
Hawa dingin menusuk leher. Seakan belum cukup membuat hati resah, boy merasakan ada sesuatu yang memeperhatikan dirinya dari jauh, ia segera melangkahkan kakinya dengan tergesa-gesa menuju air terjun tempat pakha berada karna perasan nya tidak tenang.
Boy menemukan jalan kecil yang hanya bisa di lalui untuk satu orang saja, di kanan kiri jalan itu terdapat semak belukar yang sangat lebat hingga cahaya rembulan tidak sampai ke tanah. Hanya kegelapan malam yang mengikuti boy saat ini. Nasib baik tidak berpihak pada boy saat ini, ketika dia sedang tergesa-gesa berjalan di jalan kecil itu kakinya di tarik paksa oleh sosok tinggi putih seperti guling yang tersenyum lebar, memperlihatkan mata bolong, wajah berdarah, ber**nah, dan bel***ng dimana mana. Boy seakan ingin mati dari dunia ini melihat sosok itu tersenyum begitu lebar, seolah merobek wajahnya sendiri.
Makhluk seperti guling itu salah satu penunggu hutan sebelah air terjun yang boy tuju. Jantung boy terasa ingin meninggalkan tempatnya dan mata ingin terpejam namun hati berkata harus berjuang melawan rasa takutnya saat ini karna ada seorang perempuan yang menunggu pertolongannya. Dengan bekal bismillah boy memantapkan hatinya berusaha mengusir makhluk menyeramkan itu. Karna gugub berbagai macam bacaan doa keluar dari dalam mulutnya termasuk doa di bawah ini.
...اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ ...
“Alloohumma barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaa bannar”
Tiba-tiba makhluk yang menarik kakinya itu hilang setelah dia mengucapkan doa di atas. Mungkin makhluk halus itu takut di makan boy kali ha ha ha. Bukan karna doa itu yang membuat setan itu pergi melainkan doa-doa seperti Ayat kursi, al-fatihah, al-ikhlas dan doa-doa lain yang tanpa sadar boy ucapkan.
"Alhamdulillah akhirnya setan itu hilang juga, "kata boy kemudian melanjutkan perjalanannya menuju air terjun.
Suara gemercik air sudah terdengar di telinga boy menandakan ia hampir sampai di tempat tujuan. Dari jauh mata memandang di atas batu besar di samping air terjun mengalir terdapat wajah yang begitu di kenal nya. Pakha wanita yang terbaring di atas batu itu, tanpa bosa basi boy langsung mengangkat tubuh pakha yang sudah pucat di bawa ke tepian air terjun.
"Pakha bangun, "kata boy sambil menepuk-nepuk wajah pakha. Namun pakha belum juga tersadar dari pingsannya itu.
Boy melakukan berbagai cara pertolongan pertama seperti memompa jantung pakha, menekan-nekan tengkuk pakha hingga memberi nafas buatan. Beberapa menit setelah dia memberi nafas buatan pakha akhirnya tersadar dari pingsannya itu.
"Jangan bunuh aku, "teriak pakha melihat wajah samar-samar di depannya.
"Pakha jangan takut aku boy tidak akan menyakiti mu, "kata boy menenangkan.
Setelah pakha sepenuhnya tersadar ternyata benar yang di depannya saat ini adalah laki-laki yang wajahnya tidak asing baginya namun ingatan tentang laki-laki itu tidak ada sama sekali karna bima telah menghapus sebagian ingatan pakha.
"Sisiapa kamu? "tanya pakha dengan tubuh menggigil kedinginan.
"Pakha ini aku boy, boy william teman mu dari dulu, apa kamu tidak ingat diriku? "tanya boy kwartir.
__ADS_1
Pakha tidak menjawab pertanyaan boy entah mengapa hatinya berkata tidak ingin menyakiti hati laki-laki di hadapannya itu.
"Aku ingin bertemu kak nawang."
"Baiklah aku akan segera membawamu pulang mereka pasti senang mendengar berita ini, "jawab boy dengan antusias kemudian membopong tubuh pakha keluar dari hutan itu.
