsung mengusap tetesan itu. Boy hanya mengira itu air tetesan dari atap rumah sakit karna bocor. Tatapan Boy terasa kosong tanpa semangat pun di dalamnya, dia hanya duduk terdiam di tempat.
Sesaat kemudian Kak Nawang dan Oci datang menghampiri Boy.
Pakha mengusap air matanya kemudian berdiri sambil memerhatikan percakapan mereka bertiga.
"Boy makanlah jangan terus seperti ini, sudah satu minggu lebih kamu hanya minum air putih, jika kamu terus seperti ini itu akan merugikan dirimu sendiri."omel Oci sambil menaruh kotak nasi di depannya.
Boy hanya terdiam tidak menjawab apapun perkataan Oci.
"Boy kakak berharap kamu tidak terlalu berlarut-larut seperti ini, kehidupan masih panjang. "kata Kak nawang menimpali.
__ADS_1
Kemudian Boy membuka suaranya.
"Untuk apa aku hidup kak, hidupku tidak punya tujuan, bahkan aku kerja hanya untuk Pakha agar aku bisa hidup bahagia bersama Pakha, namun kali ini aku tidak bisa hidup lagi jika tidak ada Pakha di dunia ini. "kata Boy.
Nawang dan Oci hanya terdiam mendengar jawaban Boy, namun arwah Pakha langsung duduk terkulai mendengar jawaban Boy barusan.
"Hiks hiks Boy aku masih ingin menua bersama mu....tapi sekarang dunia kita berbeda..."kini tangis Pakha semakin kencang.
Di saat bersamaan mereka bertiga seperti mendengar suara tangisan namun tanpa wujud.
"Abi dengar gak suara tangisan? "bisik Nawang ke telinga Oci.
"Iya aku dengar mi, sudahlah umi tidak usah takut kita memang hidup berdampingan dengan makhluk lain, jika kita tidak mengganggu, mereka juga tidak akan mengganggu kita. "kata Oci menenangkan Nawang.
Namun Nawang tetap merasa takut dan merangkul lengan suaminya dengan erat. Berbeda dengan Boy dia hanya linglung dan tidak peduli dengan hal seperti itu. Pikirannya hanya di penuhi dengan Pakha Pakha dan Pakha.
Bima menghampiri arwah Pakha yang duduk menangis di depan Boy, dan memeluknya.
"Kamu yang tenang ya, selama denyut jantungmu masih berdetak, kamu masih punya harapan untuk hidup kembali. "kata Bima sambil menepuk-nepuk punggung Pakha agar lebih tenang.
Selang beberapa menit Dokter beserta perawat datang untuk mengecek kondisi Pakha. Setelah terlewat beberapa menit mereka keluar dari ruangan Pakha.
"Dengan keluarga nyonya Pakha? "tanya dokter.
"Ya kami keluarga Pakha. "jawab Boy, Nawang, dan Oci bebarengan.
"Gimana keadaannya dok?"tanya Boy.
"Begini dengan melihat kondisi dari sebelumnya tidak ada peningkatan sedikit pun, untuk itu kita pantau dua hari lagi bagaiman kondisi pasien, jika tidak ada kemajuan maka terpaksa kami harus segera melepas semua alat bantu di tubuhnya. "jawab dokter.
Boy langsung terduduk lemas di lantai begitu pula dengan kak nawang yang langsung menangis di samping Oci.
Hari ke sembilan, hari di mana dokter akan membiarkan Pakha mati jika kondisinya tak kunjung ada kemajuan. Kak Nawang menatap nanar surat pernyataan bahwa seluruh alat bantu yang melekat di tubuh Pakha akan dilepas. Kak nawang dalam posisi sulit, apakah ia akan menandatangani surat itu dan Pakha mati atau membiarkan Pakha tak sadarkan diri tanpa kemajuan. Tanpa tahu apakah Pakha akan sadar kembali atau mati.
Arwah Pakha yang juga mendengar kata dokter tadi syok dan langsung tidak sadarkan diri di pelukan Bima.
hayo.... menurut kalian apa yang akan terjadi pada Pakha, ia akan sadar kembali atau malah mati dan menjadi ratu bersama bima?? temukan jawabannya di episode selanjutnya. Semangat membaca.
__ADS_1