Setelah sampai di dalam mobil mereka berdua tidak saling berbicara. Sesekali boy melirik pakha yang tertidur di samping dirinya yang mengemudi. Setelah sadar ternyata perempuan yang di samping nya bajunya basah, boy menepikan mobilnya sebentar dan memakaikan jaket miliknya ke tubuh pakha yang menggigil kedinginan.
"Pakha terima kasih sudah kembali untukku, "bisik bima sambil mengelus wajah pakha yang tertidur pulas di sampingnya.
Boy kembali melajukan mobilnya memecah jalanan yang sepi di malam hari.
Sementara itu di rumah pakha terdapat dua sejoli yang sedang asik melakukan permainan panas di kamarnya.
"Mas pelan-pelan dong, "kata nawang merintih namun tetap menikmati.
Sebagai sepasang pengantin baru mereka sering melakukan itu beberapa kali dalam seminggu. Kalian juga tau kan apa yang mereka lakukan sebagai sepasang suami istri.
Saat mereka sedang asik bergumul di ranjang tiba-tiba ada suara ketokan pintu yang terdengar di depan rumahnya yang menghentikan permainan nawang dan oci saat itu.
"Mas siapa sih malam-malam kok berkunjung ke sini, "tanya nawang.
"Tidak tau, cih tamu tak tau diri mengganggu saja, "jawab oci dengan kesal.
Mereka berdua terpaksa menghentikan permainan panas itu dan kembali memakai baju lengkap untuk menyambut tamu tengah malam yang tak tau diri.
Ceklek suara pintu terbuka wajah kak nawang sangat terkejut melihat penampakan di depannya saat ini.
"Mas kemarilah cepetan..., "teriak nawang memanggil suaminya yang masih berkutit dengan pakaiannya.
__ADS_1
Nawang segera mempersilakan masuk tamunya itu.
Tamu tersebut adalah boy dan pakha.
Setelah boy sampai di kediaman pakha dia segera membaringkan tubuh pakha yang membiru kedinginan itu ke ranjang miliknya.
Kak nawang segera mengambilkan pakaian ganti untuk adiknya dan menyuruh boy keluar sebentar dari kamar pakha karna ia ingin segara mengganti baju pakha yang basah agar tidak kedinginan.
Kedatangan boy dan pakha membuat seisi rumah itu terbangun. Betapa terkejutnya oci melihat pakha di atas ranjang, begitu juga dengan orang tua pakha yang tak kalah terkejutnya.
"Pak lihatlah anakmu masih kembali belum puas dia membuat kita menderita, "kata bu sar.
"Bu jangan berbicara seperti itu bagaimana pun dia juga anak kita, "kata pak yat.
mereka berdua tidak terlalu senang melihat pakha kembali, bagi mereka pakha hanya boneka hidup yang selalu menyusahkan mereka berdua. Bahkan pakha sudah di relakan jika tidak pernah kembali lagi. Mereka bukan seperti orangtua pada umumnya mereka hanya melihat nawang sebagai anaknya.
"Seharusnya dia tidak usah kembali, "batin pak yat kemudian kembali ke kamarnya bersama bu sar.
"Boy gimana kamu bisa menemukan pakha bahkan polisi sudah menyerah mencari pakha? "tanya kak nawang penasaran.
Oci cuma mengangguk dia juga ingin mendengar cerita dari sahabatnya itu.
"Ceritanya sangat panjang besok aku akan menceritakan semua pada kalian, untuk saat ini tubuhku sudah sangat lelah, aku pergi mandi dulu titip pakha ya, "kata oci kemudian berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh lumpur saat terjatuh di perjalanan karna kakinya di tarik hantu.
Kak nawang dan oci hanya mengangguk mendengar perintah boy.
Cukup dulu ya gays, nantikan kejutan menarik di episode selanjutnya. Semangat membaca.
Like 👍 jika kalian menyukai cerita ini, komen di bawah 👇untuk memberi masukan atau dukungan untuk author.
__ADS_1